Kuliner yang Digemari saat Ramadan: Rekomendasi Menu Favorit dan Makna di Baliknya

Ramadan merupakan momen yang paling dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Bulan ini dipenuhi nuansa religius, kebersamaan, dan tradisi yang kuat, menjadikannya waktu yang istimewa bagi jutaan umat Islam. Setiap sore, beberapa jam menjelang berbuka, suasana jalanan berubah menjadi hiruk-pikuk yang khas. Pedagang kaki lima menata dagangan mereka, ibu-ibu menyiapkan jajanan rumahan, sementara anak-anak berlarian dengan plastik berisi takjil. Suasana pasar Ramadan tidak hanya sekadar soal makanan, tetapi juga mencerminkan budaya, interaksi sosial, dan kebersamaan yang hangat di tengah kesibukan kota.

Di tengah beragam kuliner yang tersedia, tiga hidangan selalu menjadi favorit: gorengan, es degan, dan kurma. Kesederhanaan ketiganya membuatnya melekat kuat dalam tradisi berbuka masyarakat Indonesia. Gorengan hadir sebagai camilan wajib yang menandai transisi dari menahan lapar seharian menuju hidangan utama. Es degan menawarkan kesegaran instan yang mampu melepas dahaga, sementara kurma tidak hanya menyehatkan tetapi juga sarat nilai sunnah, menjadi simbol spiritual dalam berbuka puasa.

Selain fungsi fisik, ketiga kuliner ini juga memiliki makna budaya dan sosial. Gorengan mengajarkan nilai kebersamaan karena sering dibagikan di lingkungan rumah, kantor, atau masjid. Es degan menjadi simbol kesegaran dan kesederhanaan hidup yang alami. Kurma mengingatkan masyarakat pada sunnah Nabi, sekaligus mendorong praktik berbagi kepada sesama, terutama yang membutuhkan. Dengan demikian, setiap gigitan dan tegukan bukan sekadar memuaskan rasa lapar dan haus, tetapi juga menyimpan cerita, kenangan masa kecil, dan nilai budaya yang kaya.

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi digital turut memengaruhi pola konsumsi kuliner Ramadan. Saat ini, masyarakat tidak lagi terbatas pada pasar fisik. Banyak orang memesan takjil melalui aplikasi seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, memungkinkan mereka menikmati hidangan favorit tanpa harus keluar rumah. Selain itu, tutorial membuat minuman unik seperti es degan pandan atau dessert box sering muncul di platform TikTok dan Instagram, sementara review gorengan atau kurma populer dibagikan melalui YouTube. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi lama tetap hidup, namun telah beradaptasi dengan cara modern dan interaktif.

Artikel ini bertujuan untuk membahas secara mendalam ketiga kuliner ikonik tersebut. Pembahasan mencakup alasan mengapa mereka digemari, makna yang terkandung dalam tradisi berbuka, pola konsumsi masyarakat, serta pengaruh tren modern dan media sosial terhadap popularitasnya. Dengan demikian, pembaca tidak hanya memahami sisi kuliner dari Ramadan, tetapi juga aspek budaya, sosial, dan religius yang membuat bulan suci ini begitu istimewa di Indonesia.

1. Ramadan dan Tradisi Kuliner yang Tetap Hidup dari Generasi ke Generasi

Ramadan di Indonesia selalu menjadi bulan yang istimewa, bukan hanya karena nilai ibadahnya, tetapi juga karena kuliner khas yang menyertainya. Setiap sore, beberapa jam menjelang berbuka, jalanan ramai dengan pedagang kaki lima yang menata gorengan hangat, ibu-ibu yang menyiapkan jajanan rumahan, dan anak-anak yang berlarian membawa plastik berisi takjil. Suasana ini menjadi ritual khas yang hampir sama setiap tahun, namun selalu mampu menghadirkan rasa haru, rindu, dan kehangatan tersendiri.

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi kuliner Ramadan yang unik. Di Jawa, kolak pisang, kolang-kaling, dan bubur sumsum menjadi menu favorit. Di Sumatra Barat, kolak ubi, es campur khas Padang, dan kue lapis sering muncul di meja berbuka. Sementara di Sulawesi, es pisang ijo dan palu butung menjadi hidangan yang hanya disajikan saat Ramadan. Meskipun berbeda rasa dan bentuk, tujuan utama semua makanan ini sama: mengembalikan energi setelah seharian berpuasa sekaligus mempererat kebersamaan keluarga.

Banyak makanan khas Ramadan muncul sebagai bagian dari ritual keluarga. Misalnya, sebagian orang hanya menyajikan kolak pisang karena sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak masa kecil. Es buah khusus Ramadan juga kerap dibuat sesuai resep keluarga yang berbeda-beda, menjadi pengikat emosional antara generasi. Bahkan beberapa keluarga memiliki โ€œresep rahasiaโ€ yang diwariskan dari nenek ke ibu, lalu ke anak, sehingga setiap suapan membawa kenangan dan identitas keluarga.

Pasar takjil menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi selama Ramadan. Konsumsi makanan manis, minuman dingin, dan gorengan meningkat signifikan di bulan puasa (Kompas Kuliner). Pedagang kaki lima menata gorengan panas, es kelapa muda, kolak, dan berbagai jajanan tradisional. Beberapa pasar bahkan menjadi destinasi wisata kuliner tahunan, seperti Pasar Ramadan Malioboro di Yogyakarta dan Pasar Ramadan Bendungan Hilir di Jakarta. Pengunjung tidak hanya membeli makanan, tetapi juga menikmati suasana, bertemu teman lama, dan merasakan kembali atmosfer Ramadan yang khas.

Tradisi berbuka bersama keluarga juga menonjol. Banyak keluarga menunggu adzan Magrib sambil duduk di meja makan, menikmati hidangan sederhana sembari berbincang. Aroma masakan rumah, suara gelas beradu, dan canda tawa anak-anak menciptakan momen hangat yang khas. Di masjid dan lingkungan sekitar, kegiatan berbagi takjil menunjukkan rasa solidaritas dan kepedulian sosial yang tinggi. Banyak orang membawa paket takjil untuk pengendara, tetangga, atau anak yatim, menjadikan kuliner sebagai media mengekspresikan empati.

Selain itu, perkembangan zaman membawa perubahan menarik. Pedagang tradisional kini memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan menu berbuka mereka, sementara generasi muda berbagi pengalaman kuliner Ramadan melalui platform digital. Fenomena ini menjaga tradisi tetap hidup dan relevan, meskipun cara menikmatinya telah berubah. Misalnya, tutorial membuat es degan unik di TikTok atau review gorengan dan kurma di YouTube menjadi bagian dari pengalaman modern berbuka puasa.

Dengan demikian, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan penuh cerita kuliner. Setiap makanan yang disajikan membawa nilai sejarah, budaya, dan emosional. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi identitas masyarakat Indonesia yang kaya akan keanekaragaman rasa dan makna. Setiap kolak, es degan, dan gorengan yang tersaji bukan sekadar hidangan, tetapi simbol kebersamaan, kenangan keluarga, dan budaya yang tak lekang oleh waktu.

2. Kuliner yang Paling Digemari Saat Ramadan: Gorengan, Es Degan, dan Kurma

Di antara berbagai macam makanan yang dijajakan di pasar Ramadan, ada tiga jenis kuliner yang paling umum, paling mudah ditemukan, dan paling disukai oleh masyarakat Indonesia. Ketiganya tidak hanya populer karena rasanya, tetapi juga karena makna budaya dan nilai tradisinya. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai ketiga kuliner tersebut.

Keterangan: Menu wajib bulan Ramadhan! Gorengan hangat dan renyah siap menemani momen berbuka puasa Anda.

2.1.   Gorengan: Camilan Gurih yang Tidak Pernah Absen

Tidak ada kuliner yang lebih mencerminkan pasar Ramadan selain gorengan. Aromanya yang khas, warnanya yang keemasan, serta rasanya yang gurih membuat gorengan selalu berhasil menarik perhatian banyak orang. Bahkan, orang yang sebenarnya tidak terlalu suka gorengan pun sering kali ikut tergoda membelinya pada bulan Ramadan.

Gorengan menjadi salah satu kuliner yang paling populer saat bulan Ramadan karena memiliki daya tarik yang sulit ditolak oleh berbagai kalangan. Salah satu alasan utamanya adalah harga yang sangat terjangkau, biasanya hanya berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah. Dengan harga murah ini, gorengan dapat dinikmati siapa saja mulai dari anak-anak, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga besar sehingga menjadi pilihan takjil yang merakyat dan mudah dijangkau. Selain murah, rasanya pun sangat familiar. Hampir semua orang Indonesia tumbuh dengan gorengan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, baik di acara keluarga, warung kecil, maupun pedagang pinggir jalan. Karena itulah, gorengan memberikan rasa nostalgia yang membuat banyak orang merasa โ€œdekatโ€ dengan makanan ini.

Popularitas gorengan juga dipengaruhi oleh aromanya yang menggugah selera. Ketika minyak panas mulai mengubah adonan menjadi warna keemasan, aroma khasnya langsung terasa dan sering kali membuat perut yang kosong semakin lapar, terutama menjelang waktu berbuka. Selain itu, gorengan hadir dalam berbagai jenis yang sangat beragam mulai dari bakwan, tempe mendoan, tahu isi, risol, pisang goreng, cireng, hingga ubi goreng sehingga memberi banyak pilihan bagi setiap orang sesuai selera mereka. Variasi yang beragam ini membuat gorengan tidak pernah membosankan meskipun dikonsumsi hampir setiap hari selama Ramadan.

Tidak hanya itu, gorengan dianggap sangat cocok sebagai makanan pembuka sebelum makan besar setelah salat Magrib. Teksturnya yang renyah dan porsinya yang kecil membuatnya pas untuk sekadar โ€œmengganjal perutโ€ tanpa membuat terlalu kenyang. Kombinasi semua faktor ini harga murah, rasa familiar, aroma menggoda, banyak varian, dan cocok sebagai snack pembuka adalah alasan kuat mengapa gorengan selalu menjadi primadona di meja berbuka dan tetap bertahan sebagai ikon kuliner Ramadan dari tahun ke tahun.

Selain alasan rasa, gorengan juga memiliki makna budaya. Bagi sebagian orang, gorengan adalah simbol keramaian pasar Ramadan. Ketika melihat deretan gorengan, banyak orang teringat suasana Ramadan di masa kecil.

Namun, konsumsi gorengan harus tetap dilakukan secara bijak. Portal kesehatan seperti Alodokter menjelaskan bahwa makanan berminyak dapat memperparah asam lambung. Karena itu, meskipun gorengan lezat, sebaiknya dikonsumsi secukupnya.

Gorengan tidak hanya berfungsi sebagai makanan pembuka, tetapi juga telah menjadi bagian penting dari ritual buka puasa masyarakat Indonesia. Dalam keluarga besar, gorengan hampir selalu menjadi hidangan pertama yang disantap sambil menunggu makanan utama selesai disiapkan. Pada acara buka puasa bersama, gorengan berperan sebagai โ€œpemersatuโ€ karena dapat dinikmati oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan di masjid, gorengan kerap menjadi takjil favorit yang dibagikan secara gratis kepada jamaah. Berbagai kebiasaan ini menjadikan gorengan lebih dari sekadar camilan; ia telah menjadi bagian dari identitas kuliner Ramadan yang menguatkan rasa kebersamaan dan tradisi di tengah masyarakat Indonesia.

  • ย ย  Es Degan: Minuman Segar yang Jadi Favorit Banyak Orang

Setelah seharian berpuasa, tubuh kehilangan banyak cairan. Salah satu minuman paling tepat untuk mengembalikan cairan tubuh adalah es degan atau es kelapa muda. Kesegaran air kelapa dipadukan dengan daging buahnya yang lembut membuat es degan menjadi minuman paling dicari menjelang adzan magrib.

Es degan menjadi salah satu minuman paling digemari saat Ramadan karena mampu menghidrasi tubuh dengan cepat berkat elektrolit alaminya. Rasanya yang segar dan tidak memberatkan lambung membuatnya sangat cocok dikonsumsi setelah seharian berpuasa. Minuman ini juga dapat dinikmati oleh semua usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua, sehingga menjadi pilihan universal ketika berbuka. Selain itu, es degan tidak membutuhkan tambahan kondimen berlebihan karena air kelapa muda sudah memiliki rasa manis dan segar secara alami. Popularitasnya semakin kuat karena hampir setiap pasar takjil selalu memiliki penjual es degan, menjadikannya minuman yang mudah ditemukan dan selalu menjadi incaran menjelang waktu berbuka.

Banyak ahli kesehatan menyarankan es kelapa sebagai minuman berbuka. Selain menyegarkan, kandungan nutrisinya cukup lengkap. Beberapa sumber kesehatan online juga menjelaskan bahwa air kelapa dapat membantu menyeimbangkan kadar gula darah setelah puasa.

Makna Es Degan dalam Tradisi Ramadan

Di banyak keluarga, es degan menjadi minuman wajib setiap Ramadan. Minuman ini dianggap simbol โ€œpenyegar pertamaโ€ yang mengembalikan energi setelah menahan haus seharian. Di beberapa daerah, es degan bahkan menjadi menu khas buka puasa, terutama di daerah pesisir yang banyak menghasilkan kelapa.

Selain itu, es degan juga memiliki nilai sosial. Ketika buka puasa bersama teman, kerabat, atau rekan kerja, minuman ini hampir selalu ada di meja. Kesegarannya membuat suasana terasa lebih ceria dan hangat.

  • ย  Kurma: Manis, Sunnah, dan Sarat Makna Spiritual

Jika gorengan dan es degan populer karena rasa dan kesegarannya, maka kurma populer karena nilai religius serta manfaat kesehatannya. Kurma merupakan makanan sunnah yang dianjurkan untuk dimakan saat berbuka. Inilah yang membuat kurma menjadi simbol khas Ramadan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Kurma sangat digemari masyarakat Indonesia saat berbuka puasa karena memiliki berbagai keunggulan. Pertama, kurma mampu mengembalikan energi dengan sangat cepat karena kaya akan gula alami yang mudah diserap oleh tubuh setelah seharian berpuasa. Kedua, kurma aman untuk lambung dan sangat cocok dijadikan makanan pertama saat berbuka, sehingga membantu tubuh beradaptasi secara perlahan sebelum menyantap hidangan utama. Selain itu, kurma mengandung banyak nutrisi penting, termasuk vitamin, mineral, serat, dan antioksidan, yang baik untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kepraktisan kurma juga menjadi daya tarik tersendiri; buah ini tidak memerlukan proses pengolahan khusus dan cukup diletakkan di piring untuk langsung disantap. Terakhir, kurma memiliki makna religius yang kuat, karena banyak dikonsumsi untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, sehingga menjadi simbol keberkahan dan tradisi spiritual selama bulan Ramadan.

Banyak artikel kesehatan menjelaskan bahwa kurma merupakan makanan ideal untuk buka puasa. Bahkan, di negara-negara Timur Tengah, kurma adalah makanan pembuka utama dan jarang tergantikan oleh makanan lain.

Makna Kurma dalam Budaya Ramadan di Indonesia

Kurma di Indonesia bukan hanya makanan, tetapi simbol kesucian. Banyak keluarga mulai menyetok kurma beberapa hari sebelum Ramadan dimulai. Di masjid-masjid seluruh Indonesia, kurma sering menjadi menu takjil yang dibagikan secara gratis.

Kurma juga sering dianggap sebagai makanan yang membawa keberkahan. Ketika orang membagikan kurma, mereka merasa melakukan kebaikan yang sederhana tetapi bernilai tinggi.

3. Tren Kuliner Ramadan: Antara Tradisi, Media Sosial, dan Gaya Hidup Modern

Seiring perkembangan zaman, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam memilih kuliner berbuka mengalami banyak perubahan. Jika pada masa lalu pilihan makanan lebih didominasi jajanan lokal seperti kolak, es buah, atau gorengan tradisional, kini berbagai makanan modern turut meramaikan tradisi Ramadan. Media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam perubahan ini. Setiap Ramadan, selalu muncul makanan viral yang mendominasi linimasa, mulai dari dessert box, buko pandan, es lumut pandan, pudding regal, milk bath jelly, croffle manis, hingga kreasi mango sticky rice versi Indonesia. Video cara membuat menu-menu tersebut banyak bermunculan di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube, sehingga mendorong banyak orang untuk ikut mencobanya di rumah. Fenomena ini menunjukkan bahwa tren kuliner kini sangat dipengaruhi oleh konten digital yang mudah diakses masyarakat.

Selain itu, hadirnya berbagai aplikasi layanan pesan-antar seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood turut mengubah pola konsumsi takjil. Membeli makanan berbuka tidak lagi mengharuskan seseorang keluar rumah atau pergi ke pasar Ramadan, karena semua dapat dipesan secara praktis melalui ponsel. Fenomena pasar takjil online ini terbukti membantu UMKM kuliner berkembang pesat selama Ramadan, dibuktikan dengan meningkatnya penjualan makanan di berbagai kota. Sementara itu, food vlogger dan kreator konten kuliner juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk selera masyarakat. Ketika mereka mengulas pasar takjil tertentu, tempat tersebut dapat langsung viral dan dipenuhi pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa media sosial kini turut mempengaruhi budaya kuliner Ramadan, dari cara orang memilih makanan hingga cara mereka menikmati tradisi berbuka.

Di sisi lain, identitas kuliner Ramadan tetap melekat pada tiga hidangan populer yang selalu hadir di setiap daerah, yaitu gorengan, es degan, dan kurma. Ketiga makanan ini memiliki peran khusus dalam tradisi berbuka masyarakat Indonesia. Banyak orang memulai buka puasa dengan kurma sebagai simbol sunnah, kemudian disusul dengan es degan yang menyegarkan, dan akhirnya menikmatinya bersama gorengan yang gurih. Keistimewaan ketiganya terletak pada sifatnya yang sederhana dan dapat dinikmati semua kalangan, tanpa memandang status ekonomi. Bahkan, banyak momen kebersamaan yang dimulai dari meja makan sederhana berisi tiga hidangan ini. Selain itu, baik di kota besar maupun desa kecil, gorengan, es degan, dan kurma hampir tidak pernah absen dari pasar Ramadan, menjadikannya ikon kuliner yang menguatkan suasana bulan suci.

Dalam menikmati berbagai takjil tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kesehatan tetap terjaga selama menjalankan ibadah puasa. Penting untuk memulai buka puasa dengan air putih atau kurma guna membantu tubuh beradaptasi setelah seharian berpuasa. Mengonsumsi gorengan sebaiknya dibatasi, mengingat minyak yang berlebihan dapat memengaruhi pencernaan. Pilihlah minuman yang tidak terlalu manis dan selalu perhatikan kebersihan pedagang ketika membeli takjil di luar rumah. Selain itu, makan secukupnya dan hindari langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar agar tubuh tidak kaget setelah seharian berpuasa. Tips-tips sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus membuat ibadah puasa tetap berjalan dengan nyaman.

Kuliner Ramadan di Indonesia tidak hanya berfungsi untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi bagian penting dari tradisi, budaya, dan nilai religius masyarakat. Gorengan, es degan, dan kurma menjadi favorit karena masing-masing menawarkan pengalaman berbeda: gorengan menghadirkan kehangatan dan kebersamaan, es degan menyegarkan tubuh setelah seharian berpuasa, dan kurma sarat makna spiritual sekaligus memberikan energi instan. Ketiga hidangan ini menguatkan tradisi berbuka, mempererat ikatan sosial, dan menjadi simbol kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meskipun perkembangan teknologi digital dan tren kuliner modern memengaruhi cara masyarakat menikmati takjil, kehadiran gorengan, es degan, dan kurma tetap konsisten sebagai ikon Ramadan yang melekat di pasar, meja makan, dan hati masyarakat Indonesia, menjadikan bulan suci ini penuh kenangan, makna, dan kehangatan.

DAFTAR PUSTAKA (HYPERLINK)

  1. https://www.kompas.com/food
  2. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/kuliner
  3. https://health.detik.com
  4. https://www.alodokter.com
  5. https://travel.tempo.co/kuliner
  6. https://www.goodnewsfromindonesia.id/kuliner-tradisional
  7. https://www.idntimes.com/food
  8. https://food.detik.com
  9. https://share.google/JP3Y9mx6doQHNuWvQ
  10. https://share.google/26E50semsg5Gbnx4n

Penulis

  • Inka Kristiana

    Saya Inka Kristiana salah satu Mahasiswa semester 5 Universitas Islam Negri Raden Mas Said Surakarta, Fakultas Adab dan Bahasa, Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Saya beberapa kali menulis opini, cerpen, puisi, dst. Untuk alamat email saya bisa di cek di inkakristiana18@gmail.com


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Percakapan Iwoh dan Saydi

Mahfud RD Puisi

Maret yang Bimbang dan Puisi Lainnya Karya Mahfud RD

Apacapa

Mas Rio Buronan: Dari Wano Menuju Situbondo

Febrie G. Setiaputra Resensi

Resensi: Sunyi di Dada Sumirah

Buku Indarka P.P Resensi Ulas

Resensi: Cinta, Ritual dan Balas Dendam

Cerpen Erha Pamungkas

Cerpen: Perempuan Api Unggun

Apacapa

Merayakan Lebaran: Ada yang Hilang

Puisi Wahyu Lebaran

Puisi: Kehilangan Karya Wahyu Lebaran

Hamidah Puisi

Terima Kasih Cinta dan Puisi Lainnya

Moh. Imron Puisi

Langai; Selimut Duri

Apacapa fulitik

Tenang! Ini Solusi Mas Rio Buat Teman-teman Honorer Situbondo yang Dirumahkan

Curhat Moh. Imron

Ramadan: Tangisan pada Suatu Malam

Cerpen Wilda Zakiyah

Cerpen: Siklus Selotirto

Apacapa covid 19 Regita Dwi Purnama Anggraini

Vaksin Covid-19 tiba di Indonesia, Disambut Penolakan dari Masyarakat dengan Alasan Ragu?

Cerbung Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 5)

Apacapa Curhat

Menjadi Bapack2: Catatan Sepulang dari Kelas Ayah

carpan Helmy Khan Totor

Carpan: Sapo’ Mardha

Penerbit

Hai Situbondo

Cerpen

Cerpen: Peti Mati

Agus Hiplunudin Buku Ulas

Filsafat Eksistensialisme Karya Agus Hiplunudin