Ingatan dari Gunung Sari: Tentang Silsilah dan Jati Diri

Saya mulai menulis ini saat medsos ramai berita tentang kekalahan Manchester United atas Manchester City 0-1. Saya curi-curi waktu scroll instagram sebentar. Banyak netizen mengejek kekalahan MU dengan meme dan konten video pendek. Saya klik satu konten secara acak, lalu baca-baca komentar secara random. Beberapa komentar nakal memang berhasil membuat saya ketawa dan ikut merasakan kebahagiaan itu. Tapi setelahnya, saya berhenti agak lama di salah satu komentar yang mungkin juga membuat Fans MU sedunia merenung jauh. Begini komentarnya: MU itu sepeninggal Sir Alex Ferguson jadi klub yang kehilangan jati dirinya.

***

Mobil Hiace putih itu tiba di halaman yang tanahnya terlihat agak merah pada pukul delapan lebih dikit. Saya turun dan membuntuti Mas Lutfi. Setelah beberapa langkah sambil agak membungkukkan badan, Mas Lutfi menyalami seorang lelaki sepuh berkopyah hitam yang tampak sudah menunggu di depan rumah. Saya perhatikan cara Mas Lutfi bersalaman, lalu saya pun mengikutinya.

“Mari masuk-masuk. Ayok silakan-silakan!” kata lelaki sepuh berkopyah hitam itu yang kemudian saya tahu beliau adalah Raden Kiai Haji Kholil Muhammad.

Di dalam rumah itu, saya duduk lesehan bersebelahan dengan Mas Halil, di kiri saya ada Mas Fendik dan Imron. Sementara di depan saya, Mas Lukman duduk bersebelahan dengan Luay, Nauval, Adit, dan Mas Lutfi. Di kiri Mas Lutfi duduk bersila Kiai Kholil Muhammad.

“Loh yang cewek-cewek mana kok gak masuk?” Tanya Kiai Kholil.

“Malu Kiai. Gak pakai kerudung,” kata Mas Lukman.

“Aahhh… gak apa-apa. Santai aja. Suruh masuk, ya,” pungkas beliau.

Mbak Sania dan Kikin pun masuk. Duduk di dekat dinding sebelah pintu masuk. Lengkap, kami pun menyimak apapun yang disampaikan Kiai Kholil.

Kiai Kholil membuka kopiahnya. Obrolan pun dimulai. Nah di tahap inilah penyesalan saya datang kemudian. Saya lupa tidak merekam obrolan itu dari awal. Sehingga saat cerita penting tentang silsilah itu, saya yang awalnya konek lalu bingung sendiri karena kehilangan konteks.

Saya pun jadi tak punya rekaman untuk didengarkan lagi. Memang, Cak Rusdi dulu pernah mengingatkan kepada para wartawan pemula agar mengurangi ketergantungan terhadap alat rekam. Latihlah ingatan dengan mengurangi alat rekam, maka nanti pikiranmu, ingatanmu akan kuat dan menolongmu dari lupa.

Tulisan ini pun bukan tentang liputan. Melainkan apa-apa yang saya ingat dari obrolan 2 jam di Ponpes Gunung Sari, Pamekasan itu. Setidaknya dawuh Kiai Kholil yang ini yang saya ingat betul: 

“Kita jangan salah menganggap kemerdekaan itu adalah keabadian. Makanya penting untuk jaga-jaga, kita perlu menyiapkan diri salah satunya catat betul asal-usul itu”

Konteks dawuh beliau itu begini. Kiai mengingatkan ke teman-teman pentingnya memahami asal-usul. Karena begini, jika nanti terjadi apa-apa dalam kehidupan kita sebagai bangsa dan bernegara, paling tidak kita sudah mawas diri. Sudah menyiapkan diri dengan menyatat-memahami asal-usul kita siapa dan dari mana. Agar tidak lupa, agar tidak hilang ketika keadaan mungkin berubah.

Saya pikir begini. Kita, mungkin saja sering keliru menakar takdir. Banyak orang mungkin mengira merdeka itu seperti warisan rumah: sekali dapat sertifikatnya lalu kita bisa leha-leha duduk di teras seumur hidup. Nah pernyataan beliau itu seolah membedah kesadaran kita yang sering kali terlalu naif.

Kita kerap memperlakukan gagasan bernama “Indonesia” atau “Kemerdekaan” sebagai sesuatu yang terberi (taken for granted). Kita mengira sekali merdeka, maka kita akan otomatis merdeka selamanya.

Saya jadi ingat Imagined Communities, bukunya Benedict Anderson yang saya baca di awal-awal kuliah dulu. Secara sosiologis, saya kira ada kemiripan apa yang didawuhkan Kiai Kholil dan yang dipikirkan Anderson dalam buku itu. Koreksi kalau saya salah, ya.

Anderson melihat bangsa sebagai sebuah “komunitas yang dibayangkan” secara politik. Anggota dari sebuah bangsa dari Sabang sampai Merauke tak akan pernah saling kenal atau bertatap muka satu per satu. Namun, di dalam benak tiap-tiap orang hidup bayangan tentang pertalian horizontal yang seolah-olah sama.

Lagi menurut Anderson, bangsa bukanlah benda mati yang sekali dibuat lalu selesai. Ia adalah imajinasi kolektif yang rapuh. Jika manusia-manusia di dalamnya berhenti membayangkannya dan berhenti merawat ikatannya, maka bangsa itu bisa bubar bahkan dalam semalam aja. Nah disinilah silsilah atau asal-usul yang didawuhkan Kiai Kholil mengambil peran yang mungkin tak terduga.

Silsilah berperan sebagai social memory atau memori kolektif kelompok. Ketika Kiai Kholil mengaitkan pentingnya mengetahui asal-usul, beliau sedang memperingatkan kita tentang betapa bahayanya amnesia sejarah. Kaloppae ka asal-usulla.

Sebuah bangsa yang kehilangan ingatan akan asal-usulnya baik itu siapa leluhurnya dan apa nilai yang diperjuangkannya adalah bangsa yang ambyar pondasi sosiologisnya. Karena begini: tanpa memori kolektif, sebuah masyarakat akan mudah dipecah belah, diombang-ambingkan oleh narasi luar, dan puncaknya, mungkin kehilangan kedaulatannya kembali.

Kemerdekaan tanpa kewaspadaan sejarah hanyalah ilusi keabadian dan hanya menunggu waktu untuk bubar. Bukan begitu, kawan?

Nah. Lantas, bagaimana posisi kita hari ini?

Tentu saja Anda semua punya pandangan yang berbeda. Anda mungkin saja tak sepakat soal konteks masa depan kita sebagai negara, tapi saya yakin Anda sepakat dengan Kiai Kholil soal konteks pentingnya asal-usul. Karena, menurut saya.. sekali lagi menurut saya, bangsa yang abai dengan asal-usul dirinya, lupa jati dirinya, akan mengalami apa yang dirasakan oleh Manchester United pasca Sir Alex Ferguson hari ini.

So… Masihkah kita GGMU, Kawan?

Penulis

  • Moh. Farhan, pengusaha MaduBaik. Guru SMAN 1 Situbondo.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Muhaimin Prosa Mini

Gadis dan Nyanyian Ombak

Buku Penerbit Ulas

Buku: Embun yang Menari di Mataku

Advertorial

Memiliki Banyak Rekening Bank, Memangnya Perlu?

Buku Muhamad Bintang Resensi Ulas

Resensi: Hikayat Kadiroen

Cerpen Harishul Mu’minin

Cerpen: Ginjal Pembawa Kesedihan dan Penyesalan

Apacapa fulitik ricky

Salah Kaprah Gelora Bung Karna

Almaidah Sela Agustin Istiqomah Cerpen

Cerpen: Bidadari Berhati Baja

Prosa Mini

Cerita: Ikan Asap

Baiq Wahyu D. Puisi

Puisi: Purnama di Bulan Januari

Resensi

Resensi: Di Bawah Mata yang Mengawasi

Mored Nurmumtaz Sekar Ramadhan

Cerpen Mored: Secangkir Kopi

Agus Hiplunudin Apacapa

Hak Politik Para Koruptor pada Pemilu 2019

Buku Farizzal Qurniawan Hendra Saputra Resensi Ulas

Resensi: Dilan 1983: Wo Ai Ni

Mored Moret Taradita Yandira Laksmi

Cerpen Mored: Benang Merah Pengekang

Febrie G. Setiaputra Resensi

Resensi: Sunyi di Dada Sumirah

M Firdaus Rahmatullah Mored Moret Puisi

Gunung Ringgit dan Puisi Lainnya

Apacapa Riski Bintang Venus

Optimalisasi Peran dan Kreativitas Pemuda Melalui Pendidikan Berkarakter Menuju Situbondo Bersaing

Cerpen

Rumah Dalam Mata

cerpen dan puisi pilihan takanta

Pengumuman Cerpen dan Puisi Pilihan Takanta 2020

Cerpen Nasrul M. Rizal

Cerpen : Perihal Tabah Karya Nasrul M. Rizal