Resensi: Menyemai Empati kepada Kaum Papa

Oleh:
Thomas Utomo

Judul : Juru Kunci Makam

Pengarang
: Sinta Yudisia

Penerbit
: Indiva Media Kreasi

Cetakan
: Pertama, Desember 2020

Tebal : 136 halaman

ISBN
: 978-623-253-022-5

Bagi
sebagian orang, pemakaman adalah tempat yang sebisa mungkin dihindari. Alasannya:
di situ singup, angker, banyak hantu,
dan berbagai dalih lain yang semakna. Tapi untuk sebagian lain, pemakaman
justru menjadi sumber penghidupan (seperti bagi juru kunci) atau tempat
menyangga kehidupan (bagi tunawisma yang memilih bertempat tinggal di area
orang mati ini).

Demikianlah
yang dialami Unggul, pelajar kelas VIII SMP Teladan. Bersama ayahnya, dia
tinggal di area pemakaman. Ayahnya sendiri bekerja sebagai juru kunci.
Belakangan, karena ayahnya kerap sakit, Unggul menggantikan tugas menggali
tanah dan mengurusi serbaneka orang mati. Akibatnya, dia jadi sering bolos
sekolah.

Di
sisi lagi, ada tugas sekolah berupa praktikum Biologi membedah reptil. Tugas
itu harus dikerjakan secara kelompok dan dilaksanakan di luar jam sekolah.
Donni, Nadia, dan Sofi mendapat jatah berkelompok dengan Unggul. Tapi karena
Unggul lama tidak berangkat, nasib tugas pun terkatung-katung.

Terus
terang, Donni tidak menyukai Unggul karena persoalan tempat tinggal dan pekerjaan
orang tua Unggul yang dianggap tidak umum serta kondisi fisik serta kepribadiannya
yang dianggap tidak meyakinkan (kurus, berkulit hitam, pendiam, tidak populer,
tidak pandai bergaul [halaman 11]). Donni menolak bekerja sama dengan Unggul
dan berusaha mempengaruhi Nadia-Sofi untuk turut serta. Sebaliknya, Nadia-Sofi
berteguh harus mengikutkan Unggul dalam kerja kelompok, kendati sesungguhnya,
mereka merasa tidak nyaman harus bekerja kelompok dengan remaja yang mendapat
stigma aneh. Silang pendapat ini memunculkan percekcokan. Masing-masing pihak
mengukuhi pendapat sendiri.

Guna
kepentingan bersama, anak-anak putri mengalah. Mereka mendatangi Unggul di
rumahnya dan mengajaknya bekerja sama. Perguliran waktu membuktikan betapa
Unggul tidak seburuk label yang disematkan. Sebaliknya, dia giat dalam
menggalang kerja bersama, dari kepalanya kerap terbit inisiatif baik, dan tanpa
jijik, dia sigap menangkap lalu membedah kadal juga kodok. Nadia dan Sofi
senang bekerja dengan Unggul. Demikian pula Donni yang akhirnya meralat pikiran
buruknya sendiri. Dia sendiri jadi semangat menggambar anatomi organ dalam
reptil dengan goresan tangannya yang bagus.

Tapi,
di samping urusan praktikum yang lancar dan berhasil cemerlang, ada segi-segi
mengenaskan dari kehidupan Unggul yang sebelumnya luput dari perhatian
teman-teman sekelas. Unggul sendiri gigih melawan keterbatasan yang membelit
keluarganya dengan ikatan kencang, bahkan tanpa membesar-besarkan kondisinya
sendiri, dia justru giat membantu tunawisma yang berkeliaran di area pemakaman.
Donni, Nadia, dan Sofi terketuk hatinya. Lewat bantuan keluarga masing-masing,
mereka pun berikhtiar menolong Unggul dan orang-orang papa di sekitarnya.

Itulah
kandungan utama novel ini; pengarang berupaya menyuntikkan kesadaran agar pembaca
peduli dan berempati kepada kesengsaraan kaum papa, betapa kemelaratan dan
kebodohan bukan untuk dihindari atau disingkirkan jauh-jauh, melainkan
direngkuh, diayomi, dan dibantu sebaik mungkin.

Kandungan
lainnya adalah dorongan untuk menggalang persatuan di atas kebhinekaan, bahwa
perbedaan justru semakin melebar jika selalu ditonjol-tonjolkan, sebaliknya
perbedaan dapat menjadi kekuatan jika disatukan atas nama kepentingan bersama.

Seperti
novel sebelumnya, yakni Hantu Kubah Hijau
(Indiva Media Kreasi, 2017) dan Bulan
Nararya
(Indiva Media Kreasi, 2014), dalam novel ini pun Sinta piawai
membangun suasana seram lewat pilihan kata dan deskripsi cerita. Simak
misalnya, penggambaran rumah Unggul,

“Bau
lembap. Wangi melati dan tanah basah. Suara burung gagak berkaok-kaok melintas
di atap rumah.” (halaman 35). “Hawa dingin menyusup dari celah-celah dinding
yang berlubang … Langit-langit rumah yang terbuat dari jalinan bambu sudah
tidak tampak lagi apa warna aslinya. Sebagian mencembung di sana sini, seperti
bekas roboh tertimpa kucing dan tikus yang saling berkejaran. Di beberapa
bagian, warna kuning melingkar tampak memudar, menandakan bekas tetesan air
dari atap yang bocor. Jendela dengan daun pintu tak beraturan terbuka miring.
Engselnya hampir lepas.” (halaman 36-37).

Atau
anak-anak tunawisma yang berkeliaran di pekuburan, “Dalam keremangan senja,
diselingi desir angin yang meliukkan dedaunan pohon beringin dan kapuk randu,
goyangan ilalang dan perdu, tampak beberapa sosok di sela-sela makam. Dua orang
anak kecil berambut gimbal masih sibuk menyiangi rerumputan yang tumbuh liar di
sela-sela nisan. Anak-anak kecil lain, yang tak kalah kusut … bersembunyi di
balik nisan.” (halaman 88).

 

Biodata
Penulis

*Thomas
Utomo adalah guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga (mulai 2019),
sebelumnya berkarier di SD UMP, Banyumas (2012-2018). Bisa dihubungi lewat
surel utomothomas@gmail.com atau nomor 085802460851. Atau bisa juga ditemui di
tempat bernaungnya bersama keluarga, di Jalan Letnan Kusni nomor 10 RT 2 RW 6
Kelurahan Bancar, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Curhat

Menjadi Bapack2: Catatan Sepulang dari Kelas Ayah

Buku M.A. Rahman Hakim Ulas

Ulas Buku: Mendidik dan Menjaga Psikologi Anak

Apacapa Dwi Mustika

Mengangkat Adat Istiadat Nenek Moyang: Keunikan Jogo Tonggo di Temanggung

Puisi Rion Albukhari

Puisi: Sonet Api

Baiq Cynthia Cerpen

Kau dan Kehilangan

Futihah Qudrotin Puisi

Patung Kekasih dan Puisi Lainnya Karya Futihah Qudrotin

Dewi Masithoh Syarafina Khanza Digananda

Serunya Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Menulis Cerpen Hasil ToT

Apacapa Hodo Nafisah Misgiarti Situbondo

Hodo dan Perjalanan Bunyi; Sebuah Catatan

Apacapa Esai Rahman Kamal

Memaknai Batik Ala Jomlo

Puisi Riski Bintang Venus

Puisi – Penantian yang tak Berujung

Apacapa

Kekuatan Gaya Hidup sebagai Strategi Pertahanan Utama Kesehatan Mental

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Identitas Dangdut, Identitas Situbondo

Opini

Hancur oleh Kata

Moh. Yusran Moret

Puisi Mored: Madu Empedu dan Puisi Lainnya

Apacapa

Sasaeng Culture: Sisi Gelap Dunia K-Pop

Apacapa Rahman Kamal

Petani itu Pekerjaan Paling Enak di Dunia, Tapi Kenapa Gak Diminati Gen Z?

Prosa Mini Zainul Anshori

Kepergian Seorang Ibu

Cerpen

Cerpen: Bayangan Perpisahan

Apacapa

UMKM Nagari Amping Parak: Menggerakkan Ekonomi Lokal Bersama KKN Reguler 2 Universitas Andalas Nagari Amping Parak

Ana Rahmawati Buku Ulas

Resensi: Hampa Karya Damalin Basa