Memaknai Batik Ala Jomlo

Oleh: Rahman Kamal*
Selamat
Hari Batik Nasional, Dik. Ya, setiap tanggal 2 Oktober setiap tahunnya, kita
mengingatnya sebagai Hari Batik Nasional. Menyenangkan. Lega. Karena dua hari
di depan tanggal 2 Oktober adalah hari-hari yang terlampau serius. Kamu tahu
kenapa kan, Dik? Ya, itulah ya. Hehe.
Nah,
pada hari ini kita bisa ngobrol hal-hal menyenangkan tentang batik. Karena aku
jomlo, maka aku akan ngomongin batik dari sudut pandang jomlo. Hehe. Ya,
sebagai pemuda yang memegang teguh kesendirian, pikiranku selalu punya waktu
untuk diajak mikir. Mikir apa saja. Meskipun kebanyakan mikir gimana cara
dapat pasangan. Tapi, hari ini aku mau mikirin batik.
Dik,
kita tahu lah ya. Di banyak tempat, kita sering menjumpai banyak orang memakai
batik. Baik secara utuh ataupun hanya sekadar atribut pelangkap. Mulai dari baju,
kaos, celana, kerudung, tas, dan atribut lain yang ada batiknya seperti kesing
gawai, dan perhiasan.
Lantas,
apakah kamu sudah mempersiapkan atribut batik untuk hari ini? atau kamu tidak
punya batik sama sekali? Berat nih kalau sampai gak punya batik. Nanti dikatain
gak
cinta budaya lah, gak turut melestarikan budaya lah. Nah,
emang
kamu mau dikatain jomlo gak berbudaya? Ya secara gitu netizen
di negara ini kan lahir dari patah hati semua. Jadi kepo.Haha.
Tapi
bagiku, memakai atribut batik entah itu baju atau item lainnya bukan sekadar
tentang bangga atau turut melestarikan budaya. Ada berbagai hal lain yang
terdapat dalam batik itu. Begini wahai para jomlo.
Batik
melambangkan emosi dan kepribadian jomlo
Sebagaimana
kita tahu, batik memiliki banyak sekali motif dan corak yang tersebar
menyeluruh. Bahkan setiap wilayah di Indonesia memiliki motif batik khasnya
tersendiri. Nah, motif dan corak batik ini bukan sekadar coretan untuk
memperindah kain batik saja, tapi dalam bentuk serta pola tersebut terdapat
berbagai filosofi sesuai dengan warna dasar dan bentuk pola utamanya.
Sebut
saja batik Cirebon yang terkenal, motif mega mendung. Dengan pola awan dan warna
khas birunya yang memiliki filosofi hidup yang cukup dalam. Aku baca-baca
maknanya itu tentang kebebasan yang dilambang dengan awan. Nah, dalam perspektif
jomlo, kan pas tu. Bebas. Bebas dari tanggungan mencukupi anak orang.
Batik
turut menggerakkan ekonomi jomlo
Bangga
memakai batik bukan sekadar soal melestarikan budaya bangsa. Dengan memakai
batik kita sudah turut ikut serta memutar roda kehidupan orang-orang yang
menggantungkan hidupnya dari batik. Mulai dari pengrajin batik, penjual batik,
penjual kemeja batik, penjual sepatu batik, penjual sandal batik, serta penjual
batik lainnya.
Dengan
menggunakan batik yang tentunya kita beli terlebih dahulu, bukan hasil minjem
punya teman atau tetangga lalu tidak pernah dikembalikan. Haha. Pengalaman.
Nah, dengan membeli tentu merupakan sebuah sumbangsih yang secara tidak
langsung menyentuh terhadap roda ekonomi kreatif. Nah, apalagi jomlo juga mau
berbisnis batik. Kan bisa berkontribusi menggerakkan ekonomi bangsa tu, Mblo.
Batik
jadi instagramable kaum jomlo
Kita
ini hidup di zaman instagram. Segala sesuatu pasti tidak luput dari bidikan
lensa dan bermuara di fitur instagram stories. Buat kalian pembaca muda
dan generasi milenial yang suka main instagram, batik ini adlah item yang
instagramable. Semuanya kembali kepada angle dan seberapa lama kalian mengedit
foto kalian. Misal foto diedit berdampingan dengan foto artis gitu. Ya maklum
lah kan jomlo bebas.
Batik
melambangkan isi dompet kaum jomlo
Nah,
untuk yang terakhir. Pilihan batik kita melambangkan isi dompet kita. Yups,
karena ada berbagai macam motif batik yang tersebar dan dapat dengan mudah kita
temukan. Mulai dari pasar tradisional sampai butik modern dan mewah di kota.
Nah,
ada batik yang murah banget. Contohnya batik yang dijual di pasar tradisional,
harganya juga bisa kita tawar. Adapula batik yang harganya fantastis dan cukup
menggoyang dompet. Silahkan saja pergi ke museum batik atau pengrajin batik dan
belilah item batik termahal di sana. Tapi, aku pesan untuk jomlo jangan banyak
gaya. Sesuaikan dengan isi dompet ya. Kan percuma beli mahal-mahal tapi gak
punya pasangan juga. Ngenes.
Akhirnya,
selamat Hari Batik Nasional, Dik. Doain kaum jomlo (termasuk aku) segera dapat
pasangan.

*)
Penulis merupakan blogger dan fotografer air mata.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi Rahmat Pangripto

Puisi : Menjadi Udara dan Puisi-Puisi Lainnya Karya Rahmat Pangripto

Apacapa fulitik masrio

Mimpi Mas Rio untuk Situbondo

Alexong Cerpen Dody Widianto

Cerpen: Nyallai Siwok

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Sastra Vs Game : Dinamika Peradaban

Cerpen

Cerpen – Musim Kawin

Ana Rahmawati Buku Ulas

Resensi: Hampa Karya Damalin Basa

Apacapa Irwant Kampung Langai

Festival Kampung Langai 4 Dibuka dengan Manis, Ditutup dengan Romantis

Ahmad Zaidi Cerpen

Randu Agung

Buku Monique Clariza Resensi Ulas

Resensi: Jejak Kelahiran Manusia Lewat Adaptasi Grafis

Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 1)

Mahesa Asah Puisi

Puisi Mored: Legenda Tangis

Fahrus Refendi Puisi Puisi Madura

Puisi Madura: Sanja’

Nuriman N. Bayan Puisi

Sekelopak Mata dan Puisi Lainnya Karya Nuriman N. Bayan

Apacapa Rully Efendi

Demam Tangan Disilang, Kaesang Pun Patennang; Komitmen PSI Lawan Korupsi

Buku Ulas

Sejarah, Tubuh, Dosa dan Diri dalam Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa

Cerpen Ulfa Maulana

Cerpen: Perempuan Bayang

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen: Tanjung Kesedihan

Penerbit

Buku: Rumah dalam Mata

Apacapa Esai Imam Sofyan

Wisata Perang: Gagasan Brilian Sang Bupati

Cerpen Gusti Trisno

Cerpen: Riwayat Kedurhakaan