Antara Garis Takdir dan Aqidah

“Bagaimana jika saya tidak terlahir di keluarga Muslim?” Pertanyaan itu sering kali terlintas dalam pikiran saya. Sebab, hampir setiap anak yang lahir akan mengikuti agama yang dianut oleh keluarganya sendiri. Sejak kecil, identitas keagamaan telah melekat bahkan sebelum seseorang mampu berpikir, mempertanyakan, atau memilih keyakinannya sendiri.

Namun, tidak semua orang menjalani jalan hidup yang sama. Ada mereka yang, setelah melalui perjalanan panjang, memilih keyakinan yang berbeda dari agama yang diwarisi sejak lahir. Pilihan itu tidak selalu lahir seketika. Ada yang berawal dari pengalaman hidup, kegelisahan, perjumpaan dengan orang lain, hingga perjalanan pencarian ilmu yang panjang.

Suatu ketika, saat mengikuti pengajian kitab Idhahul Afadhil syarah Mandzumatul Masa’il karya KH. Abdullah Sajjad yang disyarahi oleh KH. Abdul Basith, saya menemukan pembahasan mengenai tingkatan keyakinan. Di sana dijelaskan bahwa keyakinan memiliki tiga tingkatan: ‘ilmul yaqin, yaitu keyakinan yang lahir dari pengetahuan; ‘aynul yaqin, yaitu keyakinan yang lahir karena melihat secara langsung; dan haqqul yaqin, yaitu keyakinan yang lahir karena mengalami sendiri.

Mendengar penjelasan itu membuat saya berpikir saat itu juga. Fokus saya langsung terpecah. Yang awalnya khusyuk mendengarkan, tiba-tiba saya justru sibuk merenungkannya. Lalu, tercetuslah pertanyaan yang langsung menghujani pikiran saya: sebenarnya, mengapa saya meyakini Islam sebagai agama yang benar? Apakah karena saya telah sampai pada tingkat haqqul yaqin? Atau keyakinan saya masih berada pada tingkat ‘ilmul yaqin karena sejak kecil saya diajarkan bahwa Islam adalah agama yang benar?

Saya membayangkan ada seorang anak yang lahir di keluarga Kristen di Inggris, seorang anak Hindu di Bali, ataupun seorang anak Buddha di Cina. Barangkali mereka pun tumbuh dengan keyakinan yang sama kuatnya seperti saya, bahwa agama yang mereka warisi adalah jalan yang benar. Jika demikian, apakah yang membedakannya? Tempat lahir? Orang tua? Lingkungan? Ataukah ada sesuatu yang harus ditemukan sendiri dalam hidup masing-masing?

Bukankah sebagian besar dari kita mengenal Islam pertama kali melalui orang tua, guru, pesantren, sekolah, ataupun lingkungan sekitar? Kita percaya karena diberitahu. Kita belajar salat karena diajarkan. Kita mengenal Al-Qur’an karena diperkenalkan sejak kecil. Semua itu tentu merupakan nikmat yang besar. Tetapi kemudian saya bertanya kepada diri sendiri: apakah menerima sesuatu sejak lahir sudah cukup untuk membuat seseorang benar-benar memahami dan menghayatinya?

Mungkin Anda akan berkata bahwa pertanyaan seperti ini tidak perlu dikemukakan. Bukankah iman cukup diterima atau dipercaya? Saya pun pernah berpikir demikian. Namun, jika setiap orang menerima agamanya karena dilahirkan di dalamnya, lalu apa yang membedakan antara keyakinan saya dan keyakinan mereka yang lahir di agama lain?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa seseorang harus meninggalkan keyakinannya hanya karena ia lahir dalam keluarga tertentu. Bukan pula berarti bahwa agama yang diwariskan oleh orang tua menjadi tidak bernilai. Justru sebaliknya, saya melihat kelahiran dalam keluarga Muslim sebagai sebuah nikmat yang sangat besar. Hanya saja, nikmat itu semestinya menjadi awal perjalanan, bukan alasan untuk berhenti berjalan.

Sebab, ada perbedaan antara seseorang yang sekadar memiliki agama dan seseorang yang menyadari mengapa ia beragama. Yang pertama mungkin cukup mengatakan, “Saya Muslim karena orang tua saya Muslim.” Sementara yang kedua mulai bertanya, “Mengapa saya memilih untuk tetap menjadi Muslim setelah saya diberi kesempatan untuk bertanya?”

Pertanyaan kedua inilah yang menurut saya penting. Bukan karena mempertanyakan agama berarti meragukannya, tetapi karena dari pertanyaan itulah seseorang dapat menemukan alasan yang lebih dalam untuk meyakininya. Keraguan yang dihadapi dengan ilmu dapat menjadi jalan menuju keyakinan yang lebih matang. Sebaliknya, keyakinan yang tidak pernah direnungkan bisa saja menjadi sekadar kebiasaan yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Ketika saya membaca buku dengan judul Tasawuf Modern, saya menemukan gagasan Hamka yang membuat saya semakin memahami bahwa agama tidak cukup sebagai identitas yang diwariskan, melainkan harus menjadi jalan menjaga diri. Kebahagiaan, ketenangan, dan kekuatan iman tidak lahir dari sekadar pengakuan sebagai Muslim, tetapi juga dari usaha membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dengan demikian, menjadi Muslim karena keturunan sebenarnya adalah titik awal. Mengapa demikian? Karena kelahiran di keluarga Muslim memang merupakan nikmat yang patut disyukuri, tetapi nikmat itu belum otomatis menjadikan seseorang memiliki keimanan yang matang. Keimanan menuntut ikhtiar. Ia tumbuh ketika seseorang mulai bertanya, belajar, merenung, lalu mengamalkan apa yang diyakininya.

Dalam perspektif Hamka, akal dan hati bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Akal diperlukan untuk menentukan kebenaran, sedangkan hati diperlukan agar kebenaran itu benar-benar meyakinkan manusia. Ketika keduanya berjalan beriringan, agama tidak lagi sekadar diwarisi, melainkan disadari. Pada saat itulah seseorang bergerak dari sekadar percaya menuju benar-benar beriman.

Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak dapat memilih di mana kita dilahirkan, siapa orang tua kita, atau agama apa yang pertama kali diperkenalkan kepada kita. Namun, kita memiliki kesempatan untuk mengenal kembali apa yang kita warisi itu. Kita dapat membaca, belajar, bertanya, berdiskusi, bahkan menghadapi kegelisahan yang muncul dalam perjalanan. Dari sanalah keyakinan dapat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih personal dan lebih sadar.

Saya mungkin tidak pernah memilih lahir sebagai Muslim. Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga, lingkungan, dan keadaan yang membuat Islam menjadi agama pertama yang saya kenal. Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa persoalan terpenting bukanlah bagaimana saya dilahirkan, melainkan bagaimana saya menjalani kehidupan setelah dilahirkan.

Sebab, menjadi Muslim karena kelahiran adalah takdir yang tidak pernah saya pilih. Tetapi menjadi Muslim yang benar-benar beriman adalah perjalanan yang harus terus saya usahakan.

Saya mungkin tidak pernah memilih lahir sebagai Muslim. Namun saya selalu dapat memilih apakah saya akan mati sebagai seorang yang benar-benar beriman.

Penulis

  • Farhan Amin, asal Ambunten, Sumenep. Santri Annuqayah Lubangsa dan Siswa SMA Annuqyah sedang berproses di Redaksi Muara, Iksaputra, dan BPBA English.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Derita Ekspektasi Tinggi: Konversasi Buku Menjadi Film, Saat Imajinasi Kita Diterjemahkan Ulang

Apacapa

Buku dan Perpisahan

M. Kholilur Rohman Resensi

Resensi: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong

Apacapa

Gawai Bukan Musuh, Asal Kita yang Kendalikan

Agus Hiplunudin Apacapa

Hak Politik Para Koruptor pada Pemilu 2019

Haura Zeeba Karima Mored

Cerpen Mored: Katarsis

Cerpen Ira Atika Putri

Cerpen: Budak!

Ahmad Sufiatur Rahman Cerpen

Cerpen : Ketika Tubuh Bicara

Cerpen Moret Taradita Yandira Laksmi

Cerpen Mored: Jangan Bilang I Love You

Nuriel Haramain Puisi

Puisi: Alkisah Mawar Berdarah

Curhat

Diary Al Kindi: Lebih Dalam dari Sekadar Matematika 100–31=69

Agus Hiplunudin Cerpen

Cerpen Maha Dewi

Apacapa Esai Kakanan Wilda Zakiyah

Pedasnya Jihu Tak Sepedas Rindu

Apacapa Nanik Puji Astutik

Menjadi Perempuan Cerdas di Era Milenial

Apacapa

Mencari Keroncong di Situbondo

Agus Hiplunudin Apacapa Feminis Opini

Masih Lemahnya Peran Politik Perempuan di Pileg 2019

Apacapa

Mara Marda Institute Gandeng Bank Indonesia Gelar Pelatihan Inkubator Industri Kreatif

Buku Indra Nasution Ulas

Kritik Terhadap Demokrasi

fulitik Marlutfi Yoandinas masrio

Buka Bersama Seniman: Mas Rio Didoakan Menjadi Bupati Situbondo

Apacapa Esai Tjahjono Widarmanto

Menghikmati Sejarah