
Sore itu, saya baru saja beres mandiin anak-anak perempuan kami yang makin hari ada saja dramanya. Tapi kecintaan saya kepada mereka kian tumbuh sepanjang hari. Nah karena sudah santai, saya seruput lagi kopi bikinan istri saya yang cantik itu. Lalu saya buka gawai dan berselancar di tiktok.
“Hmm… fans setan merah itu lagi,” gumam saya saat melihatnya muncul di beranda paling atas.
Saya selesaikan nonton konten tersebut lalu meninggalkan pesan di kolom komentar dengan tulisan begini: Konten terbaik sejauh ini. Ada renungan, ajakan, harapan, dan ambisi untuk terus merealisasikan tempat-tempat impian. Menjura, Mas.
Di konten itu, Mas Rio duduk di tepi jendela kereta api yang sedang melaju menuju arah timur. Pakaiannya cuma kaos hitam polos. Suasananya redup khas sore hari di gerbong kereta. Ia mendongak menatap jendela, lalu mulai ngoceh santai.
Saya menyimak baik-baik apa yang ia sampaikan. Lalu tiba-tiba melintas pikiran begini: dalam banyak kesempatan, Mas Rio ini gak lagi hanya sebagai Bupati dengan segala beban gelarnya, melainkan seorang “kawan perjalanan”.
Mas Rio adalah tipe kawan yang kalau kita temui di stasiun atau warung kopi larut malam, bakal memancing kita mengobrolkan hal-hal yang agak sentimentil: tentang hidup, mimpi yang terbengkalai, dan harapan untuk tetap tumbuh sebagai manusia.
Dan inilah yang saya “tangkap” dari beberapa potongan kalimat Mas Rio di konten dengan caption Bupati juga manusia! Ayoo travelling bareng itu.
Melepas “Lipstik Sosial” di Gerbong Kereta
Di tengah-tengah ia asyik curhat, ada momen bikin saya senyum-senyum sendiri: ponselnya yang dipakai merekam mendadak jatuh. Kalau ini video katakanlah pencitraan resmi, jelas bagian itu bakal dipotong habis oleh tim media. Tapi Mas Rio malah membiarkannya tetap ada, tertawa sendiri, lalu lanjut bercerita tentang alasannya gemar jalan-jalan sendirian (Solo traveler).
“Saya merasakan betul betapa menjadi diri sendiri itu ketika solo traveler. Saya tidak lagi menggunakan lipstik, saya tidak menggunakan atribut sosial… nggak pakai lipstik lah, nggak pakai parfum, apa adanya. Dan saya suka itu.”
Pilihan katanya soal “lipstik sosial” itu rasanya menohok sekali. Coba deh kita jujur saja, sering kali kita ini lelah memakai lipstik sosial saban hari. Harus nunduk-nunduk di depan kepala sekolah (Jangan tanya itu siapa, ya haha), harus kelihatan sukses di depan tetangga, atau pura-pura ramah di depan orang yang sebenarnya bikin makan hati.
Mas Rio mengingatkan kita bahwa perjalanan, terutama perjalanan sendirian adalah ruang paling suci, tempat ia bisa melepas seluruh topeng dan kepura-puraan itu untuk kembali jadi manusia yang jujur dan apa adanya.
Cita-cita Keliling Dunia
Lalu berikutnya. Yang membuat obrolan sore di kereta itu makin terasa dekat adalah betapa “apa adanya” seorang Mas Rio ketika bicara soal mimpi dan realitas. Ia bercerita, sejak kecil hobinya memegang peta atlas, memutar globe, dan menghafal nama ibu kota negara-negara jauh. Cita-citanya adalah ingin keliling dunia.
Apakah setelah terpilih dan memegang jabatan lantas impian itu langsung terwujud karena punya kuasa? Ternyata tidak juga. Tanpa rasa gengsi dan dengan nada seloroh khasnya yang enteng, ia blak-blakan membongkar rahasia dapur keuangannya:
“Kemarin uangnya udah habis buat Pilkada. Ya terus terang saya katakan… Kita cari uang lagi entar lagi, ya. Kita tabung lagi, kita siapkan lagi untuk keliling dunia.”
Menyimak kalimat itu, saya semacam diajak lagi berpikir tentang perlunya berterus terang. Mana ada pejabat yang mau terang-terangan bilang uangnya ludes dipakai Pilkada di depan kamera? Nah tapi justru di sinilah letak pesonanya, saya kira. Di balik candaan itu, ada pelajaran keras tentang daya tahan. Di umurnya yang sudah memasuki 42 tahun, ia tidak mengubur cita-citanya dengan alasan “sudah sibuk” atau “faktor usia”. Uang habis? Ya cari lagi, tabung lagi, berangkat lagi.
Mas Rio secara tidak langsung sedang menepuk bahu kita yang kerap mengeluh bahwa batas usia atau dompet yang tipis adalah akhir dari segalanya. Kalau seorang Bupati saja rela mengulang proses menabung dari nol demi menuntaskan impian masa kecilnya, kenapa kita harus terburu-buru memadamkan mimpi kita sendiri? Iya, kan?
Merawat Harapan, Menjadi Elang
Mendekati akhir perjalanan keretanya, arah obrolan Mas Rio bermuara pada satu titik tempat yang diidam-idamkan banyak orang: Banda Neira. Ia mengaku terprovokasi oleh pesan legendaris Sutan Syahrir agar “jangan mati sebelum ke Banda Neira”.
Sambil menatap pemandangan luar jendela yang perlahan mengabur disapu kecepatan kereta, ia merangkum filosofi perjalanannya dengan sebuah kalimat ringkas yang menurut saya cukup dalam:
“Hidup itu seperti perjalanan. Ada pemberhentian… (Lalu ada momen Mas Rio terdiam. Apa itu artinya?) Itu kesyahduan. Berjalanlah atau berterbanglah seperti elang. Eagle flies alone. Sampai ketemu di tempat yang kita idam-idamkan.”
Eagle flies alone. Elang itu terbang sendiri, tidak pernah bergerombol seperti burung gereja. Ini menjadi semacam pesan untuk siapapun. Ada kalanya, dalam upaya mendewasakan diri dan merealisasikan cita-cita, kita harus berani mengambil jalan yang sepi. Tidak perlu selalu mengekor kerumunan hanya agar merasa aman, dan tidak perlu sibuk minta persetujuan orang lain atas mimpi yang ingin kita tuju.
Kawan Seperjalanan
Barangkali, kita sering merasakan bahwa dunia politik dan birokrasi di Indonesia ini sering kali terasa dingin, kaku, dan berjarak. Tapi sore itu, lewat sepotong video berdurasi tiga menit dari dalam gerbong kereta, Mas Rio hadir sebagai kawan seperjalanan yang mengetuk pintu kesadaran kita.
Ia seolah ingin bilang: lepas dulu topengmu, taruh dulu beban jabatannmu, lalu mari bicara tentang mimpi yang belum selesai.
Selama jantungmu masih berdetak dan roda-kereta-kehidupan masih berputar, jangan pernah khawatir. Selalu ada ruang untuk menabung harapan dan terbang tinggi menuju “Banda Neira-mu” masing-masing.
Demikian.
Tinggalkan Balasan