Kategori: Puisi
-
Puisi Mored: Bunga Perkasa dan Puisi Lainnya
Oleh: Nur Akidahtul Jhannah* SANDARAN KELUARGA Ayah Tak pernahkah kau merasa lelah Dengan hidup kita yang susah Terkadang kami gelisah Jika kau akan putus asa Ayah Namun kami salah Kau adalah orang yang tak mudah putus asa Bahkan saat kau sedang lengah Kau selalu membuat kami terpanah Ayah Kini kau tiada Memenuhi panggilan yang kuasa
-
Rindu dan Puisi Lainnya
Oleh: Ririn Anggraini* Merindumu Tak Akan Usai Aku terdiam dalam pilu yang berdetak Rindu yang dalam semakin menjejak Cukuplah usahaku menafikanmu dalam benak Namun semakin kuat semakin beranak pinak Biarlah aku merindumu lagi Tanpa kutahu kapan kau kembali Biarlah kunikmati sepi ini Bersama bayanganmu dalam hati, malam ini Situbondo, 20 Desember 2019 Rinduku Terhalang Ilalang
-
Puisi: Labirin Kerinduan
PUISI: GUS FAHRI Reuni Persakitan Di kediaman itu serentak kita bungkam. Kau merunduk kelamkan senyum, entah Untuk siapa? Sama sekali tiada ragu Memahar Asmaul Husna ke lekuk rusukmu Agar aku bertabah hati mengistalahkan pedih. Atau kau sengaja bersekutu dengan durjana, Setelah saban hari kulukis kau sebagai Fatimah Pada hayat tandusku. Sebutlah aku pangeran yang mengendap
-
Gunung Ringgit dan Puisi Lainnya
Oleh: M Firdaus Rahmatullah* Gunung Ringgit tiada yang tersisa di gunung ringgit, udara habuk dan dedaunan gugur serupa kapuk yang selalu membuat mataku berang seolah menempuhi hidup tak tenang demi membersihkan diri dari waktu bersuci dari perilaku tak tentu menghitung yang kandas sebelum kata-kata lunas sambil melepas harapan yang aku pegang menerbangkannya menuju cakrawala mendatang aku
-
Puisi: Diorama Talang Siring
*Puisi Lelaki Sungai Kembali Kepadamu -: Si Kumis Merah Di kapal ini aku mengasah pena dan ketajaman indra Dengan puisi tertancap matahari, gunung, karang,ikan dan mutiara. Di kapal ini aku merangkai kesabaran dada Sebab nurani membuncah amarah menggelora. Di kapal ini aku menelaah kesederhanaan rasa Pada setiap jengkal waktu tak henti meroda. Dan di kapal
-
Puisi Mored: Sabit Hingga Purnama
Puisi-Puisi Silvana Farhani Mawar dan Puisi :Zanna Faireza Cha, Segeralah berdoa semoga akan banyak kado di lemari kamar Dan dariku Kulipat kertas berisikan puisi Kuselipkan di tangkai bunga mawar Yang sengaja kutitipkan pada merpati putih Dan nanti, kau akan menemukannya di depan rumahmu Bersama pangeran tampan pujaan hatimu Cha, Perihal pertemuan yang tak tahu
-
Puisi: Santet
AWAL TAHUN : MUSIM AKAN BERGANTI Pancaran cahaya keperak-perakan Dari mendiang sang senja Bekas silauan mentari yang mulai terbenam Di penghujung barat cakrawala Berhias gerombalan burung camar Yang hendak pulang menuju sarangnya Sambil dendangkan kicauan khas Bertasbih memuji sang pencipta Namun, gumpalan pekat bertransisi Mengitari atap langit kala itu Mengikuti setiap embusan angin Dari arah
-
Puisi: Sabda Hujan
SAMPAI JADI DEBU Ia telah selesai membaca kata-kata, menguatkan dadanya . Maka sebelum kembali melanjutkan perjalanan, Ia belajar lebih agar sampai ke tempat tujuan. Namun ia juga telah selesai mendengar kata-kata, semakin mematahkan semangatnya. Dari segala penjuru, kata-kata menjelma peluru. Jika lengah sedikit, ia akan hancur, jadi debu Bekasi, 2019 SABDA HUJAN Aku berdiri menghadap
-
Puisi: Amsal Luka
PUISI-PUISI: J. AKIDLAMPACAK* Amsal Luka Jeritan yang berada di dasar waktu adalah rindu Dan engkau belum sempat melihatnya, sebab kepercayaan hanya milik cahaya. Namun, di tubuh kita, sebuah doa selalu tercipta. Pesona yang turun perlahan Seperti menuliskan kepulangan Menepi di tempat biasa kita menyendiri Sebelum kematian terlalu senang dicermati. Sampang.2019 Surat Terakhir Di surat
-
Puisi: Perantau Karya Anugrah Gio Pratama
PERANTAU Aku menjelma seekor ikan yang menyelami seribu sungai di antara keriuhan semesta, di antara kekacauan cuaca, di antara waktu yang koyak oleh kerapuhan usia. Bersama arus air aku mengembara menuju sebuah kota yang memusnahkan mimpi pepohonan. Dan dengan napas yang panjang kuhirup aroma kerinduan yang terbit dari kampung halaman. 2019 JEJAK YANG HILANG Tiap