Kategori: Puisi

  • Puisi: Wanita Tanpa Wajah

    pixabay RISALAH PILU Tiada kata yang  terucap Terbungkam dan terkunci Ini sudah kehendak-Nya Tawakaltu Alallah… Tapi aku masih tak percaya bahwa kau telah tiada Karena riuh canda tawamu seakan masih nyata Namun apalah daya Batu nisan sebagai pertanda Titik pengembaraanmu di dunia Takkan ada lagi teman yang menemaniku menapakkan sejarah Takkan ada lagi teman yang

    selengkapnya…

  • Puisi: Proposal Rindu Karya RM. Maulana Khoerun

    Jalan Buntu Aku menemui jalan buntu Saat sang ratu bersanding bersama musafir dalam potret Harapan kini tinggal puing-puing diwadahnya Hanya sedikit azam membangun kembali remukan itu Mendung menjajah jalan buntu Harus apa aku sekarang? Aku tak lagi pantas bergelar ksatria Jika diam saja saat hujan membanjiri wajah sungai Jalan ini benar-benar buntu..! Orang-orang pun terlampau

    selengkapnya…

  • Puisi: Tamadun Semu Karya Dani Alifian

    Doa sebelum Makan Tuhan jadikan dalam sepiring nasiku sebagai penguap syukur Kupupuk laparku dari keringat petani papa yang menanam padi dari pagi hingga juntai sore, angka kalender bolehlah terus berlalu, tapi sayur hijau dan kecambah putih tetap setia menghidang di hampar mata tempe mesti akrab dengan tahu, meski belum sempurna tanpa sambal, Dalan sepiring nasi

    selengkapnya…

  • Puisi: Artefak Kesedihan Karya Hari Alfiyah

    Cukuplah :INHF Cukuplah sebagai awan Yang kehadirannya terkadang tak kau inginkan Cukuplah sebagai hujan Yang datangnya tak kau rindukan Cukuplah sebagai kicauan Yang lebih banyak kau lupakan Cukuplah sebagai tangisan Yang tak pernah kau harapkan Cukuplah sebagai pembicaraan Yang lekas kau lupakan Cukuplah sebagai pikiran Yang tak akan pernah kau utarakan Cukuplah sebagai kanangan Yang

    selengkapnya…

  • Puisi: Kehilangan Karya Wahyu Lebaran

    PUISI-PUISI WAHYU LEBARAN* KEHILANGAN 1 sudah kubuang, lembaran kertas tulisan tangan. sebagian kubakar, sesekali terbayang membakar kenangan. cinta begitu sunyi, gelap, dan mendung. hujan menetes kecil, jendela memburam. berlembar kertas mengabu, sesudah itu. rindu ingin bertemu, mencicip moka, di kafe yang dulu. akankah hilang bekas-genggamanmu— di peron, di stasiun yang menua itu? KEHILANGAN 2 di

    selengkapnya…

  • Puisi: Muasal Luka 3 dan Puisi Lainnya

    Joan Brown on Pinterest.com Jarak II Jalan menuju rumahmu telah retak Seretak hatiku menahan rindu. Annuqayah, 2019 Kepada Kekasih             ; Husnol Khotimah Mari kita bunuh sepi Tak perlu meniru matahari, kekasih Sebab canda selamanya akan tetap candu Di antara kita. Sungguh semenjak aku mencintaimu Sungai-sungai resah tiada mengalirkan gelisah Lading-ladang subur ditumbuhi mimpi. Lalu,

    selengkapnya…

  • Gemalaguna dalam Kata-Kata

    GEMALAGUNA Sekadar hijau dan gelap Hanya riuh dan degub debur Hatinya diterjang keabaian Jantungnya dicubit lalu kau tinggalkan Kami mengerti, tapi kalian belum memberi empati Hatinya geming resah Jantungnya ditikam lantas kau bungkam teriakan Sekadar biru yg menghanyut sisa sisa Hanya salin larut yg sejati bohong kalau sysipus belum  mengungkap laranya Atau kau berpura pura

    selengkapnya…

  • Puisi: Tiga Cangkir Kopi untuk Pacarku

    the wallpaper.co Secangkir Arabika Kita sedang berselimut dingin Hingga aku lupa memelukmu agar hangat Namun yang takkan kulupa, selalu kusajikan secangkir Toraja Meski yang kau inginkan secangkir Gayo pagi itu Entah engkau lupa, aku yang bersalah pada sakitmu Karena secangkir itu yang menusuk lambungmu Memang arabika asamnya tak terkira Meski aromanya lebih halus dan lembut

    selengkapnya…

  • Puisi : Kerudung Biru Karya Busyairi

    Puisi-Puisi Busyairi KERUDUNG BIRU Alunan melodi terasa syahdu Mengalun dalam ruang rindu Aku yang masih ambigu akan dirimu Tak kusangka bahwa penggambaranmu Seindah kenyataan sebenarnya Malu-malu aku sapukan pandangan padamu Samar-samar kamu juga mencuri pandang padaku Tatapan itu selalu terbayang Dan terbawa di setiap sel-sel pikiran Perlahan tapi pasti Semoga harapan tak menyakiti Kerudung biru

    selengkapnya…

  • PUISI: Antara Lidah-Api Karya Aang M,Z.

    PUISI-PUISI AANG M,Z* SESAKA DALAM BERSETAPAK Lidah kaki telah menjilati lorong-lorong kerontang Kemarau dalam bersetapak Yang menempuh jarak tak bisa dipandang Sampai atau tidak sampainya Tergantung dari peristiwa alam Apalagi mati di hulu bersetapak Jika kemarau berganti hujan Maka tak akan sampai kemuara tujuan Sebab kegigilan menjadi sesaka Jika kemarau masih setia Berarti perjalan kita

    selengkapnya…