Kategori: Puisi

  • Puisi-Puisi F. A Lillah: Narasi Hujan

      Puisi-Puisi F. A Lillah Narasi Hujan   Hujan yang turun di kotamu kala sore Adalah rupa bahasa prosa Tanpa petir.   Sebaiknya jangan rebahan dulu Pergilah ke muka jendela Aku ada di sana Sebagai bunyi hujan Yang sering diabaikan.   Kontrakan IAA 2024       Morfologi Cinta   Harum daun jeruk purut di

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

    Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

    MENCINTAI BAHASA                  Aku mencintai bahasa, yang mengantarku memeluk kata, dan isyarat pada jiwa Aku pun berjalan ke sebuah lambangMendengarkan bunyiSeperti hujan turun ke lembah, ke sungai yang beningBercakap-cakap dengan mesraBatu-batu dan ikansegala peristiwaMeliput nyanyian para pejuang Hal yang mesti hidupLahir dan tumbuh remajaHarum gemersik, sebatang pohon berbuah budi   Indramayu, 2020 BUNGA BANGSA               Manisnya perjuanganDiisap mulut lebah, dari

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Irham Fajar Alifi: Layu Kelopak Kamboja

     Menggenggam Hari Sakral   Bisa jadi, yang datang padamu Bukan hanya penyesalan Melainkan resah akan masa depan Legi, pahing, pon, kliwon kau tunggu; kau hitung   Sementara tak pernah kau pinang kebahagiaan Kecuali sepihak langkah ibu bapakmu Kini kau hanya mampu membiarkan tubuhmu dibanjur Diwarnai warna-warni kembang setaman. Padahal yang akan kau genggam bukan sekadar

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi S. Mandah Syakiroh: Mata

      Selimut Ibu   di tengah ribut angin juga sepanjang gang depan rumah yang becek ibu begitu khusyuk menjahit selimut baru yang bolong-bolong   pada setiap benang dan jarum yang saling melintang ibu kaitkan serupa doa yang menyembur dari sumur dalam tubuhnya    “semoga tak ada satu angin pun yang menusuk lalu memadamkan mimpimu. semoga

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Eva Salsabila: Kontemplasi Rembulan

      selaksa pilu   Di tengah lamunanku, bayangmu merasuki ruh menggiring pada memori kuno ;ia tepat terperangkap kala perjumpaan kali pertama bukan sekadar terasa manis mengingatnya, pun jua memicu debaran yang nyaris mencolot dari persemayamannya   sesekali aku berupaya memafhumi makna persuaan rasa antar insan sesekali pula menafsirkan dukana yang terselip pada renjana   bukan

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Zulhan Nurhathif: Tentang Saat Ini

      Tentang Saat Ini   Saat ini tubuhku telah pecah menjadi kepingan-kepingan yang susah dikumpulkan kembali.   Sebagian besar berada di gawai yang bagai anai-anai selalu merenggut bagian-bagian kecil diriku, satu-persatu.   Sisanya, sebagian kecil diriku sedang kebingungan di tengah jalan mencari jalan pulang menuju Ibu.   Al Ikhsan, November 2022       Mengheningkan

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Cahaya Fadillah: Setelah Engkau Pergi

      Permintaan Paling Memaksa   Tuhan, boleh aku meminta? Sedikit memaksa kelihatannya Engkau pasti lebih tahu maksud hatiku sebenarnya Maafkan hamba   Tuhan, pintaku masih sama Masih tentang dia, jodoh yang engkau takdirkan sedikit lebih lama Lalu engkau panggil secepat kedipan mata   Tuhan, aku salah apa? Hingga menghukumku sedemikian hebatnya Dia yang paling memahami,

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Miftah Zururi: Kamar Mandi Sekolah

    Belajar Menjadi Bapak Guru   Di suatu pagi, sebelum kami membuka buku pelajaran bahasa Indonesia, aku mendengar bapak guru memanjatkan doa: “Tuhan, aku belajar menjadi bapak guru dari dirimu yang menciptakan nun sehingga ada pena, mengajarkan Nabi sehingga ada puisi, dan merawat pohon-pohon jati sehingga ada buku-buku. Maka bacakanlah puisi setiap tulisanku di papan putih

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Aditya Ardi N: Memorabilia Wartel

    memorabilia wartel   dari kbu 1 aku memanggilmu lewat sambungan langsung jarak jauh   di luar kbu seakan lenyap segala derap segenap suara seakan dibisukan dan kabut berlepasan dari liang pikiran   “aku masih mendengarmu. lekas utarakan madah kerinduan, seharum sedap malam. sebelum malam jadi jelaga, dan pagi akan menyusutkan renjana di relung sukma,” katamu.

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Ngadi Nugroho: Ramadan

      RAMADAN   Setiap Ramadhan kucium aroma rendang bikinan ibu Sedangkan paman Asyik bertandang Sekadar mampir untuk salat Ramadan pun pasti seolah sekadar lewat Esok suara-suara orang mengaji samar-samar ikut lenyap Tak luput aroma rendang bikinan ibu Pelan-pelan terbawa angin melindap   Satu per satu bergegas Menyamarkan kenangan yang mulai tanggal dan lepas Hari-hari tak

    selengkapnya…