Menggapai Atap Jawa

Mahameru 3676 mdpl
Saat mendengar nama Mahameru pasti tidak asing ditelinga kita sebuah film yang berjudul 5 cm, film yang sudah lama tayang beberapa tahun lalu, namun kali ini saya tidak akan membahas film tersebut yang sebenarnya mengandung pro dan kontra, hanya saja saya ingin berbagi cerita terkait perjalananku.
Gunung Semeru berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan ketinggian 3676 mdpl yang merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru juga merupakan salah satu seven summits Indonesia yang ke 4 setelah Gunung Rinjani. Gunung tersebut terletak antara Malang dan Lumajang, untuk jalur menuju pos pendakian bisa melalui Lumajang atau Malang, tergantung kita mau pilih yang mana.
Berikut adalah daftar Nama Gunung yang termasuk seven summits di Indonesia
1. Cartensz Pyramid 4884 mdpl, Papua
2. Gunung Kerinci 3800 mdpl, Pulau Sumatera
3. Gunung Rinjani 3726 mdpl, Nusa tenggara dan bali
4. Gunung Semeru 3676 mdpl, Pulau Jawa
5. Latimojong 3478 mdpl, Pulau kalimantan
6. Gunung Binaiya 3027 mdpl, Kepulauan Maluku
7. Bukit Raya 2278 mdpl, Pulau Kalimantan
Untuk menggapi puncak Semeru waktu yang paling cepat diperlukan adalah 3 hari dua malam, sedang untuk pendakian santai bisa 3 hari 3 malam
Hari pertama;
Setelah mengurus perijinan, breafing dan cek keperluan logistik, berdoa, kami memulai pendakian dari pos Ranu Pani, Ranu Pani merupakan desa terakhir di Kabupaten Lumajang, di gerbang pendakian tertulis selamat datang para pendaki Gunung Semeru yang artinya kami tiba di pos pendakian.
Kurang lebih 4,5 jam kami berjalan akhirnya kami lihat sebuah danau dari kejauhan yang sangat indah, aku lihat beberapa bunga edelwais juga tumbuh di sekitar danau, sungguh pemandangan yang sangat jarang aku temui, tidak salah lagi danau tersebut adalah Ranukumbo. Ranukumbolo berada di ketinggian 2400 mdpl dengan luas lebih kurang 15 Ha, suhu minimum antara -5 – -20 derajat celcius, dan juga merupakan camping ground yang pertama
Selanjutnya adalah mendirikan tenda, makan malam, yang tidak kalah penting adalah ngopi diketinggian loh, hehe.
Malam semakin sunyi, aku lihat lampu-lampu dalam tenda satu persatu mati, itu tandanya mereka sudah pada mau beristirahat, malam itu Ranukumbolo terlihat kabut tentunya dingin yang semakin menusuk tulang, aku pun segera ambil sleeping bag, lalu tidur. Krok… Krok…
Malam segera berlalu tergantikan oleh pagi yang cerah, surya perlahan menampakkan senyumnya, hmmmm…. Memang gak ada habisnya kalau bahas ketinggian, hihi.
Setelah sarapan, packing kami pun melanjutkan perjalanan
Hari kedua;
Dari Ranukumbolo para pendaki harus melewati beberapa daerah diantaranya adalah tanjakan cinta, padang oro-oro ombo, pos cemoro kandang, pos jambangan kemudian pos kalimati, yang merupakan camping ground kedua sebelum ke puncak perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 4 jam.
Setibanya di kali mati kami pun mendirikan tenda, makan malam selanjutnya istirahat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak semeru.
Kring, kring… Alrm di hape-ku berbunyi jam menunjukkan pukul 23:00 WIB, itu artinya pendakian ke puncak akan segera dimulai, setelah mempersiapkan logistik, dan peralatan pendakian kami pun melanjutkan perjalanan pukul 00:00 WIB, setapak demi setapak kami lalui, disini mental kami benar-benar diuji, dingin sudah pasti, lelah apalagi, dua jam berlalu kami tiba di batas vegetasi, disana kami tidak lagi menjumpai pohon, angin berhembus secara langsung menerpa tubuh kita, dibutuhkan konsentrasi dan fokus, trek semakin berat karena memang yang kami lalui adalah pasir. Aku lihat beberapa turun, setelah ditanya mereka rata-rata tidak kuat menahan dingin karena memang suhu di Mahameru minus 0 derajat celcius.
Awaaaas!!! Ada batu! terdengar teriakan kencang sekali dari atasku, beberapa pendaki menghindar dan aku pun segera menghindar, dari kejadian tersebut aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak
“Se-extreme inikah untuk bisa sampai puncak Semeru? Tanyaku kepada salah satu teman.
“Ya begitulah Semeru, Pul.”
“Aku balik saja ya? Aku tidak sanggup lagi untuk jalan.”
“Segitu nyalimu, Pul?”
“Bukan begitu, aku tidak bisa membayangkan seandainya batu tadi menimpaku?”
“Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan.”
Setelah lama berdiskusi akhirnya aku kalah sama rayuan mereka, dan memilih untuk melanjutkan ke puncak
Jam menunjukkan pukul 05:00 wib, terlihat kuning ke emasan di ufuk timur, seketika langkahku terhenti, aku ambil beberapa logistik untuk sekedar mengganjal perutku yang sudah mulai terasa lapar sambil menikmati samudera awan di sela-sela bibir pasir Semeru, oh Tuhan, Maha Besar Engkau yang telah menciptakan semesta ini dengan segala keindahannya.
Setelah 1,5 kemudian akhirnya aku tiba di puncak Semeru, Puncak Tertinggi di Pulau Jawa, kawah Jonggring Saloko yang sering meletupkan kupalan asap putih dan batuan vulkanis dekat sekali denganku kala itu, bersyukur bisa menapaki kaki disini, haru, capek, cemas, bahagia, campur aduk jadi satu.



Disini, disub negeri ini, tepatnya di atap Pulau Jawa, aku tanam semangatku di setiap kedip mata, ku ukir kisahku bersama bersamamu, ku nikmati anugerah Sang Maha Karya, terimakasih Tuhan.
Kurang lebih 15 menit aku di puncak, kemudian segera turun karena dikhawatrikan arah angin berubah secara tiba ke arah kami.
Perjalanan pulang menuju kali mati berbanding terbalik pada saat muncak, jika ke puncak butuh waktu 7 jam, maka saat turun hanya ditempuh kurang lebih 2 jam
Selanjutnya adalah istirahat sejenak di pos kali mati, sekedar memulihkan tenaga untuk perjalanan pulang menuju Ranukumbolo
Pukul 15:00 WIB, kami pun segera kembali ke Kumbolo, takut kemalaman di perjalanan, karena memang persediaan penerangan sudah sangat minim
Malam terakhir di Ranukumbolo kami habiskan untuk ngobrol bersama temen-temen, suhu tubuh sudah mulai beradaptasi dengan Ranukumbolo, dingin sudah tidak begitu menusuk ke tulang.
Sahabatku… Aku rindu bersamamu, aku rindu celotehanmu kala itu, aku juga rindu semuanya tentang kamu

Pagi segera tiba, aku di suguhi kopi oleh salah satu teman yang menjadi semangat ke puncak kala itu, “makasih ya kopinya,” aku ambil  logistik di tasku, bermaksud untuk memasaknya lalu memberikan kepada temenku tersebut, ternyata dia sudah lebih awal masak, kami pun makan bareng.
Ipul Lestari

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Self-Validate: Cara Ampuh Menjaga Kewarasan

Apacapa Erie Setiawan Musik Ulas

Album Langngo Keroncong Kremes: Renaisans Keroncong Madura

abdul wahab Apacapa

Menguak Potensi Ecotrail Desa Sumberanyar

Apacapa

Merayakan Literasi

Cerpen Ruly R

Cerpen: Balada Kesibukan

Joe Hasan Puisi

Puisi: Kisah dalam Buku dan Puisi Lainnya

Cerpen Nanda Insadani

Cerpen : Azab Pemuda yang Menyukai Postingannya Sendiri Karya Nanda Insadani

Apacapa fulitik Yuda Yuliyanto

Momentum Strategis Pemekaran Baluran: Langkah Visioner Mas Rio untuk Situbondo Naik Kelas

Mahabatush Sholly Resensi

Resensi: Seribu Kebohongan untuk Satu Kebahagiaan

Resensi

Pelayaran Terakhir: Menyusuri Kehilangan dan Pergolakan Batin dalam Cerpen Anggit Rizkianto

Apacapa rizki pristiwanto

Relawan yang Tak Seutuhnya Rela

Cerpen Syarif Nurullah

Cerpen: Bagaimana Cara Kita Berkenalan?

Cerpen Sukartono

Cerpen Gelisah

Apacapa Esai Khossinah

Dari Secagkir Kopi ke Minuman Instan

Apacapa

Belajar, Bermain, Bergembira melalui Media Digital

Buku Ulas

Koruptor, Pramoedya Ananta Toer

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Travesti dan Puisi Lainnya Karya Ahmad Radhitya Alam

Opini

Situbondo Berbenah: Dari Gelap Menuju Terang

Buku Ulas

Para Bajingan Yang Menyenangkan: Benar-benar Bajingan!

Mored Moret Taradita Yandira Laksmi

Cerpen Mored: Benang Merah Pengekang