Mooi Indie Situbondo: Betulkah Kota Sederhana?

Di wajah orang-orang pasar dan pinggiran kota kita mendapati sebuah gambaran tentang masa lalu. Kita melihat para pekerja keras, tapi wajah mereka diwarnai ekspresi kecemasan, semacam sesuatu yang tidak aman, sesuatu yang tidak bisa dipegang dan rapuh. Saya lantas berpikir, apakah benar suara mereka mewakili kekinian, ataukah suara mereka adalah suara yang terperangkap di awal abad 19, ketika Panaroekan Maatscappij mulai mengembangkan daratan di atas lautan?

Suara mereka bukanlah pemujaan terhadap kolonialisme, bukan juga bagian dari suara-suara masa kini yang ingin melakukan dekolonialisme untuk menembus tirai-tirai kekinian demi mendapatkan sesuatu pengetahuan tentang lokalitas. Bukan itu. Suara mereka adalah kenangan, tentang segala hal yang terjadi hari ini dapat ditarik jauh ke belakang. Bahwa apa yang ada sekarang tidak semata-mata terjadi begitu saja. Mungkin cikal-bakalnya tersembunyi di balik-balik sejarah gelap yang tidak terpermanai.

Sebuah memori tentang Situbondo, barangkali Panarukan. Betulkah ia kota sederhana? Mula-mula kita bisa membayangkan sebuah kehidupan dalam bangunan masa lalu yang tersisa hari ini. Katakanlah Pelabuhan Panarukan, sebuah bangunan lama. Bangunan awal Kota Pelabuhan yang dirancang tidak beda jauh dari pemahaman kita dimana masa itu struktur sosial dan ekonomi masih bagian dari rekonstruksi sejarah. Dia tidak bisa jauh dari bagaimana Majapahit menyandarkan jalur pusat perekonomian kala itu di Pelabuhan Panarukan, di mana masyarakat tidak semata-mata menjadi objek atas pembangunan, tetapi juga sebagai yang menghidupi pembangunan.

Konsep kehidupan sebagai sesuatu yang adiluhung itu masih terepresentasi di awal Panaroekan Maatscappij berdiri. Sebagai ruangan yang dibangun kehidupan di dalamnya: jalur ekspor-impor internasional, pusat perekonomian dan industri. Ada tiga jalur kehidupan kala itu yang terkenal, di antaranya adalah Pelabuhan Panarukan, Stasiun Panarukan, dan Jalan Pos Anyer-Panarukan, sekaligus lahan ekspor sejumlah pabrik komoditas gula, kapas, kopi, tembakau, jagung, dan karet yang telah dikenal pasar dunia. Kehidupan semacam itu dijauhkan dari dunia yang merampas ruang rakyat untuk menjadi bagian yang menghidupi kota.

Saya tidak menyempati momen-momen kehidupan adiluhung seperti itu. Sekarang kehidupan masyarakat tidak jauh dari dunia yang menyempit. Dimana konsep pasar dan kehidupan masyarakat menjadi satu lingkaran eksositem yang tumpang-tindih. Dimana pasar didirikan dengan ruang sempit bagi kehidupan masyarakat yang kompleks.

Mori Art Museum yang mendiami lantai 53 mall di Tokyo adalah representasi kehidupan bagian dari pasar yang sempit seperti itu. Seni yang adiluhung membutuhkan ruang petapaan, sebuah ruang yang jauh dari hiruk-pikuk globalisasi. Namun, di lantai 53 itu, kesenian telah menjadi bagian dari mall, dimana konsep praktik individual di dalam penciptaan karya seni mulai bergeser menjadi praktik kolektif, ke depan batas antara seni dan non seni.

Kehidupan yang adiluhung tidak semestinya juga digeser ke tepian batas antara hidup dan non-hidup. Industri harus memainkan peran secara an sich untuk menyediakan ruang hidup bagi rakyat, bukan justru menggerogoti ruang “hidup” itu sendiri. Saya kira ini adalah sebuah tatapan yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah tentang ruang hidup seperti apa yang perlu dibangun, atau bisa jadi ke depan ruang industri tak penting lagi, yang penting adalah ruang yang humanis.

Kota Sederhana

Membaca Situbondo Kota Sederhana memunculkan satu pertanyaan dalam benak saya, apakah daya jual dari kota sederhana itu? Bukankah kita pernah punya pengalaman global sebelumnya?

Tahun 1440, Gutteneberg menemukan mesin cetak pertama. Sejak itu, kata-kata mulai dicor oleh timah, kata-kata bisa membuat alkitab dicetak banyak, dan kata-kata membawa reneissance bisa jalan kemana-mana. Penemuan mesin cetak ini telah membuat orang terbuka terhadap begitu banyak cerita di dunia ini, tentang begitu banyak pula Tuhan, agama, bahasa dan kebudayaan di dunia ini. Mesin cetak melahirkan jalur tol internasional, agar kata-kata bisa bergerak dari semesta epistemologis hingga memasuki lorong-lorong sempit di desa-desa.

Fenomena ini yang membuat manusia beranjak mencari cerita. Melahirkan generasi baru yang mempunyai orientasi untuk tidak melanjutkan garis keturunan darah birunya, untuk memilih jalan lain, kota lain, negeri lain dan juga garis keturunan lain. Era seperti itu, tak terbayang bagaimana guncangannya, ketika globalisasi di tahap awal juga terjadi sedemikian rupa. Dan kita tahu, Situbondo juga pernah mengalami itu.

Kita bisa membayangkan bagaimana Kabupaten Panarukan kala itu. Ini adalah sebuah gambar yang sudah tergusur, bahwa Panarukan, sitir Pramoedya Ananta Toer, adalah pelabuhan terpenting di bagian tertimur pantai utara Pulau Jawa. Panarukan waktu itu digambarkan sebagai mooi indie. Sebuah kota yang memiliki daya tarik sebagai mercusuar perekonomian internasional.

Tahun 1960-an, bangunan Panarukan itu roboh. Panarukan tidak lagi menjadi pelabuhan internasional. Fenomena tersebut, oleh Tim Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan dicatat sebagai akibat dari pendangkalan. Di sisi lain, Prof. Endang Gumira, juga memotret bahwa hal tersebut tidak bisa lepas dari kebijakan pemerintah untuk menumbuhkan kota, seperti nasionalisasi perusahaan asing oleh pemerintah.

Hari ini, kota-kota industri mulai bermunculan merampas ruang-ruang hidup masyarakat. Lahan-lahan produktif, seperti sawah atau kebun, diubah menjadi kawasan industri atau permukiman yang ternyata dikuasai oleh pemodal. Ruang itu, ruang hidup rakyat, digerogoti secara brutal karena kota berterbang ke arah di mana ruang itu dianggap tidak sesuai, dia ditenggelamkan ke dasar laut Situbondo.

Situbondo sebetulnya bukan kota sederhana. Situbondo, melalui Panarukan, pernah menduduki posisi “mooi indie”. Kala itu, Pelabuhan Panarukan, bersama dua pelabuhan lainnya di ibukota pernah digadang-gadang oleh Belanda akan menyaingi Singapura. Singapura dibuat oleh Raffles jauh sebelumnya, dan sampai sekarang kita tidak pernah bisa melampauinya. Apa yang tersisa dari Panarukan hanyalah kenangan.

Hari ini, pertanyaan itu masih belum terjawab dan terus melekat dalam ingatan saya: Apakah “sederhana” layak disematkan bagi Situbondo yang pernah memiliki pengalaman “global”?

Penulis

  • Ahmad Zainul Khofi

    Lahir di Situbondo, sedang belajar di Paiton. Dari membaca dan menulis, jadi suka jalan-jalan serius.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Zaidi Apacapa Esai

Puthut Ea, Komunitas dan Hutang yang Dilunasi

Apacapa Esai Ihsan

Jejak Dua Pemuda: Rio Prayogo dan Mohammad Farhan

Apacapa

Mas Rio Buronan: Dari Wano Menuju Situbondo

Mored Moret Nur Akidahtul Jhannah Puisi

Puisi Mored: Bunga Perkasa dan Puisi Lainnya

fulitik

Mas Rio Bantu Biaya Pengobatan Warga Situbondo di Bali

Nanda Adi Kurniawan Puisi

Puisi: Bunga Malam

Film/Series Ulas

Jika Marlina Terlahir di Situbondo

Cerpen Surya Gemilang

Cerpen: Dinding-Dinding Rumah Seorang Pembunuh

Apacapa Muhammad Riyadi

Menakar Pilkada di Kota Santri: Pengaruh Pesantren dan Politisasi Identitas

Apacapa

Kumpul Komunitas: Merdeka Belajar dan Belajar Merdeka

Cerbung Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 5)

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Situbondo : City of Sellow

Cerpen Moh. Rofqil Bazikh

Cerpen: Matinya Penyair Bukad

Apacapa

Produktivitas dan Dua Kawan

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Puisi: Kopi Mawar

Apacapa Imam Sofyan

Sastra, Buku dan Tanah Air Yang Hilang

Irwant Musik Ulas

Lek Marni dan Interpretasi Perasaan

Apacapa

Perangkat Desa Memang Pekerjaan Idaman Mertua, Tapi Realitanya Tidak Semanis itu, Kawan

Apacapa Madura

Randhâ Ngalesser

Muhammad Husni Puisi

Puisi: Untuk Gadis