Perjalanan Tiga Pendaki untuk Memaknai Kehidupan


Judul Buku – Altitude 3676
Penulis- Azzura Dayana
Penerbit – Indiva Media Kreasi
Cetakan – II, Mei 2014
Tebal – 424 Halaman
ISBN – 978-602-8277-92-1

Oleh : M Ivan Aulia Rokhman
Berawal dari pertemuan dengan Mareta di kompleks Candi
Borobudur, kemudian menelusuri jejak Raja Ikhsan di Tanjung Bira hingga Semeru.
Ketiga tokoh tersebut menjadi sudut pandang cerita yang disajikan bagus oleh
penulis. Faras, seorang gadis desa Ranu Pane yang ramah, baik terhadap siapa
saja, termasuk kepada sosok pendendam Raja Ikhsan. Mareta, sang petualang
(perantau) dari Jakarta ternyata memiliki panggilan khusus terhadap Raja Ikhsan
yaitu Monster.
Selain mereka, muncul tokoh yang bernama Fikri. Ketua tim
pendaki Gunung Semeru ini memiliki hikayat hidup yang penuh pengorbanan. Meski
memiliki sifat berlainan dari Raja Ikhsan, mereka bisa bersahabat hingga
menaklukkan Gunung Semeru yang berketinggian 3676 di atas permukaan air laut.
Pendakian gunung hampir dilakukan setiap tahun sebagai ritual memperingati
kemerdekaan RI. Dari pendakian itulah, mereka mengenal sosok Faras, sebagai
putri awan yang hatinya bersih bak malaikat.
Pencarian tentang makna hidup perjuangan untuk
menghilangkan rasa dendam, pengabdian terhadap orang tua, serta pengenalan
terhadap Sang Pencipta, menjadi kunci hikmah yang terdapat di dalam buku ini.
Bait-bait, syair, lagu, kata-kata bertenaga dan kepingan hadits yang terselip
menjadi renungan tersendiri bagi pembaca.
Ada konflik batin dan fisik yang diceritakan oleh
masing-masing sudut pandang tokoh dari sisi berbeda. Buku bertebal 416 halaman
ini tidak hanya menyajikan keindahan dua danau cantik di Semeru : Ranu Pane dan
Ranu Kumbolo, melainkan juga pesona kearifan lokal di daerah Celebes, kemegahan
pinisi di Bulukamba, dan keindahan Tanjunng Bira di Provinsi Sulaewsi Selatan.
Dicerita berikutnya, sosok Raja Ikhsan mulai dihadirkan.
Diawali dengan kisah perampasan sepeda milik Faras oleh Ikhsan di Ranu Pane,
titik awal trek pendakian ke Semeru. Kejadian itu menjadi pemicu dari
kejadian-kejadian lainnya, di mana Faras berhasil membangun kedekatan dengan
Ikhsan dan mendorong Faras untuk melakukan perjalanan ke Sulawesi demi mencari
laki-laki itu.
Tentang sosok Ikhsan ini, pembaca akan direaksikan oleh
pertanyaan besar yang ia ajukan kepada Faras saat pertemuannya pertama kali.
Katanya, “ Sebutkan kepadaku sebelas alasan mengapa aku harus menyembah Tuhan,
sedangkan aku bisa menyebutkan sepuluh alasan kenapa aku naik gunung, dan
sepuluh alasan mengapa aku ingin membunuh ayahku!”
Sebait pertanyaan yang akan membuat pembaca tidak mampu
untuk menutup buku sampai di akhir cerita. Terlebih pertanyaan ini langsung
diikuti dengan kisah perjalanan mati-matian yang dilakukan oleh Faras ke
Sulawesi demi mencari sosok Ikhsan. Kisah tentang Faras-Mareta-Ikhsan kemudian
terakhir di Takhta tertinggi Mahameru. Di puncak gunung gundul, tepat di atas
dataran pasir yang menjadi puncak tertinggi di Pulau Jawa.
Sebuah akhir yang
benar-benar berhasil membuat ia merinding, khususnya setelah mengikuti
rangkaian-rangkaian cerita yang dikemas begitu bagus.dalam buku ini menyuguhkan
banyak sekali nilai-nilai keagamaan yang dileburkan ke dalam cerita,
meskipun  bagi beberapa pihak, apa yang
dituliskan rasanya tidak relan dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Hal yang
menarik adalah apa yang diceritakan oleh penulis dalam buku ini terkesan
mendikte. Bagian ini juga disajikan pada realitas sosial yang terjadi di
Masyarakat. Tokoh disajikan benar-benar sebagai makhluk yang tidak sempurna dan
melakukan kesalahan. Setiap tokoh memiliki porsi kebaikannya masing-masing,
juga porsi kejahatannya masing-masing. Di akhir cerita tidak menghadirkan sosok
malaikat ataupun sesosok setan yang menjelma sebagai salah satu tokoh dalam
cerita. Hikmah yang bisa diambil adalah perjalanan tiga pendaki ini senantiasa
menemukan keakraban yang bisa ditemani rasa kebersamaan agar pulang dari
pendakian mendapatkan kelembutan oleh Allah SWT.
Biodata
Penulis
M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April
1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya
Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi
FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo. Nomor Telp/WA : 083854809292, Email :
rokhmansyahdika@gmail.com Facebook : M Ivan Aulia Rokhman. Alamat Korespondensi
: Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Gen Z Situbondo, Jangan Dulu Pergi

Apacapa

Bahasa Puasa dan Ramadan

Alexong Cerpen Dody Widianto

Cerpen: Gelas, Pion dan Lukisan Picasso

Muhaimin Prosa Mini

Gadis dan Nyanyian Ombak

Apacapa Ikhsan

Situbondo Mau Maju, Kamu Jangan Nyinyir Melulu

Apacapa

Belajar, Bermain, Bergembira melalui Media Digital

Ahmad Jais Puisi

Puisi: Sajak Si Manusia Mesin

Apacapa

Membentuk Ruang Penyadaran Melalui Lingkar Belajar Feminisme Situbondo

Nila Afila Puisi

Puisi: Ibu Tani dan Puisi Lainnya

Alexong Cerpen Hana Yuki Tassha Aira

Cerpen: Waktu yang Pecah di Balik Pintu

Cerpen Layla Shallma Putri Pracia

Cerpen: Di Bawah Langit Biru

Cerpen Eko Setyawan

Cerpen Pledoi Jagung

Apacapa Rully Efendi

Demam Tangan Disilang, Kaesang Pun Patennang; Komitmen PSI Lawan Korupsi

Mahadir Mohammed Puisi

Puisi: Dimensi Mimpi

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Perlawanan Terhadap Eksploitasi Anak

Puisi Wiviano Rizky Tantowi

Puisi: Kayu Layu

Buku Thomas Utomo Ulas

Teka-Teki Tenis, Sosok Misterius, dan Cinta Berlarat

Cerpen Moh. Rofqil Bazikh

Cerpen: Matinya Penyair Bukad

Apacapa Esai

Merawat Spiritualitas, Menghidupkan Politik Kebudayaan: Catatan Seorang Anak Muda untuk Mas Rio

Apacapa Novi Dina

AMDAL dalam Sebuah Percakapan