Pertemuan dengan Seorang Gadis Desa

Sudah tiba saatnya kira-kira sekitar jam 2 sore, saya pun segera mempersiapkan segala sesuatu untuk segera berangkat ke sebuah desa yang telah direncanakan beberapa hari sama Indra.
Oleh: Zainul Anshori
Dia adalah kawan setia saya, sebab kenapa, karna kami adalah sama-sama jomblonya, kata bang Imron. Setelah semua persiapan sudah lengkap, sesegera mungkin saya mengeluarkan sepeda buntut yang jalannya begitu alon sekali. Ditambah lagi knalpot yang berasapmungkin itu sudah sepeda tak layak pakai, tapi apa boleh buat. Hanya itu yang saya punya. Saya pun menaiki sepeda dengan mesra seolah dia taat dan patuh pada penunggangnya, saya pun berjalan di sebuah dataran lumpur karena rumah saya yang tak jauh dari area persawahan.
Setelah beberapa menit perjalan tibalah di rumah Indra, segera saya panggil dia. Walaaah ternyata dia masih dalam keadaan terbaring ditemani selimut setianya yang mungkin sebagai penghangat sementara. Saya pun merasa kasihan dengan nasib dia yang masih berstatus jomblo. Dia pun terbangun, tanpa harus cuci muka ataupun mandi. Karna saat itu waktunya tak memungkinkan karena jarak yang akan kita tempuh terlalu jauh. Kami pun berjalan dengan penuh keriangan sebab kita telah mengetahui bahwasannya tempat yang akan kita tuju akan menjadi sebuah pengalaman yang tak mungkin kita lupakan begitu saja. Beda sekali dengan cerita mantan. Ahh aku tak mau lagi bicara soal mantan. Tak terasa perjalanan pun sudah mulai jauh dari arah tempat kita tinggal.  sekitar setengah perjalan sudah yang kita jalani.  Kami pun puas melihat pemandangan-pemandangan sekitar  terasa seperti berjalan di antara taman-taman indah berkelimunan bunga-bunga itulah kondisi di desa saya.
Secara tiba-tiba kawan yang saya bonceng itu menepuk bahu saya begitu keras sekali.
“Ada apa Gek?”
Nama Gek itu adalah cara saya memanggil dia.
“Itu, itu, ada gadis di sekitar ranting-ranting bambu.”
Akupun terkejup. “Sungguh cantik sekali gadis itu, Gek.”
Dengan begitu tenang dia menjawab “Mana mungkin dia akan bersedia bertemu kita. Jika kita menghampiri dia. Apalagi dengan kondisi motor buntutmu ini.”
Ah aku pun tak percaya. “Masak sih. Ada gadis secantik dia di desa ini.” Aku pun mempunyai hasrat untuk menghampirinya tapi kawan saya melarangnya.
“Apa kamu gak ngerti apa yang saya katakan barusan? Sudahlah lebih baik kita teruskan perjalan. Segeralah hidupkan motornya!” Itulah ungkapan kawan saya. Motor pun saya nyalakan, Ehhh…ternyata ada seseorang ibu-ibu yang membawa ember, ternyata dia ingin mencuci baju di sekitar penglihatan saya dan tidak jauh pula dari area gadis cantik itu yang mana duduk di ranting-ranting bambu berdekatan dengan kali yang agak kecokelatan. Akupun berlari kencang mengejar ibu-ibu itu dan bertanya.
“Maaf, Bu. Apa ibu kenal dengan gadis itu?“
Sengaja aku tinggalkan kawan saya di seberang jalan sana yang tidak terlalu jauh. Dengan nada begitu sopan dia menjawab pertanyaan saya.
“Oh.. perempuan itu,” dengan senyuman.
“Iya, Bu.
“Dia itu anak tetangga saya.”
Kembali dia bertanya. “Emangnya adek kenal dia?”
Endak Bu, saya tertarik saja pada dia. Yang berparas cantik dan senyumnya yang membuat saya harus menghampiri dan bertanya pada ibu.”
“Begini, dek, lebih baik adek buang saja niat adek yang mungkin akan menemuinya, apalagi sampai adek ini punya rasa ketertarikan.”
“Emangnya kenapa, Bu?”
“Gini dek, dari informasi yang saya dengar katanya dia akan dipersunting oleh….putra dari bapak….“
“Oh gitu ya, maaf ya, Bu. Saya sudah mengganggu aktifitas Ibu.”
Saya pun berbalik arah pada kawan saya di seberang jalan itu.
“Gimana?” tanya Gek.
Dengan sangat lantang saya menjawab. Sudahlah saya tak mau lagi bicara tentang gadis itu.”
“Saya bilang sudah apa.” Kembali dia bertanya. Tapi saya pun tak mampu menjawab.
“Ayo lebih baik kita nyalakan motor  dan gagalkan saja niat kita untuk pergi ke tempat yang kita rencanakan sebelumnya.”
“Loh kenapa kau berubah pikiran gitu?”
“Sudahlah aku pun juga gak ngerti, tiba-tiba aku merasa gak nyaman gitu di tempat ini.”
Saya pun pulang dengan penuh sesal, karna pertemuan dengan gadis berparas cantik itu dan betapa bodohnya saya harus bertanya pada seorang ibu tadi. Yang membuat saya harus mengerti bertindak apa. Dan paling parahnya lagi, aku harus menanggung ketidak-nyamanan sama kawan saya yang dengan egoisnya saya harus membatalkan perjalan dan lebih memilih pulang.  Hanya karna alasan pertemuan dengan gadis desa tersebut. []

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buku Dani Alifian Ulas

Ulas Buku: Narasi Nasib Sastra Untuk Anak

Mored Safina Aprilia

Puisi Mored: Memori Karya Safina Aprilia

Moh. Imron Ngaleleng

Kendit Harmoni : Ketika Seni Menemani

Polanco S. Achri Puisi

Puisi: Di Belakang Pondokan Teringat Du-Fu

Uncategorized

Puisi – Elegi Nasib Kami

Apacapa Catatan Perjalanan Uncategorized

Daun Emas Petani

Penerbit

Buku: Kesiur Perjumpaan

apa Esai N. Fata

Demokrasi Kebun Binatang

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Sebuah Refleksi Pengalaman: Pagi Bening dan Engko’ Reng Madhurâ

Apacapa

Begitulah Moh. Imron

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Situbondo Lebaran (Pesta) Bakso

Apacapa Sainur Rasyid

Gusdur dan Buku

Erliyana Muhsi Puisi

Puisi: Telanjang Pudar Karya Erliyana Muhsi

Apacapa Madura Totor

Bâbitthèl

Nurillah Achmad Puisi

Puisi: Mata Air Kehidupan

Apacapa

Sasaeng Culture: Sisi Gelap Dunia K-Pop

Apacapa Esai Faidul Irfani Politik

Milenial Cerdas, untuk Pilkada Berkualitas

Resensi

Resensi: Parade Senyap

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Bangkitlah Kejayaan Rasulullah di Era Milenial

Apacapa

Gawai Bukan Musuh, Asal Kita yang Kendalikan