Ulas: Namaku Merah Karya Orhan Pamuk

Kamis, 19 Desember 2024
07.11

Saya tidak menyangka akhirnya bisa membaca buku ini setelah sekian lama berusaha untuk mendapatkanya. Beruntunglah keajaiban datang dan saya dengan mudah mendapatkan buku ini.

Buku ini dalam bahasa Turki berjudul asli Benim Adim Kirmizi. Diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul My Name is Red dan dalam bahasa Indonesia berjudul Namaku Merah.

Dengan mengambil latar masa kesultanan Ustmaniyah pada abad ke-16 di Istanbul, buku ini bercerita tentang keinginan sultan untuk membuat satu buku yang bersifat rahasia untuk merayakan kejayaannya. Sultan memerintahkan Enisthe Effendi, seorang miniaturis, untuk mengerjakan buku itu dan dibantu dengan empat orang lainnya: Elok Effendi, Zaitun, Bangau, dan Kupu-Kupu.

Permasalahan mulai muncul ketika salah satu miniaturis, Elok Effendi, dibunuh secara misterius. Bukan hanya Elok, tetapi setelahnya Enisthe Effendi juga ikut dibunuh. Pembunuhan itu diduga karena adanya pertentangan yang berhubungan dengan pengerjaan buku rahasia tersebut. Ada kelompok yang tidak setuju dengan gaya yang digunakan ilustrator dalam pengerjaan buku itu. Kelompok tersebut menganggap gaya itu meniru orang-orang Frank (sebutan untuk orang-orang Kafir Eropa) dan juga menistakan agama Islam.

Diceritakan pula, Hitam, keponakan dari Enisthe Effendi, datang untuk membantu pamannya itu dalam pengerjaan buku. Hitam jatuh cinta pada Shekure, putri dari Enisthe Effendi yang seorang janda beranak dua. Kisah cinta mereka turut menghiasi jalannya cerita. Kemudian, Hitam diperintahkan oleh Sultan untuk mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya. Sepanjang cerita kita akan dibawa pada teka-teki untuk mengungkap siapa yang sudah membunuh dua miniaturis itu.

Pamuk menggunakan banyak narator dalam buku ini. Setiap bab digunakan untuk satu narator seperti nama-nama tokohnya, bahkan untuk mayat, anjing, warna merah, pohon, koin, sampai setan juga mendapat tempat sebagai narator.
Lewat gaya bicara para narator, pembaca akan berusaha untuk menemukan petunjuk dan menebak siapa pembunuh misterius itu.

Selain menikmati alur kisah di atas, sebenarnya dalam buku ini kita dibawa menyelami sejarah dan budaya Ottoman yang kaya. Kita juga disuguhkan sebuah konflik antara tradisi dan modernitas; tentang benturan dua peradaban Timur dan Barat. Sesuatu yang sebenarnya masih kita rasakan di masa-masa sekarang. Tak hanya itu, diceritakan pula tentang detail-detail keindahan dunia seni ilustrasi serta dongeng-dongeng klasik dari dunia Timur. Orhan Pamuk mampu meramu semuanya dengan baik sehingga buku ini tidak hanya menjadi novel sejarah belaka, tetapi juga tentang cinta, seni, drama, hingga politik. Novel ini sangat layak dibaca untuk memperkaya wawasan dan membawa kita pada perenungan tentang perbedaan.

Pada bagian-bagian awal, barangkali pembaca akan dibuat sedikit bingung dengan ceritanya, tetapi semakin ke belakang pembaca akan mulai paham bagaimana alur cerita buku ini. Selain itu banyak istilah dalam dunia seni ilustrasi yang mungkin juga akan membuat sedikit bingung. Namun, cara bercerita Pamuk membuat pembaca tetap mampu menikmati jalannya cerita. Pamuk, dalam buku ini, lebih banyak menggunakan narasi daripada dialog antar tokohnya.

Satu hal yang membuat saya masih bingung; kenapa buku ini diberi judul Namaku Merah padahal tidak ada tokoh yang bernama Merah dalam buku. Apakah itu diambil dari salah satu narator dalam buku? Entahlah. Yang jelas, buku ini menambah satu daftar lagi buku Orhan Pamuk yang saya sukai setelah Istanbul: Memories and The City.

Penulis

  • Yudik Wergiyanto

    Penikmat sastra. Tinggal di Situbondo. Bekerja sebagai akuntan. Bisa dijumpai di blognya www.tidaktampan.blogspot.com.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dinda ayu lestari Mored Moret

Cerpen Mored: Prahara Ojung

Apacapa Nanik Puji Astutik

Lelaki yang Kukenal itu tidak Punya Nama

Apacapa Wahyu Umattulloh Al’iman

Langganan Kebakaran Hutan dan Alih Fungsi Lahan, Derita atau Bahagia

Ahmad Syauqil Ulum Puisi

Puisi – Nostalgia Bangunan Tua karya Ahmad Syauqil Ulum

Puisi

Puisi: Sukma dan Puisi Lainnya

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Situbondo Lebaran (Pesta) Bakso

Opini

Pendaki Fomo, Peluang atau Ancaman?

Apacapa

Pewaris Budaya Desa

Cerbung Fikri Mored

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 6)

Puisi Ratna Kuatiningsari

Puisi: Doa-Doa Semak Belukar

Banang Merah Cerpen

Prosa Mini : Monolog Seorang Kekasih Karya Banang Merah

Giffari Arief Puisi

Puisi : Sabuk Asteroid

Apacapa Nanik Puji Astutik

Kehidupan Ini Tak Seindah Foto yang Kita Posting

Apacapa Esai Fendy Sa’is Nayogi

Jangan Dilupakan, Folklor Sebagai Media Membentuk Karakter Bangsa

Wisata Situbondo

Wisata Situbondo Lengkap

Mored Puisi Silvana Farhani

Puisi Mored: Sabit Hingga Purnama

Apacapa Nuriel Haramain

Hari Santri: Ajang Realisasi Jati Diri

Opini

Situbondo Berbenah: Dari Gelap Menuju Terang

Mored Puisi Sugi Darmayanti

Puisi: Sebatas Kenangan

Cerpen

Cerita dari Taman Kota dan Surat Kabar Misterius