Menanti Sebuah Tulisan

Sampai sekarang aku masih tak bisa membedakan mana merindu dan mana tak bisa melupakannya.
Oleh : Fathur Rahman
Sore itu, aku tulis setiap apa yang muncul di dalam benak akan tetapi kata-kata itu rancu, tak ada yang kumengerti, bahkan untuk sejengkal katapun. Tak ada inspirasi dalam ruangan kecil nan bisu ini. Aku memutuskan untuk berdamai dengan alam mencari titik demi titik hal yang bisa kutulis.
Petang datang , beberapa teman mengajak untuk memancing, satu hal yang tak kusuka dari memancing adalah menunggu tetapi hal lain yang selalu kutunggu saat memancing adalah duduk merenung di tepi pantai sembari berharap mendapat inspirasi untuk menulis suatu hal. Tiupan angin semakin kencang, deburan ombak semakin santer terdengar saat menghantam dinding-dinding pagar sebuah tambak yang berada di dekat pantai menandakan rombongan kecil kami tiba di pantai yang kami tuju.
Melempar mata kail mengalunkan rasa, sembari bertafakur menanti tulisan itu tiba. Satu-persatu rombongan kecil kami sudah merasakan sensasi tarikan ikan tapi tidak denganku, umpanku masih utuh. Seakan ikan-ikan itu tahu kalau aku tak mengharapkan ikan tapi aku mengharapkan tulisan. Desir angin  dan pasir hitam itu membawaku kembali mengingat setitik cerita yang telah lalu. Sendu.
Mendadak semua begitu hening. Kini rasa sendu itu kembali dan semakin menguat ketika segala bayang-bayang itu seakan hadir di bibir pantai ini. Saat-saat itu, saat aku masih bisa memegang tanganmu, membelai rambut lurusmu, melihat senyum di bibir tipismu itu, saat kau masih mendekapku di tepi pantai ini. Aku masih ingat kita pernah berlari mengitari pohon nyiur itu dan juga kita sempat berteduh di bawahnya, bercanda, membicarakan apa saja dan aku juga masih ingat acap kali dia berbicara denganku, dia selalu memulai pembicaraannya dengan senyuman. sekarang pepohonan nyiur yang pernah kami teduhi itu melambai-lambai seakan mengucapkan selamat tinggal kenangan lalu.
Entah bagaimana kabarnya sekarang, terakhir kutahu kabarnya dari kertas merah bertuliskan “Undangan” darinya. Aku tak pernah membukanya, aku tak berani untuk itu dan aku tak pernah ingin bersikap dewasa untuk melihatnya bersanding dengan lelaki lain dan mungkin adalah hal yang mustahil jika kita mencintai seseorang lalu kita mendoakannya bahagia dengan orang lain. Aku hanya berharap dia tak keberatan jika aku memanggil namanya dengan panggilan “Sendu” dan sampai sekarang aku masih tak bisa membedakan mana merindu dan mana tak bisa melupakannya.
Sesekali senar pancingku bergetar, pertanda ada ikan yang menjamah umpanku. Tapi aku yang tak terbiasa memancing gagal mengangkat ikan itu ke darat. Sudah beberapa kali aku gagal di pantai ini, termasuk gagal meminang “Sendu” yang dulu pernah mengukir kisah denganku di pantai  ini.
Aku tak dapat Ikan malam itu , bahkan tulisan pun yang sejatinya aku ingin mencoba kirimkan untuk takanta.id pun tak ada. Aku hanya paksakan untuk menulis. Walaupun Ini bukan tulisan, ini hanya sebuah lukisan perasaan. []
1ZOOM.Me

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik Ulas

Jefribagusp, Cukup, dan Keberanian Menjadi Biasa

Apacapa Gusti Trisno

5 Judul Skripsi Ini Membuat Situbondo Layak Menjadi Kabupaten Ramah Skripsi

Buku Farizzal Qurniawan Hendra Saputra Resensi Ulas

Resensi: Dilan 1983: Wo Ai Ni

Apacapa fulitik Muhammad Bayan

Mas Rio Bukan Caleg: Paket Komplit untuk Situbondo Masa Depan

Cerpen Nanda Insadani

Cerpen : Azab Pemuda yang Menyukai Postingannya Sendiri Karya Nanda Insadani

Apacapa

Produktivitas dan Dua Kawan

Apacapa Randy Hendrawanto

Panas Dingin Hubungan Indonesia-Malaysia dari Politik, Budaya Hingga Olahraga

Madura Resensi

Resensi: Ajâgâ Alas Ajâgâ Na’Poto

Puisi Uwan Urwan

Kita Telah Mati

Mored Puisi Sugi Darmayanti

Puisi: Sebatas Kenangan

Cerpen

Cerpen Gulistan

Agus Hiplunudin Apacapa Esai

Suku Jawa Menjadi Kunci Kemenangan Politik pada Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019

Cerpen Eko Setyawan

Cerpen – Ada Sesuatu yang Telah Dicuri dari Tubuhku, Entah yang Mana

Apacapa Novi Dina

AMDAL dalam Sebuah Percakapan

A. Warits Rovi Cerpen

Cerpen: Lelaki Yang Bercita-cita Jadi Tukang Sihir

Apacapa Imam Sofyan

Kenapa Gerakan Situbondo Membaca Lahir?

Apacapa Ipul Lestari

Memeluk Bayangmu di 1250 MDPL

M Lubis Cadiawan Mored Moret

Cinta Tak Pernah Ada Batas

Cerpen Qurrotu Inay

Cerpen: Mereka Berbicara tentang Kamu

Buku Toni Al-Munawwar Ulas

Ulas Buku : Renungan Tasawuf