Resensi: Membaca Genealogi Kolonialisme melalui Estetika Detektif

Sejarah kolonial kerap hadir dalam kesusastraan Indonesia sebagai latar yang muram seperti penindasan, kerja paksa, hierarki rasial, dan trauma kolektif. Namun dalam novel Leiden 2020–1920, Hasbunallah Haris tidak memilih jalur konvensional tersebut. Ia tidak sekadar “menceritakan kembali” kolonialisme, melainkan mengemasnya sebagai sebuah penyelidikan. Sejarah dihadirkan bukan sebagai cerita yang sudah selesai, tetapi sebagai misteri yang jejak-jejaknya tersebar dalam naskah, arsip, ingatan, dan dokumen yang timpang. Dengan meminjam perangkat estetika novel detektif—penuh misteri, teka-teki, ketegangan, petunjuk (clues), dan pencarian kebenaran. Selain cerita tentang masa lalu, novel ini menjadi sebuah upaya menyelidiki genealogi kolonialisme—penelusuran kritis terhadap proses historis dan diskursif yang membentuk kolonialisme sebagai sistem pengetahuan dan relasi kuasa. Genealogi di sini membongkar bagaimana kolonialisme diproduksi, diwariskan, dan dinormalisasikan melalui arsip, narasi, dan institusi hingga membentuk cara pandang masa kini.

Estetika Detektif dan Politik Pengetahuan

Leiden, sebagai kota bersejarah di Belanda yang terkenal dengan universitasnya dan julukan Sleutelstad (kota kunci), dalam novel ini digunakan sebagai latar tempat yang signifikan sekaligus menjadi ruang yang tidak netral. Leiden menjadi simbol pusat produksi pengetahuan kolonial. Tempat arsip-arsip Hindia Belanda dikumpulkan, diklasifikasi, dan diberi makna menurut sudut pandang penjajah. Dalam novel ini, Leiden hadir sebagai latar geografis sekaligus ruang ingatan sekaligus ruang misteri.

Fragmen-fragmen masa lalu berserakan dalam bentuk dokumen, naskah, dan kisah yang tidak pernah benar-benar utuh. Tokoh-tokohnya—baik yang hidup pada 1920 maupun 2020— tampil sebagai pelaku sejarah dan penyelidik yang berusaha membaca ulang apa yang telah ditulis, dihapus, atau disenyapkan.

Tokoh-tokoh yang hadir pada tahun 2020 digambarkan berhadapan dengan paradoks pascakolonial. Mereka memiliki akses pada arsip, teknologi, dan mobilitas global, tetapi tetap terikat pada kerangka kolonial yang membentuk dokumen-dokumen tersebut. Pencarian mereka fokus pada posisi, di mana mereka berdiri ketika membaca sejarah yang ditulis oleh kekuasaan lain. Sejarah memang sebuah benang merah yang saling terhubung, dihubungkan oleh zaman, dihubungkan oleh  sebuah rasa, dan dihubungkan oleh keingintahuan (hal 112). Hal ini menegaskan sejarah sebagai medan wacana yang sarat relasi kuasa, ingatan kolonial, suara-suara yang dipinggirkan, dan narasi dominan yang saling berkelindan sehingga sejarah tampil sebagai sesuatu yang cair dan terus dinegosiasikan.

Estetika detektif memungkinkan penulis menjaga ritme cerita sembari mempertahankan bobot tematik. Pembaca ditarik oleh rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh Alex van den Meer di Hindia Belanda, namun kemudian dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mengganggu: Apakah sejarah kolonial bisa “diselesaikan”? Atau ia justru selalu menyisakan residu? Imperialisme tidak akan pernah selesai, dia hanya bertukar wajah dari zaman ke zaman bukan? (hal 549 ). Dengan demikian melalui estetika detektif, novel ini bergerak seperti penyelidikan terhadap residu-residu kolonial yang mengungkap bagaimana kolonialisme tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah, tetapi terus hidup dalam cara berpikir, struktur sosial, dan ingatan kultural yang membentuk subjek masa kini.

Strategi Penceritaan dan Poetika Kolonial

Struktur temporal ganda menjadi tulang punggung novel. Fragmen 1920 menghadirkan suasana ketika relasi kolonial masih bekerja penuh dalam jaringan kuasa yang rumit. Sementara 2020 menampilkan generasi pascakolonial yang berhadapan dengan residu kolonialisme. Perpindahan waktu ini tidak sekadar teknik penceritaan, melainkan bekerja seperti mekanisme dalam novel detektif. Setiap bagian masa kini membuka petunjuk, sementara setiap kilas balik masa lalu memberi konteks sekaligus memperdalam kecurigaan.

Gaya penceritaan dalam novel cenderung tenang, nyaris dingin. Novel ini tidak menjejali pembaca dengan uraian kolonialisme yang menggurui. Kolonialisme dihadirkan melalui detail-detail kecil seperti naskah yang tak lengkap, arsip yang bias, dan ingatan tokoh yang saling bertabrakan. Detail-detail ini berfungsi seperti barang bukti. Pembaca tidak hanya mengikuti alur, tetapi diajak melakukan kerja interpretasi, membaca yang tersurat sekaligus mencurigai yang tersirat. Sejarah tidak disodorkan sebagai kisah yang utuh, melainkan sebagai berkas perkara yang penuh celah.

Namun, di titik inilah tampak satu kekurangan novel ini. Ketegangan yang dibangun melalui arsip dan refleksi lebih bersifat intelektual ketimbang emosional. Karakter-karakternya kerap hadir sebagai pembawa gagasan, bukan subjek yang sepenuhnya hidup secara psikologis, sehingga pembaca yang mengharapkan konflik personal yang lebih tajam bisa merasa berjarak. Estetika detektif Hasbunallah efektif menggugat sejarah, tetapi sesekali menahan potensi dramatik yang dapat memperkaya pengalaman membaca.

Meski demikian, secara konseptual novel ini justru menemukan kekuatannya. Misteri utama Leiden 2020–1920 bukanlah “siapa saja pelakunya dan di mana harta karunnya”, melainkan “siapa yang menguasai narasi dan bagaimana sejarah diproduksi, disirkulasikan, dan dilegitimasi”. Dalam konvensi detektif klasik, kebenaran sering hadir sebagai solusi final. Namun di sini, kebenaran justru rapuh dan berlapis. Setiap arsip membawa sudut pandang yang berbeda dan  setiap kesaksian memuat kepentingan. Dengan demikian, Hasbunallah memperluas genre detektif menjadi alat kritik epistemologis bahwa penyelidikan tidak hanya mengungkap peristiwa, tetapi membongkar cara kolonialisme bekerja melalui produksi pengetahuan. Pernyataan tokoh, Merdeka secara kata, ya. Tapi merdeka secara keseluruhan masih belum (hal 52), menegaskan bahwa kolonialisme terus hidup dalam struktur berpikir.  

Secara keseluruhan, novel Leiden 2020–1920 merupakan novel penting dalam peta sastra sejarah Indonesia kontemporer. Ia menunjukkan bahwa misteri terbesar kolonialisme bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi tentang bagaimana ia diceritakan, disimpan, dan diwariskan. Dengan menjadikan pembaca sebagai “detektif sejarah”, Hasbunallah Haris tidak hanya menawarkan kisah, tetapi pengalaman membaca yang kritis—sebuah ajakan untuk menyelidiki masa lalu sekaligus menyoal kerangka yang selama ini kita gunakan untuk memahaminya. Selamat menyelidiki cara kita sendiri membaca, mengingat, dan mempercayai sejarah.

Penulis

  • Nita Puspita Sari adalah seorang Istri, Ibu penuh waktu, mahasiswa doktoral Ilmu Susastra UI dan awardee beasiswa LPDP. Di tengah dedikasinya untuk keluarga, ia terus menapaki jalan akademik dengan tekun dan bersungguh-sungguh, membuktikan bahwa cinta, ilmu, dan cita-cita dapat berjalan beriringan.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen Hendy Pratama

Cerpen : Siapa yang Bernyanyi di Kamar Mandi?

Agus Widiey Anwarfi Puisi

Puisi-puisi Agus Widiey

Puisi Restu Iswara

Puisi: Bisikan

Uncategorized

Peran Mahasiswa Sebagai Guardian of Value

Nahiar Mohammad Puisi

Puisi : Di Sepanjang Jalan Ini

Cerpen Levana Azalika

Kutu dan Monyet

Cerpen

Cerpen : Geger Karang Gegger Karya Yudik Wergiyanto

Apacapa

Selamat Molang Are, Orang Pilihan

Puisi

Luka Perempuan dan Puisi Lainnya

Apacapa covid 19 Regita Dwi Purnama Anggraini

Vaksin Covid-19 tiba di Indonesia, Disambut Penolakan dari Masyarakat dengan Alasan Ragu?

Apacapa

HUT RI dan Kesadaran Anak Kelas 5 SD

Cerpen Imam Sofyan

Kitab Putih

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Teman Saya yang Sudah Menjadi Ayah

Musik Ulas

Manifestasi Ilahi dalam Lirik Lagu Tujh Me Rab Dikhta Hai

ana Hanisah Buku Resensi Ulas

Ulas Buku: Malam Seribu Jahanam

Diandra Tsaqib Puisi

Puisi: Stratocumulus

Muhaimin Prosa Mini

Tahun Baru? Why Not?

Aris Setiyanto Puisi

Puisi: Pendaki

Cerpen Ulfa Maulana

Cerpen: Peri dan Kekuatan Kenangan

Cerpen Gusti Trisno

Cerpen : Joe di Persimpangan Jalan Karya Gusti Trisno