Album Langngo Keroncong Kremes: Renaisans Keroncong Madura

Oleh: Erie Setiawan

Munculnya album Langngo ini adalah semacam renaisans (kebangkitan kembali), penyegaran, tawaran, yang sangat layak untuk kita apresiasi bersama.

Dengan semangat kolektif yang luar biasa membara, Keroncong Kremes, komunitas keroncong anak muda asal Situbondo ini, akhirnya (nekat) merilis album perdana mereka pada 4 November lalu. Album ini diberi tajuk “Langngo” (artinya enak/sedap). Benar bisa dibuktikan, bahwa sepuluh track di album ini memang terdengar langngo, dan tentu saja mudah dinikmati lintas usia. Belum percaya? Dengarkan dulu saja di sini.


Baiklah, mungkin banyak di antara kita yang belum familiar dengan istilah “Keroncong Madura”, juga belum kenal siapa ini Keroncong Kremes yang kini mempopulerkan (kembali) keroncong Madura yang telah puluhan tahun mati suri di tlatah Tapal Kuda. Bahkan, entah sudah berapa abad pula kita tidak mendengar musik keroncong (yang kadung dicap musik orang tua itu), dan lebih memilih mendengar musik lainnya. Maka, munculnya album Langngo ini adalah semacam renaisans (kebangkitan kembali), penyegaran, tawaran, yang sangat layak untuk kita apresiasi bersama.

Setidaknya ada tujuh alasan, mengapa album ini penting dan kita perlu mendengarkan album Langngo ini.

Pertama, ini alasan klasik banget: Menghargai karya teman. Kalau ada di antara anggota Keroncong Kremes ini adalah teman kita, maka dengarkanlah semua lagu-lagu mereka. Pilih yang kalian paling sukai, lalu mention mereka di media sosial. Mereka pasti senang dan bersyukur, apalagi kalian bisa ikut menyanyikannya.  

Kedua, memperkaya referensi telinga. Ya! Di tengah gempuran musik popular umumnya yang terdengar begitu-begitu saja, album Langngo yang kaya corak irama ini cocok dijadikan insight baru, nambah gizi telinga. Aransemennya bagus-bagus, kelihatan kalau yang bikin bukan musisi sembarangan.

Ketiga, membuka wawasan sejarah keroncong Madura. Keroncong Madura ini sebenarnya telah eksis lama, sebelum Indonesia merdeka, namun tak banyak orang tahu. Sebagai salah satu khazanah keroncong lokal, keroncong Madura memang ada, melengkapi keroncong berbahasa daerah lainnya (misalnya: Jawa, Melayu, Maluku, dan lain-lain). Ada baiknya kita juga membaca artikel bagus mengenai Keroncong Madura tulisan Panakajaya Hidayatullah ini.

Keempat, membuka peluang kolaboratif. Keroncong ini memang musik yang “tamak”, bisa memainkan lagu apa saja. Maka, kalau kalian punya band khususnya di kawasan Jember-Bondowoso-Situbondo, cobalah sesekali berkolaborasi dengan Keroncong Kremes, dijamin akan ada sensasi berbeda. Contoh di lagu Tarètan, Kremes mengawinkan keroncong dengan hip-hop, ini menarik banget, dan jarang-jarang ada.

Kelima, upaya konkrit preservasi, konservasi, pelestarian, atau apa lah namanya. Sangat pantas Keroncong Kremes di peluncuran album Langngo ini mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, karena mereka memang punya konsep yang kuat melalui upayanya mengangkat kembali Keroncong Madura Tapal Kuda ini.

Keenam, melengkapi khazanah artistik keroncong di luar yang klasik/pakem. Mungkin kita tidak asing dengan nama Gesang dan Waldjinah, dua dari sekian banyak maestro yang turut membentuk citra keroncong klasik itu. Nah, saat ini ada perkembangan berbeda. Di banyak kota telah muncul cukup banyak kelompok keroncong, di mana anggotanya adalah anak-anak muda, dan mereka mengusung karya-karya musik keroncong baru yang sangat lentur dan terbuka. Ini bukannya mereka anti dengan yang klasik, justru supaya khazanah artistik keroncong jadi lebih lengkap karena adanya eksplorasi gaya musik yang terbuka. Singkatnya, anak-anak muda jadi tidak alergi terhadap keroncong.

Ketujuh, terakhir: membuka peluang edukatif. Komunitas Keroncong Kremes, sejak berdiri pada Desember 2020, dengan sukarela mengadakan anjangsana keliling untuk memasyarakatkan musik keroncong di kawasan Tapal Kuda. Mereka ingin mengajari siapa saja yang tertarik belajar musik keroncong, tanpa terkecuali, lintas usia. Ini semestinya bisa ditangkap pula oleh organ-organ pendidikan maupun pemerintah setempat, agar mulai memikirkan bahwa keroncong bisa juga menjadi media pembelajaran, entah ekstra atau intrakulikuler, bahkan memotivasi berdirinya sanggar-sanggar, meskipun sederhana.

Pada intinya, selain album musik hadir sebagai hiburan maupun persaingan ekonomi (industri), album musik adalah kitab pelajaran budaya yang hadir implisit untuk kita pelajari bersama muatannya—dan itu bermakna bagi kehidupan. Tema-tema lirik yang diusung Keroncong Kremes mencitrakan khazanah kebudayaan Madura yang egaliter, jenaka, namun juga syahdu, menyentuh, dan mendalam. Lirik-lirik puitik/sastrawi bisa kita dengarkan pula di beberapa lagunya. Memang semua berbahasa Madura, namun terjemahannya bisa Anda simak pula di sini.  

Akhir kata, saya mohon maaf tidak bisa memberikan penilaian satu-persatu terhadap sepuluh track yang ada di album Langngo ini. Selain tulisan ini jadi terlalu panjang, khawatir penilaian saya akan subjektif, maka semua saya serahkan kepada Anda. Namun tampak sekilas bahwa lagu-lagu di album Langngo ini diciptakan dengan penuh ketulusan dan kesungguhan, dan terwujudnya album ini telah diupayakan dengan penuh perjuangan. Saya menyaksikan sendiri pada hari peluncurannya.

Selamat untuk Keroncong Kremes, semoga panjang umur.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa fulitik kenalmasrio

Tebarkan Politik Baik, Mas Rio Traktir Ratusan Emak-Emak Makan Bakso

Apacapa Opini

Bagaimana Jika Situbondo Menjadi Kota yang Ramah Bahasa Indonesia?

Apacapa

Ketika Media Sosial jadi Racun Sunyi

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Ulas Buku – Menceritakan tentang Hubungan Manusia dengan Jasad di Kubur

Andi Fajar Wangsa Puisi

Puisi : Sore yang tak ingin Kuakhiri dan Puisi Lainnya Karya Andi Fajar Wangsa

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa takanta

Selamat Molang Are Takanta.id

M.Z. Billal Puisi

Puisi: Hujan Pukul 12.30

Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 4)

Buku Dani Alifian Resensi Ulas

Resensi: Mengarungi Latar Sosio-Kultural Masyarakat Minang

Apacapa redaksi

Kampung Langai, Dik: Apa Kamu Gak Mau Nonton?

Uncategorized

Keindahan yang Nyata Dengan Teknologi Hexa Chroma Drive

Apacapa apokpak N. Fata

Cahaya Literasi dari Ujung Langit Baluran

Puisi

Tragedi Perokok dan Puisi Lainnya

Apacapa Dwi Mustika

Mengangkat Adat Istiadat Nenek Moyang: Keunikan Jogo Tonggo di Temanggung

Puisi Saiful Arif Solichin

Puisi: Jalan Pulang

Buku Muhamad Bintang Resensi Ulas

Resensi: Pahlawan Nasional KH. Noer Alie (Singa Karawang Bekasi)

Cerpen Levana Azalika

Langit Biru Cinta Searah

Prosa Mini

Cerita: Kaset Pita dan Cinta

abdul wahab Apacapa

Menguak Potensi Ecotrail Desa Sumberanyar

Almaidah Sela Agustin Istiqomah Cerpen

Cerpen: Bidadari Berhati Baja