3 Hal Unik yang Pernah Dilakukan Oleh Santri

Oleh: Hasby Ilman Hafid

Bila kita mendengar kata santri pasti identik dengan
manusia bersarung juga berpeci. Selain itu ia juga tidak lepas dari kegiatan mengaji
kitab Kuning. Santri juga tidak bisa dilepaskan dari identitas Indonesia sebab
memberikan jasa yang besar bagi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun di balik
hal-hal umum yang telah kita ketahui dan kita dengar mengenai santri ternyata
ada beberapa kebiasaan unik dan saya alami ketika menjadi santri.

Memasak air menggunakan botol plastik

Saat awal-awal masih menjadi santri, saya tidak
meyangka akan mendapatkan pengalaman sekaligus pengetahuan baru mengenai bagaimana
memasak air versi santri. Jika bertanya apakah tidak ada dispenser di
pesantren? Tentunya ada, namun hal itu hanya dimiliki oleh bagian kesehatan
untuk santri yang sakit, bagian dapur yang hanya dibuka ketika pagi hari saja
dan bagian tertentu yang tidak bisa semua santri bisa memakainya.

Karena saat itu saya sedang kebagian tugas berjaga di
malam hari dan membutuhkan air panas untuk menyeduh kopi maka saya diberi tahu
oleh teman untuk memasak air menggunakan botol. Bagaimana caranya? Gumam
saya dalam hati. Akhirnya kami pun mencari botol bekas di sekitar tempat jaga,
tak lama kemudian saya menemukan sebuah botol Aqua bekas yang masih bagus.

Kemudian saya menyerahkannya kepada teman saya. Kami
pun menyalakan api dengan hanger plastik yang sudah tidak terpakai
karena patah. Ia memasang kayu berbentuk Y di kedua ujung botol lalu memanggang
botol tersebut layaknya Babi gulung. Saya mengira rencana ini akan gagal sebab
plastiknya akan meleleh oleh api. Namun perkiraan saya salah, teman saya terus
membolak-balikkan botol tersebut sampai seluruh badan botol menjadi hitam.

Barulah saat seluruh badan botol berubah menjadi hitam
ia pun menyuruh saya untuk memadamkan apinya sedangkan ia menuangkan airnya ke
dalam gelas dari botol plastik bekas yang sudah digunting dan berisi bubuk
kopi. Saya pun takjub dengan idenya itu, akhirnya kami bisa menikmati kopi
hangat di malam hari yang dingin itu.

Sarung, pakaian 1001 manfaat

Para santri biasa menyebutnya dengan pakaian 1001
manfaat, sebab ia memiliki banyak kegunaan. Sarung bisa menjadi selimut super
enak ketika tidur, bahkan ia juga tidak kalah dengan selimut berbulu yang ada
di hotel bintang lima. Agar tidur berselimut sarung bisa sangat nyaman yang
dibutuhkan hanyalah rasa kantuk yang sudah tak tertahankan, apalagi jika
dipadukan dengan suara rintik hujan. Begh…. Pasti dalam sekejab langsung
nyenyak.

Kalau tidak memiliki timba, sarung juga bisa menjadi
wadah untuk baju kotor yang akan dicuci, biasanya kami akan menumpuk baju kotor
ditengah-tengah sarung kemudian tinggal kami ikat keempat ujung sarung sehingga
pakaian kotornya tidak akan berserakan dan tampak rapi. Kami juga biasa memakai
sarung untuk bersantai layaknya Hammock di tempat-tempat wisata.

Kami akan mengikat kedua ujung sarung ke tempat
jemuran dan membuatnya seperti Hammock. Agar tidak kepanasan kami akan
menngunakan sarung yang lain untuk menjadikannya sebagai atap. Kami akan
menikmatinya sambil berbincang santai dengan teman bahkan sampai tertidur
nyenyak akibat angin yang berhembus sepoi-sepoi.

Tidur di loteng demi menghindari bagian keamanan

Pengalaman ini saya dapatkan ketika kelelahan akibat
bekerja menerbitkan majalah dinding sampai menjelang salat Subuh. Saya mencari
cara bagaimana untuk tidak ikut kegiatan salat Subuh berjamaah namun tidak kena
hukuman oleh bagian peribadatan dan keamanan.

Ketika saya pergi ke kamar mandi, saya bertemu teman
saya yang jarang sekali ikut kegiatan namun jarang mendapatkan hukuman. Setelah
saya ikuti diam-diam dari belakang, ternyata ia pergi ke kelas yang berada di
lantai dua. Saya pun langsung menciduknya saat akan naik ke atas loteng. Ia pun
terkejut dan hampir jatuh, setelah itu ia langsung menyuruh saya untuk naik ke
atas juga agar tidak ketahuan bagian keamanan.

Jika saya ketahuan otomatis semua juga akan ketahuan
dan dihukum oleh bagian keamanan. Akhirnya saya pun naik ke loteng, setelah
sampai di atas teman saya langsung menutupi lubang masuk dengan plafon. Suasana
gelap menyelimuti kami, ia menyalakan senter kecil dari korek api. Betapa
terkejutnya saya setelah melihat salah satu teman saya sudah tertidur pulas
dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.

Untuk sampai di tempat tersebut, kami berjalan sekitar
4 langkah meniti tembok pembatas antar ruang kelas. Di antara ruang kelas dan
aula ada sebuah tempat sebagai jalur air hujan yang terbuat dari beton lebarnya
bisa muat untuk 2 orang dan membentang sepanjang ruang kelas. Di sinilah kami
tidur beralaskan kasur tipis yang dibawa dari kamar juga selimut untuk
melindungi tubuh dari gigitan nyamuk.

Tentunya tempat ini hanya bisa digunakan saat musik
kemarau saja, setelah posisi wenak (PW) teman saya mematikan senter lalu kami
pun bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut ketahuan bagian keamanan. Walaupun
tempat ini aman dari bagian keamanan, resiko yang harus kami tanggung adalah
jika bangun kesiangan kami tidak bisa turun ke bawah karena kelas dipakai untuk
tempat belajar. Jika sudah begitu kami baru bisa turun ketika pulang sekolah
dan absen sekolah.

Mungkin itulah beberapa hal unik yang pernah saya lakukan
ketika menjadi santri. Hal-hal di atas memanglah sepele namun sangat berkesan
bagi santri apalagi ketika sudah menjadi alumni, pasti akan senyam-senyum
sendiri mengingat hal-hal konyol tersebut. []

 

TENTANG PENULIS

Hasby Ilman Hafid adalah seorang santri yang berasal
dari Situbondo dan memiliki banyak hobi. Saat ini aktif sebagai penanggung
jawab media pesantren Al-Mashduqiah. Menjadi kontributor aktif Media santri NU
dan Bisnis Muda. Novel pertamanya telah terbit dengan judul My Humairah Girl

Media Sosial: IG dan FB: Hasby Hafid. Alamat: Jl. IR.
H. Juanda No.370, RT.01, Kp. Arab, Patokan, Kec. Kraksaan, Kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur 67282.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Pandangan Filsuf terhadap Ideologi Islam di Era Milenial

Cerpen Puji M. Arfi

Cerpen: Perjalanan Panjang Mencari Sebuah Angka

Nurul Fatta Sentilan Fatta

Wajah Tanpa Daging dan Para Pengemis Berjubah

Apacapa fulitik

Menggugat Integritas Pejabat Publik

Cerpen Fajar SH

Cerpen: Jurang Ludruk

Buku Penerbit Ulas

Buku: Saudade dan Cerita Lainnya

Cerpen Toni Kahar

Cerpen: Sebelum Membayar Dendam

Buku Ulas

Koruptor, Pramoedya Ananta Toer

Kuliner Situbondo Nasi Sodu

Panduan Ekspedisi Nasi Sodu

Apacapa

Yusuf and Beny Siap Menyambut Tour Manca Negara Pertama di Malaysia

Apacapa Esai Fendy Sa’is Nayogi

Jangan Dilupakan, Folklor Sebagai Media Membentuk Karakter Bangsa

Apacapa N. Fata

Bânni Monteng Sakèlan

Moh. Rofqil Bazikh Puisi

Puisi : Orang Bukit Karya Moh. Rofqil Bazikh

Nida Nur Fadillah Puisi

Puisi: Angin Misterius

Apacapa fulitik melqy mochammad marhaen

“Karpet Merah” Rakyat Situbondo

Cerpen M Firdaus Rahmatullah

Cerpen: Ingatan tentang Sepasang Mata

Cerpen Eko Setyawan

Cerpen – Ada Sesuatu yang Telah Dicuri dari Tubuhku, Entah yang Mana

Apacapa fulitik matrais

GOR BK Serius Amat, Ini Usulan Nama Alternatif yang Patut Dipertimbangkan

Cerpen Moh. Jamalul Muttaqin

Cerpen: Pelangi

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Ludruk dan Puisi Lainnya Karya Ahmad Radhitya Alam