Derita Ekspektasi Tinggi: Konversasi Buku Menjadi Film, Saat Imajinasi Kita Diterjemahkan Ulang

Pernah nggak kamu keluar dari bioskop sambil ngomel, “Filmnya nggak sebagus bukunya”? Tenangkan dirimu. Setiap kali novel kesayangan diangkat ke layar lebar, kita seperti disuguhi undangan untuk kecewa atau minimal untuk berdebat. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang jarang terpikirkan: bahwa proses ekranisasi (ya, itu istilah akademisnya) sebenarnya bukan sekadar soal “filmnya beda dari buku”, tapi tentang bagaimana imajinasi diterjemahkan ulang dalam bahasa visual.

Di Indonesia, fenomena ini bukan barang baru. Kita punya Laskar Pelangi (2008) yang nembus 4,2 juta penonton (Kompas, 2008), Habibie & Ainun (2012) dengan 4,5 juta penonton (Kumparan, 2022), dan Dilan 1990 (2018) yang mencetak rekor lebih dari 6 juta penonton (Universitas Pendidikan Indonesia [UPI], 2021). Dari angka itu aja udah kelihatan: publik kita gemar menyaksikan cerita yang sebelumnya cuma mereka kenal lewat huruf-huruf.

Menariknya, setiap adaptasi itu selalu punya efek domino. Buku-buku yang sebelumnya nangkring di rak toko buku, tiba-tiba laris lagi. Orang-orang mulai baca ulang, ngebandingin isi buku dan filmnya, lalu berdebat di media sosial. Dunia literasi dan dunia sinema kayak saling ngasih oksigen satu sama lain, saling menghidupkan. Tapi kalau ngomong soal prosesnya, ekranisasi nggak segampang “copas cerita, terus syuting”. Menurut Eneste (1991), ada tiga bentuk perubahan yang pasti terjadi: penciutan, penambahan, dan variasi.

 Beberapa bagian cerita mesti dihapus karena durasi film terbatas, hal tersebut dinamakan penciutan. Sutradara nambah adegan biar lebih dramatis, itu penambahan. Dan kadang, akhir cerita diubah biar cocok dengan ritme sinematik, itu variasi. Masalahnya, di titik inilah muncul drama sebenarnya. Pembaca merasa dikhianati karena plot yang mereka sempat cumbui di buku raib, sementara sutradara merasa sah-sah aja karena film adalah karya tersendiri. Jadi kalau kamu merasa kecewa karena adegan favoritmu di buku nggak muncul di film, bisa jadi itu bukan kesalahan siapa-siapa. Itu cuma dua bahasa yang sedang saling menerjemahkan diri.

Lihat aja Laskar Pelangi. Banyak pembaca yang ngerasa karakter anak-anaknya nggak sedalam di buku. Seorang pembaca bahkan nulis, “Penokohan anak-anak Laskar Pelangi di buku dijelaskan secara kuat, tapi di film malah kita hanya mengenal dengan baik sekitar lima orang” (Krilianeh, 2013). Tapi di sisi lain, ada juga penonton yang merasa filmnya justru berhasil menampilkan keindahan dan kepedihan Belitung secara nyata: “The story is relatable, how the lower class go to school” (Reddit, 2022). Dua-duanya nggak salah, cuma beda perspektif aja.

Contoh lain, Dilan 1990. Pembaca bukunya bilang filmnya terlalu fokus ke romantisme, tapi banyak penonton yang malah merasa nostalgia. Ada yang bilang, “Dilan bukan hanya kisah cinta, tapi juga potret sederhana tentang kenakalan yang dirindukan” (Rotten Tomatoes Indonesia, 2019). Nah, dari sini kita tahu: film bukan cermin buku, tapi kaca lain yang menampilkan pantulan berbeda.

Habibie & Ainun juga begitu. Ada yang terharu sampai nangis karena kisah cintanya, tapi ada juga pembaca memoarnya yang bilang filmnya terlalu manis, kurang menggambarkan pergulatan sejarah dan politik Habibie (Detikhot, 2013). Lagi-lagi, perbedaan tafsir ini justru nunjukkin satu hal penting: bahwa adaptasi adalah dialog, bukan kompetisi.

Kita, Penonton, dan Ekspektasi yang Nggak Pernah Selesai. Sebagian besar dari kita mungkin lupa bahwa film punya batas, sedangkan imajinasi nggak. Buku memungkinkan kita menciptakan dunia sendiri dengan mengisi wajah, suara, bahkan aroma tokoh sesuka hati. Tapi film? Semua sudah ditentukan. Jadi kalau kamu bilang “filmnya nggak sesuai ekspektasi”, mungkin karena ekspektasimu sendiri terlalu luas. Dan itu nggak apa-apa.

Ekranisasi, dalam bentuk terbaiknya, bukan soal meniru buku, tapi memperluasnya. Ia membuka ruang tafsir baru, mempertemukan pembaca dan penonton di satu meja yang sama: debat di Twitter, misalnya. Kalau dipikir-pikir, mungkin kita harus berhenti melihat film adaptasi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap buku. Lebih tepatnya, ia adalah bentuk penghormatan: bukti bahwa satu cerita bisa terus hidup di medium lain. Novel menanam benih, film menumbuhkan cabangnya.

Jadi, lain kali kamu nonton film yang diadaptasi dari buku favoritmu dan merasa “kok beda, ya?”, coba tahan dulu penghakimannya. Karena bisa jadi, yang kamu lihat di layar bukan sekadar hasil adaptasi, tapi tafsir ulang atas cinta seseorang terhadap cerita yang sama dan dengan bahasa medium yang berbeda.

Penulis

  • Mario

    Hidup sementara, karya selamanya.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Zaidi Apacapa

Sebuah Perjalanan : Tentang Kayumas Bersastra

Apacapa Erha Pamungkas Haryo Pamungkas Politik

Gus Dur: Demokrasi Harus Diperjuangkan

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Terima Kasih Situbondo

Apacapa Buku Dani Alifian Ulas

Novel Ulid, Buku yang Cocok Dibaca Saat Rindu Kampung Halaman

analis Iis Dahlia

Analisis Puisi Nikmati Hidup

Muhammad Husni Puisi Tribute Sapardi

Puisi: Payung Hitam 13 Tahun

Apacapa Hasby Ilman Hafid

3 Hal Unik yang Pernah Dilakukan Oleh Santri

Ahmad Maghroby Rahman Esai

Bejo, Suhaden, Kopi, Senja dan Rendra

Puisi Raihan Robby

Puisi: Di Luar Rencana

Puisi

Bermain-main di Sawah dan Puisi Lainnya Karya Supali Kasim

Apacapa Indra Nasution

Pengaduan Orang-Orang Pinggiran

Apacapa Arif Noerfaizal

Refleksi 73 Tahun Indonesia Merdeka

Lelaki Sungai Puisi

Puisi: Diorama Talang Siring

Ahmad Zaidi Apacapa

Kepala Dusun Langai yang Peduli

Apacapa Ipul Lestari

Memeluk Bayangmu di 1250 MDPL

Apacapa Moh. Imron

Ali Gardy Bertiga: Tirakat Bunyi

Apacapa rizki pristiwanto

Relawan yang Tak Seutuhnya Rela

Apresiasi Ridha Aina T

Musik Puisi – Sepi dan Emosi

Apacapa Denny Ardiansyah

Menjelajah Selawat Nariyah di Situbondo

Opini

Generasi Z dan Smartphone: Menemukan Keseimbangan Hidup dan Interaksi Sosial