Catatan Juri: Lomba Cerita Pendek FLS3N 2026 Tingkat Kabupaten Situbondo

Menilai Cerita Pendek di Zaman AI (Artificial Intelligence)

“Berapa lama menulis cerpen ini?” tanya saya sebagai juri, ketika sesi presentasi dan tanya jawab.

Peserta—yang ternyata adalah calon pemenang—menjawab, “Sekitar sebulan.”

“Wah, pantas saja cerpenmu tertata rapi.”

Berapa Lama Menulis Cerpen?

Tiga minggu sebelum acara FLS3N 2026, saya ditelepon oleh Pak Jefri untuk menjadi juri pada lomba cerpen FLS3N 2026 yang dilaksanakan di SMAN 2 Situbondo, kemudian bersama ketua koordinator Ibu Fitri Ayu Nurjannatin mengadakan rapat. Bersama juri Baiq Cynthia, saya melakukan penilaian secara daring selama empat hari. Nilai yang diberikan berbeda tipis nilainya antara para juara dan juara harapan. Penilaian dilakukan dari pagi sampai sore hari benar-benar menguras pikiran.

Jadwal acara lomba pada tanggal 27 April 2026, ternyata telah diundur dari jadwal yang seharusnya lebih awal. Jadi, 15 peserta yang telah mendaftar mempunyai banyak waktu untuk menulis. Karena menulis cerpen tampaknya mudah, namun tidak semudah yang dikira. Dari 15 peserta, hanya beberapa cerpen yang sudah matang, sebagian besar masih mentah. Ibarat masakan dari mulai ide memasak apa, resepnya bagaimana, bahannya apa saja, berapa lama memasaknya, cara penyajian sampai terakhir tampilan masakan. 15 cerpen peserta lomba memiliki ide yang bagus, resep sudah ada, bahan sudah lengkap, namun sayangnya hanya beberapa cerpen yang diolah dengan baik dan benar.

Ketika saya bertanya kepada para peserta, “Berapa lama menulis cerpen ini?” jawaban peserta berbeda-beda. Ada yang menjawab lebih dari sebulan, sebulan, dua minggu, seminggu, tiga hari, sampai ada yang mengaku menulis sehari saja. Memang penulis yang sudah berpengalaman akan lebih cepat menulis. Namun, sebelum menulis juga dibutuhkan waktu untuk riset atau penelitian bahan, observasi, wawancara narasumber, mencari referensi pustaka, yang membutuhkan waktu. Apalagi setelah selesai menulis masih harus merapikan tata bahasa, meneliti kelogisan cerita, meneliti alur cerita, mengedit kesalahan ketik, ejaan baku, diksi, metafora, gaya bahasa, kosakata dan sesuai ketentuan lomba.

Selamat! Sudah Menyelesaikan Cerpen Anda

Menyelesaikan sebuah tulisan sudah merupakan sebuah prestasi. Karena sebuah ide harus cukup kuat untuk menggerakkan seorang penulis untuk menyelesaikan tulisannya. Ide menulis bisa saja mengendap berhari-hari bahkan berbulan-bulan tanpa ditulis, atau sudah ditulis, namun tidak menemukan endingnya. Karena itu saya memberi apresiasi nilai bagus kepada 15 peserta untuk bagian tema tidak ada yang mendapat nilai kurang. Inilah daftar peserta yang telah menyelesaikan cerpennya. Ketika proses penjurian saya hanya menerima judul cerpen saja tanpa nama peserta dan asal sekolah agar penilaian lebih netral.

NOJUDUL CERPENNAMAASAL
1Di Balik Tarian Topeng KerteWiqoyatul Maula Al HamidSMAN 1 Situbondo
2Simon Si Anak SkizofreniaWiqoyatuz ZaskiaSMAN 1 Suboh
3Akar yang MenyalaRaditya Dhirgam Ardana QuzairiSMAN 1 Panarukan
4Lumpur KeparatAulia Arifah LilhidayahSMAN 1 Besuki
5Jejak Aksara yang AbadiMeisya Novita PutriSMA Negeri 1 Banyuputih
6Cahaya Terang di Balik Kelir  Nabila Anindita Aurel GanishaSMA Negeri 1 Kapongan
7Napas Lama di Tubuh yang Baru  Amelia Puji LestariSMA Negeri 1 Panji
8Tak Terlihat, Tapi TerasaSelvianiSma Negeri 1 Banyuputih
9Belenggu JiwaTalitha Nurus Syarofah SugiantoSMAN 1 Asembagus
10Kebaya NenekAlfiah DwianitaSMKN 1 Banyuputih
11Rokat PakaranganSinta Rahmatil KarimaSMA  Negeri 1 Situbondo
12Laras Tunggal Azahra Lintrin NovancaSMAN 1 Asembagus
13Sandoro Riak  Nur Aida Azza_MenulisSMKN 1 Panji
14Teka – Teki Angka 26Rizqi Amelia Fildza Putri ArifinSMAN 2 Situbondo
15Gemah Syukur di Tengah EmpatiAdelia Calista PutriSMAN 2 Situbondo

Apa Tema Cerpen Ini?

Pada lomba cerita pendek FLS3N di tingkat Kota/Kabupaten, ada tiga tema cerpen yaitu:

  1. Suara Nusantara. Cerita dapat berangkat dari suara-suara yang jarang mendapat ruang, misalnya kisah orang-orang di pelosok, kelompok sosial tertentu, atau lintas generasi. 
  2. Jejak Budaya. Mengajak penulis menelusuri tradisi, bahasa, adat, atau benda-benda budaya Nusantara. Cerita bisa menunjukkan jejak budaya itu tetap hidup, memengaruhi pilihan tokoh, serta membentuk cara mereka memahami hidup.
  3. Cerita Akar. Fokus pada asal-usul dan ingatan tentang kampung halaman, keluarga, atau nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Dari sanalah tokoh menemukan nilai-nilai yang menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan zaman dan menentukan arah hidupnya. Genre tulisan bebas (misalnya realisme magis, realisme sosial, kriminal, slice of life, dan lain-lain).

Hampir seluruh peserta mendapat nilai baik untuk tema, walau masih ada cerpen yang tidak sesuai tema.

Bagaimana Ringkasan Dari Cerpen Ini?

15 peserta melakukan presentasi ringkasan dari cerpen mereka. Ada peserta yang dapat meringkas, namun ada pula peserta yang membaca hampir seluruh cerpennya. Juri memberi waktu sekitar sepuluh menit bagi peserta untuk melakukan presentasi kemudian sesi tanya jawab. Meringkas cerita adalah suatu keahlian yang membutuhkan latihan dan pengalaman. Keahlian membuat sinopsis yang ringkas, padat, efektif dengan bahasa yang tepat menunjukkan keahlian berbahasa yang baik. Karena itu presentasi cerpen memberikan nilai tambah karena akan ketahuan siapa yang menulis sendiri, atau dibantu orang lain atau bahkan memakai AI.

Indikator Penilaian yaitu:

  1. Kreativitas Pengolahan Tema (20%)
  2. Perspektif atau Gaya Bercerita (25%)
  3. Orisinalitas dan Keunikan (30%)
  4. Bahasa (25%)

Dengan skala penilaian:

  1. 60–65 = Kurang
    1. 70–75 = Cukup
    1. 80–85 = Baik
    1. 90–95 = Sangat Baik

Hasil total penilaian hampir sama antara saya sebagai juri dan juri Baiq Cynthia.

Apakah Anda Pernah Menulis Cerpen?

Beberapa peserta ada yang sudah terbiasa menulis, namun ada pula yang menulis cerita pendek untuk pertama kalinya. Dibutuhkan minat, keingintahuan, wawasan dan kerja keras. Peserta harus aktif mempelajari cara menulis yang baik dan benar dan pembina pun juga harus aktif membimbing,

Cerpen adalah cerita pendek yang habis dibaca dalam sekali duduk, mudah dicerna, plot yang sederhana dan satu tokoh utama. Cerpen harus berkesan kepada pembaca, mudah diingat dan mudah diceritakan ulang.

Bakat menulis cerpen sebenarnya adalah bakat khusus, karena ada penulis yang lebih berbakat menulis cerita panjang atau novelet dan novel.

Dari Mana Anda Mendapat Ide Cerita?

15 peserta umumnya menjawab mendapat ide cerita dari diri sendiri, yang lain mendapat ide cerita dari teman dekat, orang tua, pembina atau guru. Karena itu peran pembina dan guru sangat penting untuk memberi bimbingan ketika peserta melakukan proses menulis, riset, observasi, mencari referensi, dan merapikan tulisan agar baik dan benar. Ide cerita dapat berasal dari mana saja seperti kejadian di sekitar, pengalaman pribadi, cerita teman, buku, berita di TV dan media sosial, yang penting ide cerita itu dapat diolah menjadi cerita yang orisinal. Memang ide cerita dapat sama dengan ide cerita lainnya, namun pasti prosesnya akan berbeda karena pengalaman dan pengetahuan tiap orang berbeda-beda.

Apakah Anda Menulis Memakai AI Artificial Intelligence?

Pertanyaan itu tidak saya tanyakan langsung kepada 15 peserta, tapi saya menemukan indikasi penggunan AI di beberapa cerpen peserta. Saya meneliti satu per satu cerpen dan menemukan kadar AI dalam cerpen beragam, ada yang tinggi, sedang, hingga rendah. Ada cerpen yang seratus persen bebas AI. Memang sebelumnya ketika Technical Meeting saya menyatakan bahwa penggunaan AI boleh saja dengan batasan demi riset, mencari referensi, kosakata, kamus digital, istilah, dll. Seperti ketika mencari referensi di Wikipedia atau mesin pencari seperti Google misalnya. AI adalah alat pendukung, bukan alat utama. AI seperti alat untuk memasak, ada yang menggunakan kompor gas, kompor listrik atau tungku kayu, apapun alat memasaknya, tapi hasil akhir masakan tergantung cara pengolahan yang baik dan benar. Maka patut disayangkan ketika ada peserta yang belum pernah menulis cerpen, tidak hobi membaca, tidak ikut ekstrakurikuler yang berhubungan dengan menulis atau penelitian ilmiah, tiba-tiba dapat menulis cerpen yang bagus. Penggunaan AI harus dibarengi dengan campur tangan manusia, karena AI pun buatan manusia untuk memudahkan manusia. Secanggih apapun AI masih membutuhkan ide cemerlang dari manusia, prompt yang tepat, dan masih perlu diproses agar sentuhan manusia yang tidak dapat ditiru oleh AI manapun, dapat membuat karya lebih bagus.

Apakah Anda Ikut Lomba Karena Kemauan Sendiri?

Beberapa peserta ikut lomba karena kemauan sendiri, ada yang disuruh gurunya, namun ada yang unik karena ada peserta yang awalnya hendak mengikuti lomba film pendek, namun akhirnya ikut lomba cerpen dan menulis cerpen untuk pertama kalinya. Kemauan dan tekad yang kuat untuk menulis sangat penting, namun yang lebih penting adalah dukungan pembina, guru, teman dekat dan komunitas. Sinergi semua pihak dapat menghasilkan peserta yang dapat berproses dengan baik, memiliki ruang untuk bertanya dan berdiskusi, memiliki petunjuk untuk mengolah karyanya dan memperbaiki hasil tulisannya.

Alarm Sepuluh Menit Sudah Berbunyi!

Tidak terasa presentasi dan tanya jawab sudah sepuluh menit, bahkan beberapa peserta lebih dari sepuluh menit. Ketika waktu sepuluh menit untuk presentasi habis, maka tugas juri untuk memberikan penilaian final. Di dalam hati saya berharap 15 siswa itu terus menulis, terus berkarya, karena jalan menjadi penulis itu hanya ada dua yaitu, banyak membaca dan banyak menulis. Semoga saya diberi kesempatan untuk membaca buku kumpulan cerpen karya 15 peserta FLS3N 2026 yang rencananya akan diterbitkan menjadi buku antologi cerpen bersama. Semoga terbit.

Penulis Terbaik Tidak Ditentukan Oleh Juri

Ya, penulis terbaik tidak ditentukan oleh juri. Namun, ditentukan oleh karya dan oleh pembaca. Dalam lomba cerpen FLS3N 2026 inilah pemenang lomba cerpen dengan nilai terpaut tipis.

NONAMA LENGKAPASAL SEKOLAHJUARA
1TALITHA NURUS SYAROFAH SUGIANTOSMAN 1 ASEMBAGUS1
2AZAHRA LINTRIN NOVANCASMAN 1 ASEMBAGUS2
3WIQOYATUL MAULA AL HAMIDSMAN 1 SITUBONDO3
4SINTA RAHMATIL KARIMASMAN 1 SITUBONDOHARAPAN 1
5AMELIA PUJI LESTARISMAN 1 PANJIHARAPAN 2

Dari 15 peserta itu mari kita lihat kedepannya siapa yang akan benar-benar tumbuh menjadi seorang penulis terbaik. Hanya waktu yang dapat menentukan. Karena mengikuti lomba bukan sekadar mengejar juara, namun ada yang lebih penting yaitu, melatih kedisplinan, menambah ilmu pengetahuan, mengasah kemampuan berbahasa yang baik dan benar yang akan berguna di bidang apapun.

Selamat Anda Sudah Membaca Tulisan Ini Sampai Selesai!

Anda dapat mengecek apakah tulisan ini adalah hasil AI atau bukan melalui Gemini AI, ChatGPT, ZeroGPT, atau WinstonAI.

Penulis

  • Ahmad Sufiaturrahman adalah penulis dan editor buku dari Situbondo. Beberapa karyanya adalah Novel Sejarah Perjuangan KHR. As’ad Syamsul Arifin: Kesatria Kuda Putih (Penerbit Tinta Medina, 2015), Kumpulan Cerpen Antologi Kasus Sherlock Holmes Fans Indonesia (Penerbit Elex Media Komputindo, 2022). Cerpennya yang berjudul Tidak Ada Surga Bagi Manusia memenangkan juara Lomba Cerpen Eksperimental Basabasi pada tahun 2018. Saat ini masih aktif menjadi penulis dan editor buku fiksi dan non fiksi, beberapa adalah buku Antologi Puisi Festival Perasaan: Pelaminan Aksara yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Republik Indonesia (Penerbit Afanin Media Utama, 2025). Dan editor buku akademik Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2025 Tema: Budaya, Teknologi Digital, dan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran: Peluang dan Tantangan (Penerbit Afanin Media Utama, 2026).

    Email: sufiaturrahman@gmail.com

    Whatsapp: 082231992748


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

AI Mulai Merajalela di Dunia Pendidikan: Ancaman atau Peluang?

Advertorial

Tips Memilih Celana Boxer Agar Nyaman Digunakan

Apacapa Esai

Serrona Rèng Situbende è Bulân Rèaje

Apacapa

Ngaji Syair: Merawat Sastra Keimanan

Cerpen Norrahman Alif

Cerpen: Jurang Ara, Lahirnya Para Perantau

Apacapa

Gemalaguna: Laut Tak Pernah Salah

Mahadir Mohammed Puisi

Puisi: Puing Hampa

Cerpen Hendy Pratama

Cerpen : Siapa yang Bernyanyi di Kamar Mandi?

Opini

Situbondo Berbenah: Dari Gelap Menuju Terang

Buku H.O.S. Tjokroaminoto Indra Nasution Ulas

Ulas Buku – Islam dan Sosialisme karya H.O.S. Tjokroaminoto

Apacapa

Museum Balumbung: Para Pendekar Masa Lalu

Puisi

Klandestin dan Puisi Lainnya

Puisi Tribute Sapardi

Puisi: Untukmu, Eyang!

Pantun Papparekan Madura Sastra Situbondo

Pantun Madura Situbondo (Edisi 3)

Puisi T. Rahman Al Habsyi

Puisi : Dalam Kanvas dan Puisi Lainnya Karya T. Rahman Al Habsyi

Penerbit

Buku: Kesiur Perjumpaan

Ana Khasanah Buku Ulas

Ulas Buku: Mengabdi Adalah Seni Menjelajahi Diri

Apacapa Fadhel Fikri

Gus Miftah dan Dakwah yang Merendahkan: Sebuah Kritik dari Perspektif Teologi Antroposentris

Catatan Perjalanan Ngaleleng Nur Faizah Wisata Situbondo

Gunung Panceng Adventure

Apacapa

Orang Madura Tanpa Toa dan Sound System, Apa Bisa?