Napas Segar Musik Kontemporer Indonesia

Kala AMI Award 2025 dihelat, ada satu kategori penghargaan yang menarik perhatian saya, yakni “Karya Produksi Kontemporer Terbaik”. Bayangkan, jenis musik yang sering diasosiasikan banyak orang sebagai musik yang aneh, njelimet, membingungkan, atau tak enak didengar itu mendapat kursi di AMI Award. Bayangkan!

Tentu saja ini prestasi tersendiri. Mengapa? Alasannya sederhana: AMI Award adalah forum penghargaan musik tertinggi di negeri ini. Status itu membuat AMI Award dinilai sebagai parameter krusial bagi sebuah jenis musik. Jika suatu jenis musik mendapat kursi di dalamnya, maka ada legitimasi eksistensial terhadap jenis musik tersebut. Dalam konteks ini, musik kontemporer akhirnya diakui sebagai bagian dari lanskap musik nasional.

Kursi Belakang

Kategori “Karya Produksi Kontemporer Terbaik” adalah kategori anyar di AMI Award. Padahal, musik kontemporer sejatinya telah berdenyut lama. Kita mungkin tak lupa dengan forum sekaliber Pekan Komponis Muda (PKM) yang ditetaskan oleh Suka Hardjana–seorang kritikus musik ulung pada tahun 1979.

PKM adalah forum penting dalam peta musik kontemporer negeri ini. Sejarah mencatat, ini adalah forum pertama yang disediakan untuk menaungi karya-karya eksperimental. Para komponis diberi keleluasaan untuk meramu bebunyian tanpa terikat oleh beban kultural dari setiap varian musik. Memang, kebebasan kreativitas sengaja disuburkan di forum ini. Dengan demikian, seperti kata Pak Suka dalam “Mencari Musik Baru” (1980), musik dapat selalu segar dengan perspektif-perspektif anyar.

Forum PKM akhirnya meletup. Tak sedikit kota lain turut mengadopsi spiritnya. Sebut saja Surabaya Full Music (SFM) yang dicetus tahun 2001 oleh Heri Lentho itu. Forum ini tak kalah mentereng. Konon, berkat forum ini, lahir ide untuk menetapkan hari musik Nasional yang kita peringati hingga hari ini.

Ada juga Yogyakarta Contemporary Music Festival (YCMF) yang tercetus tahun 2004. Forum ini cukup membahana sebab sering melibatkan komponis mancanegara dengan jumlah tak sedikit. Demikian juga di kota sebelahnya, Solo. Di sana, I Wayan Sadra–seorang musikus flamboyan turut mencetak Bukan Musik Biasa (BMB) tahun 2007.

Di antara forum-forum yang ada, BMB boleh dikata paling elok. Ia dihelat bukan setahun sekali (laiknya forum-forum sebelumnya) namun dua bulan sekali. Lebih jauh lagi, sejak dicetus, forum itu digulirkan secara konsisten, jarang absen. 19 tahun sudah usianya!

Dari realitas ini, kita dapat melihat bagaimana geliat musik kontemporer di Indonesia. Ia telah menembus lorong zaman dan melintas generasi. Akan tetapi, hal itu nyatanya belum cukup untuk membuat musik kontemporer mendapat kursi di AMI Award lebih cepat. Ini nampak ironis dengan jenis musik lainnya, yakni dangdut koplo.

Dangdut koplo telah mendapat kursi lebih dulu. Kalau tidak salah tahun 2023. Padahal, secara historis, jenis musik ini lebih belia dibanding musik kontemporer. Sejarah mencatat, dangdut koplo lahir di Jawa Timur pada sekira 90-an. Bayangkan, usia di antara keduanya terpaut lebih kurang satu dasawarsa. Akan tetapi, mengapa musik kontemporer justru mendapat kursi belakangan? Aduh!

Adil

Kiranya boleh menduga, jawaban dari pertanyaan itu adalah stigma. Tak sedikit orang menyemat stigma yang boleh dikata buruk terhadap musik kontemporer. Aneh, nyeleneh, ruwet, atau tak enak didengar adalah beberapa di antaranya. Memang tak bisa dinafikan tetapi ini masalah preferensi. Preferensi tiap orang pasti berbeda. Dan itu sah-sah saja.

Ada juga stigma bahwa musik kontemporer itu eksklusif. Peruntukkannya hanya pada akademisi seni, seniman langitan, atau komunitas tertaut. Orang awam merasa tak mampu menyentuh keindahannya. Ini tak bisa dinafikan juga karena sejauh ini, peminat maupun penggubahnya didominasi oleh insan-insan tersebut.

Stigma-stigma tersebut akhirnya menjadi episentrum narasi. Ia terlanjur hidup dan direproduksi bertahun-tahun lamanya. Imbasnya ternyata cukup serius. Musik kontemporer jatuh ke zona degradasi dalam lanskap musik negeri ini. Alih-alih dinikmati, dilirik pun tidak. Jangankan dikenal, sudah tahu pun untung. Tak heran jika musik kontemporer mendapat kursi belakangan.

Di sini, banyak orang yang bilang lumrah, maklum. Akan tetapi, rasanya tak baik jika terlalu toleran. Ini terasa tidak adil. Bagaimanapun, musik kontemporer adalah salah satu bagian dari lanskap musik negeri ini. Tak arif rasanya jika menyisihkan kedudukannya.

Lagi pula, masing-masing varian musik akan selalu punya tempat dan pendengarnya sendiri. Perkara kuantitas, itu urusan lain. Terpenting, pengakuan atas eksistensi sebuah varian musik telah dikalungkan. Di situlah pengakuannya. Di situlah letak keadilannya. Dan hal ini agaknya perlu dicatat untuk ke depannya.

Memang pepatah sering kali benar: lebih baik terlambat dibandingkan tidak sama sekali. Kiwari, musik kontemporer ‘secara sah’ telah sejajar dengan varian musik lain. Untuk itu, perlu juga memberi apresiasi kepada AMI Award atas penetapan yang telah ditunaikan. Tentu saja, adanya kategori baru ini telah memberi napas segar bagi ekosistem musik kontemporer.

Author


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mahesa Asah Puisi

Puisi Mored: Legenda Tangis

Apacapa Wilda Zakiyah

Adha yang Berpuisi

Ahmad Sufiatur Rahman Apresiasi

Puisi Relief Alun-Alun Situbondo

Alexong Cerpen Dody Widianto

Cerpen: Nyallai Siwok

Cerpen Depri Ajopan

Cerpen: Cerita Orang-orang Masjid

Uncategorized

Ulas Buku: Cegah Stunting Sedini Mungkin

Cerpen Puji M. Arfi

Cerpen: Perjalanan Panjang Mencari Sebuah Angka

Apacapa

Pilkada Situbondo dalam ‘Perang’ Musik Anak Muda

Apacapa

Pantas Saja Terkena Bencana: Analisis Wacana di Tiktok Ketika Komentar Netizen Membingkai Musibah sebagai Hukuman di Sumatera

Buku Ulas

Senyum Karyamin: Perihal Kesederhanaan

Apacapa Nanik Puji Astutik

Mencari Teman Hidup

Puisi Saifir Rohman

Puisi Sya’ban

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Berkaca pada Cerpen Para Juara

Film/Series Review Film Setiya Eka Puspitasari Ulas

Review Film: Jaka Sembung dan Si Buta

Apacapa

Ramadan: Korban Keisengan Saat Tidur di Langgar

Buku Resensi Thomas Utomo Ulas

Resensi: Rahasia di Balik Pakaian Buatan Nenek

Apacapa Nanik Puji Astutik

Aku Bukan Pejuang Love Cyber

Anugrah Gio Pratama Puisi

Puisi: Perantau Karya Anugrah Gio Pratama

Cerpen Nasrul M. Rizal

Cerpen : Belajar Dari Orang-Orang Idiot

Puisi

Sudamala dan Puisi Lainnya