Resensi: Rahasia di Balik Pakaian Buatan Nenek

 

Oleh:
Thomas Utomo

 

Judul : Aku Sayang Nenekku

Pengarang
: Amalia Dewi Fatimah

Penerbit
: Indiva Media Kreasi

Cetakan
: Pertama, November 2020

Tebal : 136 halaman

ISBN
:9 78-623-253-021-8

Mula-mula,
saya hendak bertanya: apa yang terbayang dalam benak tentang sosok nenek?
Barangkali, kebanyakan dari kita menyimpan kenangan lembut akan perempuan ini:
perhatian, penyayang, pandai memasak, gemar mendongeng, dan sebagainya. Sama
halnya dengan Niken, gadis praremaja, kelas empat SD. Dia sangat menyayangi
Nenek—ibunya Bunda. Sebab, Nenek sering membuatkan pakaian spesial untuk cucu
semata wayangnya itu. Disebut spesial, karena pakaian buatan Nenek memiliki
model yang tidak ada di toko pakaian mana pun. Oleh karenanya, Niken selalu
bahagia bercampur bangga mengenakan pakaian jahitan Nenek. Tidak ketinggalan,
dia kerap memamerkan pakaian buatan Nenek kepada teman-temannya. Terus terang
saja, Niken menikmati tatap mata takjub dan decak kagum teman-teman terhadap
pakaian eksklusif itu. Ada kepuasan tersendiri yang dia rasakan.

Hingga
suatu hari, Nenek yang tinggal berbeda kota dengan Niken, meninggal dunia.
Niken beserta Ayah dan Bunda hijrah untuk menempati rumah Nenek yang sekaligus
difungsikan sebagai toko pakaian. Bunda yang sehari-hari disibukkan dengan
pesanan aneka macam kue, banting setir menjadi pengelola toko pakaian
peninggalan Kakek, sementara Ayah juga ganti pekerjaan. Niken pun berusaha
menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, sampai suatu ketika, datang rombongan
tamu rahasia Nenek. Tetamu ini yang kemudian ‘membongkar’ rahasia Nenek yang
sebelumnya tidak diketahui Niken, Ayah, dan Bunda. Ayah dan Bunda merasa
senang, tepatnya bersyukur akan kenyataan yang baru terkuak itu, sedangkan
Niken malah marah juga kecewa. Dia menganggap Nenek membohonginya. Tapi,
rentetan kejadian berikut, akhirnya membuka mata hati Niken.

Kejadian
apa saja itu? Dan apa sebetulnya rahasia Nenek?

Tentu,
detailnya tidak bakal saya beberkan di sini. Sebaliknya, sebagai penyemangat
untuk para calon pembaca, perlu diungkapkan segi-segi menarik dari novel anak
ini, supaya memacu untuk menelusuri sendiri sekaligus sebagai bahan pembuka
diskusi kita.

Pertama,
novel ini memiliki gaya bercerita yang empuk, membuat kandungan 14 bab di
dalamnya nyaman dinikmati sampai akhir. Contoh, “Hari mulai terang dan matahari
bersinar hangat. Niken terbangun oleh percakapan beberapa orang di luar
ruangan. Matanya menatap ke sekeliling ruangan, berusaha mengingat berada di
mana dia sekarang? Ternyata dia berada di sebuah ruangan dengan meja-meja yang
dirapatkan ke dinding. Ada lemari yang penuh buku dan map. Juga ada foto Bapak
Presiden dan Wakil Presiden dengan burung garuda di antaranya. Niken mengira
dia berada di ruang kelasnya, tapi ruangan ini terlalu kecil. Dan di ruangan
ini, ada banyak anak kecil yang tertidur di tikar dan kasur busa.” (halaman
82).

Kedua,
tokoh-tokoh novel sangat manusiawi. Tidak ada tokoh yang terlampau putih—yang
kemudian ditahbiskan sebagai penjabar hikmah atau nilai kebajikan, seperti
tipikal bacaan anak lain. Sebaliknya, semua tokoh memiliki kelebihan-kekurangan—yang
dengannya, satu sama lain saling berkontribusi terhadap perkembangan
kepribadian masing-masing ke arah metamorfosis yang lebih baik lagi.

Ketiga,
topik yang diangkat pengarang, dekat dengan kehidupan keseharian anak, sehingga
tidak menimbulkan gap pemahaman. Oleh
karena itu, pembaca bisa lebih gampang memahami, bahkan menghayati liku-liku
pengalaman Niken, keluarga, dan teman-temannya, misal keegoisan Niken yang
berbenturan dengan kekurangpekaan Karina dan kawan-kawan serta Yura, sepupunya
(halaman 20-38).

Keempat,
dalam sekujur novel, terasa sekali kandungan nuansa kekeluargaan yang hangat
dan nyaman, seperti Nenek yang meluangkan waktu di sela kesibukan mengurus toko
cita dengan menjahitkan pakaian untuk Niken, Bunda yang terampil dalam urusan
kuliner: dia selalu melebihkan kue atau penganan apapun untuk keluarga,
tetangga, atau teman-teman Niken, tolong-menolong antarwarga maupun kaum
kerabat saat perumahan Niken diterjang banjir, dan kepedulian keluarga Dania
terhadap para pengungsi bencana alam.

Kelima,
pertanyaan yang selalu didenyut-denyutkan pengarang dalam setiap bab, yakni
mengenai: apa sesungguhnya rahasia Nenek yang tidak diketahui Niken sekeluarga?
akhirnya terbongkar di bab-bab akhir, lewat cerita yang mengecoh, tapi
menggembirakan dan terasa wajar—tidak ada kesan maksa atau dibuat-buat. Dalam hal ini, pengarang piawai mencambuk
kemudian mengulur rasa penasaran pembaca, dan memberikan jawaban di akhir
secara pantas.

Terakhir,
sebagai sedikit penetralisir jika lima point
di atas terasa seperti pujian belaka—walaupun sesungguhnya tidak dimaksudkan
seperti itu, maka perlu disampaikan kritik: yang gamblang adalah mengenai
judul; Aku Sayang Nenekku.

Pertama,
judul terasa biasa saja. Kurang memancing rasa ingin tahu lewat tatapan
selayang pandang. Barangkali, kalau judulnya diubah menjadi Rahasia Nenek Sumayah atau Rahasia Mesin Jahit Nenek, akan lebih
menggelitik rasa penasaran.

Kedua,
judul terasa lewah, karena penggunaan kata Aku
dan klitik –ku. Bagi saya, dalam hal
ini, ada unsur pemborosan kata yang kurang berguna. Judul Aku Sayang Nenek, rasanya sudah cukup baik, meski belum memadai
seperti yang disinggung dalam paragraf sebelum ini.

Demikianlah
catatan pembacaan saya mengenai novel anak karya Amalia Dewi Fatimah. Jika
teman-teman sudah selesai membaca novel tersebut, silakan tanggapi catatan
pembacaan ini, agar diskusi kita semakin semarak. Saya tunggu.

 

Biodata
Penulis

*Thomas
Utomo adalah guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga (mulai 2019),
sebelumnya berkarier di SD UMP, Banyumas (2012-2018). Bisa dihubungi lewat
surel utomothomas@gmail.com atau nomor 085802460851. Atau bisa juga ditemui di
tempat bernaungnya bersama keluarga, di Jalan Letnan Kusni nomor 10 RT 2 RW 6
Kelurahan Bancar, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mareta C. Widodo Mored Moret

Puisi Mored: Senapan Pak Nidin dan Puisi Lainnya

Puisi Tjahjaning Afraah Hasan S. A.

Puisi: Harap 25 Sumsum

Cerpen Iffah Nurul Hidayah Mored Moret

Cerpen Mored: Percaya

Moh. Rofqil Bazikh Puisi

Kasidah Petani dan Puisi Lainnya Karya Moh. Rofqil Bazikh

Puisi Thomas Elisa

Puisi-puisi Thomas Elisa

alif diska Mored Moret

Puisi Mored: Di Ujung Senja yang Abadi

fulitik

1.100 Kaos Patennang Ludes Terjual, Efek Jalan Santai Bareng Mas Rio

Erliyana Muhsi Puisi

Puisi: Telanjang Pudar Karya Erliyana Muhsi

Apacapa Sainur Rasyid

Gusdur dan Buku

Cerpen Gusti Trisno

Cerpen – Tajhin Palappa dan Segenap Dendam Amerta

Apacapa Ulas

Realitas Kelam Rezim Orde Baru dalam Cerpen “Saksi Mata” Karya Seno Gumira Ajidarma: Pendekatan Mimetik

Apacapa

Maukah Kau Menemaniku di Kampung Langai, Dik?

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Nabi Muhammad dan Menguatkan Ideologi Islam

Buku Rudi Agus Hartanto Ulas

Resensi: Tugasmu Hanya Mengizinkan

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Puisi: Kopi Mawar

Opini

Banjir Sumatra 2025: Ketika Alam Mengamuk, Manusia Lebih Dulu Merusak

Agus Hiplunudin Cerpen

Cerpen – Dendam Amba

Resensi

Resensi: Parade Senyap

Apresiasi Ridha Aina T

Musik Puisi – Sepi dan Emosi

Apacapa

Sudahkah Anda Konsisten?