Buku “Nase’ Sodu” Diluncurkan, Angkat Kuliner sebagai Warisan dan Identitas Budaya Situbondo

Buku Nase’ Sodu: Warisan Kuliner dan Identitas Budaya Situbondo resmi diluncurkan melalui kegiatan launching dan diskusi yang digelar di Pendopo Murtajaya, Juglangan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian akhir dari Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan tahun 2026, BP Kebudayaan Jawa Timur dan dihadiri sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pegiat literasi, komunitas, mahasiswa, guru, pustakawan, hingga masyarakat umum. Hadir pula tim monitoring lapangan dari Badan Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.

Rangkaian acara dimulai dengan penampilan Jefri Bagus, pembacaan Salawat Nariyah bersama-sama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta penampilan deklamasi oleh Maha Mangkudilaga. Acara kemudian dilanjutkan dengan nonton bareng film pendek berjudul “Ngidam”.

Film pendek “Ngidam” memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari pasangan suami istri dalam rumah tangga. Film tersebut mengangkat kisah seorang ibu hamil yang sedang ngidam nasi sodu, sementara laki-laki yang berstatus sebagai suami sering kali berada dalam posisi serba salah karena lebih mementingkan pekerjaan dan kesenangannya bermain bersama teman-temannya.

Hal menarik dari film tersebut tidak hanya tentang bagaimana seorang suami memenuhi keinginan istrinya yang sedang ngidam nasi sodu. Tokoh suami justru diajak berkelana melalui rasa nasi sodu dan ingatan masa kecil. Kenangan saat ibunya memasak nasi sodu di dapur dengan tungku tradisional atau tomang, aroma masakan, serta asap yang menjadi ciri khas dapur nenek kembali hadir melalui rasa makanan.

Masakan nenek di masa kecil selalu terasa enak. Pesan tersirat dalam film ini yaitu tentang keluarga sebagai tempat pulang ternyaman dan hidup harus seimbang. Beberapa adegan menarik yang tidak terlupakan yaitu panci terbang dan saat menikmati nasi sodu.

Launching dan Diskusi Buku

Acara inti berupa launching dan diskusi buku “Nase’ Sodu: Warisan Kuliner dan Identitas Budaya Situbondo” dimoderatori oleh Wahyu Karyawan yang akrab disapa Mas Aves, selaku pegiat literasi dan seni.

Buku ini mengangkat kuliner lokal khas Situbondo, yaitu nasi sodu. Buku ditulis oleh Moh. Imron, Panakajaya Hidayatullah, Marlutfi Yoandinas, dan Jamilatul Hasanah.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Marlutfi Yoandinas dari Badan Inovasi Percepatan Pembangunan Daerah, Fendi Febri Purnama, guru dan Ketua MGPM Bahasa Madura SMA, serta Agus Ariyanto, pelestari dan pengusaha Pondok Dapur Sodu.

Menurut Mas Aves, saat ini makanan menjadi hot issue. Pengetahuan lokal sangat penting untuk diarsipkan karena kita masih sangat kekurangan arsip pengetahuan lokal. Budaya kuliner merupakan warisan leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui keluarga.

Marlutfi Yoandinas menjelaskan bahwa arsip pengetahuan lokal membutuhkan dukungan regulatif, yaitu Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Pemerintah masih mencari arah kebudayaan yang menjadi bagian dari polemik kebudayaan. Kebudayaan ke depan menjadi lebih modernitas. Namun, kembali lagi ke akar tradisi, di mana Indonesia secara genetik erat kaitannya dengan estetika (estetikor), seperti yang disampaikan oleh Mochtar Lubis dalam bukunya.

Pengetahuan lokal atau tradisional merupakan salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Banyak potensi daerah yang perlu ditemukan, dikenali, dan dikembangkan. Selama ini, ketika menemukan potensi kuliner lokal, kita hanya tahu bahwa makanan tersebut enak. Namun, belum tentu bisa menjelaskan secara rinci tentang masakan tersebut.

Karena itu, penting untuk mengembangkan karya dengan mengalihwahanakan pengetahuan tersebut menjadi lagu, puisi, dan buku. Nasi sodu yang dibungkus menggunakan taker dari daun pisang juga memiliki nilai pengetahuan. Dalam hal ini, taker menjadi bagian dari seni mengemas makanan.

Nase’ Sodu dan Warisan Budaya Takbenda

Upaya menemukan potensi daerah saat ini masih belum memiliki regulasi berupa Undang-Undang, Peraturan Daerah, maupun Peraturan Bupati yang berlaku secara khusus. Salah satu hal yang sudah dilakukan dalam mengenalkan kuliner lokal yaitu dengan mengadakan kegiatan 1.000 nasi sodu di Taman Kota Asembagus.

Selanjutnya, penting untuk mengembangkan karya berupa diseminasi nasi sodu sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) Indonesia. Apabila nasi sodu sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, pelestariannya perlu diutamakan dan perlu mendapatkan pendampingan dari Pemerintah Daerah.

Nasi sodu yang diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia akan dilaksanakan sidang pada tanggal 18 Agustus 2026. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yaitu apakah objeknya masih eksis, harus ada maestro minimal usia 50 tahun, dan objek tersebut masih dimanfaatkan oleh masyarakat.

Apabila objek sudah hilang dari memori kolektif dan tidak lagi diakses, maka objek tersebut dapat dihapus dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Badan Pelestarian Kebudayaan.

Menjelaskan Nase’ Sodu dari Rasa dan Resep

Mas Fendi menjelaskan definisi dari nase’ sodu, yaitu nase’ berarti nasi, sedangkan sodu mengarah pada cara menikmati atau menyantap nasi menggunakan sendok dari daun pisang yang dilipat dua. Nasi kemudian disiram dengan kuah pate kani atau santan kental dengan rasa gurih.

Bapak Agus Ariyanto yang akrab disapa Agus Sodu juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Kata sodu bahkan melekat pada namanya. Beliau merupakan pelestari sekaligus pemilik usaha Pondok Dapur Sodu yang mengembangkan usaha nasi sodu dengan melestarikan warisan resep leluhur.

Dari beberapa survei yang dilakukan di daerah Jangkar dan Asembagus, beliau mengadopsi resep terbaik. Usaha yang dikembangkan tersebut juga ingin meminimalisir kolesterol. Salah satu kondimen nasi sodu adalah santan kelapa yang menjadi salah satu penyebab tingginya kadar kolesterol.

Setelah melewati riset, Pak Agus memilih resep masakan kembali ke zaman dulu, yaitu tanpa micin atau MSG. Masakan sudah terasa gurih meskipun tanpa MSG. Ia juga menerapkan teknik pengolahan santan kelapa minim kolesterol dengan mengubah lemak jenuh menjadi lemak tak jenuh. Santan dimasak tidak sampai benar-benar mendidih atau tidak sampai pecah.

Kuah santannya memiliki warna berbeda dari beberapa nasi sodu yang ditemui. Nasi sodu milik Pondok Dapur Sodu memiliki warna lebih pelai atau pucat karena tidak menggunakan rimpang kunyit dalam bumbunya. Untuk resep nasi sodu sama seperti pada umumnya, tidak ada resep yang disembunyikan.

Mas Lutfi menambahkan bahwa komponen kuah nasi sodu pakemnya menggunakan palapa ghennak atau bumbu lengkap. Yang membedakan adalah jumlah dari masing-masing jenis bumbu yang digunakan. Selain itu, ada alternatif bahan yang digunakan oleh masyarakat.

Mengingat alam mempunyai siklus, adanya alternatif bahan menjadi salah satu bentuk atau cara masyarakat untuk tetap mempertahankan dan memproduksi nasi sodu setiap hari.

Sajian nasi sodu masih dipertahankan dalam acara panyambhelli atau penyembelihan hewan, arisan, serta tahlilan. Nasi sodu bukan hanya sekadar makanan yang memuaskan lidah dan perut. Nasi sodu sebagai pelengkap kehidupan.

Menyantap Nase’ Sodu

Usai acara launching dan diskusi buku “Nase’ Sodu: Warisan Kuliner dan Identitas Budaya Situbondo”, kegiatan dilanjutkan dengan sesi menyantap nasi sodu dari Pondok Dapur Sodu.

Sebelum menyantap, peserta kegiatan menyimak penjelasan dari Pak Agus tentang komponen dalam seporsi nasi sodu dan cara penyajiannya. Nasi sodu disajikan menggunakan taker daun pisang atau piring yang diberi alas daun pisang, lalu diisi dengan nasi.

Hal menarik yang terlihat di meja penyajian yaitu wadah nasi menggunakan palasa. Tidak menggunakan termos yang biasa dipakai oleh tim katering. Palasa merupakan wadah berbentuk bulat besar sebagai tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu yang kokoh.

Pak Agus juga menambahkan tentang wadah yang lebih besar ukurannya dan berbentuk kotak, sama-sama terbuat dari anyaman bambu, yang disebut budhek. Selain itu, wadah kuah menggunakan kuali yang terbuat dari bahan tanah liat.

Kuah santan, ikan, dan labu kuning dibuat terpisah karena rawan hancur dan dikhawatirkan menjadi bubur. Penyajian nasi sodu tidak hanya dilakukan oleh tim Pondok Dapur Sodu. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk belajar menyajikan nasi sodu, mengambil nasi secukupnya dan menambahkan kondimen lainnya.

Cengi disajikan di atas cobek tanah liat. Cabai telah dihaluskan, dengan irisan mentimun yang masih ada kulitnya, serta kecambah pendek. Ketiga komponen cengi dalam keadaan terpisah dan tidak langsung dicampur semua karena tidak semua orang menyukai ketiga komponen tersebut. Ada yang tidak suka sambal dengan komposisi terasi di dalamnya. Ada yang tidak suka mentimun maupun kecambah pendek mentah. Warna cengi terlihat lebih merah, namun tidak begitu pedas. Selain itu, ada satu komponen modifikasi yaitu bawang merah goreng yang masih terlihat dan dirasakan teksturnya. Tidak lupa, ada kerupuk sebagai teman makan nasi sodu.

Sesi ini sangat berkesan dan menarik perhatian peserta. Satu dua peserta tidak sungkan-sungkan untuk menambah porsi kedua setelah porsi pertama tandas.

Pondok Dapur Sodu hadir membawa sepaket kuliner lokal, yaitu nasi sodu dengan santan kentalnya yang gurih, sirup asam yang menyegarkan, dan kopi rempah bubuk dengan merek “Sang Surya”. Kopi bubuk tersedia dalam kemasan yang juga dipajang dan diperjualbelikan.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agus Hiplunudin Apacapa

Hak Politik Para Koruptor pada Pemilu 2019

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Rekacipta Upacara Hodo: Belajar Dari Lenong

Tips/Trik

Sabun Mandi Bisa Membuat Kulit Kering, Fakta atau Mitos?

Apacapa Supriyadi

Takbiran, Bunyi, dan Memori

Apacapa

Harjakasi Nasibmu Kini

Pantun Papparekan Madura Sastra Situbondo

Pantun Madura Situbondo (Edisi 2)

Kriselda Dwi Ghisela Resensi

Resensi Ronggeng Dukuh Paruk

Puisi

Puisi: Sukma dan Puisi Lainnya

Heru Mulyanto Mored

Bocah dari Palung Merah

Apacapa Hasby Ilman Hafid

3 Hal Unik yang Pernah Dilakukan Oleh Santri

Apacapa

Pertunjukan Eksperimental: “BUTAH” Membaca Krisis Ekologi

Firman Fadilah Puisi takanta

Puisi: Hikayat Keabadian

Apacapa fulitik melqy mochammad marhaen

“Karpet Merah” Rakyat Situbondo

Puisi Zikri Amanda Hidayat

Puisi: Pulang Kerja

Puisi Rizal Kurniawan

Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi

Imam Ar-Ruqi Puisi

Puisi : Jendela dan Selaksa Bayang Karya Imam Ar-Ruqi

AF. Qomarudin Puisi

Secangkir Kopi dan Puisi Lainnya Karya AF. Qomarudin

Dani Alifian Puisi

Puisi: Inkarnasi dan Puisi Lainnya

Prosa Mini

Cerita: Ghangan Oto’

Cerpen

Cerpen : Tentang Kota dalam Pikiran