
Jujur saja, setiap kali ada berita tentang peringatan hari ulang tahun kabupaten di Indonesia, ekspektasi saya biasanya langsung merosot ke titik terendah. Bayangan saya langsung tertuju pada deretan kursi plastik terbungkus kain putih, pidato pejabat yang panjangnya mengalahkan kemacetan jalan Pantura, dan pamer statistik ekonomi yang bikin kepala rakyat jelata seperti saya ini agak kram.
Bagaimana tidak kram? Di atas podium, seorang kepala daerah biasanya bakal dengan bangga menyebutkan istilah-istilah mentereng seperti Gini Ratio, pertumbuhan ekonomi sekian persen, hingga penurunan angka kemiskinan makro. Sementara kita yang dengerin di bawah panggung cuma bisa mbatin: “Iya Pak, ekonominya meroket, tapi kok pas belanja cabai sama telur di pasar tradisional tetap berasa kayak lagi transaksi tebus sandera, ya?”
Tapi begitu membaca berita peringatan ~Hari Jadian Sama Kekasih Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 Sabtu lalu, saya yang biasanya tak begitu tahan nyimak pidato pejabat mendadak kudu mengelus dada. Dalam arti yang positif, tentu saja.
Hari itu, Alun-Alun Situbondo dipenuhi warna-warni yang khas busana adat Nusantara. Bupati Situbondo, Mas Rio tampil memimpin upacara memakai baju adat Melayu. Tampan, rapi, dan klimis. Ehem.. Kalau dipikir-pikir, penampilannya lebih mirip aktor FTV yang nyasar ke alun-alun daripada seorang kepala daerah yang mau orasi. Sementara jajaran Forkopimda dan pimpinan OPD di sekelilingnya juga kompak berbusana adat dari berbagai daerah.
Namun, yang bikin saya kagum tentu saja bukan kemeja Melayunya, melainkan isi pidato dan cara pandangnya tentang kabupaten yang ia pimpin sejak Februari 2025 ini.
Di saat pejabat pada umumnya hobi mengklaim capaian statistik sebagai hasil keringat pribadi, Mas Rio justru melakukan hal sebaliknya. Saat memamerkan angka kemiskinan yang turun dan pertumbuhan ekonomi yang terus naik, Bupati yang mengaku Fans Setan Merah itu dengan santai bilang: “Semua menunjukkan hal yang positif. Itu bukan karena Mas Rio dan Mbak Ulfi, tapi karena kebersamaan.”
Beh, beremma ye? Padahal setahu saya, Mas Rio ini kan pendukung setia Manchester United. Secara naluri, fans MU itu biasanya baru menang tipis lawan tim papan bawah saja sombongnya sudah setinggi langit dan pamer statistik seolah-olah sudah dapat treble winner. Tapi ini kok malah kebalikannya? Dapet angka pertumbuhan ekonomi bagus, Mas Rio malah menolak menepuk dada sendiri dan melempar semua apresiasi kepada masyarakat Situbondo.
Ini jelas jenis kerendahan hati yang langka, bahkan jauh lebih langka ketimbang nemu fans MU yang nggak ungkit-ungkit kejayaan era Sir Alex Ferguson tiap kali timnya habis dibantai tim papan bawah.
Tapi begini sih. Yang disampaikan Mas Rio itu tentu lebih dari soal kerendahan hati. Narasi paling gurih yang ditawarkan dalam Harjakasi ke-208 ini adalah soal pemerataan pembangunan dan pemuliaan sejarah.
Begini. Kalau dirunut sejarahnya, Situbondo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Secara historis, wilayah ini dikenal dengan nama Besuki, Panarukan, dan kemudian Situbondo. Kabupaten Besuki diperkirakan berdiri sekitar 1818. Saat itu, Panarukan masih berstatus afdeeling di bawah Kabupaten Besuki. Pada 1850, status Panarukan ditingkatkan menjadi kabupaten, sedangkan pada 1901 Besuki dilebur ke dalam Kabupaten Panarukan
Setelah kemerdekaan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten di Jawa Timur, Kabupaten Panarukan menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Selanjutnya, pada 1972, wilayah Besuki dan Panarukan disatukan menjadi Kabupaten Situbondo berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daerah Kabupaten Panarukan.
Nah, masalahnya selama puluhan tahun, warga Besuki di ujung barat sering merasa seperti mantan pacar yang dilupakan: punya sejarah besar sebagai “ibu kota pertama”, tapi cuma bisa gigit jari melihat pembangunan dipusatkan di tengah kota.
Di era Mas Rio dan Mbak Ulfi ini, filosofi “membagi kerupuk kaleng” benar-benar dijalankan. Pembangunan tidak boleh numpuk di tengah sampai meluber, sementara yang di pinggiran cuma kebagian remahan minyaknya.
Kawasan barat Besuki yang dulunya merasa dianaktirikan kini disiram anggaran dan dijadikan fokus pembangunan periode 2025–2026. Bahkan sampai bikin penandatanganan MoU dengan Pemkab Serang untuk merajut kembali histori jalur Anyer-Panarukan. Anak-anak mudanya dirangsang lewat literasi dan ekonomi kreatif: ada pemutaran film lokal karya sineas Situbondo yang diperankan oleh Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (KHR Ahmad Azaim Ibrahimy), hingga mendatangkan novelis papan atas Sanie B. Kuncoro untuk memantik penciptaan karya sastra berlatar sejarah Panarukan.
Sementara itu di ujung timur, Pantai Banongan juga bersolek dengan berdirinya Bandara Militer KHR As’ad Syamsul Arifin (KASA).
Dan tak kalah penting, pembangunan di Situbondo juga menyasar urusan “perut dan kegembiraan” warganya. Kuliner khas yang selama ini jadi kebanggaan tiap wilayah ikut dinaikkelaskan. Diangkat ke permukaan: ada Nasi Sodu dan Tajhin Palappa yang legendaris, Kotel khas Besuki yang kenyal gurih, hingga deretan olahan seafood di sepanjang jalur Pantura. Semuanya dipromosikan dengan Mas Rio sendiri sebagai brand ambassador.
Orkestrasi kuliner di atas semakin meriah bersamaan dengan digelarnya kembali berbagai permainan tradisional daerah yang digelar di Alun-Alun Situbondo. Puncaknya, panggung hiburan bertajuk Pesta Rakyat Situbondo digelar dengan menyuguhkan penampilan seniman-seniman Situbondo sebagaimana yang kita nikmati bersama, semalam.
Apa-apa yang sudah dilakukan Mas Rio di atas tentu sangat penting. Sebab kemajuan daerah yang amnesia pada kearifan lokal itu cuma polesan luar yang salah arah: kelihatan mentereng di slide presentasi pejabat, tapi sejatinya cuma bikin warganya merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.
Langkah yang sudah diambil dan dijalankan Mas Rio ini membuktikan bahwa kemajuan daerah tidak boleh meninggalkan hal-hal yang tinggal dan hidup dalam suatu daerah. Warga pesisir, petani tembakau, pedagang kuliner lokal, hingga anak-anak muda yang pengen berkarya lewat film dan sastra di tanah sendiri, semuanya berhak naik ke permukaan lalu merasakan bahwa daerahnya sedang tumbuh bersama.
Selamat ulang tahun yang ke-208 untuk Kabupaten Situbondo. Tetaplah melompat tinggi bersama-sama. Dan yang paling penting, kalau melompat, pastikan kedua kaki mendarat di tanah yang sama: Situbondo, yang kepadanya kita semua mengucap cinta
Salam 2-0.
Tinggalkan Balasan