Dari Jogja untuk Situbondo: Tim Literasi Serap Ilmu Penerbitan dari Shira Media demi Bangun Ekosistem Buku Lokal

Semangat memajukan dunia literasi membawa langkah Tim Literasi Situbondo beranjak hingga ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Membawa mimpi besar untuk merintis penerbitan lokal di kota asal, perwakilan tim berkesempatan melakukan studi banding dan wawancara mendalam dengan Kak Dhias, seorang editor berpengalaman dari penerbit Shira Media. Pertemuan ini mengupas dunia industri perbukuan yang sangat dibutuhkan bagi ekosistem literasi yang baru bertumbuh.

Menurut Kak Dhias, langkah krusial pertama bagi penerbit komunitas yang baru memulai adalah memahami minat pembaca lokal sebelum memutuskan kategori buku yang akan digarap. Penentuan kategori ini harus didasarkan pada analisis kolam pembaca serta relevansi konten, bukan semata-mata mengejar potensi komersial. Ia mencontohkan bahwa buku dengan basis pembaca yang loyal, seperti literatur terjemahan Taiwan, terbukti mampu mencapai angka penjualan yang tinggi dalam waktu singkat.

Selain itu, Kak Dhias mematahkan miskonsepsi umum yang sering menghantui pemula, yakni keharusan memiliki mesin cetak. Ia menegaskan bahwa penerbitan dan percetakan adalah dua bidang yang sepenuhnya berbeda, sehingga penerbit komunitas tidak perlu memiliki fasilitas percetakan sendiri. Berinvestasi pada alat percetakan dinilai terlalu mahal dan tidak disarankan bagi komunitas yang baru memulai. Sebaliknya, menjalin kolaborasi dengan percetakan eksternal merupakan praktik yang umum dan jauh lebih efisien.

Terkait dengan kesejahteraan dan hubungan dengan pengarang, model bisnis yang paling lumrah digunakan adalah sistem royalti, dengan besaran sekitar 10% dari harga jual buku. Meskipun ada skema klien di mana penulis menanggung sendiri biaya produksi. Hal tersebut bukanlah praktik utama dalam kerja sama penerbitan.

Kak Dhias juga menekankan bahwa setiap penulis harus diperlakukan secara personal dan profesional sesuai dengan tingkat kebutuhan mereka, guna memperkuat sinergi antara penerbit dan penulis. Pendampingan yang intensif akan diberikan kepada para penulis pemula, sedangkan bagi penulis yang sudah matang akan diberikan ruang kebebasan kreatif yang lebih besar. Bahkan, penulis yang sangat memahami profil pembacanya akan sangat dihargai dan seringkali dilibatkan lebih dalam pada proses editorial.

Di era gempuran digitalisasi, penjualan fisik rupanya masih memegang tahta. Kak Dhias mengungkapkan bahwa buku digital belum menjadi pilihan utama di Indonesia, karena masyarakat masih lebih menggemari buku cetak. Oleh karena itu, distribusi buku tetap digencarkan melalui beragam kanal, mulai dari jaringan toko buku besar, toko independen, hingga penjualan langsung ke tangan konsumen. Untuk mendongkrak penjualan dan menjangkau pembaca baru, promosi yang dilakukan melalui komunitas, media sosial, serta menggandeng reviewer eperti bookstagram dan booktok terbukti sangat efektif.

Sebagai pesan penutup untuk inisiatif literasi Situbondo, Kak Dhias menitipkan satu kunci penting. Fokus utama sebuah penerbit komunitas sebaiknya diletakkan pada upaya pengembangan komunitas itu sendiri dan pendampingan bagi para penulis, bukan semata berfokus pada ekspansi bisnis besar-besaran.

Dengan bekal wawasan berharga dari Shira Media ini, Tim Literasi Situbondo kini memiliki peta jalan yang lebih jelas. Harapannya, ilmu dari Kota Gudeg ini dapat segera membuahkan hasil, melahirkan penerbitan lokal yang mapan, dan mencetak karya-karya kebanggaan dari rahim Situbondo.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen Ira Atika Putri

Cerpen: Budak!

Nanda Adi Kurniawan Puisi

Puisi: Bunga Malam

Busyairi Puisi

Puisi : Kerudung Biru Karya Busyairi

Mahesa Asah Puisi

Puisi Mored: Legenda Tangis

Agus Yulianto Cerpen

Cerpen : Cinta Semusim Karya Agus Yulians

Agus Hiplunudin Buku Feminis Politik Ulas

Ulas Buku : Perempuan, Politik, dan Pemilu

Situbondo

Usahanya Dikhianati Hasil, Pemuda Ini Diopname

Nurul Fatta Sentilan Fatta

Wajah Tanpa Daging dan Para Pengemis Berjubah

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Berkaca pada Cerpen Para Juara

Nurillah Achmad Puisi

Puisi : Nafsu Pohon Surga dan Puisi Lainnya Karya Nurillah Achmad

apa Esai N. Fata

Demokrasi Kebun Binatang

Apacapa

Dadang Wigiarto; Bupati Religius itu Berpulang

Cerpen

Cerpen: Pasang

Pantun Papparekan Madura Sastra Situbondo

Pantun Madura Situbondo (Edisi 2)

Apacapa

Mengenang Sumur, Menatap Luka yang Curam

Cerpen Moh. Jamalul Muttaqin

Cerpen: Pelangi

Dani Alifian Esai

Refleksi Harjakasi: Prostitusi Mesti Lenyap dari Kota Santri

Puisi

Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

Apacapa Imam Sofyan

Pak Kepala Desa, Belajarlah dari Film Dunia Terbalik!

Apacapa

Takanta: Dua Tahun (Semoga) Menjadi Diri Sendiri