Karya Rupa Generasi Mawas Diri

Saya membuat tulisan ini karena dipaksa oleh teman,
yang sekarang sedang mengikuti Pameran Studi Khusus Mahasiswa Pendidikan Seni
Rupa Angkatan Tahun 2018 Universitas Pendidikan Ganesha yang bertajuk
ARTifacts.

Meskipun dipaksa, saya merasa tak mengapa. Karena
teman yang biasanya bangsat ini, sekarang sedang berkarya dan pameran bersama
teman-teman kuliahnya yang berjuluk Seruang 18.

Nama lengkap teman saya, Alek Sandra. Perawakannya
kurus, gondrong, berkulit gelap, tampang sangar, tidak ada baik-baiknya. Kecuali
saat ia sedang melukis/berkarya, rasa iba dan bangga seketika membuncah
melihatnya.

Tak perlu berpanjang lebar, karena bisa-bisa saya
malah cerita kemana-mana, mengenai Alex yang ditinggal pacarnya menikah,
sehingga ia sering nampak lelah menjalani hari-harinya.


###

Dalam pameran ARTifacts yang berlangsung dari tanggal
3-17 Januari 2022 di Galeri Fakultas Bahasa dan Seni UNDIKSHA, Singaraja-Bali.
Alek menampilkan dua karya rupa dengan teknik cukil pada permukaan kayu (wood cut).

Ia memberi judul “Tabiat Buruk 1” dan “Tabiat Buruk
2”. “Tabiat Buruk 1” memiliki ukuran 60 x 50 cm, sedangkan “Tabiat Buruk 2”
berukuran 110 x 60 cm. Keduanya dibuat di tahun 2021.

 

Pada karya “Tabiat Buruk 1” digambarkan sebuah
pertarungan antar mesin yang dilengkapi teknologi senjata. Objek yang satu
menyerupai pesawat terbang, objek satu lagi entah masuk kategori pesawat
terbang atau bukan, yang jelas memiliki mesin, ada simbol bintang, dan angka 7.
Keduanya sama-sama mengepulkan asap. Posisinya sejajar, antara yang menyerang
dan yang diserang.

Objek pertama menyerang dan mengeluarkan empat misil
yang mengarah pada objek kedua. Objek kedua nampak tidak ada perlawanan atau
belum berupaya untuk menghadang serangan misil.

 

Pada karya “Tabiat Buruk 2” digambarkan penyerangan objek mesin menyerupai pesawat terbang, yang tak lumrah, menjatuhkan lima
misil. Sasarannya digambarkan objek pemukiman yang tampak di bagian atapnya
saja. Posisi antar objek tidak sejajar, yang menyerang di atas, yang diserang
di bawah.

Sekilas dari dua karya tersebut, menampilkan suatu
bayangan yang bisa berakibat menghancurkan, meluluhlantakkan, bahkan
mengalahkan. Besar kemungkinan satu pihak akan dikalahkan.

Namun, bayangan itu semua belum terjadi. Menjadi objek
beku. Sehingga kemungkinan-kemungkinan terburuk sekalipun, belum tentu terjadi.

###

Saya melihat, dari kedua karya itu, tersimpan suatu
maksud untuk selalu mawas diri. Ada kehati-hatian yang bahkan teramat sangat.

Padahal bayangan kehancuran, keluluhlantakan, atau
kekalahan sudah mendekati kepastian.

Semua tertahan. Dibekukan. Memberi ruang bagi kemungkinan.
Sehingga kehancuran, keluluhlantakan, atau kekalahan bisa saja tidak terjadi.

Coba saya kontekstualisasikan ke kondisi hari ini. Era
teknologi informasi yang begitu agresif. Munculnya mesin-mesin pintar, yang
konon kabarnya bisa mengecoh manusia untuk tunduk patuh mengikuti logika operasionalnya.

Kepatuhan-kepatuhan yang menjadi milik manusia telah
dimanfaatkan oleh mesin pintar. Segala sesuatu dihadap-hadapkan. Seolah-olah
pilihannya hanya serang-menyerang. Bahkan diam sekalipun bisa dianggap menyerang.
Diam tak cukup jika hanya dimaknai sesuatu yang potensial untuk diserang.

Sesuatu yang nampak dan yang tak nampak, sama-sama
misterius. Tatanan dan logika lama yang sudah teratur dan linier, tiba-tiba
berubah, jungkir balik.

Cerdik pandai menyebut fenomena sekarang ini masuk
ke era disrupsi dan/atau era post-truth. Sederhananya, meminjam bahasa anak
sekarang, “dikira cupu ternyata suhu”.

Penyebabnya ialah inovasi yang dibuat oleh manusia. Tumpah ruah membanjiri isi pikiran dan pengalaman setiap orang. Era banjirnya
informasi memberi kesempatan yang sama, antara anak yang ada di pelosok
sekalipun dengan anak yang ada di tengah gegap gempita megapolitan. Semua sama,
asal punya akses terhadap teknologi.

Apa yang terjadi saat ini dan yang paling berpengaruh
bagi setiap orang, pintu masuknya melalui teknologi. Dengan teknologi semua orang
termotivasi untuk berinovasi.

Melalui inovasi orang-orang bisa menjadi produktif.
Inovasi juga bisa membuat orang dilema, terlena dan menjadi kontraproduktif.

###

Nah, jika ditautkan antara dua karya yang dibuat oleh
teman saya, Alek Sandra, dengan fenomena hari ini.

Entah apa yang terjadi pada anak muda ini, ketika saya
suruh dia untuk mengapeli perempuan di IG yang selalu ditatapnya
sembunyi-sembunyi.

Jawabannya hanya, “saya melihat statusnya online saja,
sudah senang sekali, Mas”.

Bajingan kamu!


Marlutfi Yoandinas, Penggiat Budaya Situbondo.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen – Hari Libur

Nuriman N. Bayan Puisi

Puisi – Januari yang Yatim Februari yang Piatu

Apacapa Ni’matus Sa’diyah

Semeja Daring: Menembus Batas Imaji, Mengurai Inspirasi dalam Titian Dedikasi

Penerbit

Buku: Negeri Keabadian

Apacapa

Burdah Keliling Tengah Laut

Alexong Cerpen Hana Yuki Tassha Aira

Cerpen: Waktu yang Pecah di Balik Pintu

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Novel Anak Bermuatan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Ahmad Maghroby Rahman Esai

Bejo, Suhaden, Kopi, Senja dan Rendra

Adinda Fajar Melati Apacapa

Membedah Cerita Lewat Panen Karya

Resensi Ulas

Tanah Surga Merah: Menikmati Kritikan yang Bertebaran

Apacapa Ramadeni

Implementasi Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia

Uncategorized

Diduga Transaksional, Ratusan Badan Adhoc Serahkan Satu Kali Gaji ke Tiga Mantan Komisoner

fulitik

Editorial: Wisata Perang, Babak Baru Pariwisata Situbondo Gagasan Mas Rio-Mbak Ulfi

Cerpen Sholikhin Mubarok

Cerpen : Asti Karya Sholikhin Mubarok

Ardhiana Syifa Miftahul Jannah Resensi

Resensi: Rumah Tanpa Cahaya

Puisi

Pelabuhan Jangkar dan Puisi Lainnya

Nuriel Haramain Puisi

Puisi: Alkisah Mawar Berdarah

El Fharizy Puisi

Puisi: Santet

Kuliner Situbondo Nasi Sodu

Panduan Ekspedisi Nasi Sodu

Adithia Syahbana Puisi

Lugina dan Sajak-Sajak Lainnya Karya Adithia Syahbana