
Tidak hanya masyarakat Minang saja yang berguru kepada alam, masyarakat Jawa pun demikian. Bila di tanah minang terdapat falsafah “alam takambang jadi guru” di jawa terdapat istilah “memayu hayuning buwana”—suatu konsep yang berusaha untuk memperindah dunia dengan menyadari hubungan “ketersalingan” antara alam dan manusia. Oleh karena itu antara alam dan manusia haruslah terdapat keselarasan. Hubungan yang saling topang menopang, manusia membutuhkan alam untuk bertahan hidup, sementara alam pun membutuhkan manusia untuk merawat ekosistemnya agar bertahan lebih lama.
Masyarakat Jawa pada dasarnya telah lebih dulu bangun dari ketidaksadaran—kultur seorang pemikir sejati, belajar mengeja kode-kode alam, sebab sejak zaman nenek moyang dahulu orang Jawa telah berguru pada tumbuhan. Setidaknya, begitulah yang di katakan Iman Budhi Santosa dalam bukunya “Suta Naya Dhadhap Waru”. Tidak mengherankan bila tanaman mendapatkan penghormatan yang tinggi dalam budaya Jawa, karena alam maupun tumbuhan dianggap sebagai sentral dari kehidupan spiritual dan keseharian mereka.
Dalam kehidupan masyarakat yang jauh dari tanah asalnya, di tengah-tengah hiruk pikuk masyarakat Melayu, sebuah kampung masih turut dengan hormat menjaga kebudayaannya. Kampung tersebut bernama Kampung Jawa, sebuah desa di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kampung ini adalah salah satu bukti, bahwa keberadaan budaya Jawa tetap eksis dan harmonis di tengah mayoritas masyarakat Melayu. Salah satu penyebabnya yakni orang Jawa masih setia mempertahankan tradisi dan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.
Begitu pula dalam tradisi Jawa sebelum membangun rumah, terdapat sejumlah ritual-ritual yang melibatkan alam maupun tumbuh-tumbuhan sebagai simbol keberlanjutan, perlindungan, dan kemakmuran. Betapa masyarakat Jawa sangat mencerminkan rasa hormat terhadap alam dan kekuatan tak kasat mata yang diyakini ada di sekitarnya. Sebagai contoh, saat peletakan batu pertama dalam pembangunan rumah, dilakukan prosesi khusus yang dikenal sebagai prosesi mematikan tanah. Biasanya dilakukan dengan mengubur benda tajam seperti keris atau parang. Prosesi ini bertujuan untuk membersihkan tanah tempat bangunan akan didirikan supaya terhindar dari segala energi negatif atau makhluk halus yang mungkin mendiami area tersebut.
Tak sampai disitu pula, seusai tradisi mematikan tanah, orang Jawa biasanya akan menyembelih ayam jantan. Ritual ini dilakukan dengan mengucurkan darah ke sekeliling tanah tempat rumah hendak di bangun. Hal yang demikian, dipercaya sebagai simbol pengalihan mara bahaya, dimana darah ayam yang dikucurkan ke tanah bertujuan untuk “menumbalkan” segala malapetaka, sehingga penghuni rumah terhindar dari gangguan.
Pada saat pondasi rumah telah didirikan, kepercayaan masyarakat Jawa pun kerap tercermin melalui pemasangan empat macam bendera di tiang-tiang rumah. Di antaranya warna merah, putih, kuning, dan hitam. Masing-masing dari warna tersebut merupakan bentuk perlambang yang mencerminkan berbagai aspek kehidupan, serta diyakini dapat melindungi rumah dari pengaruh negatif. Masing-masing warna memiliki makna tersendiri yang mewakili elemen atau energi penting bagi keseimbangan dan keselamatan rumah serta penghuninya. Merah melambangkan keberanian, semangat hidup, serta perlindungan terhadap penghuni rumah dari bahaya fisik, putih melambangkan kesucian, ketulusan, dan kemurnian yang diharapkan membawa kedamaian serta kebersihan hati bagi penghuni rumah, hitam mewakili kekuatan dan kestabilan, simbol pertahanan untuk menjaga rumah dari energi negatif dan kuning melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, yang diharapkan agar rezeki pemilik rumah mengalir dengan lancar. Secara praktis, pemasangan kain ini juga berfungsi sebagai identitas dan pengingat bahwa rumah sedang dalam proses pembangunan dan dijaga oleh energi positif.
Selain itu, kepercayaan masyarakat jawa pun masih berlanjut pada peletakkan empat macam bubur di keempat sudut rumah. Bubur merah, bubur putih, bubur merah-putih, dan bubur putih-merah. Bubur tersebut nantinya akan ditempatkan di empat sudut rumah. Simbolisasi yang menggambarkan keberanian, ketulusan, serta keseimbangan antara kedua sifat tersebut, dengan harapan agar rumah dan penghuninya selalu dilindungi dari segala arah. Di bagian tengah rumah, terdapat pula takir, sebuah wadah berbentuk kotak yang terbuat dari daun pisang. Takir ini nantinya berisikan telur ayam kampung serta bunga tujuh rupa dan diletakkan di tengah rumah—sebuah perlambangan kehidupan dan keberkahan.
Pada saat mendirikan tiang utama, yang dikenal dengan istilah pemasanyan perabung terdapat simbolisme mendalam yang turut menyertainya. Adi tiang rumah, atau tiang utama, harus digantungkan berbagai elemen alam seperti pisang hijau satu tandan (dapat berupa pisang hijau, pisang raja, atau pisang ambon), pohon pisang dari pucuk ke akar-akarnya, batang padi dari pucuk ke akar-akarnya, tebu dari bagian pucuk hingga ke akar-akarnya dan kelapa yang baru mulai bertunas.
Tentu hal ini bukanlah sekadar perkara iseng-iseng saja. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk keselarasan masyarakat jawa dengan alam. Sebuah manifesti dari cara pandang masyarakat jawa yang menjadikan alam sebagai mitra dalam kehidupan. Simbol-simbol dari berbagai tumbuhan ini memiliki makna filosofis yang sangat kaya. Pisang hijau, dengan sifatnya yang terus berbuah meskipun telah dipotong, melambangkan keberlanjutan dan rezeki yang tak putus. Batang pisang beserta akar-akarnya menunjukkan pentingnya kehidupan yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur, serta menandakan ketahanan dalam menghadapi badai kehidupan. Batang padi melambangkan kelimpahan, sementara kelapa yang baru bertunas merepresentasikan harapan akan pertumbuhan dan kehidupan baru yang makmur.
Barulah setelah pembangunan rumah benar-benar rampung, masyarakat Jawa biasanya mengadakan acara selamatan atau syukuran. Acara ini dilakukan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelancaran proses pembangunan rumah serta memohon keselamatan, keberkahan, dan ketentraman bagi penghuni rumah di masa mendatang. Pemilik rumah akan mengundang tetangga, kerabat, beserta orang kampung. Umumnya saat acara selamatan rumah diliputi oleh penyediaan berbagai jenis makanan tradisional, seperti nasi tumpeng, lauk-pauk, serta jajanan pasar.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, melaksanakan berbagai prosesi di atas pada saat pembangunan rumah dapat diyakini sebagai “jembatan” antara masa lalu dan masa kini. Tradisi tersebut merupakan cara untuk menghormati leluhur sekaligus menjaga keselarasan dengan alam. Jika ritual ini diabaikan, sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa rumah tersebut mungkin lebih rentan terhadap gangguan atau energi negatif. Mereka menganggap tradisi ini sebagai bentuk ikhtiar agar rumah dan penghuninya tetap aman serta terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam dunia yang serba cepat dan praktis, meski tradisi-tradisi di atas kental dalam budaya Jawa, banyak masyarakat Jawa modern kini mulai meninggalkan atau mengurangi pelaksanaan ritual-ritual tersebut. Mereka merasa bahwa ritual-ritual tersebut sudah tidak lagi relevan. Hal ini barangkali dapat dipicu oleh masuknya nilai-nilai baru yang lebih sekuler, serta adanya pergeseran prioritas dalam masyarakat. Peralihan ini mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat Jawa yang semakin terbuka terhadap pengaruh luar. Bahkan seiring berjalannya waktu, mungkin akan muncul bentuk-bentuk baru dari tradisi ini yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, namun tetap mempertahankan nilai-nilai inti yang menjadi dasar bagi masyarakat Jawa dalam keselarasannya dengan alam.
Tinggalkan Balasan