Menjadi Hamba: Membesarkan Allah, Mengerdilkan Diri

Hasil gambar untuk Bersujud HD
Oleh: T. Rahman Al Habsyi* 
Di halaman kosan yang
terang oleh lampu neon, saya duduk memperhatikan langit yang gelap. Menyeruput
teh, dan menakar
segenap gelisah
kepada bayangan
Nya.
Angin yang dingin tidak kuasa mendinginkan pikiran yang mendidih, hati yang kelimpungan, semua kecemasan yang
bercampur aduk menjadi kekhawatiran.
Ada
kebanggaan yang tiba-tiba saja runtuh, ada kepongah
an
yang dalam sekian detik luruh, ada kesalahan manusia dalam memaknai kata “Allahu Akbar”. Tidak hanya dalam salat,
kalimat takbir ini acap kali diucapkan di jalanan, tulisan-tulisan yang
terpampang di media sosial, diobral murah oleh orang-orang yang mengaku
mujahid, diperdagangkan oleh para politisi dalam kampanye. Namun, sepertinya kata itu hanya didengungkan saja, kita
kehilangan maknanya. Kalimat takbir itu meluncur deras dari mulut kita tentang
kebesaran Allah yang Maha Agung, tetapi kita lupa mengkerdilkan diri sebagai
seorang hamba.
Kata
Akbar kita sifati sama dengan
kegiatan-kegiatan yang sepele, menyandingkan
keagungan Allah sebagai dzat dengan dimensi pencapaian manusia. Semisal; Rapat
Akbar, Pengajian Akbar, Diskusi Akbar, Pemilihan Akbar dan sebagainya.
Maka
tidak heran jika dalam sembahyang kita (baca;posisi sebagai hamba) terus saja
merasa angkuh, kebathilan masih saja melekat, karena kepala yang tertunduk
tidak mencerminkan hati yang melunak, sehingga kejadian fatalnya adalah melihat
orang lain selalu kecil.
Anugrah
Allah terkubur dalam kufur! Seperti
kecerdasan, ketampanan, kecantikan, kedudukan, kekayaaan dan sebagainya. Seolah
menjadi milik pribadi tanpa campur tangan Allah di dalamnya. Apalagi semua
kelebihan yang melekat kepada diri dibenarkan oleh sebagian pandangan
masyakarat sekitar. Bertambah sombonglah diri!
Manusia
yang sudah terlalu mengangunggkan dirinya sendiri, sehingga percaya dirinya
melampui batasnya sebagai seorang hamba—akan memaknai dirinya sebagai Tuhan
baru—yang tumbuh dalam nuraninya. Kita terus melalaikan diri, berbuat dzalim
atas nama agama, memaksakan kehendak, dan memandang jabatan dunia sebagai
kekuasaan yang mutlak.
Seharusnya, sikap Tawaddud itu yang harus kita tanam,
pelihara, dan menjadi bunga paling harum di
sudut-sudut hati
paling busuk.
Pada
waktu tertentu Allah memberikan kita pelajaran-pelajaran kecil; mulai dari
sakit, kematian, kegagalan, sampai musibah paling besar sekalipun. Yang
semuanya itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menjadi obat penyadaran
bagi kita yang telah lalai.
Sekalipun
kita diangkat menjadi seorang khalifah untuk mengambil peran menyelesaikan
tanggung jawab sebuah jabatan. Kecongkaan
yang berusaha menjamur di
tangan-tangan kekuasaan seharusnya
dipadamkan. Kambali sadar bahwa jabatan adalah hadiah Allah yang dianugrahkan
untuk kemaslahantan umat dan agama.
Lihatlah
perhari ini para pejabat semakin arogansi, membuat kebijakan seenak udel mereka. Merasa paling benar di
atas
keputusan-keputusannya. Jika menentang berarti lawan, jika terus menganggu
kekuasaan maka siap-siap saja dihilangkan. Kenapa semua ini bisa terjadi?
Sekali lagi, kita lupa menjadi hamba dan memilih menjadi Tuhan di
atas muka bumi.
Sehingga tidak ada yang berhak disembah selain kekuasaan.
Jika
kita belajar kepada sejarah, di mana Amerika Serikat menjadi kiblat kekuasaan
Negara adidaya. Dengan berdirinya dua bangunan pencakar langit WTC (Word Trade Centre) dan Pentagon sebagai simbol adiluhu
ng. Dalam sekejap luluh lantah
menjadi puing-puing kecil, menjadi butiran debu yang berserakan. Bangunan itu
tidak lagi menjadi simbol kejayaan ekonimi, simbol kedigdayaan militer. Tepat
11 September 2011 manusia-manusia gempar simbol kepongahan itu hancur akibat
serangan yang ditengarai oleh teroris.
Maka
apa yang bisa dibanggakan? Sekelas Amerika saja hancur, apalagi
negara kita yang
hari ini mengalami sakit komplikasi. Mulai dari korupsi yang terus menjalar,
pelanggaran HAM yang tidak pernah tuntas penyelesaiannya, Hak-hak korban
penggusuran yang tidak terbayarkan, perusakan alam yang membabi buta.
Penjarahan tanah-tanah pertanian, dan sebagainya.
Kalimat
takbir semoga kembali didengungkan selaras dengan hati dan perkataan.
Melantangkan kata Allahu Akbar merendahkan
hati dan menundukkan kepala. Sehingga bunyi yang keras tidak melupakan jati
diri sebagai seorang hamba yang kerdil dihadapan yang  Maha Kuasa yaitu Allah.
Kembali
memikirkan hal-hal sederhana, tidak akan pernah membuat resah dan gelisah.
Sebab  hakikatnya kita kembali melihat
diri sendiri.
Allahu Akbar!
__________________
*) Penulis lahir di Bondowoso. Sekarang berdomisili di Bali. Ia merupakan salah satu pengiat literasi di “Perpustakaan Jalanan Lentera Merah
Singaraja”. Lelaki yang men-dewi-kan ibunya. Suka menulis Cerpen, Esai, Puisi.
Juara III lomba karya esai Festival Anti Korupsi 2017 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Denpasar dan Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK). Puisinya pernah menjadi kontibutor di CV. Saweupena Publisher, Aqla
media, Mazemedia, Writing is Amazing WA Publisher Bukit tinggi-Sumatra Barat,
Withim Of The 2nd Asean Poetry Writing Competition Them “Puisi dan Perdamaian”.
TribunBali. Tulisannya juga bisa dilihat di Tatkala.co
Media
sosial fb : Taufikur Rahman Al habsyi
Ig
: @kokoopik
**) gambar: wallpaper kartun

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Nuriel Haramain

Hari Santri: Ajang Realisasi Jati Diri

Andhy Kh Cerpen

Cerpen : Hujan di Paris Karya Andhy Kh

Gladis Adinda Felanatasyah Mored

Puisi Mored: Harapan Kalbu

Apacapa

Apacapa #3 Literasi Komunitas Situbondo

Apacapa Nanik Puji Astutik

Aku Bukan Pejuang Love Cyber

Apacapa Imam Sofyan

Pengghir Sereng: Wisata Rumah Pintar Pemilu di Situbondo

Uncategorized

Cerpen: Gerimis dalam Ingatan

Puisi

Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Novel Anak Bermuatan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Curhat Moh. Imron

Ramadan: Tangisan pada Suatu Malam

Apacapa Imam Sofyan

Melihat Masa Depan Situbondo dari Lomba Flashmob Panarukan

Agus Widiey Puisi

Puisi: Amsal Sunyi

Uncategorized

Memaknai Langgar Dalam Perspektif Sosiologi Agama

Apacapa fulitik melqy mochammad marhaen

“Karpet Merah” Rakyat Situbondo

Puisi

Remuk Redam dan Puisi Lainnya

Puisi Tribute Sapardi

Puisi: Untukmu, Eyang!

Buku Indra Nasution Ulas

Ulas Buku – Jurnalisme dan Politik di Indonesia, Biografi Mochtar Lubis

Apacapa

Merayakan Literasi

Buku Moh. Imron Ulas

Guru Ngaji Langgar; Warisan Nusantara

Agus Hiplunudin Apacapa

Hak Politik Para Koruptor pada Pemilu 2019