Jeratan Online

Bunga dan Sari sangat bahagia menatap layar ponsel masing-masing. Wajah keduanya mengembangkan senyum.

“Yes, berhasil!” ungkap Bunga.

“Aku juga,” tukas Sari.

Pelukan kemenangan langsung menjalar. Kemudian, percakapan mereka langsung mengalir. Mimpi dan ambisi ternyata sesuai dengan harapan. Kabar kelulusan penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN telah dikantongi keduanya.

Nantinya, mereka akan kuliah di universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda. Bunga akan kuliah di jurusan Hukum Kewarganegaraan (HKN), sementara Sari akan kuliah di jurusan Pendidikan Sejarah.

            “Kita satu kos saja ya!” ajak Bunga.

            Sari mengangguk. “Sebaiknya beda kamar ya! Biar lebih privasi.”

            Bunga mengangguk setuju. Sebab, ruang tidur itu adalah arena privasi. Ia juga tak ingin berbagi meskipun dengan teman sendiri. Khawatir ada masalah nantinya. Misalnya, kamar tiba-tiba menjadi kotor. Lalu, saling menunjuk untuk membersihkan. Selain masalah remeh itu pasti akan muncul masalah lain jika sekamar berdua.

            “Ya, sudah. Aku pamit dulu ya! Aku mau memberitahukan orang tua,” pamit Sari.

            Bunga lagi-lagi mengangguk. Ia juga ingin melakukan hal yang sama seperti Sari. Pasti kedua orang tuanya sangat bangga atas pencapaiannya hari ini. Dari taman perumahan, tempatnya bertemu dengan Sari, Bunga langsung semangat tancap gas menuju rumahnya.

            Sepanjang perjalanan, Bunga membayangkan wajah Bapak yang penuh keringat sehabis bekerja di bengkel kayu dan wajah Ibu yang penuh dengan keteduhan akan memancarkan aroma kebahagiaan yang berlipat. Sayangnya, lima menit perjalanan dari taman itu, Bunga tak menemukan wajah orang tuanya di rumah.

            Bunga menatap ponsel yang dipegangnya. Nomor telepon kedua orang terkasihnya satu per satu dicoba dihubungi.  Sayangnya, panggilan tersebut tak kunjung mendapatkan balasan.

            Akhirnya, perempuan yang sebentar lagi dinyatakan lulus SMA itu menunggu Bapak dan Ibu di ruang tamu. Barulah saat jarum jam bergerak ke angka delapan malam, kedua orang tua yang ditunggunya datang. Paras keduanya terlihat begitu penuh beban. Bunga merasa ada masalah besar yang sedang ditanggung.

            “Bapak… Ibu …,” Bunga memanggil orang tuanya.

            Bapak dan Ibu yang dipanggilnya itu tersenyum. Namun, senyum itu tak terlihat terpaksa demi sebuah hal yang ingin ditutup-tutupi.

            “Bapak dan Ibu ke mana saja?”

            Kedua orang tua itu terdiam. Mereka saling memandang seperti berdiskusi untuk menentukan siapa yang layak membuat jawaban. Bunga menunggu dengan memendam rasa khawatir yang kian tidak jelas.

            “Bapak tadi ada pesanan pembuatan lemari, Nduk. Ada tiga untuk pasangan muda yang akan menempati rumah barunya di bulan September nanti,” jelas Bapak.

            “Untungnya, tiga contoh lemari yang ada di bengkel itu cocok. Hanya saja, mereka meminta beberapa bagian diubah agar tampak kekinian. Makanya, tadi langsung Bapak bekerja di sana dan Ibu menemani,” ungkap Ibu menambahi keterangan.

            Bunga tersenyum mendengar kabar itu. Pesanan di bengkel Bapak tidak ada masalah. Dengan begitu, ia bisa memberikan tambahan kabar baik kepada keduanya.

            “Alhamdulillah, kalau begitu, Bunga senang mendengarnya.”

            “Maafkan kami sampai tidak memberi kabar padamu ya, Nduk,” tukas Ibu.

            “Tidak apa-apa, Bu,” tanggap Bunga sambil menunjukkan layar ponsel kepada kedua orang tuanya. “Mohon dibaca tulisan yang tertera di gambar.”

            Bapak dan Ibu melakukan permintaan Bunga. Wajah keduanya menyunggingkan senyum sejenak. Kemudian, menegang, datar, dan tak bertenaga. Melihat kenyataan itu, Bunga kembali menjumpai keanehan.

            “Bapak dan Ibu ada masalah di bengkel kah? Kok seperti tidak senang dengan kabar ini?”

            “Bukan begitu,” Bapak segera bersuara.

            “Kami hanya kaget. Kabar ini juga membuat kami harus siap-siap jauh darimu, Nduk,” timpal Ibu.

            Bunga tersenyum senang mendengar keterangan itu. Ia kemudian memeluk orang tuanya dengan perasaan membuncah.

***

Daftar ulang telah dilaksanakan. Bunga dan Sari hanya perlu mengisi berkas-berkas yang kemudian dikirim melalui pranala yang disediakan kampus. Proses daftar ulang ini jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Kondisi pandemi Covid-19 yang belum dipastikan kapan berakhir menjadi penyebab utamanya. Tentu daftar ulang lewat jaringan ini dapat mengurangi intensitas berkumpul banyak orang.

            Saat mengisi berkas-berkas itu, Bunga dan Sari turut melampirkan surat penghasilan orang tua. Bunga sampai harus ke kantor kelurahan untuk mendapatkan surat keterangan penghasilan orang tua. Hal ini disebabkan orang tuanya yang wiraswasta, berbeda dengan orang tua Sari yang pekerja kantor dan memiliki slip gaji bulanan.

            “Kira-kira UKT-nya berapa ya?” tanya Bunga.

            “Paling punyaku tiga juta, punyamu dua juta.”

            Tiga hari setelahnya, prediksi Sari menjadi kenyataan. Bunga harus membayar UKT dua juta. Ia memberanikan diri menghadap orang tua.

“Dua juta ya,” gumam Bapak.

Bunga terdiam. Ia memperhatikan wajah Bapak yang tegang dan wajah Ibu yang mencoba mengalihkan perhatian.

            “Pasti ada masalah keuangan kan?”

            Bunga terus menunggu. Kalaupun jawaban “ya” yang didapatkan, ia ingin terus memilih melanjutkan kuliah. Ada banyak siswa yang di sekolahnya berharap lolos SNMPTN, tetapi hanya segilintir saja yang beruntung. Sebagian lainnya, harus berjuang lagi di seleksi SBMPTN dan ujian mandiri.

            “Jangan berpikir masalah itu, Nduk. Nanti Bapak segerakan pembayaran UKT-nya.”

Bunga mengangguk. Jawaban Bapak, ia rasa sudah lebih dari cukup.

***

Tujuh hari setelahnya, Bunga tak menemukan tanda-tanda untuk melunasi pembayaran UKT. Kecurigaan yang disimpannya kembali muncul. Pasti, ada ketidakberesan dalam kondisi keuangan keluarga.

            Tak hanya Bunga, Sari juga mencium aroma yang sama. Bahkan Sari mendatangi Bunga untuk mengonfirmasi masalah yang dihadapi sahabatnya.

            “Kamu sedang ada masalah ya? Kok sampai sekarang tidak melakukan pembayaran UKT. Tinggal dua hari lagi lho,” lanjut Sari dengan memelankan suara.

            Bunga mengangguk. Lalu, Sari melihat kanan-kiri. Kondisi rumah Bunga hanya tinggal remaja itu sendiri.

            “Bagaimana masalahnya?”

            Bunga terdiam. Ia bingung harus menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya tak ia mengerti jelas. Melihat kenyataan itu, Sari tak lagi bertanya.

            “Aku pulang dulu. Nanti, kalau ada apa-apa, kabar-kabar ya!”

***

Malam harinya, Bunga berniat ke kamar orang tuanya. Ia memastikan keberadaan keduanya terlebih dahulu lewat sandal yang tertera di teras. Setelah yakin orang tuanya ada di dalam rumah, Bunga langsung masuk ke rumah.

            Tangannya ingin segera mengetuk pintu kamar. Namun, orang tuanya masih terlihat seperti mendiskusikan sesuatu.

            “Gimana ini, Pak? Kondisi bengkel sedang tidak baik. Orang yang Bapak pekerjakan malah kabur membawa uang DP banyak pelanggan.”

            “Maafkan Bapak, Bu. Ibu sampai harus ikut-ikutan kena dampaknya. Keuangan di bengkel lagi berjalan sebagaimana harapan kita, Bu. Pesanan yang seharusnya ada malah hilang lantaran orang banyak yang tidak percaya.”

            “Kita cari pinjaman yuk, Pak! Setidaknya UKT Bunga terbayar.”

            “Pada siapa, Bu?”

            Bunga terdiam saat mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya. Sikap diam itu berubah mengantarkan gerimis di wajah ayunya. Sebelum laju gerimis itu semakin deras, ia langsung bergegas menuju kamar.

            Menangis. Hanya itu yang bisa dilakukan. Tak mudah menemukan cara untuk membantu orang tua. Pembayaran UKT bukan hal yang sedikit.

            “Sari,” Bunga merapal nama sahabatnya.

            Entah mengapa merapal nama itu, ia ingin sekali membagikan cerita. Ponselnya segera diraih, ia langsung membuka pesan, tetapi ia membaca pesan dari nomor baru yang seperti memberikan solusi atas masalahnya.

             Pesan itu berisi tawaran dari pinjaman online, Bunga bisa melakukan pinjaman. Syaratnya cukup foto KTP dan Kartu Keluarga. Tenor pembayarannya antara 3-15 bulan, bunga bulanan hanya 2%, dan bunga admin 2 %. Kalau ia meminjam di jasa tersebut, ia pasti bisa melunasi dengan cara bekerja paruh waktu saat kuliah nanti.

            “Kalau ketahuan Ibu dan Bapak, bagaimana ya?”

            Keraguan segera membekap di pikiran Bunga. Ia sungguh tak ingin membuat pikiran kedua orang tuanya bertambah. Ia memutuskan untuk membaca testimoni peminjaman pinjaman online. Fakta demi fakta membuat Bunga teriris. Serangkaian ancaman dan data yang terbuka menghantarkan ketakutan yang tak biasa.    

            “Aku sangat butuh uang,” gumam Bunga.

            Bunga memejamkan mata. Bangku kuliah dan kehidupan mahasiswa yang begitu nyaman langsung dibayangkannya. Ia memantapkan hati. Kemudian, berusaha menekan pesan atas tawaran pinjaman online.

            Belum genap menyelesaikan pesannya, panggilan dari Sari datang. Panggilan itu sekaligus membawa kesadaran baru.

            “Bunga, tadi aku denger cerita Papa. Katanya, bengkel Bapakmu sedang merugi. Kamu yang sabar ya!”

            Bunga terdiam. Sahabatnya yang pintar itu pasti langsung bisa menyimpulkan alasan pembayaran UKT yang belum diselesaikan.

            “Untuk pembayaran UKT, Papaku yang akan menanggungnya. Kami telah melakukan transaksi pembayaran. Untuk buktinya, aku kirim di WhatsApp ya!” jelas Sari membuat Bunga termenung.

            Bunga tetap diam. Ia tak percaya sahabatnya begitu baik padanya.

            “Terima kasih,” ucap Bunga diiringi isak tangis yang tak bisa ditahan.

            Mereka kemudian menutup ponsel. Bunga menghapus air matanya. Ia juga menghapus pesan dari pinjaman online. []

Penulis

  • Gusti Trisno

    Gusti Trisno, mahasiswa S-3 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang bernama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi. Pada tahun 2024 lalu, ia terpilih sebagai Residensi Penulis Cerita Anak di Daerah 3T. Dari kegiatan tersebut, ia menghasilkan novel berjudul Laut Suara dan Para Penjaga Damar yang sebentar lagi akan terbit. Ia sering membagikan tip menulis di Instagram @gustitrisno dan situs web www.gustitrisno.com.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alex Cerpen

Cerpen: Masalah Ketika Ingin Menjadi Dewasa

Mored Safina Aprilia

Puisi Mored: Memori Karya Safina Aprilia

Alexong Cerpen Dody Widianto

Cerpen: Gelas, Pion dan Lukisan Picasso

Buku Diva Safitri Rahmawati Ulas

Resensi: 4 Masa 1 Mimpi

Apacapa Madura

Abhâkalan Sambi Ngalèncèr

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Ulas Buku – Heterogenitas Rasa dan Memandukan Cerita Romance

Puisi T. Rahman Al Habsyi

Puisi : Dalam Kanvas dan Puisi Lainnya Karya T. Rahman Al Habsyi

Apacapa Esai Muhammad Ghufron

Menjadikan Buku sebagai Suluh

Agus Hiplunudin Cerpen

Cerpen : Kesucian Karya Agus Hiplunudin

Buku Resensi Ulas

Resensi: Aku Tak Membenci Hujan

Kampung Langai

Free Download Buletin Festival Kampung Langai

Cerpen Norrahman Alif

Cerpen: Jurang Ara, Lahirnya Para Perantau

Apacapa Thaifur Rahman Al-Mujahidi

Regiulisitas-fundamental dari Kaum Milenial untuk Indonesia

Apacapa

Antara Garis Takdir dan Aqidah

Apacapa Sainur Rasyid

Gusdur dan Buku

Cerpen Wilda Zakiyah

Cerpen: Tradescantia

Apacapa

Film Pendek Lastarè: Sebuah Perjalanan Batin Korban Perundungan

Apacapa

Merayakan Literasi

Ahmad Sufiatur Rahman Apresiasi

Puisi Relief Alun-Alun Situbondo

Apacapa

Gemalaguna: Laut Tak Pernah Salah