Fragmen Kintamani dan Musik Semau-maunya Ali Gardy

Oplus_16908288

Posting-an status WA Ali Gardy itu muncul di deret ketiga. Saya klik. Rupanya link YouTube. Saya klik lagi, lalu saya tonton videonya. Sembilan menit kemudian, saya balik ke WA Ali Gardy dan ngasih komen ringkas: “Top, Mas.”

“Tulisan dong… wkwkwk,” balasnya.

Waduh, kaget saya dikomen begitu. Pikir saya: kenapa juga tadi latah ngomen. Tapi, ya sudahlah, saya ini orang Situbondo. Dan bukan orang Situbondo namanya kalau gampang nyorotan. Haha pakai smile kacamata.

Akhirnya, saya tulis juga catatan ini. Dan begini pembacaan saya tentang konten musik Ali Gardy di Kintamani itu.

Semua tahu saya bukan pengamat musik. Jelas sudah. Makanya, saya tidak akan membedah tangga nada, frekuensi audio, atau memutar otak dengan analisis etnomusikologi yang ribet. Saya hanya seorang kawan yang mengenal Ali pertama kali lewat urusan kaus Karmawibangga.

Jadi ceritanya, duluuuu, saya main ke kontrakannya. Niatnya murni cuma pengen main, pengin tahu keseharian dia bareng Sape’ andalannya. Konon, cerita yang saya dengar, dia latihan Sape’ seharian itu mulanya bukan demi mencari bisyaroh dari musik, tapi semacam meluluhkan hati seorang perempuan. Haha.

Namun, sore itu bukan aksi main Sape’ yang saya dapatkan, melainkan penawaran kaus. Kaus Karmawibangga itu. Dan gilanya, saya luluh lalu membeli kaus tersebut. Emang demar (degeng mar-samar) tu Ali, manisss syaaraa~

Hari-hari berikutnya, relasi kami berlanjut lewat aktivitas santai di warung kopi: mendengarkan dia bicara ini-itu dan menyimak karya-karyanya. Dari interaksi intens itu, saya makin paham kalau Ali Gardy adalah lelaki khas Situbondoan, namun dengan persona yang tergolong unik.

Sosok “Urakan” dari Situbondo

Bagi saya, dan mungkin siapa saja yang pernah nongkrong dengannya, Ali Gardy adalah personifikasi dari kata “urakan”. Dia tipe manusia yang tengil, selengekan, bicaranya blak-blakan, dan paling hobi menerabas pakem.

Kalau dunia musik punya anak punk yang tak mau diatur, Ali adalah salah satunya. Dia seperti bocah Situbondo yang tak bisa diam, mirip karakter kartun yang kepalanya penuh ide gila dan selalu ingin menabrakkan tradisi dengan eksperimen bunyi yang suka-suka dia.

Kalau Ali masuk ke ruang tongkrongan, kamu bisa berekspektasi akan ada kegaduhan: gelak tawa dan celotehan tanpa penyaring. Dan tentu saja, kamu harus siap-siap jadi bahan bully-annya, Bro!

Penerabas Pakem, Jago Silat Lidah

Nah, sekarang saya mau masuk ke kontennya di Kintamani. Saat menonton video musiknya yang berjudul Fragmen Kintamani itu, saya cuma bisa senyum-senyum sendiri.

“Bender ko,” gumam saya.

Video musik itu justru makin menegaskan watak aslinya sebagai musisi yang gak mau diatur. Begini penjelasannya.

Secara visual, tata sinematografi di video itu memang memakai pendekatan warna yang dingin dan hening. Di tengah bingkai visual tersebut, Ali Gardy yang berjaket dan bertopi hitam duduk menunduk-menghadap instrumen soundcapenya. Wajahnya terlihat begitu tenang.

“Bismillah, one take,” katanya di awal video.

Ucapannya itu seolah ingin bilang, “Oke, ini konten teduh kok. Santai.” Lalu wajahnya menampilkan kesan yang lembut dan dingin. Mulanya, tidak ada riak tengil di matanya, tidak ada seringai selengekan yang biasa ia umbar. Ia duduk rileks, seolah seluruh keliaran ala Sid Vicious dalam dirinya mendadak menguap.

Tapi jangan keburu terkecoh, Bro! Di balik gestur tenangnya di awal video itu, Ali sebenarnya sedang melancarkan atraksi utamanya: menerabas pakem dengan semau-maunya sendiri. Dia meracik instrumentasi tanpa peduli sekat genre. Tradisi ditarik ke ambient, ambient ditabrakkan ke eksperimen soundscape. Pokoknya suka-suka dia lah mau bikin bunyi seperti apa.

Hebatnya lagi, Ali ini jagonya bersilat lidah. Dengan kelihaian lidah Situbondo-nya, dia selalu punya beribu istilah dan jargon puitis untuk melegitimasi musiknya. Gak percaya? Buka saja caption-caption di Instagram-nya, atau coba duduk nongkrong sama dia lebih lama. Dengan jurus itu, dia bisa menjelaskan bahwa musiknya adalah “ini” dan konsepnya adalah “itu”, sehingga tabrakan bunyi yang ngawur sekalipun mendadak terdengar sakral dan meyakinkan di telinga kita.

Semiotika di Balik Silat Lidah

Melihat atraksi visual dan gestur Ali tersebut, pikiran saya teringat ke kacamata semiotika Ferdinand de Saussure. (Hmm.. jadi teringat Pak Andang, dosen linguistik saya di Jember, tempat saya pertama kali mengenal pemikiran Saussure). Menurut Pakde Saussure, sebuah tanda lahir dari jalinan antara bentuk fisik yang tertangkap indra (signifier/penanda) dan konsep mental yang terbayang di pikiran (signified/petanda).

Dalam konteks video ini, tubuh Ali yang tenang, tatapan matanya yang dingin, serta keseriusannya memegang dawai bertindak sebagai signifier. Sementara itu, gagasan tentang hening, kesucian adegan, dan argumentasi filosofis yang ia bangun bekerja sebagai signified-nya.

Hubungan tanda ini makin seru kalau ditinjau lewat Roland Barthes. Barthes menegaskan bahwa tanda tidak berhenti pada tataran denotasi, melainkan melahirkan konotasi dan mitos.

Penampilan Ali di Kintamani menjadi bentuk subversi sekaligus strategi “silat lidah” yang sangat cerdik. Tubuhnya, yang di luar panggung memancarkan konotasi “keliaran dan keurakan” tiba-tiba bertransformasi menjadi penanda bagi konotasi yang bertolak belakang: sebuah sajian musik dengan gestur tubuh yang sangat tenang.

Di tahap itulah dia seolah mengajak kita percaya bahwa bunyi eksperimental yang semau-maunya itu adalah manifestasi dari kontemplasi yang dalam. Padahal? Dugaan saya sih ya itu tadi, dia cuma lagi main musik semau-maunya saja. Pokok antem dulu. Tolong koreksi kalau dugaan saya meleset, ya. Haha.

Meredam Bising di Kepala

Namun demikian, di balik kesan semau-maunya itu, kemerdekaan Ali dalam membuat musik yang gak mau diatur justru menemukan bentuknya yang paling jujur. Dia tidak mengcover karya orang lain. Dia tidak menjiplak. Dia sedang menjadi dirinya sendiri.

Ali, dengan kepalanya sendiri, sedang melemparkan sebuah karya yang meyakinkan kita bahwa sikap “semau-mau”-nya itu bukanlah bentuk kesewenang-wenangan tanpa rasa, melainkan keberanian mengeksplorasi batas bunyi sesuka hatinya.

Efeknya, saat kamu mendengarkan Fragmen Kintamani, ada rasa dingin yang menjalar. Mirip seperti saat kamu berdiri di lereng Kintamani pagi hari ketika kabut tipis mulai turun dan mengembun di jaket Barcelonamu itu, atau seperti sesapan pertama es kopi hitam di tengah siang yang terik.

Musik Ali yang semau-maunya ini tidak sedang mengajak pendengarnya untuk moshing atau bertepuk tangan. Ia sedang menyeret kita masuk ke dalam ruang hening ciptaannya sendiri, sekaligus menjadi peredam bising dari notifikasi tagihan KPR di akhir bulan. Mampus kau dikoyak-koyak cicilan rumah.

Jeda di Kintamani

Menikmati Fragmen Kintamani itu sesederhana menemukan jeda kecil di tengah kepala yang sedang bising-bisingnya. Kita tidak perlu pusing memikirkan teori musik atau memperdebatkan pesan filosofis apa yang ingin Ali sampaikan. Biarkan aja Ali dengan segala racikan bunyi dan silat lidahnya apak-karapak sendiri, sementara bagian kita cukup duduk manis dan mendengarkan. Sesekali boleh juga senyum-senyum tipis.

Menonton video sembilan menit itu rasanya seperti diajak nongkrong di lereng gunung saat kabut mulai turun, di mana denting instrumen souncape Ali perlahan-lahan menyapu bersih keriuhan medsos (Ya Allah sungguh capek banget akhir-akhir ini) yang bikin kita pengap. Sesederhana itu sih.

Namun, di balik semua itu, saya jadi merenung: apakah keheningan yang ia sajikan di Kintamani ini adalah tempat Ali beristirahat sejenak dari keliarannya sendiri, atau justru inilah cara paling lihai dari seorang lelaki- cangkem-komere-itu untuk mengerjai kita semua lewat bunyi?

Penulis

  • Moh. Farhan, pengusaha MaduBaik. Guru SMAN 1 Situbondo.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Faris Al Farisi Puisi

Puisi: Kepada yang Selalu Aku Nanti Kabarnya

Apacapa Nurul Fatta Sentilan Fatta

Sudahi Tengkarnya, Baluran Butuh Kita

Alex Buku Ulas

Membaca Dawuk : Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu

Aldi Rijansah Putra Alexong Cerpen

Cerpen: Di Langit, Sore Masih Jingga

Kriselda Dwi Ghisela Resensi

Resensi Ronggeng Dukuh Paruk

Agus Hiplunudin Buku Feminis Politik Ulas

Ulas Buku : Perempuan, Politik, dan Pemilu

Apacapa

5 Tips Mencari Tiket Pesawat Murah Jelang Tahun Baru 2018

Apacapa Marlutfi Yoandinas Situbondo

Refleksi September Hitam

Mored Moret Muhammad Iqbal Mukhlis

Puisi Mored: Labirin Rasa dan Puisi Lainnya

Ahmad Zaidi Buku Telembuk Ulas

Membaca Telembuk; Membaca Cinta yang Keparat

Cerbung Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 5)

Apacapa Catatan Perjalanan

Diorama Pasar Mimbaan

BJ. Akid Puisi

Puisi: Amsal Luka

Buku Nurul Hasan Ulas

Ulas Buku: (Sekarang) Dungu Lebih Baik

Apacapa apokpak N. Fata

Cahaya Literasi dari Ujung Langit Baluran

Apacapa Dwi Mustika

Mengangkat Adat Istiadat Nenek Moyang: Keunikan Jogo Tonggo di Temanggung

Apacapa Imam Sofyan

Olean Bersholawat: Pengajian Ramah Disabilitas

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Sebuah Refleksi Pengalaman: Pagi Bening dan Engko’ Reng Madhurâ

Mored Moret Puisi Nur Akidahtul Jhannah

Puisi Mored: Jeritan Pantai Peleyan dan Puisi Lainnya

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Karya Rupa Generasi Mawas Diri