Takanta: Dua Tahun (Semoga) Menjadi Diri Sendiri

Oleh:
Mohammad Farhan*
Apakah setiap hal
perlu dirayakan? Bagaimana cara merayakannya?
Setiap
bulan Juli tiba, saya berusaha menikmatinya dengan biasa. Melewati setiap
pergantian tanggalnya tanpa menyiapkan sesuatu yang spesial. Padahal, satu hari
di bulan itu, saya menerimanya sebagai hari saya dilahirkan. Sebagaimana yang
tercatat pada akta kelahiran dan ijazah, tanggal 8 Juli ini: meski tanpa balon,
kue tar dan nyala lilin, harusnya saya juga merayakannya lalu berlagak bahagia.
Bulan
ini, sudah 26 tahun saya hidup. Diberi kesempatan oleh Allah. Sejauh itu pula saya
tidak sekalipun merayakan ulang tahun. Saya selalu gagal merayakan dan
dirayakan. Saya gagal merayakan karena pembiasaan orang tua saya sejak kecil yang
tidak pernah mau merayakan ulang tahun. Sebagaimana orang desa pada umumnya
kala itu.
Teman-teman
sekolah saya juga gagal merayakan ulang tahun saya. Karena di bulan Juli
biasanya sudah masuk masa libur sekolah. Libur semester genap. Belakangan saya
menyadari lahir di bulan Juli ternyata memberi saya bahagia yang lain.
Setidaknya, saya terhindar dari lemparan tepung dan telur di sekolah.
Apakah
Anda mengalaminya? Saya ucapkan selamat.
Tunggu
dulu. Mengapa ada tepung dan telur di perayaan ulang tahun? Bukankah dua benda
itu lebih cocok diracik atau diolah menjadi kue, perenyah makanan dan
semacamnya. Sehingga lebih tepat guna dan bermanfaat. Apakah kita terlambat
membayangkan bahwa ada orang-orang di ujung sana yang kesulitan membeli bahan meskipun
hanya tepung dan telur. Sehingga perayaan dengan cara seperti itu tidak menjadi
lumrah yang salah kaprah.
Lebih
jauh lagi, mengapa terbiasa pakai kue tar yang di atasnya dinyalakan lilin
berbentuk angka sesuai usia yang merayakan? Yang pada akhirnya, nyala lilin itu
harus ditiup sampai mati lalu semua bertepuk tangan. Sampai sekarang saya
berpikir meniup lilin di acara ulang tahun itu simbol kematian dengan tepuk
tangan sebagai perayaannya. Apakah itu merayakan kematian? Oh, tentu tidak. Bahwa
ada pendapat semakin hari usia manusia berkurang alih-alih bertambah itu soal
keyakinan. Tapi, ulang tahun tetap menjadi perayaan yang membahagiakan dan
orang-orang yang datang turut mendoakan supaya yang ulang tahun diberkati,
panjang umur dan bahagia. 
Tetapi,
apakah itu sebenar-benarnya identitas kita dalam merayakan ulang tahun?
                                                                    ***
Pemerintah
Situbondo sepantasnya bersyukur punya rakyat dengan energi kreatif yang tidak
pernah surut. Ketika para birokrat kota kebingunan menyusun program kunjungan
wisata dan masih kelimpungan mencari identitas dirinya, sejumlah pemuda-pemudi
Situbondo sudah bergerak lebih tangkas. Mereka berkumpul dan bersinergi di
ruang publik: warung kopi, trotoar kota dan alun-alun. Merencanakan setiap ide
di kepala menjadi tindakan nyata yang sederhana namun menyenangkan.
Sebagaimana
lahirnya Takanta.id, website kaum
muda Situbondoan. Website ini dikelola secara mandiri oleh beberapa pemuda.
Mereka merupakan teman-teman yang lahir dari rahim dunia tulis-menulis seperti:
KPMS dan GSM. Awak redaksinya  hanya 2
sampai 4 orang. Tetapi, website ini sudah berani menyediakan banyak rubrik. Ada
10 rubrik: apacapa, ngaleleng, apresiasi,
kakanan, feminis, komik, cerpen,
puisi, cerbung, dan ulas.
Secara
kebaruan atau updating tulisan,
website tersebut masih lebih aktif daripada website resmi pemerintah kota.
Menurut Imron, pemred takanta.id, setiap
harinya ia bisa menerima 2 sampai 3 naskah yang dikirimkan penulis secara suka
rela. Artinya, semangat untuk menghidupi website tersebut telah menyala. Ada
kesamaan harapan tentang tersedianya ruang publik maya yang memfasilitasi laku
kreatif kaum muda Situbondoan tanpa batas dan syarat. Sebuah angin segar yang
layak dinikmati dan dirayakan bersama.
Sabtu,
6 Juli 2019 Takanta.id berulang tahun
yang ke-2. Sebagai rasa syukur atau katakanlah rasa bahagia, awak redaksi
menyiapkan acara ulang tahun. Konsepnya sederhana: berbagi rasa dan kenangan.
Ya, diskusi atau berbagi proses kreatif dari beberapa penulis situbondoan yang
baru-baru ini menerbitkan buku terbarunya. Ada juga dialog dengan beberapa
pegiat blogger, desainer grafis dan content
creator.
Serta diskusi publik tentang perkembangan literasi di Situbondo.
Di
ulang tahunnya yang ke-2 ini, saya berharap Takanta.id
tetap menjadi dirinya. Ia tidak harus menjadi mojok.co atau tirto.id cabang
Situbondo. Sekali lagi, tetaplah menjadi diri sendiri, yang berpihak pada kaum
tertindas, yakni: mereka yang putus cinta dan patah hati. Takanta.id harus jadi penyeka air mata mereka yang dihantam pahitnya
kehilangan dan perpisahan.
Selamat
ulang tahun, Takanta.id. Panjang umur,
kenangan.
*)
penulis adalah pendiri Komunitas
Literasi Sumberanyar.   

Penulis

  • Moh. Farhan, pengusaha MaduBaik. Guru SMAN 1 Situbondo.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Imam Sofyan

Andai Aku Menjadi Bupati Situbondo

Apacapa

Benarkah Messi Kenal Mas Rio?

Cerpen Sukartono

Cerpen Gelisah

Apacapa Nur Husna

Simalakama Pemanasan Global

Atika Rohmawati Buku Resensi Ulas

Ulas Buku: Perjalanan Menuju Pulang

Apacapa

Masih Pentingkah Festival Kampung Langai?

Edo Sajali Komik

Komik: Si Babal dan Kekasihnya

Opini

Banjir Sumatra 2025: Ketika Alam Mengamuk, Manusia Lebih Dulu Merusak

Apacapa Gusti Trisno

5 Judul Skripsi Ini Membuat Situbondo Layak Menjadi Kabupaten Ramah Skripsi

Pantun Papparekan Madura Totor

Pantun Madura Situbondo (Edisi 6)

Cerpen Haryo Pamungkas

Cerpen : Cerita untuk Kekasihku Karya Haryo Pamungkas

Puisi Rizal Kurniawan

Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi

Apacapa Madura

Abhâkalan Sambi Ngalèncèr

Puisi Syukron MS

Puisi: Malam Minggu

Apacapa

Nabuh Immersive dan Keindahan Akustik

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Teman Saya yang Sudah Menjadi Ayah

Apresiasi Ridha Aina T

Musik Puisi – Sepi dan Emosi

game Ulas Yopie EA

GTA VI: Momok Menakutkan Bagi Developer Game

Banang Merah Cerpen

Prosa Mini : Monolog Seorang Kekasih Karya Banang Merah

Cerpen

Rumah Dalam Mata