Puisi : Guntur itu tak Pernah Ada Karya Muhammad Rifki


Bocah Hujan
/I/
seperempat
napasnya terdiri dari rintik-rintik hujan. setelah besar di rahim ibunya, janin
itu bersuka ria. mengendap dari dua belah sudut lahir, hutan hitam lebat, empat
pertanyaan ia jawab belagu. ia ingin hidup sendiri, mendunia tanpa perlu
ditemani, tambuni-tambuni yang jadi antah berantah. kini nasibnya, sepinggang
ibu. mengeram kuat, besok-besok, ia mewarisi watak keras kepala dari batu.
/II/
ia
tumbuh dari tetek ringkih. menjadi bujang siap kelana. nasibnya terhempas ke
peraduan parit-parit handil tempat para perawan memandikan susu. namun mata
terus berpacu pada antena pepatah tua. Lelaki tak pantas hidup dalam keabadian
perca luka. membusuk di tengah ramai dan memeluk lutut. hari ini, lelaki masih
mencari, diri yang telah dicuri.
/III/
siapapun
yang mengenalnya ingin membandingkan dengan anak dalam legenda. si malin atau
si bincik. atau wiro sableng. atau hanya penembak dalam diam. jari jemari yang
hidup sendiri. lalu mengenduskan hidup pada dinding tanpa tanda tangan. suatu
hari, ia merasa bahwa burung telah beranak. dan manusia akan mewarisi tempurung
telor. nasibnya sama buruk dengan comberan. Ia ingin berpulang saja ke dalam
kepurbaan.
/IV/
tambuni-tambuni,
anak itu menyesal hidup sendiri. Lalu memeluk hujan. untuk lebih lama kesepian.
Maret,
2019
Peci
rambut
telah masai
riwayat
akan kehilangan ayat
karena
penampungan sabda kebanjiran kata-kata
kemarin
hari dua pasangan masuk ke tengkorak kepalanya
berpesta
ria
sayang,
pak tua tersebab lupa
kepalanya
kebocoran
ia
tak ingat di mana meninggalkan pecinya
Maret,
2019
Guntur itu tak Pernah Ada
de,
guntur itu hanya ada di dongeng bu guru
ia
tak pernah ada
bunyi
itu sebenarnya berasal dari hatimu
mengendap
bertahun lama
ia
teriak bila hujan turun lebat
saat
hatimu lelah menanggung basah
suaranya
memekik pecah
menusuk-nusuk
kesakitan
sampai
terdengar keras dari langit
de,
benamkan hujanmu
guntur
itu memang tak pernah ada
namun
luka akan terus bersuara
membuat
orang ketakutan mendengarnya
kala
hujan berisik
Maret,
2019
BIODATA PENULIS
Muhammad
Rifki, dilahirkan di Anjir Pasar Lama, 13 Agustus 1998. Seorang penulis naskah
lakon, cerpen dan puisi. Selain sebagai mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, juga
mahasantri di Ma’had Qalbun Salim Lil Aimmah Wal Khutaba. Kini, menetap
di Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Supriyadi

Takbiran, Bunyi, dan Memori

Cerpen Romi Afriadi

Cerpen: Penjara

Muhaimin Prosa Mini

Gadis dan Nyanyian Ombak

Cerpen Ken Hanggara

Cerpen : Bibit Dosa Karya Ken Hanggara

Cerpen Lia Fega

Cerpen : Perselisihan untuk Sang Tuan Karya Lia Fega

Agus Yulianto Puisi

Puisi – Wajah Petani

Apacapa Nur Husna

Bullying Bukan Budaya Kita

Cerpen Mochamad Nasrullah

Cerpen: Jejaring Mimpi

Alifa Faradis Esai Wisata Situbondo

Wisata Religi : Sukorejo

Buku Thomas Utomo Ulas

Teka-Teki Tenis, Sosok Misterius, dan Cinta Berlarat

Apacapa fulitik kenalmasrio

Mas Rio Ajak Anak Yatim Bergembira di Navara Waterpark Bondowoso

Advertorial

Perkembangan Tipe-tipe Kamar Mandi

Dhafir Abdullah Puisi Syi’ir

Muharrom sè Moljâ

Apacapa Arif Arva

Apresiasi Pemilu 2019 Tanpa Kecurangan Serta Politik Uang

Muhammad Husni Puisi Tribute Sapardi

Puisi: Payung Hitam 13 Tahun

ebook

ebook: Lorong Derita

Busyairi Puisi

Puisi: Wanita Tanpa Wajah

Apacapa Esai Mustain Romli

Dilema Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Puisi Zainul Anshori

Seuntai Pengorbanan

Madura Resensi

Resensi: Ajâgâ Alas Ajâgâ Na’Poto