Bayangan Hari Kemarin dan Puisi Lainnya Karya Izza Hikmah

Bayangan Hari Kemarin

Nasib bermula dari sepasang sore dan hujan
Meninggalkan rindu yang tiap malam menggigil
Dan namamu menyesaki malam-malam sunyi

Di kamar bulan pecah-pecah
Seseorang membakar ranting harapan di kepalaku
Membuat raib segala kata

Peta hati bertengkar dengan waktu
Menyoal kesakitan pada sejarah
Dan bayangan hari kemarin
Yang selalu musim hujan

Selembar kabar dilipat rapi dalam lemari
Bersama rahasia-rahasia luka
Dan kau, tak meninggalkan suara
Untuk menuntaskan hikayat temu

Desember 2025

Reklame Kepulangan

Di lepaskan asin nasib yang menggantung di matanya
Juga bau tanah hujan pertama
Yang membasahi gaunnya

Dirahasiakan lanskap tanah rantau
Api tercipta dari batu waktu
Membakar dunia, padamkan cahaya
Dari sisi kota yang lain

Pada reklame kepulangan
Segala tenang dijual
Segala cemas dibeli
Dan senja itu demam
Dalam ayunan zikir

Ribuan Meter dari Dekapmu

Burung-burung mengudara dalam sunyi
Kuharap kepak sayapnya menyapamu
Hinggap di bunga jendalamu
Sebuah rahasia segala peluk

Ribuan meter dari dekapmu
Kukirimkan gerimis yang hendak
Menjadi riak dalam dadamu
Beserta pohon kenangan menjulang ke langit
Sungai-sungai dan kecantikan ikan
Adakah hatimu rimba-sejati?

Barangkali takdir kehujanan
Tapi biarlah badai di permukaan
Niscaya nasib dari bibirmu kala itu
Muaranya akan mengalir ke nadimu

Januari 2026

Penulis

  • Izzatul Hikmah lahir di Sumenep, Madura. Saat ini ia menempuh pendidikan S1 Sosiologi Agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis tumbuh sejak masa Madrasah Aliyah, hingga membawanya aktif di berbagai sanggar dan komunitas menulis sejak bangku sekolah. Kini, ia tergabung sebagai tim redaksi media Geger.id, sembari disibukkan dengan penulisan tugas akhir untuk menyelesaikan studinya. Penulis bisa dihubungi melalui akun instagramnya izzaaaa.h.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

M.Z. Billal Puisi

Puisi: Hujan Pukul 12.30

Pantun Papparekan Madura

Pantun Madura Situbondo (Edisi 7)

Apacapa

HUT RI dan Kesadaran Anak Kelas 5 SD

Apacapa Nanik Puji Astutik

Aku Bukan Pejuang Love Cyber

Review Film Yopie EA

FLOW: Sebuah Mahakarya dari Sutradara Asal Latvia

Apacapa Moh. Imron

Ali Gardy Bertiga: Tirakat Bunyi

Apacapa

Laki-laki Memasak dan Mencuci? Ah, Biasa Saja!

Bulan Nurguna Cerpen

Cerpen: Kirana dan Ibunya

Buku Indra Nasution Ulas

Kontroversi Kematian Adolf Hitler

Buku Putri Setyowati Resensi Ulas

Resensi: Memulai Kembali Hidup

Apacapa Erha Pamungkas Haryo Pamungkas

Yang Menghantui Perbukuan Kita

Apresiasi Musikalisasi Puisi

Musikalisasi Puisi – Apa Kabar?

Puisi Tjahjono Widarmanto

Ayat Nostalgia dan Puisi Lainnya Karya Tjahjono Widarmanto

Apacapa Literasi

Bahagia Literasi : Teruslah Mencari

Ali Ibnu Anwar Puisi

Puisi: Tubuh yang Mengandung Hujan

Esai Muhammad Badrul Munir

Zaidi dan Kisah Seorang Wali

Nurillah Achmad Puisi

Puisi: Mata Air Kehidupan

Dani Alifian Puisi Sastra

Puisi: Tamadun Semu Karya Dani Alifian

Agus Hiplunudin Buku Ulas

Politik Identitas di Indonesia Karya Agus Hiplunudin

alif diska Mored Moret

Puisi Mored: Kepada Bumi dan Manusia