Kategori: Apacapa
-
Refleksi 73 Tahun Indonesia Merdeka
17 Agustus 2018 umur bangsa Indonesia sudah mencapai 73 tahun. Lima hari setelahnya umat islam akan merayakan hari raya Idul Adha atau hari raya kurban. Oleh Arif Noerfaizal Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi bagi kita sebagai warga negara yang beragama. 350 tahun lamanya negara kita dijajah oleh kolonialisme. Kedatangannya ke bumi pertiwi tidak hanya
-
Dangdut Madura: Upaya Orang Madura ‘Swasta’ Mengartikulasikan Modernitas
Dung-dung bulâ karè ngandung, Dung-dung bulâ duh pon ngandung, Dung-dung bulâ duh jhâ’ dhina – Karè Ngandung – Dipopulerkan oleh Asmi Utami Oleh : Panakajaya Hidayatullah Masih ingatkah anda dengan potongan lirik lagu di atas? Atau, pernahkah anda mendengar lagu di atas? kalau belum kenal sama sekali, maka ijinkan saya untuk sedikit berceloteh tentang kidung
-
Festival Kampung Langai dalam Pembacaan Masyarakat
Ilustrasi : Antar Nusa Oleh : Dedi Andrianto Kurniawan – masyarakat awam Dibuat sebagai statemen dan informasi, celotehan ini dikaitkan pada realita di balik megahnya penyelenggaraan Festival Kampung Langai menjelang lima tahun perjalanannya, dinamikanya, serta Festival Kampung Langai dalam pembacaan masyarakat lokal sebagai—boleh dikata—festival budaya, perhelatan artistik, sarana hiburan murah meriah, agenda ramai-ramai, lapak dadakan
-
Hantu Kunti Lanak dan Kelong Wewek Mencitrakan Karakter Perempuan
Oleh : Agus Hiplunudin Citra perempuan memang selalu menarik untuk dibahas, yang terkadang berbau amis seksualitas, makhluk perayu, kaum munafik, pribadi yang emosional, dan bahkan makhluk irasional. Jika diruntut dalam tradisi filsafat semenjak zaman Yunani Kuno dimana keberadaan perempuan telah menjadi perdebatan para filsuf. Plato sedikit memulyakan perempuan; dengan argumentasinya bahwa perempuan juga seperti halnya
-
Gusdur dan Buku
Sore, Sebelum saya lebih jauh mencatat hasil diskusi tentang Gusdur, izinkan saya tertawa terlebih dahulu, hahaha. Hampir setiap pekan, Komunitas Gerakan Situbondo Membaca (GSM) seperti biasa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan dunia literasi, tema dalam kegiatan diskusi bulan Agustus ini mengambil tema “Gusdur dan Buku”. Sebelum Acara dibuka hanya beberapa peserta yang baru hadir, ada
-
Angin yang Berembus Rumor Mantan di Bulan Agustus
Oleh : Baiq Cynthia Angin tiada henti menabrak pohon, menerbangkan seng-seng yang memeluk rumah. Tentu saja angin sedang lapar di awal Agustus, kata orang Madura disebut Nemor (Angin Timur). Bulan Agustus 2018 ini bertepatan dengan Bulan Haji, di mana akan ada kurban sapi, kambing bahkan korban perasaan. Kasian sekali yang terakhir, lebih miris dari mereka
-
Power of Penulis
Sebagian atau kebanyakan penulis pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan perasaan tak suka. Entah perasaan apa yang lebih dominan pasti akan ditulis. Terkadang dari kata ‘I don’t like you’ akan berubah menjadi satu artikel penuh dengan rincian perasaan. Begitu juga dengan kata ‘I Love You’. Dan saat penulis sedang ‘falling in love’ kata-kata
-
Puisi Nadhaman dan Hari Chairil Anwar
Malam Apresiasi Sastra Situbondo Andaikata puisi (sastra) adalah perjalanan, maka ia ada di masa silam sekaligus yang menjelang. Bisa pula menjadi sebentuk atavisme, yang muncul lagi sekarang setelah sekian generasi menghilang. Sebagaimana judul “Semoga”, karya Sofyan RH Zaid, dalam buku kumpulan puisi nadhaman Pagar Kenabian: yang lepas kembali # yang tinggal abadi Dalam puisi adalah suatu
-
Situbondo Makin Dingin Akhir-Akhir Ini, Tapi Tidak Bagi Imron
Setiap kali saya berbincang dengan beberapa orang. Selalu terselip pembicaraan tentang cuaca yang makin dingin akhir-akhir ini. Padahal orang-orang di Situbondo, biasanya sudah mengerti. Saat masuk musim kemarau selalu ditandai dengan musim giling/panen tebu. Malamnya terasa lebih dingin dan siangnya lebih panas. Tapi sekarang ini berbeda, dinginnya, tak seperti biasanya. Sejak sore, angin sudah mulai
-
Dunia Penyair dan Puisi-Puisinya
“Pengalaman itu tidak bermakna bila tidak menemukan rumahnya dalam bahasa. Sebaliknya, tanpa pengalaman nyata, bahasa adalah ibarat kerang kosong tanpa kehidupan,” I. Bambang Sugiharto. Setiap manusia pasti memiliki pandangan tersendiri atas kehidupannya. Mereka mengejawantahkan pengalamannya masing-masing untuk memaknai dunia. Sejauh ini, cara paling ampuh untuk memaknai kehidupan di dunia adalah menggunakan bahasa. Dengan bahasa manusia bisa