Kategori: Puisi
-
Puisi-puisi Nandy Pratama: Merayakan Kepergian
Merayakan Kepergian Di gelombang hasrat yang sama kita memilih desah sebagai lagu penyatuan sayu mata denyutkan waktu rusa jantan tidur dan tumpah dalam gua cinta. Tarian gulita membabi-buta Satu sentakan telanjanglah malam Takjub, mata membaca gundukan mencari rute paling nikmat mencapai puncak Hujan menjulur Menggeledah bugil kulit-kulit mungil Sesekali teriakan
-
Puisi-puisi Saiful Bahri: Tubuh Ramadan
Tubuh Ramadan kita hanya menumpaskan segala takwa pada rumput-rumput yang tak pernah usai menerjemahkan tumpukan sepi di ladang hati sejak kau menjumpai jarak yang beranjak ia hanya menjadikan langkahmu sebagai tempuh seperti hari kemarin yang kau tumis di hari ini perjumpaan doa dan tangan semoga mulai ada selawat tasbih di bulan
-
Puisi-puisi Safari Maulidi: Pasar Malam yang Hilang
Pasar Malam Yang Hilang Aku tak akan lagi mengirimimu pesan pagi ini Sebab sudah terlalu gelap awan di langit Mungkin dengan ini Burung depan rumahmu akan tenang Sebab tukang koran yang biasa hinggap hilang Bunga di tamanmu sekarang telah lebih riang Ketika mentari menjalar di pagi hari Sebab selang yang biasa
-
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana: Rumah Pak RT
RUMAH PAK RT 1// Dekat pohon-pohon bambu Angin melamban pelan menyusuri gang-gang rumah. Dekat pohon bambu itu Rumah Pak RT berdiri sederhana. 2// Suatu ketika, rumah Pak RT dikerumuni warga. Warga yang datang penuh persoalan. Persoalan perselingkuhan, persoalan surat cerai sekaligus persoalan hak waris. 3// Di rumah Pak RT Ada satu yang hanya
-
Puisi-puisi Kurliyadi: Yang Kita Ingat
YANG KITA INGAT jalan sedikit menikung, pagar-pagar kebun pohon berduri dengan mata telanjang kau akan melihat luas segara terkadang kami anak-anak kuat memanjat dan berteriak menyebut nama-nama ikan dan lokan ataupun nama pahlawan, berteriak lagi pada pesawat-pesawat yang terbang di atas bubungan rumah meminta uang “kapaaaal menta’a pessenaaaa” di tepian pantai pasir-pasir
-
Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi
Ibu kota Baru suatu Pagi ibu kota baru suatu pagi adalah pesan yang harus diantar segera ke desa-desa kecil kalimantan kita masih boleh memilih: melajukan mobil pajero ke palangkaraya utara atau menaiki rental astrea untuk sejenak bermain dengan dayak-dayak kecil yang tak sekolah hanya hujan yang dapat menemani badan perencanaan pembangunan nasional
-
Puisi-puisi M Firdaus Rahmatullah: Dermaga Panarukan
Di Dermaga Panarukan setiap kucatat dukamu di langit-langit puisi ada yang tak tersisa dari kisah esok hari sebuah titik yang hendak menjadi koma pernah singgah di bibir dermaga mengumpulkan remah ketulusan samar-samar di bawah lampu temaram tapi diam-diam kita tersesat di balik perahu-perahu nelayan yang ditambatkan setengah hati setengah kesadaran ikan-ikan menggelepar
-
Puisi-puisi Agus Widiey
Bayang-Bayang Dalam Sembahyang ada yang membayang dalam sembahyang seperti ingin sekali menikam tentram hatiku yang pualam barangkali, bayang-bayang itu memburu sebab cemburu hingga kata patah dari lidahku ; tak mampu membersihkan najis nafsu yang kesekian ada yang membayang dalam sembahyang melubangi ingatan melukai harapan bayang-bayang itu membeludak dan memperbudak diriku sebab
-
Puisi-puisi Thomas Elisa
TIDUR SIANG Ibu meriwayatkan penuh sabar tentang tidur siang sebagai obat mujarab memelihara daya tahan masa kanak kita menyembuhkan lelah yang memagut karena ibu paham betul usia kanak memerlukan injeksi pengganti asupan gizi “Ayo segera tidur siang” kata ibu seperti perawat kita dilayaninya segala macam dekil dibersihkannya dipijatnya kaki dan punggung kita yang
-
Puisi-puisi Citta Mandala
Gerimis Itu Masuk ke Mataku Lihat apa yang ada di depanku sekarang: gerombolan awan serupa domba yang digiring menuju selatan angin dingin yang mulai membelai belulang gerimis kecil membentuk jejak air di kelopak anggrek ungu burung-burung dalam perjalanan pulang dan percakapan singkat sederhana Tapi kenapa gerimis itu masuk