Kategori: Puisi

  • Puisi-puisi Kurliyadi: Yang Kita Ingat

      YANG KITA INGAT   jalan sedikit menikung, pagar-pagar kebun pohon berduri dengan mata telanjang kau akan melihat luas segara terkadang kami anak-anak kuat memanjat dan  berteriak menyebut nama-nama ikan dan lokan ataupun nama pahlawan, berteriak lagi pada pesawat-pesawat yang terbang di atas bubungan rumah meminta uang “kapaaaal menta’a pessenaaaa”   di tepian pantai pasir-pasir…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi

      Ibu kota Baru suatu Pagi   ibu kota baru suatu pagi adalah pesan yang harus diantar segera ke desa-desa kecil kalimantan kita masih boleh memilih: melajukan mobil pajero ke palangkaraya utara atau menaiki rental astrea untuk sejenak bermain dengan dayak-dayak kecil yang tak sekolah   hanya hujan yang dapat menemani badan perencanaan pembangunan nasional…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi M Firdaus Rahmatullah: Dermaga Panarukan

      Di Dermaga Panarukan   setiap kucatat dukamu di langit-langit puisi ada yang tak tersisa dari kisah esok hari sebuah titik yang hendak menjadi koma pernah singgah di bibir dermaga mengumpulkan remah ketulusan samar-samar di bawah lampu temaram   tapi diam-diam kita tersesat di balik perahu-perahu nelayan yang ditambatkan setengah hati setengah kesadaran ikan-ikan menggelepar…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Agus Widiey

    Bayang-Bayang Dalam Sembahyang   ada yang membayang dalam sembahyang seperti ingin sekali menikam tentram hatiku yang pualam   barangkali, bayang-bayang itu memburu sebab cemburu hingga kata patah dari lidahku  ; tak mampu membersihkan najis nafsu yang kesekian   ada yang membayang dalam sembahyang melubangi ingatan melukai harapan   bayang-bayang itu membeludak dan memperbudak diriku sebab…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Thomas Elisa

    TIDUR SIANG   Ibu meriwayatkan penuh sabar tentang tidur siang sebagai obat mujarab memelihara daya tahan masa kanak kita menyembuhkan lelah yang memagut karena ibu paham betul usia kanak memerlukan  injeksi pengganti asupan gizi   “Ayo segera tidur siang” kata ibu seperti perawat kita dilayaninya segala macam dekil dibersihkannya dipijatnya kaki dan punggung kita yang…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Citta Mandala

      Gerimis Itu Masuk ke Mataku   Lihat apa yang ada di depanku sekarang:             gerombolan awan serupa domba yang digiring menuju selatan             angin dingin yang mulai membelai belulang             gerimis kecil membentuk jejak air di kelopak anggrek ungu             burung-burung dalam perjalanan pulang             dan percakapan singkat sederhana Tapi kenapa gerimis itu masuk…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Faris Al Faisal

      NEXT 45 km   – dari rapsodi perjalanan   Kegembiraan akan menemani perjalanan, sejak awal waktu yang pelan.  –next 45 km– Kukira akan banyak hal yang kaulihat. Sapi dan domba yang jinak, meski kadang menguasai markah jalan. Hikayat dunia fabel, dan cerita pendek lainnya. Di sisi jalan, padang rumput  — senyum sapa penggembala. Di…

    selengkapnya…

  • Pelabuhan Jangkar dan Puisi Lainnya

    Pelabuhan Jangkar dan Puisi Lainnya

    Pelabuhan Jangkar kualihkan pandangan ke batas lautbagai ujung dunia di depan matameski harus kuhentikan memainkan jalasupaya nyawaku tak berjumpa maut di Jangkar. seorang nelayan baru muncul dari ufuk cakrawalamembawa lelah-letih yang tertundadan kemenangan tersirat di bibirnyabagai usai menggapai benang raja di seberang Jangkar. bahkan bila harus dilupakan zamankuharap tak kehilangan pegangan. Di Kampung Kerapu sebuah mata melompatdari kelopak yang rapatrona-rona…

    selengkapnya…

  • Puisi-Puisi Ramli Q.Z.

      Mengapa Kau Tanyakan Laut?                                 ; kepada tanya kala senja   Aku ingat betul saat kau meraba ingatanku dengan tanyamu perihal laut. Itulah sebabnya aku seperti merasakan doa restu ibunda, yang mungkin bisa terlukis di pasir putih—jemari kaki seorang putri yang meramal usia karang.   Apakah masih menakutkan laut itu, kekasih? ketika kau bercermin…

    selengkapnya…

  • Tragedi Perokok dan Puisi Lainnya

    Tragedi Perokok dan Puisi Lainnya

    Puntung Telah berserakan puntung-puntung rokok di setiap sisi rumah yang dulu sepi tak ada isi,tapi sekarang ribut bertabur puisi.“Ada yang tahu siapa yang merokok semalamandan dibiarkan abu lelatu beterbangan?” Semua serentak menggelengkankepala dan takut untuk berkata iya.Seperti ada hidup yang dikhawatirkanatau mungkin dibimbangkan tersebabluka dada yang tak semua bisa terwakilkan kata. Di sekitar lingkungan asbakadalah…

    selengkapnya…