Cerpen: Keroncong Raboeni

Demi apa pun juga ini adalah pagi paling laknat yang baru dialami oleh Rayi. Sepanjang karirnya yang sudah lebih dari lima tahun belum pernah ia merasakan pusing paling busuk hingga tak dapat membuka mata. Gara-garanya tentu saja secret party di rumah salah satu anak pejabat setempat malam tadi. Marco Lendry, ya itu namanya, anak pejabat daerah ini belakangan dibicarakan kanan-kiri karena ulahnya serampangan. Marco terkenal bukan hanya bapaknya orang berpengaruh di Kota Sambuga, tapi juga sebab perilakunya sudah sering di luar kendali. Bikin onar di mana-mana, terlibat aksi perisakan, hingga dikeluarkan sekolah. Seperti bulan lalu saat ia viral di TikTok jalur kontroversi, gara-garanya bocah tujuh belas tahun itu terekam video sedang membanting seorang ojol sepuh yang konon katanya menghalangi laju mobilnya. Tidak butuh banyak waktu kasus itu damai dengan sendirinya dan bapak ojol sempat membuat klarifikasi permintaan maaf terkait kasus tersebut. Padahal banyak kesaksian oleh pengguna jalan lain menyebut Marco mengebut bagai gila dan hampir menabrak kendaraan di depannya. Bapak ojol sepuh berupaya untuk menghentikan agar tidak ada jatuh korban. Begitu juga kali ini, ia berhasil membuat (kalau tidak ingin dibilang memaksa) Rayi yang dikenal sebagai DJ IRaxx manggung di acara sweet seventeen-nya. Rayi awalnya menolak menerima acara tersebut, ia terlampau capek setelah sebulan penuh melakukan tur keliling Indonesia. Belum sempat meletakkan kepala yang sudah sangat berat di bantal empuknya, telepon Rayi berdering berkali-kali. Dengan malas Rayi mengambil telepon dari meja.

“Ray? Kau sudah sampai? Suara Ramon begitu berat dari seberang. Betul ia memang seorang perokok aktif, tapi ini bukanlah karena ia menelan ribuan rokok. Napasnya cukup memburu, pendek-pendek sekaligus cepat.

“Ada apa?” Ray menjawab tanpa membuka mata, ia pikir Ramon hanya ingin menanyakan kondisinya.

“Nanti malam kita dapat undangan dari Marco, secret party SWEET17.”

Alis Rayi naik sebelah, “Marco?”

“Marco Lendry! Anak senator Sambuga, Perigo Lendry!”

“Aku baru sampai Mon, tolak saja! Suruh cari DJ lain!” Rayi mematikan telepon dan melemparnya kembali ke atas meja. Bunyi telepon kembali menderu, Rayi tahu sekali kelakuan Ramon ketika diabaikan. Tiga sampai empat kali telepon itu dihiraukan. Rayi menutup rapat telinganya dengan bantal, tapi Ramon tidak menyerah. Bunyi TING! menandakan kiriman voice note lewat WhatsApp.

“Kau harus datang Ray, harus! Marco anak yang berbahaya. Bapaknya juga. Ini semua demi kelanjutan izin kita di acara-acara Sambuga selanjutnya. Kalau kau keberatan tolong lakukan ini demi anak-anak kru!”

Ramon tahu sekali cara membujuk Rayi. Ia pasti tak sampai hati jika sudah berhubungan dengan hajat hidup para kru. Ia terpaksa menerima tawaran dari Marco dan terjadilah malam durjana itu. Kondisi capek ditambah nyawa yang tidak sepenuhnya menempel di badan melunturkan kesadarannya. Apalagi Marco berkali-kali ikut naik ke atas panggung dan mencekoki Rayi dengan genangan alkohol. Beruntung kru sangat bisa mencegah kelakuan Marco jika dinilai sudah kelewatan. Malam berlalu tanpa ada masalah berlebihan, cuma satu dua orang yang membanting gelas dan berkelahi karena sedang tinggi. Kemampuan DJ IRaxx benar-benar membuat Marco terkesan, ia mengakui Rayi lewat pujian-pujian omong kosong.

“Pantas Abang sangat laku ya, asik banget bikin acara!” Marco tertawa lepas melihat acaranya sukses. Ia mengambil sebungkus rokok, menempelkan satu di mulut, dan menyuruh ajudannya untuk menyalakan. Wah benar-benar berlagak ini anak.

“Dua bulan lagi giliran pacar saya yang ulang tahun, Abang harus datang lagi ya!” Perintahnya tanpa basa-basi, ia keluarkan handphone dan mengetik sesuatu di sana.

“Saya sudah transfer fee juga bonusnya, saya juga transfer DP untuk dua bulan lagi.” Marco melirik Rayi yang tampak tidak memberikan tanggapan. Ia mengeraskan suaranya,

“Acara itu harus lebih meriah Bang, saya akan mengundang lebih banyak orang. Dan saya ingin playlist musik paling baru dari Abang, jangan diulangi playlist yang tadi.” ia bangkit dari tempat duduk, Marco meninggalkan Rayi beserta tim.

Dengan sisa kesadaran yang ada Rayi hampir bangkit hingga dicegah beberapa kru untuk melakukan hal yang nantinya disesali. Permintaan seenak udel itu bikin seluruh tim DJ IRaxx kelimpungan. Bagaimana mungkin ia meminta playlist baru hanya dalam kurun dua bulan? Terlebih lagi Rayi baru saja menyelesaikan tur. Ia belum ada keinginan untuk segera membuat playlist baru. Selama ini di acara-acara party termasuk festival musik saja Rayi beserta tim harus membuat playlist dengan durasi sekitar 1-2 jam. Tugas itu akan lebih mudah jika acara dilakukan secara maraton melibatkan sejumlah DJ-DJ lain. Durasi sepanjang lima jam pun akan dilibas. Sudah dua hari ini tim menggodok playlist baru, dan sudah dua hari pula Rayi memuntahkan emosinya setiap membahas bagian build-up dan drop. Entah karena ritme yang tidak pas atau beat yang kurang menghentak. Sampai pada batasnya ia menyetop semua sesi dan keluar dari studio. Rayi berjalan tanpa tahu akan kemana. Langkahnya tidak menentu, pikirannya melayang tak terarah. Ia baru sadar sudah berada di sekitar pasar besar. Sekeliling dipenuhi pedagang kaki lima yang menawarkan produk. Rayi berhenti di depan sebuah toko kaset jadul bernama “REMINISENSI”. Toko yang cukup antik, baru menjejakkan kaki beberapa langkah saja Rayi sudah terpaku pada tumpukan kaset lawas. Ada juga piringan hitam beserta turntable yang masih utuh.

“Cari apa Kak?” suara pemilik toko membuyarkan lamunannya.

“Saya cari rekaman lawas yang masih bagus Pak.” Rayi lalu diarahkan pada rak kaset pita dan piringan hitam lawas. Di sana tersusun banyak judul dan nama penyanyi yang tentu saja tidak ia kenal. Ternyata susunan toko tersebut sangat rapi, bisa dilihat dari rak yang sudah ditandai dengan tulisan tahun terbit album. Rayi lantas menelusuri seluruh rak, matanya tak mengedip saking banyaknya. Ia menemukan satu album berwarna putih polos, tidak ada gambar di sampulnya. Hanya sepintas terlihat tipis tulisan “IR Raboeni” di bagian punggung kaset. Rayi meminta pada pemilik toko untuk memutar kaset demi melihat kondisinya apakah masih berfungsi layak atau tidak. Sang pemilik toko bergegas memutarnya di sebuah compo tua. Suara yang keluar masih sangat halus, campuran melodi biola, gitar, serta contrabass mampu membawa nuansa lampau membius siapa saja yang mendengar. Saat suara vokal mulai masuk, Rayi membeku bagaikan anak ayam terkena siram air es. Lembut sekali suara vokal wanita di dalamnya. Lembut tapi tajam. Tekniknya matang, cengkoknya menghiasi nada awal lagu sebelum menuju nada pokok. Bahkan ia menyelipkan beberapa kali teknik nggandul di setiap akhir irama yang menambah kesan mendayu meliuk-liuk. Rayi terpejam senang, ia terkesima atas segala hal yang muncul sekaligus di telinganya. Musiknya, irama keroncong lawas itu, dan tentu saja suara vokalis wanita dalam lagu.

Ia menanyakan siapa yang ada di album barusan, siapa IR Raboeni pada si pemilik toko. Namun hanya gelengan kepala yang dapat pemilik toko berikan sebagai jawaban. Rayi menyerahkan sejumlah uang untuk koleksi album keroncongnya, ia tidak sabar untuk mendengarkan secara pribadi di kamar. Ayah Rayi tampaknya memiliki tape tua di loteng yang masih berfungsi. Betul saja, suara vokal IR Raboeni di deretan lagu lain semakin menegaskan kelihaiannya dalam olah suara. Artikulasinya sungguh jelas, didukung pernapasan yang tidak terdengar ngos-ngosan sedikit pun. Rayi mengulang-ulang seluruh album selama berjam-jam. Ia merasakan getaran aneh dalam dada, aneh yang tidak bisa  disimpulkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ada sebuah lagu dimana nuansa vokal IR Raboeni mendadak terkesan sedih. Bahkan liriknya mencerminkan akan hal itu. Lagu berjudul “Sampai Toea” itu masih menggunakan intonasi yang lembut, hanya saja bukan lembut yang menyenangkan tapi sedih.

Toean dan Njonja Sekalian

Di tepinya soengai Hoeloean

Tak terbayangkan adanya kesepian

Seandainya hati ini boekanlah kebimbangan

Banjir merah memoedarkan seloeroeh kenangan

Oh sayang akoe tidak ingin kaoe terbang

Sendirian tinggalkan dinda dalam rayoean

Menoejoe keabadian

Rayi sempat terketuk apakah ini lagu diperuntukkan IR Raboeni pada sang pujaan hati? Ataukah emosi dalam lagu ini hanyalah bentuk profesionalisme beliau dalam menyampaikan isi pesan? Rayi tidak tahu. Ia sedikit kesal, mungkin bisa jadi cemburu buta jika sampai benar mengetahui bahwa lagu ini adalah lagu patah hati. Ia sangat mengagumi apa yang sudah dikerjakan IR Raboeni dalam karya-karyanya. “Ini harus kujadikan referensi untuk membuat playlist, campuran EDM dan keroncong akan sangat mewah.” Rayi meloncat tanpa sadar, ia melemparkan tubuhnya ke kasur sambil tertawa. Siapa yang menyangka ia menemukan harta karun tidak terduga. Tapi hatinya juga penasaran siapakah IR Raboeni? Nama itu tidak ia temukan ketika mencari di internet. Ia juga membuka Youtube dan tetap nihil. Rayi mengontak temannya yang bekerja di perpustakaan kota, ia meminta tolong untuk mencarikan informasi siapakah IR Raboeni. Teman Rayi mengabari esok hari, ia tegaskan nama IR Raboeni tidak terdaftar di database kota Sambuga dan manapun. Teman Rayi menyarankan untuk mencari ke studio lama kota. Tempat dimana rekaman musisi lawas terjadi di sana. Jawaban itu akhirnya menunjukkan muaranya.

“Segala data IR Raboeni sudah dihapus pemerintah sejak lama, ia diduga terlibat organisasi Lekra.” Begitulah jawaban dari petugas arsip studio. Jawaban yang tidak ingin didengar oleh Rayi sebetulnya. IR Raboeni hilang semenjak ketahuan termasuk bagian seniman Lekra, ia tak lagi diketahui rimbanya pada akhir November 1965. Petugas arsip menunjukkan satu foto tersisa yang berhasil diselamatkan dari sang maestro keroncong dan menunjukkannya pada Rayi. Bagai disayat arit seketika, Rayi mengenali sosok wanita berbibir tipis dengan riasan sederhana itu. Sanggulnya, kebayanya, bahkan kain jariknya tidak akan salah dikenali. Rayi memburu langkah, ia ingin segera sampai di rumah dan memastikan sesuatu. Ia membongkar koleksi album foto lama keluarga, lalu mencermati satu-persatu foto-foto tersebut. Ada foto dengan tepian menguning yang menunjukkan gambar tiga orang sedang di sebuah ruangan seperti ruang tamu. Dua wanita berdiri di belakang sosok pria yang duduk di kursi dengan tampang aristokrat, berkumis lebat bagai kawat. Satu wanita di dalam foto baru saja ia lihat parasnya di studio lama tadi. Dibaliknya tertera, “Sambuga, 19 Mei 1964 – RM. Koento Prajogo, RA. Gantari Lasmoyo, Imar Roeperso Raboeni. Imar Roeperso Raboeni? IR Raboeni? Eyang Bun? Rayi seketika menyandarkan punggungnya di depan lemari dengan lemas. Suaranya pelan saat memanggil sang ibunda untuk bertanya. Ibu Rayi sedikit kebingungan ketika melihat anaknya seperti orang habis kerasukan. Rayi hanya mampu menunjuk foto tersebut dengan ujung jari.

Sang ibu mengelus kepala buah hatinya, ia menceritakan tentang sosok IR Raboeni, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan nenek dari Rayi. Selama ini mereka hanya mengenalkan beliau di dalam foto sebagai Eyang Bun. Juga tidak pernah mengajak mereka ke makam untuk ziarah. IR Raboeni adalah penyanyi keroncong yang salah sasaran. Ia sebenarnya sangat mencintai republik ini dan menolak ikut dalam hiruk-pikuk politik yang menjengkelkan. Hanya saja ia tidak punya pilihan lain ketika mendapatkan kesempatan menjadi penyanyi keroncong tapi lewat Lekra. Ia pikir tidak akan ada masalah jika ia hanya menggunakannya sebatas berkarya. Kondisi politik tahun 65’ membuyarkan segalanya, ia ditangkap tak lama setelah melahirkan ibu Rayi. Dijemput paksa karena dituduh terlibat aktivitas sebagai anggota partai komunis. Ia tidak pernah kembali sejak saat itu. Rayi menunduk, mulutnya bungkam. Diambilnya handphone, suara dering terdengar dari jauh, “Mon, batalkan acaranya, bilang pada anak sombong itu kita akan kembalikan uangnya.” tutup Rayi. Matanya tertuju pada mata sang ibunda, seketika di kepalanya syair lagu “ Sampai Toea” mengalun perih penuh kesedihan.

Penulis

  • Faisal Fadhli. Lulusan Fakultas Hukum yang menyukai seni, film, olahraga serta sejarah. Dikenal dengan nama pena GoresTerka, sekarang sedang menekuni dunia kepenulisan. Terutama cerpen, sudah menulis sejak remaja dan mulai mengirimkan karya di tahun 2022.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nuriman N. Bayan Puisi

Pantai yang Menyerah dan Puisi Lainnya

Apacapa Indra Nasution

Pengaduan Orang-Orang Pinggiran

Ana Khasanah Buku Ulas

Ulas Buku: Mengabdi Adalah Seni Menjelajahi Diri

Apresiasi Kampung Langai

Jingle Festival Kampung Langai

Advertorial Apacapa Moh. Imron

Ji Yoyok Peduli Disabilitas

Puisi

Leppet Madhura dan Puisi lainnya

fulitik masrio

Relawan Mas Rio Bagikan 50 Ribu Kalender Patennang untuk Masyarakat Situbondo

Mundzir Nadzir Puisi

Puisi: Kembara Rindu

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Menumbuhkan Produktivitas Desa Melalui Segi Perekonomian

Advertorial

Atur Keuangan Anda dengan Baik

Apacapa

Produktivitas dan Dua Kawan

Apacapa

Pantas Saja Terkena Bencana: Analisis Wacana di Tiktok Ketika Komentar Netizen Membingkai Musibah sebagai Hukuman di Sumatera

Apacapa Kampung Langai Situbondo

Abâli Polè Ka Kampung Langai

Faris Al Faisal Puisi

Puisi: Merangkak Patuh

Apacapa Ikhsan

Situbondo Mau Maju, Kamu Jangan Nyinyir Melulu

M.Z. Billal Puisi

Puisi: Hujan Pukul 12.30

fulitik

Editorial: Wisata Perang, Babak Baru Pariwisata Situbondo Gagasan Mas Rio-Mbak Ulfi

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Karya Rupa Generasi Mawas Diri

Hari Alfiyah Puisi Sastra Minggu

Puisi: Artefak Kesedihan Karya Hari Alfiyah

Cerbung Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 2)