Iran-Israel: Perebutan Kekuasaan dan Solidaritas dalam Perspektif Ashabiyah Ibn Khaldun

Ilustrasi

Meningkatnya ketegangan global antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, bisa dianggap sebagai persoalan program nuklir atau perang militer. Padahal perang antar negara tersebut tidak terjadi baru-baru ini, melainkan ada akar permasalahan yang akhirnya menjadi konflik berkepanjangan. Pada dasarnya, akar dari konflik perang antara ketiga negara tersebut jauh lebih dalam dan kompleks, berakar dari sejarah panjang sejak Iranian Revolution pada tahun 1979. Pada tahun tersebut terjadi pergantian rezim atau kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi (monarki), menuju kepemimpinan Ayatullah Khomaini (Republik Islam). Perubahan tersebut mengubah sistem pemerintahan domestik, dan mengubah total arah kebijakan luar negeri Iran. Dari semula menjadi sekutu Barat terutama Amerika Serikat dan memiliki hubungan strategis dengan Israel, kemudian memicu konflik berkepanjangan hingga saat ini, yang mengubah hubungan negara sekutu menjadi musuh yang berkembang melalui perang proksi, rivalitas ideologi, hingga benturan kepentingan geopolitik di Timur Tengah.

Konflik antara Israel, Iran,dan Amerika dapat dianalisis menggunakan konsep Ashabiyah dalam karya Muqaddimah oleh Ibn Khaldun. Ashabiyah dalam pemikiran Ibn Khaldun merujuk pada solidaritas sosial yang kuat pada suatu kelompok, yang menjadikan kelompok tersebut membangun, mempertahankan, dan memperluas kekuasaan politik. Ashabiyah juga dapat dimaknai sebagai solidaritas sosial yang menekankan pada kesadaran, kepaduan, dan persatuan kelompok. Menurut Ibn Khaldun, dinamika kekuasaan sejarah seringkali ditentukan oleh solidaritas kolektif kuat pada suatu kelompok dalam menghadapi kelompok lain yang masing-masing memiliki kepentingan berbeda. Tanpa adanya Ashabiyah, maka keberlangsungan dan eksistensi suatu negara akan sulit terwujud. Bisa dikatakan bahwa Ashabiyah merupakan kunci lahirnya sebuah negara, karena jika konsep Ashabiyah melemah maka kekuatan negara akan terancam. Oleh karena itu dalam kacamata Ashabiyah, konflik politik tidak hanya dapat dilihat sebagai pertarungan ekonomi atau militer, tetapi sebagai persaingan antara kelompok yang memiliki ikatan solidaritas kuat dalam mempertahankan dominasi.

Konteks konflik antara Iran dan Israel adalah pertarungan antara dua bentuk Ashabiyah yang berbeda. Iran membangun identitas baru setelah adanya Iranian Revolution yang berlandaskan pada solidaritas ideologi revolusi Islam. Selain berfungsi sebagai alat legitimasi politik domestik, solidaritas ini juga menjadi dasar upaya Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Iran berusaha membangun jaringan solidaritas transnasional dengan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan politik sejalan, sehingga terbentuk blok kekuatan yang menantang dominasi kekuatan lain di kawasan tersebut. Salah satu contoh nyata dari Ashabiyah Iran adalah ketika gugurnya pemimpin utama Iran yakni Ayatullah Khomaini, menjadikan solidaritas kolektif masyarakat Iran menjadi semakin kuat dan menambah semangat perjuangan untuk mempertahankan strategi Iran dalam menghadapi negara musuh dalam hal ini adalah Israel dan Amerika  Serikat. Iran menentang campur tangan Amerika Serikat yang tidak menyetujui ditunjuknya Mojtaba Khomaini sebagai pemimpin tertinggi Iran saat ini, untuk menggantikan ayahnya yakni Ayatullah Khomaini.

Di sisi lain, Israel juga memiliki Ashabiyah yang kuat dan terbentuk dari solidaritas nasional, identitas kolektif, dan pengalaman historis yang berkaitan dengan konflik keamanan. Adanya solidaritas Israel ini, memperkuat legitimasi negara dalam mempertahankan kebijakan keamanan yang ketat juga memperkuat dukungan masyarakat terhadap strategi militer dan politik yang bertujuan menjaga keberlangsungan negara. Sedangkan Amerika Serikat, berperan sebagai pendukung pada Israel sebagai bentuk perluasan solidaritas politik dan strategis yang memperkuat posisi Israel dalam struktur kekuasaan regional.

Pada konteks konflik yang masih memanas ini, Ashabiyah dapat dilihat dari beberapa peristiwa antara Iran, Israel dan sekutunya Amerika Serikat. Peristiwa awal yang memicu perang hingga saat ini adalah serangan Israel terhadap fasilitas Iran yang dianggap sebagai tempat pengembangan senjata nuklir, dan kemudian dibalas serangan balik oleh Iran terhadap Israel dengan mengirimkan rudal dan drone secara masif. Peristiwa saling serang tersebut menunjukkan kuatnya solidaritas nasional dan ideologis dalam mempertahankan kedaulatan masing-masing. Ashabiyah Israel semakin ditegaskan dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi militer bersama Israel. Keterlibatan tersebut mencerminkan berkembangnya solidaritas aliansi yang memperkuat posisi geopolitik, jadi tidak hanya terbatas pada internal negara. Ashabiyah juga dapat melampaui batas teritorial, yakni terorganisirnya solidaritas transnasional. Sebagai contoh adalah ketika kelompok proksi Houthi di Yaman yang juga ikut terlibat ketika iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk. Dalam situasi ini, Iran menjadi pusat jaringan solidaritas ideologis, jadi tidak hanya bertindak sebagai negara. Adapun Israel bersama Amerika Serikat melakukan kerja sama demi memperkuat koalisi militernya dan pembentukan aliansi baru di kawasan. Dengan demikian konflik antara Iran dan Israel bukan lagi pertentangan antar negara, melainkan benturan antarblok solidaritas dengan Ashabiyah masing-masing yang kuat.

Konflik ini menurut perspektif Ibn Khaldun, mencerminkan persaingan antara berbagai bentuk Ashabiyah yang berusaha mempertahankan serta memperluas pengaruh politiknya. Iran berusaha membangun solidaritas regional yang dapat menantang dominasi kekuatan Barat dan sekutunya, sedangkan Israel dan Amerika Serikat berusaha mempertahankan struktur kekuasaan yang telah ada di kawasan Timur Tengah. Dengan demikian, konflik ini terjadi tidak hanya berkaitan dengan isu nuklir atau keamanan, melainkan juga mencerminkan pertarungan solidaritas kolektif yang masing-masing berusaha membangun dominasi dalam tatanan geopolitik regional.

Melalui perspektif Ashabiyah yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika serikat ialah sebagai dinamika historis kelompok-kelompok dengan solidaritas kuat, yang berusaha memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Solidaritas ini seringkali diperkuat oleh faktor ideologi, agama, serta kepentingan geopolitik yang saling terkait sehingga membentuk identitas kolektif yang kuat. Konflik tersebut menunjukkan bahwa solidaritas kolektif tidak hanya membentuk identitas politik suatu negara, tetapi juga menjadi kekuatan utama yang mendorong kontestasi kekuasaan dalam sistem politik internasional. Hal ini menunjukkan, semakin kuat Ashabiyah yang dimiliki suatu negara, kelompok, atau aliansi, maka semakin besar pula kemampuan kelompok tersebut untuk memperluas pengaruh dan mendominasi aktor lain dalam percaturan geopolitik global. []

Penulis

  • Alvina Fatimatuzzahroh, mahasiswa S2 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tertarik dengan bidang sosial dan bergabung dengan program studi sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prosa Mini

Cerita: Ikan Asap

Cerpen M Ivan Aulia Rokhman

Cerpen : Kehilangan Tas di Kota Pasundan Karya M Ivan Aulia Rokhman

Buku Penerbit Ulas

Buku: Saudade dan Cerita Lainnya

Catatan Perjalanan Ngaleleng Nur Faizah Wisata Situbondo

Gunung Panceng Adventure

Apacapa Sholikhin Mubarok

Islam Nusantara Adalah Representasi Islam Universal

Cerpen Eko Setyawan

Cerpen – Ada Sesuatu yang Telah Dicuri dari Tubuhku, Entah yang Mana

fulitik hans

Patennang! Honorer Pemkab Situbondo yang Dirumahkan Bakal Direkrut Koperasi Merah Putih Loh

Cerpen

Cerpen: Apakah Rumah Perlu Dikosongkan?

gemalaguna Prosa Mini Puisi

Gemalaguna dalam Kata-Kata

Agus Hiplunudin Apacapa Feminis

Hantu Kunti Lanak dan Kelong Wewek Mencitrakan Karakter Perempuan

Cerpen M Firdaus Rahmatullah

Cerpen: Enam Cerita tentang Kenangan

M.Z. Billal Puisi

Puisi: Hujan Pukul 12.30

Apacapa mashudi

Gerbang Faqih fid Din

Apresiasi Musikalisasi Puisi

Musikalisasi Puisi – Apa Kabar?

Cerbung Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 2)

Cerpen

Cerpen: Pasang

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen – Fragmen Nalea

BJ. Akid Puisi

Ayat-Ayat Luka dan Puisi Lainnya Karya BJ. Akid

apa esa Moh. Imron

Burombu: Sebuah Tema Kampung Langai 6

Cerpen Romi Afriadi

Cerpen: Penjara