Situbondo Mau Maju, Kamu Jangan Nyinyir Melulu

Penulis: Ikhsan*


Saya menulis ini
dengan perasaan yang gembira. Karena rujak kuah pindang khas Bali laris manis.
Betul, itu produk usaha saya yang lahir atas serangkaian pertemuan saya dengan
Mas Rio, mentor bisnis yang memberanikan saya untuk berani memulai usaha.

 

Kamu kalau mau order WA saja. Cabe 1, 2, 3 boleh. Pedas mantap. Cukup dulu iklannya,
ya. Karena saya sebenarnya ingin bilang begini. Tolong yang suka nyinyir simak baik-baik. 


Kepulangan Mas Rio ke Situbondo
membawa geliat perubahan yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ikhtiarnya
kepada kota yang kita cintai ini, dengan kesederhanaannya yang khas, kini
sedang merajut asa melalui serangkaian inisiatif yang membawa angin segar bagi
masyarakat.

 

Kepemimpinan saat
ini, saya rasa tak hanya hadir dalam retorika, namun menjelma dalam aksi
konkret yang melibatkan garda terdepan motor berani berubah: para pemuda. Bukan
sekadar pajangan, anak-anak muda Situbondo kini memegang peran sentral dalam
memajukan kota kelahirannya.


Dukungan penuh patut
kita berikan pada setiap ikhtiar yang mengarah pada kemajuan, sebab memang tak
sedikit pekerjaan rumah yang menanti sentuhan perbaikan. Alih-alih terus
berkutat dengan nyinyiran tak berujung, mari kita telaah bersama, apa saja
fondasi kemajuan yang tengah diletakkan oleh nahkoda Situbondo saat ini?

 

Jawabannya adalah:

 

Pertama. Growth Mindset sebagai Langkah Awal. Untuk kamu yang belum terbiasa mendengar istilah itu. Sini
baca baik-baik.
Growth
Mindset

itu
keyakinan bahwa kemampuan dan
kecerdasan seseorang dapat dikembangkan melalui dedikasi, kerja keras, dan
ketekunan.
Nah dari awal pulang ke Situbondo, Mas Bupati sudah bengok-bengok
soal itu. Harapannya ya banyak anak muda yang percaya
diri bahwa tantangan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang, kegagalan
adalah umpan balik yang berharga, dan usaha adalah jalan menuju penguasaan. Begitu,
Bro.
.

 

Kedua. Dunia
literasi mulai diperhatikan.
Soal ini, tidak perlu saya jelaskan panjang lebar,
sebab teman-teman bisa menyaksikan sendiri di akun resmi sosial media Mas
Bupati. Tapi kalau boleh saya bertanya-tanya, “Apakah ada bupati
sebelumnya yang menaruh perhatian yang sama terhadap perkembangan literasi di
Situbondo?” Jika tidak ada, maka nikmatilah. Dan bersyukurlah. 

 

Ketiga, Kepedulian
terhadap pelaku UMKM.
Ini bukan hanya sekadar kepedulian tanpa tindakan nyata.
Siapapun yang produk usahanya ingin dikenalkan ke khalayak ramai, Mas Bupati
dan Mbak Una siap mengendorsenya. Coba deh kamu cek medsosnya. Selain itu,
koneksi antar pelaku UMKM mulai terlihat. Itu disebabkan karena adanya grup WA
khusus pelaku UMKM yang ingin memamerkan jualannya. So, masihkah kamu bilang
Mas Bupati gak punya solusi? Kaso, Bro.

 

Dan terakhir. Membangkitkan
Kembali
Pesona Pariwisata.
Situbondo sebenarnya kaya akan surga
wisata yang tersembunyi. Kemarin-kemarin, potensi ini seolah tertidur lelap
karena kurangnya sentuhan perawatan. Namun, angin segar kini datang. Di bawah
kepemimpinan Mas Rio, geliat untuk membangkitkan kembali destinasi-destinasi
wisata yang sempat terlupakan mulai terasa.

 

Langkah nyata sedang
diayunkan untuk memoles kembali keindahan alam dan budaya Situbondo,
menjanjikan wajah pariwisata yang lebih memesona di masa depan. Kamu cek deh
aktivitas terakhir Mas Rio dan Mbak Una di medsosnya.

 

Jadi, mari kita dukung
penuh apapun yang sudah menjadi program bupati hari ini. Selama itu untuk
kebaikan Situbondo, kita perlu membersamainya. Mateppak areng-bhereng.  

 

Tapi saya menyadari
juga kok bahwa perbedaan pendapat dan kritik adalah bagian tak terpisahkan dari
sebuah perjalanan. Namun, alangkah lebih elok jika setiap lontaran kritik
diiringi dengan sumbangsih pemikiran yang konstruktif atau bahkan aksi nyata
yang membawa dampak positif bagi kemajuan Situbondo ke depan. Baik sekali kalau
kita kedepankan kolaborasi, bukan sekadar konfrontasi apalagi hanya nyinyir
melalui tulisan yang tak berangkat dari argumen yang sehat. 
Salam Rujak Kuah
Pindang!

Jadi rujaknya mau cabe berapa, Bro?

 

___

*) Penulis merupakan
pendiri Komunitas Tore Maca.


Editor: Hans.  

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Apakah Menjadi Ibu Dilarang Sambat?

Puisi Sidik Karim

Puisi: Negeri Atalan

Alexong Cerpen Dody Widianto

Cerpen: Nyallai Siwok

Ilyana Aziziah Mored

Membuat Gulali Bersama Teman

Uncategorized

Lauching dan Diskusi Buku Menanam Rindu

Apacapa

Membentuk Ruang Penyadaran Melalui Lingkar Belajar Feminisme Situbondo

Apacapa

Setelah Bapak Mandi

Agus Hiplunudin Cerpen

Cerpen Maha Dewi

Apacapa Madura

Kèta’ Kèdhung

Apacapa Gus Faiz

Gus Fahruddin Faiz Jalan-Jalan ke Baluran Situbondo Jelang Ngaji Literasi

Cerpen Yuditeha

Cerpen: Berhenti Bekerja

Curhat

Selimut Air Mata

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Pertunjukan Teater, Setelah Sekian Lama

Uncategorized

Cerpen: Gerimis dalam Ingatan

Choirun Nisa Ulfa Prosa Mini

Prosa Mini – Irama Kematian

Agus Hiplunudin Apacapa

Rahasia Hidup Bahagia Ala-Kaum Stoik

Anwarfi Citta Mandala Puisi

Puisi-puisi Citta Mandala

Apacapa Esai Yogi Dwi Pradana

Resepsi Sastra: Membandingkan Mundinglaya Di Kusumah dari Ajip Rosidi dan Abah Yoyok

Buku Indra Nasution Ulas

Ulas Buku: Manusia dalam Genggaman Media

Cerpen

Cerpen: Harimau dan Gadis Kecil