Ulasan Ugal-Ugalan tentang Romila dan Kutukan Ingatan

Pada
mulanya Alif begitu kesepian, maka lahirlah Romila
dari
setumpuk kata-kata dan tisu yang seluruhnya basah.

Romila
bercerita kepada saya, bahwa sewaktu menulis dirinya, ada detik-detik di mana
Alif menggetarkan semesta Cerita Pendek yang tengah dibangunnya.
โ€œBukalah
halaman persembahan, Mas. Ada kalimat pendek yang susah payah ia tuliskan di
sana.โ€
Saya
pun membuka halaman yang Romila maksud, kemudian menemukan kalimat pendek itu: Sebuah kado di hari pernikahanmu.
โ€œSiapa
yang menikah?โ€
Romila
menghilang.
โ€œRomilaโ€ฆ
Romilaโ€ฆ di mana kamu?โ€
Dari
balik pintu pada halaman sampul, ia muncul dan menampakkan separuh bagian
tubuhnya, โ€œMaaf, Mas. Barusan masih mandi.โ€
โ€œBoleh
aku masuk?โ€
โ€œTentu.โ€
Seketika
saya menemukan sebuah stasiun kereta, dengan langit senja yang berwarna oranye
seperti daging melon yang tengah saya kunyah. Ada 22 jalur dengan lokomotif dan
gerbong warna-warni serta tujuan masing-masing. Romila menggamit lengan saya.
Mengajak berkeliling stasiun dengan rambut tergerai dan pipi yang memerah.
Seketika saya tahu, Alif mempunyai imajinasi yang bagus.
โ€œMau
ke mana, Mas?โ€
โ€œTerserah,
asal bukan halaman pengantar.โ€
โ€œKenapa?โ€
โ€œKan
sudah diantar kamu.โ€
โ€œMasak
di-skip sih, Mas?โ€
โ€œPaling-paling
Alif Cuma curhat di sana.โ€
Romila
tertawa renyah sembari menggamit lengan saya makin lekat.
โ€œBaiklah
kita ke cerita pertama.โ€
Saya
menemukan sebuah rumah yang sejuk di bawah rimbun pohon beringin. Seorang anak
perempuan kecil menggenggam bunga tampak bercakap dengan laki-laki tua. Entah
apa yang mereka bicarakan. Oh, di bawah beringin itu ada sebuah gundukan tanah.
Seperti makam seseorang yang teramat dicintai.
โ€œApa
yang mereka berdua lakukan, Romila?โ€
โ€œDi
hari ulang tahun istrinya, laki-laki itu menulis cerita sementara anak kecil
itu tidak sabar ingin menaburkan bunga di pusara ibunya.โ€
โ€œCerita
yang sedih, bisakah kita lanjut?โ€
โ€œTentu
saja, Mas.โ€
Selanjutnya,
saya melihat dua anak kecil yang sedang menyeberang, menjemput seorang
laki-laki yang sedang asyik menjadi narator.
โ€œItu
cerita tentang apa?โ€
โ€œBanjir
Situbondo tahun 2008. Emmโ€ฆ Kita lanjut saja, ya, Mas.โ€
โ€œKenapa?โ€
โ€œAku
takut hantu.โ€
Lalu,
saya menyaksikan seorang perempuan yang pada waktu sehabis subuh tergesa-gesa
menuju stasiun.
โ€œKenapa
perempuan itu terburu-buru?โ€
โ€œAgar
kepergiannya tidak disadari oleh keluarganya, Mas. Ia perempuan yang telah
bersuami dan memiliki anak.โ€
โ€œMemangnya
mau ke mana?โ€
โ€œBertemu
mantan kekasihnya.โ€
โ€œSialan.โ€
โ€œBukankah
cinta adalah tentang meninggalkan dan ditinggalkan, Mas.โ€
โ€œSiapa
yang mengajarimu berkata begitu?โ€
โ€œAlif.โ€
โ€œHmmโ€ฆ
Lalu, apa yang kemudian terjadi dengan perempuan itu?โ€
Romila
diam, menggeleng dengan mata terpejam. Saya menyaksikan sendiri bagaimana di
akhir cerita, perempuan itu mengalami kejadian yang sebaiknya tidak saya
ceritakan. Suaminya menangis. Anaknya menangis. Masihkah harus saya tegaskan
jika ini adalah cerita sedih?
โ€œMau
lanjut, Mas?โ€ tanya Romila kepada saya, sambil mengusapkan tisu pada pipinya
yang kali ini basah.
โ€œTidak.โ€
โ€œKita
baru saja melewati tiga cerita, masih ada sembilan belas cerita lagi.โ€
โ€œBisakah
kamu keluar sebentar, Romila? Makan bakso di Alun-Alun, atau kita cari warung
pecel. Aku lapar. Butuh makan dan ngopi.โ€
โ€œTidak
bisa, Mas. Nanti Alif marah.โ€
Maka,
saya keluar dari semesta kumpulan cerita pendeknya Alif. Meninggalkan Romila
beserta tokoh-tokoh lain di dalamnya. Sebenarnya saya tidak tega. Tapi apa
boleh buat. Saya lapar.
Jadi,
pembaca sekalian. Bisakah kalian membeli kumpulan cerita pendek ini kemudian
melanjutkan catatan ini sambil menemani Romila bercerita? Sama seperti Alif,
pasti ia sangat kesepian.
Situbondo,
08 Maret 2019
Ahmad Zaidi

Penulis

  • Ach. Zaidi

    Bapaknya Ayesha. Penulis buku kumpulan cerpen Mata Ingatan (2024)


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fulitik

Diserbu Peserta Jalan Santai Bareng Mas Rio, Bakso Agung Talkandang Raup Omzet Jutaan

Puisi Servasius Hayon

Puisi: Minggu Pagi di Ruang Depan

Apacapa

11 Rekomendasi dalam Kegiatan Temu Inklusi ke 5

Buku Indra Nasution Ulas

Tiga Sosok Perempuan Nabi

Advertorial

Perkembangan Tipe-tipe Kamar Mandi

Apacapa fulitik Rasyuhdi

GOR BK Itu Narsisme Politik Saja Sih

Dani Alifian Puisi

Puisi: Tamadun Semu

Ahmad Zaidi Cerpen

Kematian Bagi Kenangan

Apacapa

Perangkat Desa Memang Pekerjaan Idaman Mertua, Tapi Realitanya Tidak Semanis itu, Kawan

Apacapa apokpak N. Fata

Cahaya Literasi dari Ujung Langit Baluran

Apacapa apokpak N. Fata

DPRD Menggonggong, Pak Karna: Ngutang PEN Jalan Terus

Apacapa Kuliner Situbondo

Lontong Ceker: Cocok untuk Sarapan dan Makan Siang

Mored Nurmumtaz Sekar Ramadhan

Cerpen Mored: Secangkir Kopi

Dewi Masithoh Syarafina Khanza Digananda

Serunya Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Menulis Cerpen Hasil ToT

Puisi Wilda Zakiyah

Puisi: Sapardi, Selamat Jalan Menuju Keabadian

Alex Buku Ulas

Membaca Dawuk : Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Situbondo : City of Sellow

Apacapa Denny Ardiansyah

Ode untuk Orde Pak Dadang

Apacapa

Dadang Wigiarto; Bupati Religius itu Berpulang

Agus Hiplunudin Puisi

Pendulum Rindu dan Puisi Lainnya Karya Agus Hiplunudin