Setelah Ujung Jalan Daendels: Refleksi Panarukan dalam Serat Darmagandhul

Enkele schepen op de rede van Panaroekan, aan Straat Madoera, Oost-Java

Di antara berbagai teks sastra klasik Jawa, Serat Darmagandhul adalah salah satu yang paling unik dan penuh teka-teki. Serat itu tak hanya memuat kisah transisi antara Hindu-Buddha ke Islam di tanah Jawa, tetapi juga menyingkap pergeseran makna dalam lanskap budaya, sosial, politik, dan spiritual masyarakat Jawa kala itu. Salah satu fragmen yang membuat kita ter-mention dalam teks ini menyebut “Panarukan”, sebuah kecamatan kecil di ujung timur Jawa, sebagai tempat persinggahan Sang Prabu Brawijaya dan Sunan Kalijaga dalam perjalanan batinnya yang penuh simbolik.

“Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawengen ana ing dalan, nyare ana ing Sumberwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srengenge, wis tekan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbung diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.”

Fragmen tersebut terlihat sederhana, berisi kisah seorang raja dan dua pengikutnya yang melanjutkan perjalanan, kemudian singgah di beberapa tempat, salah satunya Panarukan, dan mengecek keharuman air dalam bumbung (wadah bambu) sebagai penanda keadaan goncangan batin. Namun jika kita berhenti sejenak dan merenung, apa sebenarnya makna dari “Panarukan” dalam teks ini? Mengapa nama tempat ini yang disebut, bukannya kota besar seperti Surabaya atau Banyuwangi? Mengapa Panarukan?

Secara geografis, Panarukan adalah kota pesisir di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Letaknya strategis, menjadi pintu gerbang ke ujung timur Jawa sebelum menyeberang ke Bali. Namun yang menarik, Panarukan juga terkenal dalam sejarah kolonial sebagai titik akhir pembangunan Jalan Raya Pos (Anyer–Panarukan) oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19. Panarukan, dengan demikian, memegang peran sebagai titik batas, bukan hanya secara fisik dalam konteks pembangunan kolonial, tetapi juga dalam narasi simbolik Jawa.

Dalam Serat Darmagandhul, perjalanan Brawijaya tidaklah sekadar perjalanan jasmani, tetapi juga semacam ritual panjang menuju penyadaran diri, bahkan penebusan spiritual. Keharuman air dalam bumbung menjadi penanda bahwa sang raja belum “tercemar” oleh godaan duniawi. Ia masih menjaga kejernihan batin. Maka ketika keharuman itu tetap bertahan di Panarukan, ini adalah isyarat kuat bahwa Panarukan bukan tempat kejatuhan, melainkan tempat peneguhan.

Air dalam teks tersebut menjadi medium spiritual. Dua jenis air dibawa: satu yang telah didoakan oleh Sunan Kalijaga, dan satu air biasa. Keduanya menjadi semacam indikator moral sekaligus cermin jiwa dari Sang Prabu. Ketika air tetap harum setelah semalam, maka itu adalah lambang bahwa Brawijaya masih lurus niat dan pikirannya. Ketika air mulai berubah bau, itulah tanda bahwa ia mulai tergerus godaan duniawi.

Di Panarukan, air tersebut masih harum. Ini bukan kebetulan. Dalam konteks ini, Panarukan dapat dibaca sebagai threshold (ambang batas) antara dunia lama dan dunia baru, yaitu sebuah ruang peralihan, tempat di mana pilihan harus ditegaskan, arah harus dipastikan, dan niat harus dimurnikan kembali. Panarukan, dalam pengertian ini, adalah ruang kontemplatif yang sangat Jawa: sunyi, tidak mencolok, sekaligus menyimpan kedalaman makna.

Mirisnya, realitas hari ini memperlihatkan bahwa Panarukan tak lagi memiliki posisi sentral dalam wacana kebudayaan Jawa. Panarukan sekadar menjadi kota lintasan, bukan sebuah destinasi. Nama Panarukan lebih banyak dikenang dalam pelajaran sejarah sebagai “ujung jalan Daendels” daripada sebagai simpul spiritual dan kebudayaan sebagaimana dalam Serat Darmagandhul. Generasi muda di Situbondo pun, barangkali, lebih akrab dengan simbol-simbol modern seperti lorong perbelanjaan, tempat nongkrong, atau wisata pantai, dibandingkan dengan kisah leluhur yang mengandung makna reflektif.

Namun di sinilah tantangannya. Justru karena keterpinggiran inilah, Panarukan perlu dibaca ulang sebagai sebuah “kebudayaan”, bahkan sebagai warisan spiritual. Bahwa dalam segala hiruk-pikuk pembangunan dan modernisasi, kita membutuhkan “Panarukan”, sebuah ruang sunyi, tempat bertanya kepada diri sendiri: siapa aku sebenarnya, dan ke mana aku harus melangkah?

Masyarakat Situbondo hari ini, terutama generasi muda, bisa mengambil pelajaran besar dari simbol Panarukan dalam Serat Darmagandhul. Bahwa pembangunan fisik perlu disertai pembangunan spiritual. Bahwa identitas bukan hanya soal tempat tinggal atau asal-usul, tapi tentang kesadaran diri terhadap sejarah dan makna hidup.

Panarukan bisa menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Sebuah titik perenungan bagi siapa saja yang ingin melanjutkan hidup dengan niat baik, dengan keharuman batin yang tak mudah hilang meski perjalanan panjang ditempuh.

Kita bisa membayangkan Panarukan sebagai tempat untuk merevitalisasi jantung ingatan publik: membangun taman budaya, pusat kajian sejarah lokal, atau bahkan festival spiritual yang merujuk pada perjalanan Brawijaya. Dengan begitu, Panarukan bukan hanya dikenang sebagai garis akhir jalan kolonial saja, tapi juga sebagai garis awal kesadaran budaya.

Serat Darmagandhul tidak menawarkan jawaban, melainkan pertanyaan. Serat itu menyodorkan fragmen-fragmen penuh simbol untuk dibaca, direnungkan, dan ditafsirkan ulang sesuai konteks zaman. Dan Panarukan, dalam sunyinya, dalam keharuman airnya, adalah pertanyaan itu sendiri. Apakah kita masih menjaga kejernihan jiwa di tengah keramaian hidup? Ataukah air dalam diri kita telah berubah tanpa kita sadari?

Panarukan, bagi Brawijaya, adalah tempat melewati malam dan menjaga kesucian. Mungkin, bagi kita hari ini, Panarukan adalah tempat untuk sejenak berhenti, dan belajar menjadi manusia.

Penulis

  • Ahmad Zainul Khofi

    Lahir di Situbondo, sedang belajar di Paiton. Dari membaca dan menulis, jadi suka jalan-jalan serius.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Imam Sofyan

Membaca atau Merayakan Kebodohan

Mored Moret Sirli Qurrota Aini

Cerpen Mored: Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina

Buku Dewi Faizatul Isma Resensi Ulas

Resensi: Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam Secara Islami

Cerpen Yuditeha

Cerpen : Sejarah Gumam

Ahmad Radhitya Alam Buku Ulas

Resensi Buku Dialog Hati Anak Negeri : Menggali Esensi Berkarya dari Sebuah Cerita

Apacapa Moh. Imron

Mara Marda: Keajaiban Datang Kemudian

Apacapa Esai Haryo Pamungkas

Ketemu Mas Menteri di Warung Kopi

Apacapa Nanik Puji Astutik

Aku Bukan Pejuang Love Cyber

Cerpen

Cerpen: Untuk Seorang Perempuan yang Hanya Kepadanya Kesedihan Bertempat

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Posisi Komunitas Muda Kreatif Situbondo dalam Revolusi Industri 4.0

Puisi Yohan Fikri Mu’tashim

Puisi: Ruang Dimana Kita Bisa Abadi

Apacapa Baiq Cynthia

Memvisualkan Literasi Menjadi Budaya

Apacapa Imam Sofyan

Pak Kepala Desa, Belajarlah dari Film Dunia Terbalik!

Apacapa

Kuliner yang Digemari saat Ramadan: Rekomendasi Menu Favorit dan Makna di Baliknya

Apacapa mashudi

Gerbang Faqih fid Din

Ahmad Sufiatur Rahman Apresiasi

Puisi Relief Alun-Alun Situbondo

Apacapa Esai Ihsan

Jejak Dua Pemuda: Rio Prayogo dan Mohammad Farhan

Mareta C. Widodo Mored Moret

Puisi Mored: Senapan Pak Nidin dan Puisi Lainnya

Cerpen Ruly R

Cerpen Kota Tanpa Telinga

Cerpen Dody Widianto

Cerpen: Pengilon Kembar