Realitas Paliatif, Situbondo, dan Kota yang Sangat Sederhana

Sekitar pertengahan 2024, di sebuah ruang kelas kampus Islam negeri di Jember, saya dan beberapa kawan terlibat diskusi yang cukup berat tapi justru membekas sampai sekarang. Topiknya tentang pemikiran Jean Baudrillard, seorang filsuf Prancis yang terkenal dengan konsep hyperreality. Tapi anehnya, yang paling melekat di kepala saya justru bukan hyper realitasnya, melainkan satu istilah lain: realitas paliatif*.

Sederhananya, realitas paliatif itu seperti kondisi pasien yang sudah divonis sulit sembuh. Sakit akut dan hanya menunggu ajal. Realitas paliatif itu seperti upaya untuk membuat pasien fokusnya bukan lagi menyembuhkan, tapi meredakan rasa sakit.

Realitas paliatif bukan lagi soal “bagaimana sembuh”, tapi “bagaimana bertahan dengan lebih tenang”. Bagaimana tubuh bisa menutup mata dengan tentram tanpa ada penyesalan.

Dan entah kenapa, konsep itu terasa sangat dekat ketika saya memikirkan Situbondo, kota kecil kelahiran saya.

Situbondo: Kota Sederhana yang Sebenarnya Sakit Parah

Kalau kita jujur, Situbondo bukan kota yang sering muncul dalam daftar kota berkembang pesat. Bahkan sebaliknya. Selama bertahun-tahun, Situbondo selalu konsisten dengan posisi terbawah dalam daftar UMK di Jawa Timur. Situbondo itu lebih mirip seperti Wolves atau Burnley yang suka terdegradasi dari EPL. Beda dengan Emyu yang kadang masih bisa bhug-ghlubhug. Eh, kok tiba-tiba bahas King Emyu. Izinnnn.

Kondisi Situbondo itu memang sangat mengkhawatirkan dan memunculkan pertanyaan yang sangat menohok: kalau hidup di kota dengan peluang terbatas, apa yang bisa diharapkan di Situbondo?

Di titik tersebut, Situbondo seperti berada dalam “realitas paliatif”-nya sendiri. Pilihannya terasa sempit. Antara melanjutkan kondisi yang serba terbatas, atau mencari cara untuk “menenangkan diri” di tengah ketidakpastian dan kemudian menutup mata dengan ketenangan.

Mau buka usaha? Tantangannya banyak. Ekonomi Situbondo? Lesu dan tidak stabil sekali. Peluang kerja? Sangat amat terbatas, apalagi tidak punya orang dalam.

Jadi, wajar kalau banyak orang Situbondo kemudian memilih untuk sekadar bertahan. Tidak berharap terlalu tinggi, agar tidak terlalu kecewa. Bahkan, tak sedikit yang memilih merantau dan bertaruh untuk hidup yang lebih baik di kota lain.

Tapi di tengah kondisi seperti itu, satu hal mulai berubah sejak Mas Rio terpilih sebagai Bupati Situbondo masa jabatan 2025-2030.

Awalnya, jujur saja, tidak semua orang langsung yakin terhadap Mas Rio. Pria bernama lengkap Yusuf Rio Wahyu Prayogo, atau yang lebih akrab disapa Mas Rio itu datang dengan slogan yang sederhana: Patennang.

Kalimat itu terdengar ringan, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk ukuran sebuah janji politik. Tapi  entah kenapa, kata itu terasa memiliki magisnya sendiri.

Karena bagi masyarakat yang sudah terlalu lama berada dalam tekanan, “ketenangan” bukan hal kecil.

Saya pribadi awalnya juga ragu. Bahkan sempat berpikir, “Apa iya orang ini bisa mengubah keadaan?” Tapi waktu berjalan, dan perlahan, perspektif itu berubah.

Satu tahun berlalu, dan Situbondo mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Bukan perubahan yang instan atau dramatis. Tapi perubahan yang terasa nyata.

Masalah penimbunan BBM mulai ditangani dengan tegas. Aspirasi masyarakat tidak lagi hanya berhenti di obrolan warung kopi, tapi benar-benar direspons melalui media sosial yang aktif dan interaktif. Ketika banjir melanda Besuki, respons yang diberikan bukan sekadar formalitas, tapi hadir dengan empati dan tindakan nyata.

Di momen-momen itu saya mulai sadar, mungkin ini bukan lagi soal “meredakan rasa sakit”. Tapi perlahan, sudah masuk tahap penyembuhan. Dan, kemudian bangkit di esok hari.

Dari Paliatif Menuju Harapan: Selamat Ulang Tahun Mas Bupati

Menariknya, perubahan itu tidak hanya datang dari kebijakan besar, tapi juga dari hal-hal sederhana yang menyentuh kesadaran kolektif.

Salah satu momen yang cukup berkesan terjadi menjelang ulang tahun Mas Rio pada 30 Maret 2026. Biasanya, momen seperti ini identik dengan perayaan, ucapan selamat, atau bahkan seremoni yang berlebihan.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih menerima hadiah, Mas Rio mengajak masyarakat untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih bermakna: membeli bibit pohon dan menanamnya, khususnya di daerah rawan banjir di wilayah pegunungan Situbondo.

Sederhana? Iya. Tapi dampaknya? Besar sekali.

Karena ajakan itu bukan semata tentang menanam pohon. Tapi tentang menanam kesadaran. Tentang mengubah cara pandang masyarakat, dari sekadar menunggu solusi, menjadi bagian dari solusi itu sendiri.

Hari ini,  Situbondo tidak lagi terasa seperti kota yang hanya bertahan dan bersiap menunggu waktu memejamkan mata. Tapi, Situbondo mulai bergerak menjadi kota yang punya arah. Punya tujuan. Punya mimpi yang besar sekali.

Sekali lagi. Selamat ulang tahun Mas Bupati. Mari terus bangun Situbondo menjadi lebih baik lagi.

Wallahu a’lam bisshawab.

*) Jean Baudrillard, Simulacres et Simulation (Prancis: Éditions Galilée, 1981).

Penulis

  • Agus Miftahorrahman, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam di STAI Cendekia Insani Situbondo. Pribadi yang suka menulis cerita, berkebun, dan menonton Arsenal di akhir pekan. Dapat dikunjungi di rumah mayanya www.rahmankamal.com.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Sudahkah Anda Konsisten?

Apacapa

Pilkada Situbondo dalam ‘Perang’ Musik Anak Muda

Uncategorized

Puisi – Elegi Nasib Kami

Apacapa fulitik matrais

GOR BK Serius Amat, Ini Usulan Nama Alternatif yang Patut Dipertimbangkan

Advertorial Tips/Trik

Jaga Kesehatan Tubuh dengan Mencegah Penyakit Sistem Pencernaan

Cerpen Irfan Aliefandi Nugroho

Cerpen: Tubuh Berkarat

Apacapa

Jika Tidak Mampu Menjadi Pandai, Setidaknya Jangan Pandir

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen: Tanjung Kesedihan

Apacapa Feminis Irham Kahfi Yuniansah

Diskursus Feminisme Jawa: Kekuasaan dan Laku Spiritual

Apacapa Esai Khossinah

Dari Secagkir Kopi ke Minuman Instan

Apacapa Wahyu Umattulloh Al’iman

Langganan Kebakaran Hutan dan Alih Fungsi Lahan, Derita atau Bahagia

Apacapa Sururi Nurullah

Fashion dan Berbagai Dampaknya

Hardiana Mored Moret Puisi

Puisi Mored: Ayah, Cinta, dan Nasihat

Fahris A. W. Puisi

Puisi – Lagu Masa lalu

Apacapa

Bahasa Puasa dan Ramadan

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Review Buku Orang-Orang Bloomington

Uncategorized

Ini Dia Perbedaan Mas Rio dan Teh Rio

Buku Ulas

Para Bajingan Yang Menyenangkan: Benar-benar Bajingan!

Ipul Lestari Puisi

Alisa, Kamulah Puisiku

Apacapa

Ngaji Syair: Merawat Sastra Keimanan