Kategori: Puisi
-
Puisi: Melepas Air Mata
Puisi-Puisi Buday AD* RISALAH PERJALANAN Pada pagi kutitikan sebuah risalah Menjaga dalam sesuka hati dan jiwa Inilah kisah saat hari pertama kujumpa Dalam sebuah perihal menapaki jalan –jalan mutiara Dengan perjuangan sekeras empat lima. Kibarkan semangat! Bersamaku Kuarungi samudera yang beriak ombak Melawan segala tantangan menghantam Dengan doa-doa terus kulantunkan Pada tuhan sedalam-dalam. Semua akan…
-
Puisi: Merakit Tidur
Puisi-puisi T. Rahman Al Habsyi Kepada Sumur Tua musim kemarau dari putih warna rambut di kepala luka-luka itu menganga air menyusur di udara kau lupa menitip rindu kepada angsa yang berenang-berenang lalu tenggelam tertanam sebuah nama pada hamparan do’a Singaraja, 2019 Menuai Rindu /1/ kau menuai rindu pagi ini aku biarkan saja sebab seluruhnya tumbuh…
-
Muharrom sè Moljâ
Oleh: DhafirAbdullah* Malem samangkèn dhisa –dhisa rammi Acara pawai dâri santrè ngajhi è masjid bân langgher bennya’ orèng ngajhi Anak yatim dhuafa è santuni Tahun baru Islam kodhu è parajâ sabâb muharrom bulân sè muljâ A ghendhu’ peristiwa sè raje Wâjib ètafakkuri muslim sadhâjâ Bulân nèka Allah nyipta langgi’ bân bhumi Rahmatta Allah toron pertama…
-
Syi’iran Madura: Caretana Ajjhi Saleh
Oleh: Dhafir Abdullah* Nèka carèta, carèta takanta Tapè hikmana kenning abâs è mata Pèrengngaghi mallè toron rahmatta Moghe manfaat dunnya kantos ahèratta Ajjhi solèh orèng sè palèng kaya Lakona ghun pèra’ a foya-foya Bânnya’ dunnyana bânnya’ kèya binina Ongghâ haji pon tak è temmu kalèna Kakananna nyaman bân kobâssa Roma bân sabâna jhâ’ luassa Kalambhina…
-
Puisi: Restu Rindu Ayah-Ibu Karya Fadhil Sekennies
Puisi Fadhil Sekennies* Restu Rindu Ayah-Ibu di pinggir jurang terjal anakmu merangkai segala doa-doa yang meski pelan-pelan detik dentang waktu seringkali menghilangkan segala harapan hariannya sebab arti kesucian hidup ternyata lebih kejam dari sejuta tusukan belati dan seribu sayatan pedang wahai Ayah-Ibu badai dan topan acapkali menghantui pengembaraan anakmu ini dan telah menjarah doa-doanya kerap…
-
Puisi: Menggambar Kenangan Karya Novy Noorhayati Syahfida
Puisi-Puisi Novy Noorhayati Syahfida Menggambar Kenangan semestinya ini pertemuan yang kedua selaksa memori berlarian di kepala bayang ingatan melambai-lambai tak kunjung reda aku asyik menggambar kenangan lama kubayangkan kau duduk di stasiun itu menungguku datang menemuimu menyambutku seperti kali pertama bertemu sebelas purnama yang lalu kemana rindu setelah sekian lama tanyaku di antara gerbong kereta…
-
Puisi: Harjakasi Karya Wilda Zakiyah
HARJAKASI Letup kembang apiRiuh ucapan di pagi hariHanya bayangan dalam lembah seremoniAku mulai dungu dengan hari kotaku sendiri Menelisik suara setujuan dan sekelumit bantahanHarusnya kotaku terlahir kembaliMerakit gedung, memapah hutan lindung, kemudian aku masuk dalam kandung. Hari ini (bukan) hari jadi kabupaten situbondoSebab kotaku tak lahirMati suri di persimpangan miris dan deru tangisTerbaring dalam pangkuan…
-
Puisi : Hujan di Tubuh Seorang Perempuan Karya Dani Alifian
pixabay Puisi Dani Alifian Resah ; Aku butuh kepastian, seperti kebanyakan pria, besar harapan pesan yang kukirimkan beberapa detik sebelum berganti hari agar cepat menemui jawaban. Aku lebih hafal kata terakhir ketimbang derajat suhu malam ini, sikapmu dingin membuat ngilu_ diluar udara sedang tidak bersepakat, hanya sunyi berkelebat sepi yang menemani. Jika risau adalah bahasa…
-
Puisi : Belikan Aku Seorang Pelacur Karya B.B. Soegiono
Puisi-Puisi B.B. Soegiono BUNGA 1998 YANG GUGUR KALA ITU banyak nyawa hilang tanpa ada kabar, tidak pula diketahui ke mana? semua menghilang begitu saja tidak tahu gerak-gerik perginya mungkin tendangan peluru dari senapan telah mengusir roh dari tubuh Yani Arif lewat kedua pelipis ataupun dari dadanya pada Sonny pun juga, mungkin gagang tembak telah menghantam setiap…
-
PUISI : Penjahit Sunyi Karya Ahmad Zubaidi
pixabay PUISI AHMAD ZUBAIDI Penjahit Sunyi Seorang laki-laki menjahit sunyi yang berlompatan dari cahaya ke cahaya Di sela dentang jam dinding berlipatan dan sebuah puisi yang ditanggalkan sendiri di bilik debu pelan-pelan jarinya menghunuskan alif diantara potongan nun bulan adalah cahaya yang tiba-tiba meretakkan diam luka dan tetes darah tak menjeda jahitannya meski angin menelan…