Cinta Bilik Hati

Orang bilang cinta itu hadir karena tatapan mata turun ke hati. Tapi, bagiku cinta itu aneh. Cukup mendengar namanya desiran halus muncul sebilik hati. Tak pernah melihat sebelumnya. Hanya sekedar nama. Tak tahu rupa, tutur kata, cara menatapnya. Bagiku sudah cukup meski hadir sebuah nama. Semua nama yang hadir tak ada sedikit yang memahami. Apa mungkin karena terlalu dalam aku mengenalnya. Pernahkan kita berjumpa sebelumnya? Tapi, dalam bentuk yang berbeda. Mungkin kita sepasang merpati yang telah melewati ribuan pulau. Menari bersama di layar langit. Saling mengikat janji setia. Tak akan melepaskan. Kau menyusupkan cincin tak bermata pada pergelangan tangan.
Oleh : Baiq Cynthia
Tapi, aku tak ingin menjadi merpati. Sendiri dalam sangkar. Melihat dari kejauhan. Setelah malam itu engkau memilih pergi. Berakhir sudah masa bisa bercengkrama. Aku cemburu pada sepasang bunga aster. Teduh namun selalu beriringan. Mungkin kita sudah terbiasa berjauhan. Kau di sana dan aku di sini menatap purnama yang sama. Tak bersua sepanjang masa penantianku.
Kemarin aku menemukanmu. Aku mendengar namamu disebut, mata kita bertaut pada keheningan. Aku merasa kepakan kupu-kupu dalam perut. Aku tak tahu apakah engkau merasakan debaran itu? Lalu aku diam-diam mencuri senyumanmu. Kau yang mampu membawa tawaku mengucur. Tanpa harus bisa mengajakmu bicara. Padahal dalam benakku, ada banyak yang ingin kuutarakan. Entah itu tentang musim hujan yang tak datang. Tapi, kehadiranmu mengajak bercanda langit hingga tertawa berderai. Ratusan kepingan air mendarat di tepat pada rambutku. Kau berlari cepat menepi, senyum tipis terbit saat itu. Kumenadah wajah pada langit. Kubiarkan ratusan peluru hujan jatuh, muka telah siap menadah.
Sesaat kemudian, kulihat dari kejauhan. Engkau tengah menerima telepon penting. Aku pikir dari seseorang yang engkau kagumi. Tetapi, samar-samar kudengar kau menyebut wanita yang telah hadirkan kau untukku. Senyum renyahmu terekam cepat. Aku tak akan melewatkan kedipan mata saat kaumengerjap. Berpikir tentang hujan yang memasung kita. Aku turut bahagia saat bisa bersama meski aku tak sendiri saat itu. Tahukah? Aku merasa potongan puzzle telah lengkap.
Gambar waru di hatimu bertemu dengan jantungku. Merekat seakan tak akan pernah lepas lagi. Bagiku, kekosongan yang selama ini melekat. Pergi berganti terisi. Sesuatu yang bernama hati datang menghampiri. Mengaku bahwa ada yang tertinggal dengan hatinya. Tak ada pilihan yang baru, ucapnya penuh penegasan.
Purnama menjadi saksi saat sentuhan ucapannya menyatakan hal yang kutunggu. Sayang sekali. Aku sadar kita berbeda dimensi. Terlalu banyak yang berbeda. Kau pemilik kastil di tengah laut. Aku hanya penjaga kerang di dasar laut. Kau memanggul lingkaran rubbi di atas rambutmu. Selendang merah tanda kebesaran menggelayut di belakang bahumu. Dalam anganku, aku bisa bersembunyi dalam selendang itu.
Aku salah duga, kedatangan puteri bermata biru dengan bibir merah muda memanggilmu dengan sebutan kekasih. Aku mengurungkan kaki untuk melangkah masuk. Badanku bersembunyi dibalik pintu. Mendengarkan percakapanmu dengannya. Katanya dia diminta datang oleh orangtuamu. Dia jodoh yang diberikan langit kepadamu. Maka tak bisa mengelaklah engkau. Malah engkau menyatakan akan mengikat dia dengan janji suci kepada Tuhan.
Getaran dari langit terasa menelusup mencari gambar daun waru yang pernah melekat pada hatiku. Aku membiarkan lepas. Biarkan hatiku kembali tak utuh. Meski engkau sudah benar-benar akan melupakan. Menjadikan pertemuan itu hanya sebuah kebetulan. Hingga hatiku terlanjur tertaut. Biarkan saja.
Bagiku, cinta bagaikan meniupkan udara pada angin. Menyatu dan akan terus begitu. Biarkan hatiku kini menjadi berbekas hatimu. Padahal aku tak pernah bersua sama sekali. Kau cukup berdiri di sana. Tak perlu menampakkan diri.
Aku tahu, kita berbeda. Kamu tak akan pernah mengerti, kemauanku.
Meski begitu, aku ingin bersamamu.
Bersama menjalani rangkaian hari yang menyenangkan.
Hatiku bergetar lagi, saat mengingat namamu.

Situbondo, 16 Okt. 17
sarahkirk.files.wordpress.com

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen Fahrus Refendi

Cerpen: Tahun Baru Terakhir

Buku Muhamad Bintang Resensi Ulas

Resensi: Hikayat Kadiroen

Mohammad Cholis Puisi

Puisi: Celurit yang Tergantung

Cerpen

Cerpen: Peti Mati

Apacapa Baiq Cynthia

Selamat Datang di Situbondo

Puisi Rizal Kurniawan

Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi

Puisi Syukur Budiharjo

Puisi: Sajak Kenangan Kota Tua

hafid yusik

Surat Terbuka untuk Kiai Muhyiddin

Cerpen Gusti Trisno

Cerpen – Runtuhnya Pertahanan Kunti dan Perang Pandawa Lima

Buku Putri Nur Fadila Ulas

Ketika Dewasa Itu Karena Terpaksa

Puisi

Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

Cerpen Gusti Trisno

Cerpen – Tajhin Palappa dan Segenap Dendam Amerta

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Ludruk dan Puisi Lainnya Karya Ahmad Radhitya Alam

Cerpen Moret Taradita Yandira Laksmi

Cerpen Mored: Jangan Bilang I Love You

Buku Toni Al-Munawwar Ulas

Ulas Buku : Renungan Tasawuf

Apacapa

Muscab DPC PKB Situbondo Angkat Tema Partai Advokasi

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Perjalanan Tiga Pendaki untuk Memaknai Kehidupan

Apacapa

Saya Sudah Berhenti Membaca Berita, dan Mungkin Kalian Juga Harus Melakukannya

Alexong Arianto Adipurwanto Cerpen

Cerpen: Malam Panjang Naq Kerinying

Puisi

Pelabuhan Jangkar dan Puisi Lainnya