Jomblo dan Motor Tunggangannya

Oleh : Irwant
Hari minggu, kata orang-orang pada umumnya adalah hari untuk berolahraga, menyegarkan tubuh setelah enam hari penuh beraktifitas padatnya kerja atau sekolah. Pagi merupakan waktu yang tepat untuk memulai aktifitas olahraga. Udara sejuk segar dan bau rumput basah dibasuh embun selepas subuh. Tidak ada bunyi klakson karena terburu-buru, juga tidak ada suara deru kendaraan. Tidak ada. Benar-benar tidak ada. Sebab di sini merupakan area bebas kendaraan yang diadakan setiap hari minggu pagi. Bersepeda, jalan kaki tanpa alas, jalan kaki bersepatu, jalan kaki sambil sesekali menatap layar gajet di tangan. Beberapa dari mereka bertujuan untuk olahraga dan sebagian hanya jalan-jalan saja menikmati keramaian. Maka orang yang diberuntungkan dengan memiliki beberapa tujuan adalah mereka yang jomblo, selain untuk menyehatkan tubuh melainkan juga tebar pesona, sesekali-sok-kul-di depan-lawan-jenis.
Seorang laki-laki pesimis, dengan benda kecil berwarna putih yang mengeluarkan bunyi dan menempel menutupi lubang telinga, bercelana olahraga, jaket hoody dan sepatu membungkus kaki: itu aku. Lagu-lagu dengan beat yang menghentak, kadang datar, menemani olahraga. Hal ini menyemangatkan. Memang benar, pagi ini aku berolahraga, sebab ini tujuanku. Memang ini tujuanku, dan tujuan lainnya. Selain olahraga tujuanku, mendapatkan foto atau video, merupakan kegiatan yang aku lakukan sesekali saat jalan-jalan melihat-lihat dan menatap-natap perempuan dengan harapan bisa berkenalan.
Orang menilai aku adalah laki-laki pemalu. Mungkin karena sifat pemalu inilah yang membuat aku cukup bersetia dengan kesendirian, istilah kerennya jomblo. Menjalani kesendirian ini menyenangkan, dan banyak apapun bisa dilakukan tanpa perlu meminta persetujuan terlebih dahulu pada kekasih. Memang tidak memiliki kekasih, jadi tidak perlu meminta persetujuan.
Mulai dari kegiatan olahraga misalnya, entah mau benar-benar berolahraga atau hanya pencitraan dan gaya-gayaan itu tidak menjadi hal yang memusingkan. Jomblo memang begitu, tetapi yang begitu jarang. Kadang terlintas dalam pikiran sebuah pertanyaan umum dan itu-itu saja, mengapa aku masih saja jomblo? Tidak tahu. Bermacam-macam jawabannya, bisa jadi karena tampang yang tidak tampan, belum mapan, dan satu kriteria yang diinginkan oleh seorang perempuan itu adalah harus memiliki kesamaan, misal hobi yang sama. Untuk urusan tampang ini tidak terlalu menjadi prioritas, sebab banyak pasangan yang tidak sebanding, seperti di film Beauty and the Beast. Jika tidak tampan tidaklah menjadi masalah, mungkin sebab dan karena tidak mapan status jomblo enggan lepas. Betul, kemapanan bisa menjadi prioritas, perempuan mana yang tidak menginginkan laki-laki mapan? Mantan, jelas bukan. Jika tampang aku maklumi, maka kemapanan harus membuat aku mengurut dada kembali dan berucap sabarrr. Aku laki-laki yang hanya bermodalkan motor pinjaman dari orang tua dan satu-satunya. Jeruji pada peleg motor yang sudah tidak mengkilap lagi, rantai kendor, lampu rem tidak berfungsi, tampilan seadanya, apa adanya, menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi ada orang dengan ringannya menjuluki motorku dengan sebutan sepeda motor perang. Stigma masyarakat tentang sepeda motor perang yang merupakan julukan untuk kendaraan perjuangan, sekalipun umur motor sudah tua kadang macet dan susah dinyalakan namun tetap digunakan. Tapi, masak iyah sepeda perang yang harusnya gahar dan tangguh diumpamakan sebagai motor butut yang sudah tidak kuat jalan.
Untuk dikatakan aku seorang laki-laki mapan jelas bukan, sebab tunggangan motor butut beserta kisahnya sudah waktunya dimuseumkan atau dinobatkan sebagai motor antik. Mungkin ketidakmapanan inilah yang menjadi sebab lamanya hidup tanpa kekasih. Bukan perkara tidak ada perempuan yang mau, melainkan rasa minder untuk berkenalan selalu diurungkan karena mengingat tunggangan. Hal ini memang aku rasa manusiawi, mengingat siapakah kita dan dari kalangan apa.
Sudah tidak tampan, belum mapan ditambah lagi satu kriteria yang diinginkan perempuan, yaitu; harus memiliki kesamaan, misal hobi. Nah, ini merupakan tuntutan perempuan yang cukup menyebalkan dan akan semakin menambah daftar deretan nama laki-laki jomblo, sebab apa-apa harus memiliki kesamaan. Dengan hematnya, perempuan berpendapat bahwa pasangan yang memiliki kesamaan maka hubungan asmara akan semakin mesra, romantis, dan sebagainya. Memang hal ini tidak bisa aku pungkiri. Sedikit teori saja, jika terdapat pasangan yang memiliki kesamaan hobi, tentu akan menyenangkan. Benar, tapi itu hanya akan bertahan beberapa lama saja, dan nanti akan ada perdebatan-perdebatan tentang hobi, bahwa pendapat ini lebih benar, muncul sifat paling unggul sehingga yang awalnya hubungan asmara berubah menjadi lawan politik. Berbeda pendapat, memaki, mengumpat dengan kata-kata kasar sampai puas. Dan saat aku tanpa sengaja mengetahui kriteria yang diinginkan perempuan itu adalah; tampan, mapan dan penyuka sastra, seketika aku hanya membatin “lambemu girl” . Sambil mengelap peleg motorku berharap kelak mengelap peleg expander. []
___
Ilustrasi : Irwant

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Supriyadi

Takbiran, Bunyi, dan Memori

Resensi

Resensi: My Magic Keys

Dhafir Abdullah Puisi Syi’ir Totor

Syi’iran Madura: Caretana Ajjhi Saleh

Apacapa

Selamat Molang Are, Orang Pilihan

Apacapa Moh. Imron

Lahir: Menjadi Seorang Ayah

Apacapa

Tarawih: Pakai Sarung tanpa Celana Dalam

Apacapa

Muscab DPC PKB Situbondo Angkat Tema Partai Advokasi

Prosa Mini Zainul Anshori

Pertemuan dengan Seorang Gadis Desa

Penerbit

Buku: Negeri Keabadian

Uncategorized

Keindahan yang Nyata Dengan Teknologi Hexa Chroma Drive

Puisi

Puisi: Sukma dan Puisi Lainnya

Ahmad Zaidi Buku Telembuk Ulas

Membaca Telembuk; Membaca Cinta yang Keparat

Apacapa Moh. Imron

Madubaik: Manis Kadang Bikin Menangis

Amaliya Khamdanah Buku Resensi Ulas

Resensi: Melintasi Zaman di Kudus Melalui Novel Sang Raja

Puisi Syukron MS

Puisi: Malam Minggu

Cerpen

Cerpen Gulistan

Cerpen Romi Afriadi

Cerpen: Penjara

Cerpen Iffah Nurul Hidayah Mored Moret

Cerpen Mored: Percaya

Resensi

Resensi: Buku Holy Mother

Cerpen

Cerpen: Bayangan Perpisahan