Nabuh Immersive dan Keindahan Akustik

4 Maret 2026 lalu, telah dihelat sebuah acara bertajuk “Nabuh Immersive” di Lapangan Olahraga Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Acara ini merupakan tugas akhir (TA) dari Merak Badra Waharuyung dalam rangka menuntaskan studi magisternya.

Memang, pementasan ini cukup menyemat kekhawatiran lantaran guyuran hujan yang tak kunjung henti. Kendati demikian, pementasan tetap dihelat sesuai rencana awal. Hasilnya boleh dikata semua lancar. Penonton pun berduyun-duyun datang. Ini salah satu tanda bahwa pementasan ini cukup menggaet perhatian.

Pertama-tama, saya ingin menyelisik maksud pementasan ini melalui tajuknya. Secara etimologis, tajuk acara ini tersusun dari dua kata, yakni nabuh (bahasa Jawa) yang artinya memainkan gamelan dan immersive (bahasa Inggris) yang artinya melingkupi. Jika digabung, secara dangkal, maka dapat diartikan memainkan alat (untuk/yang) melingkupi.

Tentu saja tajuk ini belum cukup untuk membaca maksud pementasan ini. Karenanya, Merak menyurat tagline untuk memudahkannya, yakni: “Menyelami Jalinan Sonik Organik Gamelan dan Elektronik”. Di titik ini, tak sedikit penonton yang mengejawantah pementasan ini sebagai upaya untuk merajut bebunyian gamelan dengan elektronik.

Benar saja, Merak dalam pementasan itu memang melakukan hal tersebut. Ia memadukan tiga gamelan sekaligus: gamelan Jawa, Bali, dan Banyuwangi. Tak hanya itu. Merak juga membubuhkan bunyi-bunyi yang bersifat elektronikal ke dalamnya. Dalam konteks ini, tak cukup rumit bagi penonton untuk memahami pementasan ini.

Mengelilingi

Akan tetapi, terma ‘menyelami’ dalam tagline tersebut penting untuk dibaca lebih dalam. Menyelami dalam hal ini bukan saja berhenti pada lingkup kompositoris semata. Lebih dari itu, menyelami dalam pementasan ini lebih cenderung pada konsep pertunjukannya.

Untuk sampai di situ, anda atau kita perlu mengerti dulu wujud audio yang ada di dalam bioskop. Di sana, audionya begitu tertata. Mulai dari suara berfrekuensi rendah, sedang, hingga tinggi dipatri dalam posisi yang berbeda. Letaknya juga demikian. Ia ditaruh pada posisi tertentu dengan begitu presisi.

Tujuannya hanya satu, yakni agar penonton bioskop benar-benar merasakan dimensi dari film yang ditonton. Seolah-olah, penonton berada dalam film tersebut. Imbasnya, bebunyian yang ada di dalam film terasa realistis bagi penonton. Di sinilah makna dari menyelami. Penonton diposisikan sebagai bagian integral dari bunyi.

Merak dalam konteks ini agaknya mengadopsi wujud audio bioskop tersebut. Ini dapat diteropong melalui bentuk panggungnya yang berbentuk persegi. Selain itu, pengeras suaranya juga berlaku demikian. Ia diletakkan di sudut panggung sehingga mengelilingi arena tengah.

Sementara, penonton berada di dalam arena persegi di antara panggung dan pengeras suara yang mengelilingi. Saya kira, bentuk panggung yang demikian adalah anomali. Lazimnya, penonton hanya berada di depan panggung serta di depan pengeras suaranya. Jika dibandingkan, satu-satunya hal yang terlintas adalah bentuk akustik yang berbeda.

Panggung yang didesain Merak mampu mengakomodir gema bebunyian untuk menyingkap masuk ke telinga penonton dari segala arah. Imbasnya, penonton mampu merasakan bebunyian dengan lebih khusyuk. Dengan demikian, penonton benar-benar diajak untuk menyelam. Bukan saja dari sajian repertoar namun juga sajian akustikanya. Saya kira, di sinilah letak kejeniusannya.

Akan tetapi, ada catatan yang kiranya perlu dipertimbangkan. Dalam pertunjukan itu, penonton ‘dibiarkan’ berdiri. Seyogyanya, penonton harus duduk mengingat penyelaman bunyi itu berhubungan dengan kekhidmatan mendengar. Satu sentuhan saja bisa membuyarkan, apalagi banyak sentuhan. Jika saja duduk, maka ada upaya preventif untuk menjaga laku penyelaman tersebut.

Langsung

Akan tetapi, ada perbedaan fundamental antara konsep pertunjukan Merak dengan akustika bioskop, yakni bunyi yang dikumandangkan. Dalam pementasan Merak, bunyi yang dihadirkan bersifat langsung, bukan rekaman. Tentu ini menjadi lebih rumit jika dibanding musik rekaman laiknya film-film bioskop.

Bayangkan saja, dalam pementasan itu, ada empat panggung. Setiap panggung diisi oleh beberapa instrumen dan tentu keseluruhan instrumen itu dimainkan (entah bergantian dan bersamaan) dalam satu sajian. Sementara, jarak panggung lumayan jauh (kira-kira 10 meter). Hal ini tentu saja menjadi tantangannya.

Setiap niyaga atau pemain harus sudah khatam dengan partitur sajian. Di sini, satu kesalahan saja tidak bisa ditoleransi karena dapat membuyarkan laku penyelaman penonton. Untungnya, para niyaga telah terlatih. Entah berapa lama mereka latihan tetapi kemistrinya benar-benar nampak. Hebat!

Demikian juga dengan operator audionya. Bunyi yang dihasilkan benar-benar menenggelamkan penonton. Seringkali, setiap pengeras suara seolah-olah terhubung. Bunyi yang tadinya ada di kanan, tiba-tiba merambat ke kiri atau sebaliknya. Kadang-kadang, bunyi yang dihasilkan bisa berpindah, menyilang, dan bahkan memutar.

Bukan bermaksud berlebihan, tetapi penataan semacam ini memberi kesan penonton ada di dalam sebuah ruang bunyi yang luas. Di ruang itu, ada puspawarna bunyi dengan beragam frekuensi. Sekali lagi, semua ini bukan rekaman melainkan dimainkan secara langsung! Bagi saya, pementasan ini memberi pengalaman estetik baru. Saya menjadi tahu bahwa keindahan musik bukan hanya terletak dari komposisi nada melainkan juga komposisi akustikanya. Selamat!

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Esai Rahman Kamal

Memaknai Batik Ala Jomlo

populi Puisi rejeng

Puisi: Sekeping Sunyi

Apacapa

Menjadi Kepala Sekolah yang Inovatif

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Resensi – Memaknai Kematian terhadap Jiwa Manusia

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Literasi Bergerak di Taman Siwalan

Nila Afila Puisi

Puisi: Ibu Tani dan Puisi Lainnya

Alex Cerpen

Cerpen: Masalah Ketika Ingin Menjadi Dewasa

Apacapa Esai Wilda Zakiyah

Biola dalam Kenangan

Apacapa fulitik

Kenapa Kaos Orens Tidak Dibagikan Gratis? Malah Dijual. Ini alasannya.

Apacapa Marlutfi Yoandinas Sastra Situbondo Sofyan RH Zaid

Puisi Nadhaman dan Hari Chairil Anwar

Joe Hasan Puisi

Puisi – Bertanya Pada Minggu

Madura Puisi

Puisi Bahasa Madura: GHÂR-PAGHÂR

Andi Fajar Wangsa Puisi

Teka Teki dan Puisi Lainnya Karya Andi Fajar Wangsa

Apacapa fulitik

Menggugat Integritas Pejabat Publik

Apacapa MA Marzuqin

Apacapa: Ngobrolin Gus Dur: “Gus Dur, Sastra dan Wanita”

Apacapa

Santri Tanpa Templek

Puisi Madura

Puisi Madura: Petteng Calèmot Karya Fendi Febri Purnama

Puisi

Pengharapan

Apacapa Mbak Una

Selamat Hari Buku Nasional

Apacapa

Sudahkah Anda Konsisten?