Pelayaran Terakhir: Menyusuri Kehilangan dan Pergolakan Batin dalam Cerpen Anggit Rizkianto

Setiap perjalanan punya saat di mana pelayaran tak menjanjikan pulang, melainkan mengajarkan arti melepaskan. Kumpulan cerpen Pelayaran Terakhir menampilkan tokoh dalam menghadapi rumah rapuh, hubungan retak dan perjalanan penuh ketidakpastian. Bangka Belitung menjadi ruang asal penuh ingatan dan luka sementara Jawa adalah tujuan yang melambangkan harapan sekaligus kenyataan baru yang tak selalu ramah.

Benang merah cerpen ini adalah kehilangan, perpisahan  dan pergolakan batin manusia menghadapi perubahan hidup. Kehilangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan kehilangan sesuatu yang penting hingga menimbulkan kepedihan. Latar rumah, laut dan perjalanan berfungsi sebagai simbol konflik batin, keterikatan emosional dan keberanian tokoh melangkah meski menyisakan kenangan dan pilihan sulit.

Dalam kumpul cerpen Pelayaran Terakhir dari sembilan cerpen, lima yang disorot

Sepenggal Kisah tentang Abdul Korim, Tragedi Rumah Panggung Terakhir, Rumah Gedong, Pilkada di Kampung Lada dan Pelayaran Terakhir meski berbeda tokoh, gaya dan latar tetap terikat oleh tema yang sama: pergolakan batin, kehilangan dan cara menghadapi perubahan hidup. Rumah, laut dan perjalanan berfungsi sebagai simbol konflik batin, keterikatan emosional dan keberanian tokoh melangkah meski menyisakan kenangan dan pilihan sulit, membangun refleksi tentang ketahanan manusia menghadapi luka dan kenyataan hidup yang tak selalu ramah.

Di Sepenggal Kisah tentang Abdul Korim, kehilangan muncul dalam bentuk pengkhianatan dan luka batin tokoh utama, sementara rumah dan kenangan masa lalu menegaskan keterikatan emosional yang sulit dilepas. Tragedi Rumah Panggung Terakhir dan Rumah Gedong  menggunakan rumah sebagai simbol rapuhnya ikatan keluarga dan konflik batin yang menumpuk. Dalam Pilkada di Kampung Lada dan Pelayaran Terakhir, laut dan perjalanan menjadi medium refleksi perpisahan dan ketabahan, menandai keberanian tokoh untuk meninggalkan atau ditinggalkan oleh kenyataan yang tak selalu ramah.

Dari sisi judul, kelima cerpen dalam Pelayaran Terakhir menunjukkan pendekatan yang berbeda dan memberi petunjuk awal mengenai fokus masing-masing cerita. Judul Sepenggal Kisah tentang Abdul Korim bersifat naratif dan personal menandakan bahwa cerita akan berfokus pada pengalaman individu tokoh utama. Pada Tragedi Rumah Panggung Terakhir menekankan rumah sebagai simbol utama. Kata Tragedi memberi sinyal adanya peristiwa memilukan sementara Rumah Gedong mengambil pendekatan lebih ringkas dan simbolik. Kata Gedong merujuk pada bangunan luas atau signifikan secara historis sehingga fokus cerita terletak pada rumah sebagai ruang pengalaman dan kenangan tokoh.  

Berbeda dengan Pilkada di Kampung Lada bersifat kontekstual menunjuk pada peristiwa sosial-politik yang memengaruhi kehidupan tokoh. Kata Pilkada menandai perubahan dan dinamika komunitas, sementara Kampung Lada memberi kesan spesifik tentang latar tempat yang memengaruhi pengalaman tokoh. Terakhir, Pelayaran Terakhir bersifat simbolik dan metaforis. Kata Pelayaran menunjukkan perjalanan fisik dan batin sedangkan Terakhir memberi nuansa akhir, perpisahan atau titik penyesuaian diri terhadap kenyataan hidup. Judul ini mempersiapkan pembaca untuk memahami konteks perjalanan tokoh sebelum masuk ke alur cerita.

Kekhasan cerpen Pelayaran Terakhir dalam bagian Sepenggal Kisah tentang Abdul Korim terletak pada penggambaran tokoh utama yang sederhana namun memiliki kedalaman batin sehingga pembaca diajak menyelami sisi kemanusiaan seorang manusia biasa, termasuk pengalaman cinta Abdul Korim terhadap perempuan malam di Bangka Belitung yang ia terima dengan tulus.  

“Tapi, Mak, apakah perempuan kafe tidak berhak mendapat kesempatan? Kalau Tuhan saja selalu memberi kesempatan untuk bertobat, mengapa kita sebagai manusia tidak?” (SPTAK, 2024:13)

Hubungan tersebut justru menghadirkan luka batin ketika Abdul Korim menyadari bahwa perempuan yang ia percayai ternyata mengkhianatinya dan pergi ke tanah Jawa tepatnya Surabaya, di buktikan dengan kalimat:

“Para tetangga itu mengaku sangat kenal dengan Melia, dan sempat bertemu saat ia pulang lima bulan lalu. Mereka juga mengatakan bahwa Melia pergi ke Surabaya, bekerja di lokalisasi Dolly.” (SPTAK, 2024:20)

Sehingga mempertegas tema kehilangan dan kerapuhan manusia. Alur cerita yang berjalan lambat dan akhir cerita yang tidak disampaikan secara eksplisit menjadi kekhasan tersendiri karena memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan makna pelayaran terakhir. Dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu ini, pembaca dapat memahami  penerimaan Abdul Korim atas luka, pengkhianatan dan rasa sakit  secara lebih mendalam dan objektif pada akhir perjalanan hidupnya.

Kekhasan cerpen Tragedi Rumah Panggung Terakhir terletak pada penggambaran konflik keluarga yang tragis akibat perselingkuhan tokoh laki-laki dengan seorang guru dari desa tetangga, yang memicu kehancuran rumah tangga dan meninggalkan luka mendalam bagi anak-anaknya yang diperjelas dengan kalimat:

“Kalau kata warga sekitar, si Kamal sudah cukup lama tinggal dengan Ningsih di perumahan guru itu,” (TRPT, 2024:25)

Sosok perempuan yang memilih pergi dan meninggalkan anak perempuannya menegaskan tema pengkhianatan, keterasingan serta rapuhnya ikatan keluarga yang berpuncak pada kehilangan sebagai inti persoalan cerita.  

“Sampailah pada suatu pagi, Lastri menghilang. Berhari-hari, bermingguminggu, sampai berbulan-bulan ia tak pernah pulang. Rusniah yang sibuk mencari kemudian mendengar kabar kalau anaknya itu berada di Tanjung Pandan. Dan pada akhirnya Lastri memang tak pernah pulang kampung, setidaknya hingga ketika Endah menginjak usia dewasa.” (TRPT, 2024:29)

Kehilangan tidak hanya dialami dalam bentuk perpisahan orang tua tetapi juga hilangnya rasa aman, kasih sayang dan keutuhan keluarga yang biasa disebut rumah. Kekhasan cerita semakin kuat melalui tokoh anak perempuan yang bertahan hidup bukan demi dirinya sendiri melainkan demi adiknya yang memiliki kelainan, sehingga menghadirkan nilai pengorbanan, keteguhan dan kemanusiaan yang menyentuh di tengah kehilangan yang terus membayang.  

Latar rumah panggung menjadi simbol runtuhnya keutuhan keluarga sementara alur yang suram dan emosional serta bahasa yang sederhana namun sarat makna memperkuat nuansa tragedi sosial dalam cerpen tersebut. Pada cerpen ini masih tetap menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis tidak terlibat langsung sebagai pelaku  melainkan mengamati dan menceritakan konflik yang dialami tokoh-tokohnya secara objektif.  

Berbeda dengan cerpen Rumah Gedong kekhasan terletak pada penggambaran perubahan nasib keluarga tokoh utama dari kehidupan sederhana menuju kemapanan setelah ayahnya bekerja sebagai penambang timah. Hal ini dibuktikan dengan kalimat:

“Bangunan rumah yang awalnya tampak kusam dirobohkan, kemudian didirikan bangunan baru. Rumah itu menjadi tampak lebih bersih, besar, dan mewah. Terasnya juga menjadi jauh lebih luas.” (RG, 2024:52)

Rumah gedong yang dibangun menjadi simbol keberhasilan dan kebanggaan keluarga sekaligus penanda rapuhnya kemapanan manusia ketika berhadapan dengan kekuatan alam. Hal ini terlihat dengan kalimat:

“Derasnya arus air bah membuat tim SAR sangat kesulitan menyelamatkan beberapa warga yang masih terjebak di rumah. Beruntung, tak ada satu pun warga yang tak berhasil diselamatkan. Yang tak bisa diselamatkan adalah rumah-rumah mereka. Termasuk pula rumah gedong milik Juhari. Pagar rumah yang tinggi dan tampak kukuh nyatanya tak sanggup menahan terjangan air bah. Seketika air bah meruntuhkan pagar itu, lalu menerobos dan menghantam bangunan rumah. Detik itu juga rumah roboh, dan segala isinya hanyut terbawa arus. Rumah gedong rata dengan tanah.” (RG, 2024:63-64)

Perasaan kehilangan tampak kuat ketika banjir besar menghanyutkan rumah gedong tersebut yang tidak hanya mengakibatkan hilangnya harta benda tetapi juga runtuhnya rasa aman, kebanggaan dan keyakinan keluarga terhadap kekayaan yang dimiliki. Kehilangan ini menjadi pengalaman batin yang mendalam bagi tokoh-tokohnya. Latar rumah gedong menjadi simbol rapuhnya kemapanan keluarga, sementara alur yang bergerak dari harapan menuju tragedi serta bahasa yang sederhana namun bermakna memperkuat nuansa kehilangan dalam cerpen tersebut. Cerpen ini masih tetap menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Kekhasan cerpen Pilkada di Kampung Lada ini terletak pada penggambaran tokoh lakilaki yang taat beragama namun menerapkan ajaran agama secara kaku dan penuh larangan, bahkan pada hal-hal yang secara sosial dan kemanusiaan dianggap wajar, seperti melarang azan bagi jenazah yang akan dikuburkan, dengan dibuktikan pada kalimat:

“Tak lama setelah jenazah diletakkan di dasar liang dan kain kafan bersentuhan dengan tanah pekuburan, Idris bersiap-bersiap untuk mengumandangkan azan. Tetapi, Kik Saman dengan sekonyong-konyong kemudian berujar, “Jangan! Jangan azan!” Suaranya terdengar mantap dan tegas.” (PDKL, 2024:80)

“Orang yang sudah meninggal itu hanya tinggal menunggu datangnya hari kebangkitan, dan mereka tidak lagi beribadah. Jadi mengazankan mereka itu jelas perbuatan yang sia-sia.” (PDKL, 2024:82)

Sikap tokoh yang hanya berpatokan pada tafsir keagamaan tersebut menghadirkan kritik sosial, sekaligus menegaskan tema kehilangan yakni hilangnya empati, toleransi dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks sosial-politik, cerpen ini juga menampilkan kecenderungan tokoh untuk memihak calon pemimpin berdasarkan identitas agama tertentu sehingga politik dipahami secara sempit sebagai persoalan keagamaan semata, bukan pada kapasitas, moral dan kualitas kepemimpinan, dengan kutipan:

“Bujukan itu sudah ia sampaikan pada khotbah Jumat. Namun, ia merasa itu belum cukup, sehingga ia utarakan kembali pada kajian malam Jumat selepas magrib di Masjid Al-Hikmah. “Dilarang bagi kita orang Islam untuk memilih pemimpin nonmuslim,” ujar Kik Saman sembari menatap ke sekililing jemaahnya. Ia sudah memikirkan masak-masak perkataan yang hendak ia sampaikan malam itu. “Ayatnya jelas,” sambungnya lagi, “orang-orang beriman tidak boleh mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka.” (PDKL, 2024:95)

Cerpen Pilkada di Kampung Lada menggunakan alur lurus (progresif) karena peristiwa disajikan secara berurutan dimulai dari gambaran kehidupan sosial-keagamaan tokoh, konflik dalam prosesi pemakaman hingga sikap tokoh dalam menghadapi Pilkada yang memunculkan ketegangan sosial di masyarakat, sehingga tokoh laki-laki ditinggalkan oleh masyarakat sekitar. Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga serba tahu  terlihat dari cara penulis menggambarkan sikap, pemikiran dan tindakan tokoh Kik Saman secara jelas dari luar cerita.

Kekhasan cerpen Pelayaran Terakhir terletak pada penggambaran tokoh kapten kapal yang telah menuntaskan pelayaran terakhirnya dan memasuki masa pensiun dengan harapan dapat menjalani kehidupan yang tenang bersama keluarga di rumah. Namun, kepulangan tersebut tidak menghadirkan kebahagiaan sebagaimana yang diharapkan untuk lebaran bersama, karena sang kapten justru sakit hingga meninggalkan istri dan anak untuk selamanya, sementara anak-anak mereka telah lebih dahulu merantau dan membangun kehidupan masingmasing, dengan kutipan sebagai berikut:

“Cahaya matahari kian lenyap, sisa-sisa sinarnya lesap perlahan. Warna gelap mulai menghiasi cakrawala, bersamaan dengan munculnya bintang senja yang bersinar terang. Purwanto merasa tubuhnya terangkat ke angkasa, kakinya tak lagi menapak pada geladak kapal. Ia terbang, menuju ke satu titik terang di langit sana. Malam itu Purwanto meninggal dalam tidur setelah sebelumnya ia sempat terbangun lalu melaksanakan salat malam dalam keadaan terbaring dan menceritakan mimpinya itu kepada Asna.” (PT, 2024:261)

“Waktu pun terus bergulir, bergerak maju, dan meninggalkan hal-hal yang telah lalu. Winny telah kembali ke Jakarta karena harus kembali bekerja. Tak lama setelah itu Bowo juga meninggalkan rumahnya di kampung sebelah.” (PT, 2024:264)

Kondisi ini menempatkan tokoh perempuan pada situasi kehilangan yang mendalam dan berlapis yang menegaskan suasana kesepian tetap menunggu kapten untuk pulang lebaran bersama tapi kenyataannya kapten sudah tidak ada, sementara laut dijadikan simbol kenangan. Dalam kesendiriannya sang istri kerap mengenang kembali kebahagiaan hidup yang pernah ia rasakan bersama suaminya meskipun pada awal pernikahan ia belum sepenuhnya mencintai sang kapten, hal tersebut sesuai dengan kalimat:

“Umpan cacing yang tak kunjung dimakan ikan membuat Asna tenggelam dalam lamunan. Ah, ia jadi teringat masa- masa lampau saat bersama suaminya. Kebersamaan yang membentuk keluarga namun sering dipisahkan oleh masa- masa pelayaran; kebersamaan yang sebenarnya sulit ia terjemahkan. Masih lekat di ingatannya sikap canggung Purwanto saat pertama kali berbicara dengannya. Adalah makciknya yang mengenalkan Asna kepada laki-laki Jawa itu.” (PT, 2024:266)

Kenangan-kenangan tersebut justru mempertegas rasa kehilangan yang ia alami di masa kini. Rumah yang seharusnya menjadi ruang kehangatan dan kebersamaan keluarga, dalam cerpen ini tampil sebagai simbol ruang yang kehilangan makna berubah menjadi tempat sunyi yang menyimpan ingatan, penantian dan kesedihan tanpa kepastian.

Cerpen Pelayaran Terakhir disajikan dengan alur maju, di mana peristiwa berkembang secara berurutan sejak pelayaran terakhir sang kapten, masa kepulangan, sakit hingga wafatnya sampai kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga terlihat dari penulisan yang berada di luar cerita tetapi mampu mengungkap kejadian serta keadaan batin tokoh terutama perasaan kehilangan, duka dan kesendirian yang dialami Asna.

Tema kehilangan dalam kumpulan cerpen Pelayaran Terakhir karya Anggit Riskianto dikaji melalui pergulatan batin tokoh, perpisahan dan perubahan hidup dalam konteks sosial tertentu. Analisis ini tidak hanya menyoroti unsur intrinsik cerpen tetapi juga mengaitkannya dengan konteks sosial dan latar tempat kelahiran pengarang yang memengaruhi konsistensi tema dan pendekatan naratif. Tema kehilangan terlihat sebagai pengalaman personal sekaligus sosial tergambar melalui rangkaian kisah yang bergerak dari Bangka Belitung hingga Jawa, mencerminkan realitas masyarakat yang penuh perpindahan, jarak dan perubahan hidup.

Dari segi gaya penulisan, Anggit Riskianto cenderung menggunakan bahasa yang sederhana, lugas dan deskriptif di kelima cerpen tersebut. Pilihan sudut pandang orang ketiga serba tahu memungkinkan menghadirkan kedekatan cerita dengan tokoh yang cukup untuk menilai konflik sosial maupun personal. Minimnya metafora berlebihan dan dipaksakan membuat setiap cerita terasa realistis dan reflektif pengalaman manusiawi yang tidak bisa dihindari baik dalam konflik keluarga di Tragedi Rumah Panggung Terakhir dan Rumah Gedong, dinamika sosial-politik di Pilkada di Kampung Lada, maupun perjalanan fisik dan batin di Pelayaran Terakhir dan pengalaman personal di Sepenggal Kisah tentang Abdul Korim.

Kumpulan cerpen Pelayaran Terakhir karya Anggit Riskianto menonjol karena konsistensi tema kehilangan dan pergolakan batin tokoh yang disajikan secara realistis dan reflektif. Cerita-cerita dalam buku ini menggunakan rumah, laut dan perjalanan sebagai simbol pengalaman hidup yang sarat makna, menggambarkan keterikatan emosional, kenangan serta ketabahan manusia. Gaya bahasa yang lugas dan deskriptif memungkinkan pembaca merasakan konflik batin tokoh tanpa dramatisasi berlebihan, sementara alur yang runtut dan sudut pandang orang ketiga serba tahu menghadirkan pengamatan yang mendalam terhadap pengalaman personal sekaligus sosial tokoh.

Kumpulan cerpen Pelayaran Terakhir karya Anggit Rizkianto (MCL, 2024) masuk Long List Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kategori cerpen, menandakan karya ini dianggap memiliki kualitas sastra menonjol. Meski belum masuk Short List, pencapaian ini menunjukkan perhatian kritikus dan komunitas sastra terhadap tema, narasi dan psikologi tokoh dalam cerpen-cerpennya, sekaligus menegaskan nilai akademis dan reputasi buku sebagai karya sastra kontemporer yang layak dibaca.

Secara keseluruhan, Pelayaran Terakhir menegaskan bahwa kehilangan, perpisahan dan perubahan hidup merupakan bagian yang tidak bisa dihindari dari pengalaman manusia. Cerpen-cerpen ini tidak hanya menyoroti konflik pribadi tetapi juga menggambarkan interaksi tokoh dengan lingkungan sosialnya sehingga pembaca diajak merenungkan dinamika psikologis dan emosional manusia dalam konteks yang realistis dan reflektif. Buku ini menyajikan pengalaman manusia yang kompleks dan menyentuh, mengajak pembaca memahami bahwa setiap perpisahan dan perubahan meninggalkan jejak emosi dan kenangan yang mendalam.

Buku ini cocok bagi pembaca yang tertarik pada sastra reflektif, eksplorasi psikologi tokoh dan pengalaman manusiawi dalam menghadapi perubahan hidup. Selain itu, buku ini relevan bagi mereka yang ingin memahami hubungan antara pengalaman personal dan realitas sosial atau bagi pembaca yang menghargai cerita yang menyajikan makna secara halus, emosional dan realistis tanpa berlebihan.

Penulis

  • Selviana Indah Ayu Sari

    Selviana Indah Ayu Sari. Ponorogo, Jawa Timur. Mahasiswa bahasa dan sastra indonesia STKIP PGRI PONOROGO.  Ig @ selvianaaindah_


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dewi Sukmawati Puisi

Di Wajah Rintik Hujan dan Puisi Lainnya Karya Dewi Sukmawati

Banang Merah Cerpen

Cerpen : Untuk Perempuan yang Sedang Lari

Buku Ulas

Sejarah, Tubuh, Dosa dan Diri dalam Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa

Khairul Anam Puisi

Puisi: Manunggal Rasa

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Novel Anak Bermuatan Nilai-Nilai Kemanusiaan

fulitik hans

Patennang! Honorer Pemkab Situbondo yang Dirumahkan Bakal Direkrut Koperasi Merah Putih Loh

Cerpen Eko Setyawan

Cerpen: Carlina dan Dangdut yang Mencelakainya

Buku

Buku: Pesona Potensi Pariwisata Kabupaten Jember

Alex Cerpen

Cerpen: Panarukan, Sepotong Kenangan

Apacapa Iip Supriatna

Tantangan Kaum Buruh di Era Moderenisasi

Puisi Madura

Puisi Madura: Bânnè Gârimisen Polè

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Bahagia Mencintai Diri Sendiri

Cerpen Depri Ajopan

Cerpen: Cerita Orang-orang Masjid

Buku Resensi Ulas Wardedy Rosi

Resensi: Distopia dalam Fiksi Individutopia

Puisi

Tanahku Bersaksi dan Puisi Lainnya

Ernawati Film/Series Ulas

Resensi Film: My Idiot Brother

Puisi Yuris Julian

Puisi: Pakaian Dari Bayang-Bayang Maut

Mored Moret Puisi RM. Maulana Khoeru

Puisi: Proposal Rindu Karya RM. Maulana Khoerun

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Teman Saya yang Sudah Menjadi Ayah

Puisi Syamsul Bahri

Puisi: Di Atas Tanah