The Beauty: Sebuah Penyakit yang Mampu Membuatmu Menjadi Tampan dan Cantik

Bayangkan jika di dunia ini ada sebuah wabah penyakit menular, tapi tidak membuat orang yang terjangkit merasakan sakit; penyakit ini membuat orang yang terjangkit menjadi tampan, cantik, dan memiliki bentuk fisik sempurna. Apakah kita sebagai manusia akan memilih terjangkit penyakit ini? Penyakit ini disebut ’The Beauty.’

“The Beauty” adalah sebuah serial berjumlah 11 episode yang mulai tayang pada 21 Januari 2026 dan berakhir pada 4 Maret 2026. Serial ini diangkat dari sebuah komik berjudul sama yang ditulis oleh Jeremy Haun dan Jason A. Hurley, dan dipublikasikan oleh Image Comics pada tahun 2015 lalu. Serial ‘The Beauty’ ini menceritakan sebuah dunia yang terserang wabah penyakit seksual yang membuat para korbannya menjadi tampan, cantik, memiliki bentuk fisik sempurna hanya dalam waktu beberapa jam saja tanpa harus melakukan operasi ataupun suntikan. Bukankah ini sangat menggiurkan?

Dalam serial ini, kasta tertinggi manusia adalah mereka yang memiliki wajah tampan, cantik, dan bentuk fisik sempurna. Penyakit ini menular melalui cairan tubuh, terutama setelah calon korban melakukan hubungan seks dengan orang yang telah terjangkit. Hanya dalam beberapa saat setelah melakukan hubungan seks dengan orang yang sedang terjangkit penyakit ini, si korban akan mengalami demam. Setelah demam, korban akan diselimuti oleh “kepompong”; setelah beberapa jam barulah mereka terlahir kembali dengan bentuk fisik sempurna, wajah tampan ataupun cantik. Mereka yang sudah terjangkit penyakit ini bisa menjadi model, artis, influencer dalam sekejap. Meski penyakit ini membuat penderitanya menjadi sempurna secara fisik dan penampilan, ada harga mahal yang harus mereka bayar: yaitu kematian.

Ya, korban penyakit ini akan tewas setelah beberapa bulan atau tahun. Para korban akan tewas dengan cara yang mengenaskan; tubuh mereka akan mengalami panas yang sangat panas sampai pada akhirnya tubuh mereka meledak dan hancur berkeping-keping. Setelah saya memberikan sedikit tentang gambaran penyakit ini, apakah kalian masih berminat terjangkit penyakit ini?

Plot cerita dalam serial ini dibangun dengan slow-burn yang cerdas. Di awal episode kita disajikan tentang fantasi dunia yang sempurna, namun perlahan serial ini membawa kita ke dalam thriller konspirasi yang cukup mencekam. Bagi saya, pacing ceritanya terasa pas memberi ruang bagi kita untuk merenungkan isu moral sebelum menghantamnya dengan aksi dan ketegangan. Konsistensi cerita terjaga dengan baik, meski gaya “estetik” khas Ryan Murphy terkadang sedikit mendominasi substansi di beberapa episode tengah.

Serial ini dibintangi beberapa nama-nama besar seperti Evan Peter, Rebecca Hall, Bella Hadid, Anthony Ramos, dan Jeremy Pope. Akting mereka sudah tidak perlu diragukan lagi; mereka mampu memberikan acting yang bagus dalam serial ini, membuat kita sebagai penonton bisa menikmati serial ini sampai episode terakhir.

Secara teknis, sinematografi serial ini luar biasa. Penggunaan warna yang kontras antara warna-warna high-fashion yang cerah dengan sudut pengambilan gambar yang sedikit “miring” menciptakan perasaan tidak nyaman (uncanny valley). Efek perubahan fisik penderita penyakit ini terlihat sangat halus dan natural, yang justru membuatnya terasa semakin mengerikan. Skor musiknya minimalis tapi menghantui, sangat efektif dalam membangun suasana suspense.

Kelebihan serial ini adalah satir sosial yang sangat tajam tentang standar kecantikan dan budaya instan. Visualnya menjadi salah satu yang terbaik di layanan streaming tahun ini. Kekurangannya, ada beberapa elemen body horror atau gore yang mungkin terlalu sadis atau menjijikkan bagi penonton yang sensitif. Beberapa subplot politik juga sedikit dipaksakan untuk memperpanjang durasi.

‘The Beauty’ adalah sebuah karya yang provokatif, indah secara visual, namun pahit secara pesan. Ini bukan sekadar tontonan hiburan, tapi sebuah kritik tajam terhadap kemanusiaan di era modern. Sangat layak tonton bagi kalian penggemar genre sci-fi, body horror, psychological horror. Serial ini mengingatkan kita bahwa ketika sesuatu terlihat terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan, obsesi berlebih pada pengakuan fisik sering membuat kita kehilangan esensi kemanusiaan yang paling mendasar.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi Safari Maulidi

Puisi-puisi Safari Maulidi: Pasar Malam yang Hilang

Puisi Uwan Urwan

Kita Telah Mati

Resensi Thomas Utomo

Resensi: Perempuan Berdaya dan Benteng Ketahanan Keluarga

arifa amimba Mored Moret Puisi

Puisi Mored: Mengeja dan Puisi Lainnya

Opini

Lebih Baik Nge-Gold daripada Nge-Slot

Mahadir Mohammed Puisi

Puisi: Puing Hampa

Apacapa Esai Imam Sofyan

Harjakasi: Memaknai Situbondo dari Alun-Alun

Apacapa Imam Sofyan

Pak Kepala Desa, Belajarlah dari Film Dunia Terbalik!

Apacapa

Kayumas Bersastra: Menjadi Tua yang Menyenangkan

Ahmad Zaidi Cerpen

Randu Agung

Apacapa Baiq Cynthia

Memvisualkan Literasi Menjadi Budaya

Puisi

Puisi : Revallina Karya Arian Pangestu

Apacapa Esai N. Fata

Ironi Pertanyaan Mahasiswa

Muhammad Lutfi Puisi

Di Bangku Daun dan Puisi Lainnya Karya Muhammad Lutfi

Atika Rohmawati Puisi

Puisi: Percaya

Apacapa Catatan Perjalanan Uncategorized

Daun Emas Petani

Cerpen Heru Mulyanto

Cerpen: Pertemuan

Buku Penerbit Ulas

Buku: Embun yang Menari di Mataku

fulitik

1.100 Kaos Patennang Ludes Terjual, Efek Jalan Santai Bareng Mas Rio

Anjrah Lelono Broto Apacapa Esai

Kabar Kematian Kawan Seniman; In Memoriam Cak Bakir