Tolato, Ampas Kejayaan Masa Lalu

Di tanah yang pernah menghasilkan gula untuk pasar dunia, masyarakat Situbondo mewarisi satu kata yang tidak pernah tercatat dalam laporan ekspor maupun arsip perusahaan gula. Kata itu adalah tolato.

Secara etimologis (asal-usul kata), hingga kini belum ada sumber tertulis yang dapat menjelaskan secara pasti asal-usul kata tolato. Kata ini tidak ditemukan dalam kamus maupun arsip resmi yang berkaitan dengan industri gula. Pun dalam kosakata bahasa Madura, kata “tolato” tidak memiliki genealogi linguistik (akar kebahasaan) apa pun untuk kata yang merujuk pada “debu” atau “sisa pembakaran” yang umum dipakai oleh masyarakat Situbondo. Tolato adalah kata yang unik dan hidup dalam ingatan masyarakat Situbondo, diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Dari musim giling ke musim giling berikutnya, sebagai penanda lisan dari pengalaman masyarakat yang hidup di sekitar pabrik gula.

Pada masa kolonial, tebu dan tembakau adalah dua komoditas penting yang menjadi penggerak utama perekonomian di wilayah Situbondo dan Besuki. Kedua komoditas ini tidak hanya menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan perkebunan dan pemerintah kolonial, tetapi juga membentuk lanskap sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.

Situbondo pernah menjadi kawasan penting industri gula di Pulau Jawa. Bukti historisnya masih dapat ditemui hingga hari ini melalui keberadaan pabrik-pabrik gula seperti Olean, Wringin Anom, Panji, Demas, dan Asembagus yang sebagian masih beroperasi.

Pada masa kolonial, industri gula bersama perkebunan tembakau menjadi penggerak utama perekonomian daerah. Hamparan tebu membentang luas, cerobong pabrik menjulang di berbagai sudut wilayah, dan roda produksi berputar untuk memenuhi permintaan pasar dunia.

Namun, di balik narasi kejayaan tersebut, masyarakat juga mewarisi sebuah persoalan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari: tolato. Istilah yang hidup dalam bahasa masyarakat ini merujuk pada debu atau partikel sisa proses pembakaran yang beterbangan saat musim giling berlangsung. Bagi sebagian warga, tolato bukan sekadar limbah industri, melainkan bagian dari pengalaman hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sinilah letak ironi sejarah industri gula. Ketika gula menjadi simbol kemakmuran dan keuntungan ekonomi, masyarakat yang hidup di sekitar pabrik justru lebih akrab dengan tolato. Jika gula adalah hasil yang diperdagangkan dan menghasilkan keuntungan, maka tolato adalah ampas pembakaran yang masuk ke halaman rumah, menempel di pakaian, dan terbawa angin ke permukiman penduduk.

Karena itu, tolato dapat dibaca sebagai metafora tentang sisi lain dari kejayaan industri gula, sebuah pengingat bahwa di balik manisnya gula yang mengalir ke pasar dunia, ada pengalaman-pengalaman rakyat yang sering kali luput dari catatan dan arsip sejarah.

Tak Mêlo Ghulâna, Gun Mêlo Tolatona

Melalui singel terbarunya yang berjudul “Tolato”, Keroncong Kremes, kelompok musik keroncong asal Situbondo yang konsisten menjadikan pengalaman dan kehidupan masyarakat lokal sebagai sumber inspirasi karya-karyanya, berupaya menghadirkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap fenomena tolato yang telah lama menjadi bagian dari keseharian warga di sekitar kawasan industri gula.

Melalui lagu ini, Keroncong Kremes ingin menyampaikan bahwa investasi dan industrialisasi seharusnya tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pemilik modal, tetapi juga menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Kemajuan sebuah industri semestinya berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga, sehingga mereka tidak sekadar menjadi penonton atau menanggung dampaknya, melainkan turut merasakan hasil dari pembangunan yang berlangsung di tanah tempat mereka hidup. Sehingga, potensi besar yang dimiliki Situbondo dapat benar-benar menjadi penggerak kemajuan daerah, membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat, serta mendorong daerah ini untuk terus berkembang dan naik kelas agar tak seperti penggalan lirik dalam lagu Tolato, “Tak Mêlo Ghulâna, Gun Mêlo Tolatona”, tidak kebagian manisnya gula, hanya kebagian ampas saja.

Singel lagu “Tolato” masuk dalam album kompilasi lagu keroncong “Rampak Jreng” yang diinisiasi oleh komunitas pegiat keroncong Yogyakarta, Keroncong Plesiran. Melalui album ini, berbagai kelompok keroncong dari berbagai daerah di Indonesia menghadirkan karya-karya yang merefleksikan identitas, pengalaman, dan realitas sosial masyarakat di lingkungan mereka masing-masing.

Congrats, buat teman-teman Keroncong Kremes, untuk singel terbarunya.

Sila simak singel terbaru Keroncong Kremes “Tolato” di sini.

Penulis

  • Laki laki penghibur dan pengrajin ktaa-kata.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertorial Apacapa Moh. Imron

Ji Yoyok Peduli Disabilitas

Apacapa

Burdah Keliling Tengah Laut

Khairul Anam Puisi

Puisi – Romantika Hujan

Apacapa

Merayakan Lebaran: Ada yang Hilang

Buku Penerbit Ulas

Buku: Saudade dan Cerita Lainnya

Ahmad Zaidi Cerpen

Lelaki yang Datang Bersama Hujan

Agus Yulianto Puisi

Puisi – Wajah Petani

Film/Series Moh. Imron Ulas

Ulas Film Me Before You: Hiduplah dengan Berani

Apacapa Esai Rahman Kamal

Memaknai Batik Ala Jomlo

Indra Nasution Prosa Mini

Daya Kritis yang Hilang

Cerpen Imam Sofyan

Cerpen: Rentenir

Film/Series Review Film Setiya Eka Puspitasari Ulas

Review Film: Jaka Sembung dan Si Buta

Ahmad Zaidi Apacapa

Sebuah Perjalanan : Tentang Kayumas Bersastra

apokpak Cerpen N. Fata

Cerpen : Nanti Kutukar Cincin Pemberian Ibumu itu

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Resensi Buku Pohon Kesayangan Daru

Cerpen

Cerpen: Gadis Usia Delapan

Achmad Nur Apacapa

Pesantren di Tengah Cengkeraman Kapitalisme Global

Puisi Tjahjono Widarmanto

Ayat Nostalgia dan Puisi Lainnya Karya Tjahjono Widarmanto

Cerpen Levana Azalika

Kutu dan Monyet

M Ivan Aulia Rokhman Puisi

Puisi – Balada Sunyi