Menikah Tanpa Sepeser Uang

Menikah itu tidak melulu berbicara soal cinta. Aku paham betul bagaimana cinta itu yang tertuang dalam pernikahan. Aku pun mengerti bagaimana bersikap yang baik untuk pasanganku. Pernikahan itu adalah ikatan dan perjanjian antara hamba dan Rabbi-Nya. Tapi kebanyakan manusia sebagai pasutri belum mengerti dan memahami arti sebuah pernikahan yang sebenarnya.
Oleh : Nanik Puji Astutik
Aku yang baru menikah masih belajar banyak hal, terutama kepada kedua orangtuaku. Aku belajar sabar seperti ibu dan aku belajar kuat seperti ayah. Segala rintangan yang ada di depan sana akan aku hadapi. Walaupun terkadang, aku tak mampu bisa sesabar ibu dan sekuat ayah.
Aku sering melihat. Banyak perceraian terjadi karena masalah ekonomi. Bukankah Rezeki Allah itu luas? Kenapa harus berpisah sedangkan Allah sudah menjanjikan rezeki kepada hambanya? Pernikahan itu sakral, sebuah perjanjian antara hamba dan Rabbi-Nya. Haruskah perpisahan menjadi jalan terakhir setelah dilakukan diskusi? Seseorang pernah memberikanku nasehat “Jikalau suamimu bekerja dan kamu berada dirumah. Sempatkanlah setiap hari untuk salat sunah Dhuha, meminta rezeki kepada Allah agar suamimu mendapatkan rezeki yang halal dan banyak. Namun hal itu banyak yang tidak dilakukan istri. Padahal rezeki istri dan anak ada di mata pencaharian suami.”
Satu hal lagi yang harus aku pahami. Aku tidak tahu, seperti apa rasanya selingkuh. Karena bagiku, selingkuh itu adalah sebuah pengkhianatan yang dilakukan pasangannya. Tapi, aku tidak akan menyalahkan hal itu. Mungkin, banyak pasangan yang memilih untuk selingkuh karena memiliki alasan, salah satunya merasa bosan atau tidak ada cinta lagi. Jika benar hal itu terjadi, maka cara penumbuhan cinta kembali akan semakin rumit.
Yang menjadi latar belakang perselingkuhan terjadi biasanya karena sudah merasa bosan atau tidak ada cinta lagi. Maka hal yang paling ‘baik’ menurutnya adalah selingkuh. Selingkuh disini bisa diartikan karena pasangannya sudah tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya. Sehingga, jalan yang menurut mereka baik adalah mendapatkan perhatian dari orang lain.
Hal yang paling mendasar sejauh ini yang aku lihat terhadap banyak pasangan adalah terjadi kesenggangan dan tidak ada lagi saling perhatian satu sama lain. Jika misalkan sang istri selingkuh maka yang harus ditanyakan bukan istri melainkan suaminya. “Kenapa istrimu bisa melakukan hal itu? Apakah kamu sudah tidak memperhatikan lagi kebutuhan istri?”
Biasanya, istri selingkuh karena diselimuti beberapa faktor, salah satunya karena kurang perhatian dari suami. Perhatian sekecil apapun terhadap istri akan membuat istri merasa dicintai. Hal ini dipicu karena wanita suka diperhatikan dan diperlakukan secara lembut dan penuh kasih sayang. Namun, apabila suami selingkuh karena istri sudah tak memperdulikan kebutuhannya maka hal ini lain lagi ceritanya.
Suami selingkuh, sedangkan ia memiliki istri yang cantik dan penuh kelembutan, misalnya. Namun ia masih selingkuh karena alasan ingin mencari sesuatu yang beda. Wah, apakah ini akan berakhir atau justru menguji kesabaran istri?
Aku tak akan menyalahkan salah satu pihak. Entah istri selingkuh atau suami yang selingkuh karena bagiku mereka pasti memiliki alasan yang kuat kenapa harus melakukan penghianatan. Wanita selingkuh biasanya dikarenakan merasa nyaman dengan perhatian dari lelaki lain. Wanita itu tak membutuhkan lelaki kaya, mapan, tampan, dan memiliki hobi ekstrim lainnya. Tapi yang dibutuhkan wanita adalah perhatian dan kasih sayang. Jadi kenapa wanita mudah selingkuh? Karena di dalam rumah dia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Lalu bagaimana dengan lelaki? Biasanya lelaki selingkuh karena memenuhi hasratnya. Hasrat nafsu yang tidak ia dapatkan dari istri, sehingga pelarian yang menurutnya aman adalah selingkuh daripada ia membeli perempuan yang bekerja sebagai PSK.
Maka dari itu, penumbuhan cinta secara berkala harus dilakukan, agar salah satu pihak tidak ada yang saling menghianati. Tidakkah pasangan suami istri mengingat kembali saat berpacaran dulu, misalnya. Kenapa dulu dengan mudahnya saling merasa rindu sedangkan beberapa menit yang lalu sudah bertemu? Tidakkah kita belajar hal itu? Apa penyebabnya kenapa cinta disaat pacaran lebih kuat daripada setelah menikah? Penyebabnya adalah “PERHATIAN”.
Perhatian bisa mengubah segalanya. Contoh “Lagi ngapain, Sayang?” penyebutan kata sayang merupakan bukti bahwa kita begitu menyayanginya. Dan pada saat itu, semua pasangan akan lupa segalanya. Mengurus rumah, mengurus pekerjaan sekolah dan lain sebagainya. Karena bagi mereka “Lebih baik berbalas pesan dengan orang tersayang,” tidakkah kita belajar dari hal itu? Penumbuhan cinta harus tetap dilakukan.
Para suami harus sadar betul. Jangan hanya memeluk istrimu saat ingin tidur bersama. Seringlah ajak ngobrol istri. Tanyakan tentang bagaimana kehidupan keluarga kita di masa depan. Merancang masa depan akan berakibat saling menyemangati dan penumbuhan cinta.
Para istri juga harus sadar betul. Dibalik suksesnya suami ada istri yang mendukungnya dan selalu mendoakannya. Suami itu suka sekali dimanja dan disayang. Jangan pernah malu untuk mengucapkan “Terima kasih” dan “aku sayang kamu, suamiku” begitu juga dengan suami. Jangan sampai istri mendapatkan perhatian dari lelaki lain. Sayangilah istrimu dan cintailah istrimu. Kamu akan tahu bagaimana rasanya saling mencintai dan menyayangi sebagai suami istri.
Aku semakin paham arti sebuah pernikahan. Bukan hanya penyatuan cinta, tapi juga komitmen. Aku banyak mempelajari dalam kehidupanku. Bahwa masalah keluarga adalah ujian cinta. Tanpa masalah dalam keluarga akan terasa hambar, seperti makanan tanpa garam. Namun, cinta akan semakin tumbuh kalau pasangan suami istri saling mengerti dan memahami. Jangan pernah malu untuk merayu suami. Suami itu suka dirayu dan dimanja. Tak ada pengantin baru dan pengantin lama. Pengantin baru akan terasa lama kalau tak ada penjagaan cinta. Tetapi, pengantin lama akan terasa baru kalau saling menjaga dan menumbuhkan cinta.
Pernikahan itu bukan hanya penyatuan dua manusia. Tapi ada cinta, kasih sayang, kepercayaan dan komitmen.
Saat menikah, kita pasti akan merasa direndahkan oleh berbagai macam manusia. Entah dengan alasan apapun itu. Tak pelak, kita akan merasakan sakit hati. Janganlah sekali-kali kita membalas dengan perbuatan yang sama. Karena kita tahu bagaimana rasanya disakiti dan direndahkan. Maka balasan yang tepat bagi mereka bukan melakukan perbuatan yang sama, melainkan membalas dengan perbuatan sebaliknya. Walaupun untuk melakukannya sangat sulit karena sudah terlanjur sakit hati. Jika hal itu masih sulit, maka buktikanlah dengan prestasimu. Tetapi, kita tidak perlu pembuktian bahwa kita ini kaya, cantik, tampan, sholeh, sholehah dan sederet hal lainnya. Karena yang tahu kemampuan kita adalah diri kita sendiri. Untuk apa pembuktian? Mau mendapatkan pengakuan? Lalu apa yang didapatkan dari pengakuan? Merasa lebih baik atau justru timbul perasaan sombong? []
wallpapercave.com

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Uncategorized

Cerpen: Gerimis dalam Ingatan

Apacapa Haryo Pamungkas

Terapi di Warung Kopi

apa esa Moh. Imron

Burombu: Sebuah Tema Kampung Langai 6

Ahmad Zaidi Apacapa

Sebuah Usaha Menulis Surat Lamaran

Apacapa Ardhi Ridwansyah

Bedah QLC Dalam Diri Seorang Pengangguran

Apacapa Catatan Perjalanan

Diorama Pasar Mimbaan

Apacapa

Ketika Media Sosial jadi Racun Sunyi

Mahadir Mohammed Puisi

Puisi: Puing Hampa

Mahadir Mohammed Puisi

Puisi: Dimensi Mimpi

Apacapa Indra Nasution

Gepsos dan Kisahnya

Agus Hiplunudin Apacapa Feminis Opini

Masih Lemahnya Peran Politik Perempuan di Pileg 2019

BJ. Akid Puisi

Puisi: Amsal Luka

Achmad Muzakki Hasan Buku Kiri Soe Hok Gie Ulas

Tentang Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan

Mahesa Asah Puisi

Puisi: Di Taman Aloska

Nurul Fatta Sentilan Fatta

Menolak Sesat Pikir Pendidikan Cuma Cari Ijazah

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen – Fragmen Nalea

Apacapa fulitik ricky

Salah Kaprah Gelora Bung Karna

Advertorial

Rekomendasi Popok Bayi Terbaik Sesuai Usia

Resensi

Terjemah Syarah al-Waraqat: Memahami Kaidah Hukum Islam dengan Mudah

Achmad Al-Farizi Apacapa Esai

Lagu Aisyah Istri Rasulullah: Sisi Romantis Keluarga Muhammad